Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Hilang Ingatan.


__ADS_3

Satu minggu sudah pria tampan itu masih berjuang dengan alat alat bantu dirumah sakit.Renno hingga saat ini masih koma terbaring tak berdaya tubuhnya sedikit terlihat lebih kurus dibandingkan hari hari lalu.


Setiap hari pula seorang gadis cantik yang kini sudah merubah penampilannya dengan rutin mengganti bunga lily segar di atas meja nakas.


Kejadian itu memaksa Tnunay pulang dari luar negeri yang tidak lain adalah ibu Renno yang saat ini duduk melamun menatap keramaian jalanan kota.


"Nyonya aku membawakan makanan untuk anda cobalah" Ucap Valena dengan lembut.


Tnunay menoleh dilihatnya seorang gadis ayu rupawan yang menenteng sebuah kotak makan.


"Terimakasih Valena" Ucap Tnunay sambil tersenyum manis.


Seraya menatap Renno Valena menyiapkan bekal yang ia bawa dari rumah agar wanita paruh baya itu mau memakannya.


"Valena besok aku akan memindahkan putraku keluar negeri jika malam ini dia masih tidak sadarkan diri bagaimanapun juga ini sudah kesalahanku membiarkan dia tetap tinggal disini" Ucap Tnunay.


Terdiam membisu dan menunduk itulah yang Valena lakukan saat ini dia tidak memiliki hak untuk melarang Tnunay membawa putranya sedangkan untuk berpisah dengan Renno itu merupakan hal yang cukup berat baginya.


"Terimakasih nak sudah berada disampingnya selama ini dia memang sedikit keras kepala seperti mendiang ayahnya" Ucap Tnunay menatap nanar kearah dimana Renno berbaring.


"Nyonya kami tumbuh bersama juga dengan kak Vian bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya dalam kondisi seperti ini dia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri" Ucap Valena seraya mengelus telapak tangan wanita paruh baya itu.


"Kau benar dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah karena itulah aku membiarkannya bermain bersama kalian papamu orang yang baik karena sudah berbagi kasih sayangnya kepada putraku" Ucap Tnunay tanpa sadar ia meneteskan air mata entah apa yang sedang dipikirkan olehnya sore itu.


"Nyonya berarti benar bahwa Renno tidak pernah bertemu dengan ayah kandungnya sejak bayi?" Tanya Valena penasaran.


"Bukan masih bayi melainkan papa Renno meninggal disaat dia masih didalam perutku saat itu aku hamil 8 bulan dengan kondisi syok berat setelah mengetahui bahwa papa Renno meninggal dalam kecelakaan Renno terpaksa dilahirkan sebelum waktunya" Ucap Tnunay.


"Jadi-"

__ADS_1


"Jadi Renno tidak pernah tau bagaimana wajah ayahnya karena aku tidak memiliki kenangan apapun tentang ayahnya semuanya lenyap ketika malam itu setelah melahirkan Renno aku memutuskan untuk pergi dari negara ini" Ucap Tnunay seraya memasukkan sesuap masakan yang dibawakan oleh Valena.


.


.


Hingga malam menjelang ketika Tnunay akan menandatangani surat pindah rawat rumah sakit tiba tiba saja Valena berteriak memanggil dokter.


Tnunay pun turut berlari kembali memasuki kamar bangsal dimana Renno dirawat.


"Apakah dia baik baik saja dok" Ucap Tnunay khawatir bahkan wajah wanita itupun memucat.


"Tenang saja nyonya malam ini tuan muda sudah dinyatakan berhasil melalui masa komanya beberapa menit lagi mungkin dia akan tersadar hanya saja cidera pada kepalanya cukup parah ada kemungkinan ia akan mengalami amnesia permanen kita berdoa saja untuk kesembuhannya" Ucap seorang dokter bernama Hasan.


Tangis Tnunay pecah seketika saat dokter mengatakan kemungkinan yang bisa terjadi kepada putranya bagaimana tidak takdir putranya yang hampir sama dengan dirinya bahwa mencintai seseorang tanpa bisa memiliki.


Dilihatnya Renno yang sudah membuka matanya sayup sayup suara paraunya memanggil kembali Tnunay.


"Iya sayang kamu sudah sadar nak mama disini" Ucap Tnunay seraya mengecup kening Renno dengan sangat hati hati.


"Mama mengapa menangis dimana aku?" Ucap Renno dengan suaranya yang terdengar lemah.


"Tidak sayang mama tidak menangis hanya terharu kamu tersadar saat ini kita bisa segera pulang" Ucap Tnunay sambil menggenggam tangan Renno.


Pandangan Renno mengedar keseluruh ruangan saat ini yang ia rasakan pada tubuhnya remuk bagaikan telah terbaring selama bertahun tahun.


"Kepalaku sakit dan kakiku berat sekali ma apa yang terjadi dan dia siapa?" Ucap Renno seraya menatap Valena yang tengah berdiri disamping ranjangnya.


Bagaikan tersambar petir dimalam yang tidak hujan Valena terdiam seribu bahasa bagaimana mungkin Renno tidak mengenalinya akankah yang dikatakan dokter Hasan benar bahwa Renno akan kehilangan ingatannya.

__ADS_1


"Di..dia"


"Dia siapa ma?" Tanya Renno kembali.


"Dia kekasihmu Ren apa kau lupa kau datang kemari hanya untuk menemuinya namun saat dalam perjalanan kerumahnya kau mengalami kecelakaan parah dijalan raya,iya kan nak" Ucap Tnunay seketika pula Valena mengangguk setelah menatap kode mata dari Tnunay.


"Benarkah ma tapi mengapa aku tidak mengingat namanya" Ucap Renno suatu kalimat yang lolos begitu saja dari bibirnya yang membuat Valena hampir menitikkan buliran bening miliknya dihadapan Renno.


"Nyonya maaf permisi saya ke kamar mandi sebentar" Ucap Valena tanpa menunggu jawaban dari Tnunay ia segera bergegas pergi dan berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan berderai air mata.


"Ren akankah kau melupakanku melupakan segalanya yang pernah kita lalu sejak kecil,mengapa Ren ini semua harus terjadi" Ucap Valena didalam batinnya ia terus berlari ingin rasanya ia menjerit namun suaranya tak pernah bisa keluar dari kerongkongannya.


"Nak namanya Valena kau kesini satu tahun yang lalu berpamitan kepada mama ingin bekerja merasakan bagaimana hidup mandiri dia kekasihmu dan kamu sendiri yang mengatakan akan menjemputnya untuk diperkenalkan kepada mama hanya saja kecelakaan beruntun itu mengakibatkan kamu koma selama satu minggu cidera dikepalamu begitu serius sehingga membuatmu sedikit melupakan masa lalu" Ucap Tnunay seraya mengelus lembut telapak tangan Renno.


"Lalu kaki Renno apakah Renno lumpuh atau cacat mengapa berat sekali ma"


"No my dear kamu gak lumpuh hanya saja seperti yang sudah mama katakan kamu berbaring disini satu minggu nak tentu saja otot saraf kakimu menjadi kaku setelah kita kembali nanti bisa latihan berjalan oke" Ucap Tnunay penuh kasih sayang malam itu Valena mengirim pesan padanya bahwa ia akan kembali besok pagi.


Keputusan Tnunay sudah bulat ia akan membawa Renno kembali ke negara kelahirannya bersamaan dengan Valena yang juga akan ikut merawat Renno disana bagaimanapun juga Tnunay merupakan seorang wanita karier yang sudah pasti hanya memiliki sedikit waktu dirumah.


Menyembunyikan apa yang sudah terjadi kepada Renno adalah keputusan yang sudah ia pikirkan secara matang.Tnunay tak mampu melihat kesedihan lagi didalam kehidupan putranya yang harus menanggung cinta yang tak terbalas.


"Semoga ini keputusan yang terbaik Ren mengertilah mama hanya tidak ingin kamu merasakan apa yang pernah mama rasakan mencintai namun tak dapat memiliki bahkan papamu meninggal bersama dengan perempuan itu,bukankah cinta mereka juga sehidup semati" Ucap Tnunay membatin seraya menatap wajah teduh putranya yang terdapat beberapa luka.


.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2