Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Rasa Yang Menjijikan.


__ADS_3

"Edward!!" Ucap Amiraa yang kini telah tersadar dengan sedikit berteriak.


"Amiraa ada apa?kau sudah bangun?" Ucap Renno yang segera menghampiri dan berdiri disamping Amiraa.


Amiraa terdiam beberapa saat sebelum ia berusaha untuk bangun untungnya Renno adalah pria yang cepat mengerti ia segera membantu Amiraa.


Amiraa menyaksikan tubuhnya yang memakai baju pasien rumah sakit dan lagi lagi jarum infus terpasang pada telapak tangannya ia tampak mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang ternyata hanya ada dirinya.


"Aku panggilkan dokter Reyhan sebentar ya" Ucap Renno seraya melangkahkan kakinya keluar dari bangsal tersebut.


Dalam diamnya Amiraa mulai mengingat semua hal yang terjadi kemarin ia memeluk dirinya sendiri terlihat jelas pula buliran bening itu mulai menetes diatas selimut yang digunakan untuk menutupi kakinya.


"Hallo Amiraa" Sapa dokter Reyhan yang diikuti dengan Renno dibelakangnya.


"Aku ingin pulang dokter!" Ucap Amiraa dengan wajahnya yang terlihat begitu dingin.


"Amiraa tunggulah sampai besok ya" Ucap dokter Reyhan.


"Aku tidak sakit dok aku harus pulang aku baik baik saja!" Ucap Amiraa dengan tubuhnya yang bergetar.


"Amiraa tenanglah kau aman disini" Ucap Renno seraya melangkah kedepan.


"Berhenti disana Ren!" Ucap Amiraa dengan tegas.


"Jangan mendekat jangan pernah mendekatiku lagi" Ucap Amiraa kian lirih bahkan suaranya nyaris tak terdengar.


"Aku menjijikan!pergilah!!"


Disaat perdebatan itu terjadi Edward memasuki ruangan itu bersama dengan Aaron dan juga Rizal.


"Ijinkan dia pulang Rey" Ucap Edward yang terdengar seolah sebuah perintah dengan tegas.


Amiraa masih tidak berani untuk mendongakkan kepalanya menatap semua orang yang ada didalam ruangan itu hingga suara Rizal mengubah pikirannya.


"Miraa ayo kita pulang,mas sudah disini untuk menjemputmu" Ucap Rizal dengan lembut.

__ADS_1


Hal itupun membuat Amiraa melepaskan sendiri jarum infus yang tertancap ditangannya tanpa rasa takut sakit sedikitpun.


Amiraa tampak ragu untuk membuka selimut yang menutupi separuh badannya itu ia merasa sudah tidak memiliki harga diri lagi kala mengingat semua orang disana sudah melihat postur tubuhnya.


"Menjijikan sekali diriku" Batin Amiraa lantas Rizalpun mendekat ia membenarkan selimut Amiraa dengan perlahan hingga menutupi tubuhnya dengan sempurna.


Rizalpun menggendong Amiraa yang terbalut oleh selimut ala bridal style tanpa penolakan sedikitpun dari Amiraa melewati tatapan tajam yang diberikan oleh Renno dan Edward.


"Ayo,sudah nyaman kan?" Ucap Rizal yang mendapatkan jawaban sebuah anggukan.


Bahkan Amiraa menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Rizal kala mereka hampir sampai di pintu.


"Amiraa saat ini sedang shock berat rasa traumanya begitu mendalam sebaiknya jauhi dia untuk sementara waktu agar pikirannya lebih tenang dan lebih cepat untuk sembuh mungkin kedepannya ia akan sedikit takut untuk bertemu orang lain." Ucap dokter Reyhan kepada Edward yang masih terdengar oleh Renno kala itu.


"Maafkan aku Amiraa aku tidak bisa melindungi dan menjagamu" Ucap Renno seraya melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Edward dan Aaron yang masih berdiri disana.


"Heyy tidak disangka bahwa seorang Edward akan memiliki saingan dalam memperjuangan cintanya tidak hanya satu namun dua sekaligus" Ucap Aaron sambil mengacungkan dua jarinya tepat dihadapan Edward sedikit meledek Edward dipagi hari adalah sebuah hobi yang menyenangkan bagi Aaron.


"Diam lah jika kau masih sayang dengan mulutmu itu!!" Jawab Edward dengan nada sedikit penuh ancaman.


"Faktanya Rizal tidak terikat hubungan darah sama sekalipun dengan Amiraa bahkan mantan istrinya pun itu hanyalah kerabat jauh saja jadi bukankah kesempatan itu bisa saja terjadi bos Emiliano?" Ucap Aaron kali ia benar benar mampu membuat Edward merasa kesal padanya.


"Hey ayolah Ed kau tidak kasihan padaku lihatlah badanku masih remuk terasa sakit semua dan kau sudah memberiku sebuah misi lagi" Ucap Aaron dengan penuh rasa keterpaksaannya.


"Mau makan diluar?" Tanya Rizal kepada Amiraa yang tengah duduk dikursi roda yang ia dorong.


Dan jawaban Amiraa tetap satu hanya menggelengkan kepalanya saja setiap kali Rizal mencoba mengajaknya untuk berbincang.


"Ibu tidak tahu keseluruhan cerita ini kan mas?" Tanya Amiraa.


"Tidak" Jawab Rizal dengan sedikit senyumnya.


"Tolong rahasiakan dari ibu ya mas,aku malu aku menjijikan mas hikss..hikss" Ucap Amiraa di iringi isakan tangisnya.


"Cukup cukup jangan menangis Amiraa tolonglah kita sedang berada ditengah jalan raya jadi kumohon ini bukan salahmu" Ucap Rizal berusaha menenangkan Amiraa iapun berjongkok dihadapan Amiraa dan mengusap pipi yang sudah basah oleh air mata itu.

__ADS_1


Ditengah perbincangan itu Amiraa tidak sengaja melihat Edward yang tengah berjalan dengan elegan memasuki sebuah ruangan khusus pasien VVIP dilantai atas.


"Memangnya siapa lagi yang harus masuk rumah sakit sehingga harus berada diruangan VVIP" Ucap Amiraa membatin.


...****************...


Didalam ruangan yang cukup besar dan tersedia begitu banyak fasilitas mewah itu Edward berdiri disamping sebuah ranjang pasien.


"Sayang kamu cepat sadar ya" Ucap Edward lirih jiwa sedikit arogannya memudar kala menatap wajah cantik yang tengah terbaring tak berdaya yang badannya terlihat begitu banyak alat alat yang terpasang ditubuhnya.


"Aku cukup merindukanmu mari kita pulang bersama" Ucap Edward pria itu tampak menitikkan air mata yang segera ia usap menggunakan telapak tangannya.


...****************...


Disuatu tempat lain seorang wanita berkulit putih yang menggunakan handuk piyama baru saja keluar dari kamar mandi.


"Yang kau mau sudah kutepati sayang" Ucap seorang pria tua yang tengah berbaring diatas ranjang berukuran besar.


Seraya mengeringkan rambut wanita yang tidak lain adalah Laras itupun berjalan lenggak lenggok kian mendekati pria yang rambutnya hampir memutih itu.


"Terimakasih tuan" Jawab Laras dengan senyum nakalnya.


"Hanya itu saja?"


"Kau harus membayarnya lebih malam ini"


"Tentu saja aku akan melakukannya" Jawab Laras seraya bergelayut manja disamping pria itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2