Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Dua Hati Yang Cemburu.


__ADS_3

Seperti perjanjian yang sudah diucapkan sebelumnya hari ini Amiraa pulang lebih awal guratan senyum tipis terlihat samar diwajahnya ia berjalan menuju halaman kantor.


Terlihat seorang pria tampan yang tengah menunggunya diatas motornya tanpa melepas helm full facenya.


"Hey sudah lama?" Sapa Amiraa yang kini sudah berdiri dihadapan pria tersebut.


"Tidak baru saja sampai kok" Jawabnya yang tidak lain adalah Renno.


"Ayo naiklah" Ucap Renno.


Setengah jam yang lalu Amiraa meminta Renno agar menjemputnya kebetulan saat itu Renno juga sedang tidak bekerja.


"Pegangan dong nanti jatuh" Ucap Renno tanpa ragu Amiraa melingkarkan tangannya tepat pada perut Renno.


Senyuman itu kembali terukir dengan jelas diwajah Amiraa yang selalu dibuat berbunga bunga oleh Renno.


"Sudah ayo jalan" Ucap Amiraa dan motor sport itupun melaju dengan kecepatan rata rata.


Sementara itu dari atas gedung Edward menyaksikannya dengan sangat jelas melalui sebuah teropong khusus yang memang berada didalam ruang kerjanya.


"Aku menyesal telah menerima tawaranmu Miraa!" Ucap Edward lirih.


"Mangkanya kalau cinta itu dikejar bos menuruti gengsi saja ya begitulah makan hati tiap hari" Ucap Aaron pria itu kini duduk santai pada sofa empuk seraya menyedot jus semangka favoritnya.


"Cih..kau saja tidak memiliki seorang kekasih bagaimana bisa memberikan sebuah nasihat soal cinta" Jawab Edward yang mampu membuat Aaron terdiam seketika sebuah kata kata yang begitu sangat menusuk didalam dadanya.


"Bukankan ini juga karenamu yang tidak kunjung mendapatkan seorang wanita" Aaron mencibir dengan lihai memperagakan mulutnya yang dilebih lebihkan.


"Diamlah atau akan aku-"


"Atau akan kujahit mulutmu itu" Sambung Aaron yang memang sudah hafal dengan kalimat kalimat ancaman yang kerap kali Edward ucapkan.


Ditempat lain Renno dan Amiraa pergi kesebuah restoran yang dulunya disana kerap kali dikunjungi bersama teman temannya.


Amiraa memesan beberapa menu masakan yang harganya cukup terjangkau meski seorang pria tampan dihadapannya hidup berkecukupan Amiraa membiasakan diri seperti dirinya yang dulu hidup sederhana.

__ADS_1


"Kenapa kok tiba tiba libur?" Tanya Renno pria berhidung mancung itu seraya memengang tangan Amiraa bahkan jari jempolnya tidak ragu untuk mengelus lembut telapak tangan putih itu.


"Eumm tidak apa apa hanya sedikit kurang enak badan saja" Jawab Amiraa tanpa menjelaskan keseluruhan yang sudah terjadi.


"Apa kau tau tempatmu berkerja itu milik seorang crazy rich yang selama ini ingin kau hindari?aku baru tahu kemarin saat fotonya terpampang dengan jelas pada tempatku bekerja sebagai brand ambasador salah satu produk yang dikeluarkan oleh tempatku bekerja" Ucap Renno dengan nanar mengingat pria itu juga sama halnya dengan dirinya mengincar Amiraa.


"Akupun juga baru akhir akhir ini selama ini kukira tuan Aaron pemiliknya ternyata tidak" Jawab Amiraa sedikit kecewa jelas terlihat diwajahnya bagaimana tidak ia merasa dibohongi dan oleh Edward dan Aaron yang entah apa tujuan mereka.


"Kamu disini Ren?" Ucap seorang pria seraya memukul bahu Renno.


"Ngapain sih kesini juga" Ucap Renno memandang pria yang berdandan rapi disampingnya.


"Ya emang ini tempat milik nenek moyangmu terserah lah lagian Valena ingin sekali makan steak disini" Ucap Vian teman kerja Renno.Sekilas Amiraa menatap kearah wanita dengan rambut piranf yang berdiri disamping pria itu.


“Cantikk” Batin Amiraa yang memang memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung rambut wanita dengan tubuh yang sangat bodygoals seperti gitar spanyol.


“Yasudah kita gabung lah mumpung disini” Ucap Vian seraya menarik kursi disamping Amiraa dan mempersilahkannya untuk wanita bernama Valena sementara Vian sendiri duduk disamping Renno.


“Hay namaku Valena” Ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya kepada Amiraa.


“Wahh siapa nih bro kok gak bilang bilang sih kalau sudah punya gebetan baru saja mau aku jodohin ke si Valena” Celetuk Vian secara frontal membuat Amiraa tersedak tanpa sengaja.


“Makannya pelan pelang Humaira” Ucap Renno seraya memberikan minum kepada Amiraa.


“Humaira” Batin Amiraa namun ia segera terfokuskan kembali ketika Renno sudah menyodorkan sedotan itu dihadapan bibir tipisnya.


“Gak papa kan?” Ucap Renno yang hanya mendapatkan jawaban dengan sebuah anggukan saja dari Amiraa.


Valena tampat memperhatikan Renno yang begitu perhatian kepada Amiraa bagaikan tertusuk sebuah duri yang tajam didalam hatinya selama ini Valena diam diam menyimpan perasaannya kepada Renno hanya saja pria tampan berhati es itu tidak pernah mau merespon perasaannya sedikitpun.


Dengan bantuan kakaknya Valena memiliki sedikit kesempatan untuk bisa meluluhkan hati Renno namun kali ini mungkin usaha yang ia pertahankan selama ini akan runtuh sia sia.


“Jika bersamanya hidupmu bahagia aku mengikhlaskannya Ren” Ucap Valena membatin matanya sedikit berkaca kaca ia meminta ijin untuk pergi ketoilet tidak ingin siapapun tau sehancur apa perasaannya kecuali kakaknya Vian.


“Aku tau ini menyakitkan maafkan kakak” Batin Vian menatap kepergian Valena.

__ADS_1


“Apa kalian berpacaran?” Ucap Vian.


Sebuah jawaban yang kurang kompak ketika Amiraa menjawab ‘Tidak’ sedangkan Renno menjawab ‘iya’.


“Tidak kok kami hanya berteman saja” Ucap Amiraa tanpa memperhatikan Renno yang sedari tadi menatapnya.


“Ouhh begitu awalnya aku berfikr Renno juga tidak memiliki kekasih karena itu aku selalu berusaha mendekatkannya kepada adikku Valena” Ucap Vian tanpa memperdulikan lagi situasi pertemanannya dengan Renno baginya melihat Valena yang setiap hari ditumbuhi rasa cinta bertepuk sebelah tangan itu cukup menyakitkan.


“Aku fikir Renno juga cocok sekali dengan Valena” Ucap Amiraa secara tiba tiba.


“Hentikan!aku sudah menganggap Valena seperti adikku sendiri bukankah kau juga sudah tau itu kita bertiga tumbuh bersama jadi bagaimana mungkin ada rasa cinta yang tumbuh diantara aku dan Valena” Ucap Renno pria tampan itu tampak terlihat menahan rahangnya yang kian mengeras.


“Tapi bagaimana jika cinta itu memang benar benar tumbuh diantara kalian bukankah itu sudah kehendak takdir?” Ucap Vian dengan tatapan penuh arti.


“Tidak akan terjadi padaku aku mencintai wanita yang ada dihadapanku” Jawab Renno seraya meraih tangan Amiraa.


"Sepertinya sudah selesai acara makannya ayo kita pulang,maaf vian aku duluan" Ucap Renno tanpa sedikitpun memandang sahabatnya itu dan berlalu pergi begitu saja.


Tak lama kemudian Valena sudah kembali kemeja mereka tidak ada pembicaraan sama sekali yang keluar dari bibir wanita yang sudah mendengar semuanya itu dengan jelas hanya saja Valena memilih diam menunggu waktu yang tepat untuk kembali duduk pada kursinya.


Disudut ruangan yang tidak jauh dari meja yang ditempati oleh Renno dan Amiraa seorang pria berjas rapi dan terlihat mahal menurunkan sebuah majalah yang menutupi wajahnya.


Sebuah senyuman tumpul terbit pada sudut bibirnya tangannya beralih mengambil cangkir kopi dan menyesapnya secara perlahan.


"Sedikit rumit tapi kita lihat siapa pemenang yang bisa mendapatkan Humaira" Ucapnya membatin tak lama iapun berdiri dan bergegas meninggalkan restoran itu.


“Sudah puaskah hatimu bos” Ucap Aaron yang menunggu Edward sedari tadi didalam mobil.


Tidak ada jawaba sama sekali yang keluar dari mulut Edward kala itu.


“Biar kutebak rasa cemburumu sudah berkurang bukan?“ Ucap Aaron dan lagi lagi Edward masih saja tak bergeming hanya ada sebuah senyuman simpul yang melintasi sudut bibirnya.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2