Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Candu Pink Sandwich


__ADS_3

Pernikahan tanpa didasari oleh cinta itulah yang Amiraa rasakan saat ini.Menikah dengan seorang pria yang tak lain merupakan atasannya sendiri.


Sedari tadi ia hanya terdiam dihadapan sebuah cermin besar membiarkan beberapa orang orang suruhan Edward melakukan apapun padanya karena hari ini sedang fitting gaun pernikahan.


"Nona bagaimana kalau yang ini" Ucap seorang perempuan.


Sekilas Amiraa memperhatikan sebentar "Boleh diganti yang lain bagian dadanya terlalu vulgar jika dibadanku" Ucap Amiraa.


Tampak tujuh wanita suruhan Edward itupun segera mondar mandir mencarikan gaun yang pas untuk Amiraa kenakan sudah hampir dua jam belum juga menemukan yang sesuai dengan keinginan Amiraa.


"Ditempat ini apakah tidak ada satupun yang membuatmu tertarik Miraa?" Ucap Edward pria itu dengan sabar menunggu calon istri yang sedari tadi berkeliling dan bergonta ganti mencoba gaun rancangan terbaik dikota xx.


"Maaf tapi gaun gaun ini terlalu mewah dan juga terlihat sedikit sexy" Ucap Amiraa seraya meminum jus orange.


"Bukankah itu akan membuatmu tampak lebih memukau nantinya?"


"Apa kau ingin tubuh istrimu terekspos menjadi bahan tontonan publik apa kau rela" Ucap Amiraa dengan santai.


"Tentu tidak sayang baiklah ikut denganku" Ucap Edward seraya menggenggam tangan Amiraa.


"Kemana?"


"Sudahlah kau akan tau" Jawab Edward singkat.


Begitu canggung yang dirasakan oleh Amiraa digandeng oleh seorang pria yang menurutnya sangat membosankan.


Hampir setengah jam hingga pada akhirnya mobil Edward memasuki sebuah halaman mansion yang begitu besar dan mewah.Hari ini Edward hanya berdua dengan Amiraa sementara Aaron jangan ditanyakan lagi pria itu sudah sibuk sedari kemarin untuk mempersiapkan pesta pernikahan sederhana Edward.


Terdiam itulah yang sering kali dilakukan oleh Amiraa gadis yang memang tidak terlalu suka banyak bicara apalagi harus berdebat.


"Ayo" Ajak Edward setelah membukakan pintu mobil Amiraa.


Berjalan beriringan mereka memasuki mansion dengan elegan tampak rumah besar itu sangat sepi hanya ada beberapa pelayan yang terlihat menyambut kedatangan Edward didepan pintu.


Edward masih tetap menggenggam tangan Amiraa berjalan menaiki tangga yang begitu tinggi dan berukiran sangat mewah.


"Pelan pelan tuan" Ucap Amiraa gadis kecil itu terlihat memang sedikit kesulitan mengikuti langkah kaki Edward.


"Ah ya lupa kakimu itu terlalu mungil sayang" Ucap Edward memandang gemas kearah Amiraa dengan sigap pria itupun menggendong Amiraa menaiki sisa anak tangga.


"Tuan apa apaan turunkan aku" Ucap Amiraa yang sedikit terkejut serta merasa malu pasalnya para pelayan dibawah sana masih berdiri ditempat mereka berpijak.


"Aku tidak rela jika calon pengantinku kelelahan besok" Jawab Edward.

__ADS_1


"Tapi.."


"Sssttt..cup" Satu kecupan itu berhasil mendarat sempurna pada pipi mulus Amiraa.


"Tidak ada tapi jika masih bicara akan kupastikan seluruh wajahmu mendapatkannya" Jawab Edward dan sedikit ancaman itu berhasil membuat Amiraa memilih untuk diam.


"Tempat apa ini tuan" Ucap Amiraa setelah berada disebuah ruangan sederhana disana terdapat sebuah gaun pernikahan yang begitu elegan dan mewah berwarna putih.


"Masih bingung mau memilih gaun pernikahan?" Tanya Edward namun gadis itu hanya terdiam.


"Ini gaun mamaku sewaktu menikah dengan papa kakek yang menyimpannya Mir,hanya ini yang aku miliki saat ini sejak kecil aku tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang seorang mama hanya kakeklah yang merawatku hingga aku berusia 14 tahun" Ucap Edward tatapan pria itu tampak memperhatikan setian inci dari gaun yang terpasang pada sebuah manekin.


"Sekarang aku akan menyerahkannya padamu aku mempercayakan peninggalan mama satu satunya untukmu" Ucap Edward kepada Amiraa.


"Apa tidak masalah tuan" Ucap Amiraa.


"Tidak ada cobalah aku akan menunggumu disini" Ucap Edward.


Dengan sangat hati hati Amiraa membawa gaun itu menuju ruang ganti.Setelah beberapa saat Amiraa keluar suatu hal yang cukup membuat mata Edward tak mampu berkedip wanita yang ia cintai begitu terlihat memukau.


"Bagaimana" Ucap Amiraa seraya memperhatikan gaun yang tertempel pada tubuhnya.


Dengan langkah yang pasti Edward berdiri mendekati Amiraa "Cantik sekali sayang" Ucap Edward seraya menyentuh lembut pipi Amiraa.


Edward memperhatikan dengan detail tubuh Amiraa punggung putih mulus yang pernah ia lihat dimalam itu kini ia dapat melihatnya kembali.


"Ahh mengapa harus bangun disaat aku mengingat pink sandwich itu lagi"


"Terimakasih sudah mau menjadi pendamping hidupku" Ucap Edward penyatuan dua benda kenyal itupun terjadi hanya Edward yang bergerak sedangkan Amiraa hanya mampu terdiam memejamkan mata.


Merasa tidak mendapatkan sebuah balasan Edward menggigit kecil bibir mungil itu.Hingga tanpa sadar tangan kekar itu sudah berhasil membuka kancing gaun belakang.


Amiraa hampir saja terlena dengan perlakuan lembut Edward hingga suara ketukan pintu menyadarkan keduanya.


"Oh shitt!!Mengganggu saja!"


"Siapa?" Teriak Edward dari dalam ruangan sementara Amiraa segera bergegas menuju ruang ganti.


"Ed ini aku" Ucap seorang pria yang tak lain adalah Aaron.


Dengan langkah cepat Edward membuka pintu sedikit kasar.


"Ada apa Ron sial kau menggangguku" Ucap Edward.

__ADS_1


Aaron tampak masih terdiam ditempatnya memperhatikan sebuah noda sedikit merah.


"Apa yang kau lihat kucongkel matamu!" Ucap Edward ketika melihat Aaron sedang menahan tawa.


"Bos itu-" Aaron terdiam ketika Amiraa berdiri sudah disamping Edward.


"Apa katakan" Ucap Edward sedikit kesal.


"Ah itu soal konsumsi saat ini aku belum mendapatkan koki yang handal" Ucap Aaron.


"Aku memiliki kenalan dia pandai memasak mungkin saja dia mau" Jawab Amiraa menyahuti ucapan Aaron.


"Siapa?" Tanya Edward.


"Ada namanya Zainab dia yang setiap hari mengantar bekalku kekantor rasa masakannya enak sekali" Jawab Amiraa.


"Ya enak sekali" Celetuk Aaron.


"Tau dari mana Ron?" Tanya Edward yang merasa sedikit heran dengan Aaron begitu pula dengan Amiraa.


"Ahh it itu aku hanya menebaknya ji..jika menurut Amiraa enak sudah pasti enak kan" Jawab Aaron sedikit kelabakan tidak mungkin ia berkata jujur bahwa selama ini ia diam diam menyelidiki tentang Zainab termasuk mencicipi masakannya.


"Ya baiklah nanti aku akan menghubunginya apakah dia bersedia atau tidak" Ucap Amiraa.


"Hehehe tentu saja baiklah kalau begitu aku pergi dulu Ed silahkan dilanjutkan" Ucap Aaron seraya melirik kearah adik kecil milik Edward yang terlihat masih menyembul seolah ingin keluar dari sangkar.


"Awas saja kau!" Ucap Edward dengan geram.


Amiraa tanpa sengaja melihat noda lipstiknya dibibir Edward seketika itu pula wajahnya merah merona mengingat apa yang baru saja terjadi.


"Miraa kamu baik baik saja" Ucap Edward.


"Maaf tapi itu" Ucap Amiraa seraya menunjuk bibir Edward memberi isyarat bahwa ada noda lipstik dibibirnya.


"Pantas saja Aaron mengejekku dasar jomblo karatan" Ucap Edward seraya mengelap sedikit bibirnya.


"Tuan masih belum bersih" Ucap Amiraa.


"Tidak apa apa rasanya manis,ayo makan siang aku lapar" Ucap Edward seraya kembali menggenggam tangan Amiraa berjalan menuju meja makan.


BERSAMBUNG..


Kasianya bang Edward kagak jadi ngeclup

__ADS_1


__ADS_2