Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Seberangin Jalan


__ADS_3

Di persimpangan jalan dekat warung kopi, gue ngeliat Wati lagi berdiri berdampingan sama Rinjani di sana, dan setahu gue mereka abis fotokopi tugas kuliah saat beberapa menit yang lalu gue tanya ke Wati dia lagi ada di mana.


Jalan raya lagi rame, banyak kendaraan beroda dua maupun roda empat berlalu lalang, sampai-sampai gue agak kesulitan buat nyebrang jalan dan akibatnya gue harus menunggu lebih lama supaya jalanan bener-bener agak sepi.


Masih di tempat yang sama Wati dan Rinjani belum beranjak dari tadi, bahkan saat pandangan mata gue ke arah mereka udah ada dua orang yang nyebrang jalan di waktu yang berbeda, tapi mereka masih diam di tempat, mungkin karena keduanya sama-sama terlalu asyik ngobrol jadi nggak sadar kalau jalan raya di depan mereka sempat sepi sebanyak dua kali walaupun cuma sebentar.


Jalanan yang mau gue seberangi cukup sepi, kendaraan yang lewat pun nggak sebanyak beberapa menit yang lalu dan gue menggunakan kesempatan jalanan yang senggang dari mobil atau motor buat nyebrang nyamperin Wati dan Rinjani.


"Mau di sebrangin nggak, Neng?"


Mereka noleh ke belakang, yang memang pada dasar gue berada di belakang mereka tidak lupa sambil nyengir ganteng.


"Dih? Lo ngapain di sini? Udah berubah profesi jadi JPO lo?" Wati ketawa pelan di susul Rinjani yang ikut-ikutan ketawa.


Emang kampret tuh manusia satu, cowoknya sendiri di bilang JPO. Mentang-mentang badan gue nggak beda jauh dari kasur lipet.


"Yaudah kalau nggak mau." Gue buang muka seolah-olah lagi ngambek padahal cuma pura-pura doang, soalnya ngambek itu bukan gaya gue.


"Siapa bilang nggak mau?" Wati bilang gitu sambil malu-malu dan gue gemes liatnya.


"Yaudah, mana sini."


"Apanya?"


"Tangan lo, masa iya kaki lo," ucap gue dengan tangan yang terjulur siap buat genggam tangan dia. Tapi beda sama tangannya Wati, dia sama sekali nggak menyambut juluran tangan gue yang siap buat genggam tangannya, justru dia malah nanya sambil masang muka tengil.


"Buat apaan?"


"Gue pegangin biar lo nggak ketinggalan pas nyebrang jalan."

__ADS_1


"Tangan kanan atau tangan kiri?"


"Dua-duanya juga boleh."


"Emang bisa?"


"Bisa kalau tangan lo dijadiin satu."


"Gimana caranya?" Dia ketawa, bener-bener uji kesabaran gue banget nih bocah dari tadi kerjaannya nanya terus, dan sebenernya gue tahu dia kayaknya memang sengaja bikin gue kesel, terus gue bisa aja nggak jawab semua pertanyaan dia yang terkesan bertele-tele tapi karena gue sudah masuk ke dalam perangkap, gue yang bucin ini dengan bodohnya malah terus menjawab, mana jawabannya asal-asalan pula. Bodo amatlah.


"Tangan lo gue iket dulu pake tali jemuran terus talinya gue tarik deh."


Gue sempat mengira kalau Wati diam itu tandanya dia nggak akan nanya atau ngomong lagi, tapi nyatanya dugaan gue salah besar.


"Udah gitu aja, nggak ada tambahnya lagi gitu?"


"Emangnya lo mau kayak gimana lagi sih? Allahu akbar, ngeselin banget lo lama-lama!" Karena saking keselnya gue pun jadi sewot. "Yaudahlah, mending gue pegangin tangan gue sendiri ajalah."


Waktu dulu ke mana pun gue pergi dan berada pasti Dodo selalu ngikutin dengan mulut yang nggak ada hentinya ngoceh, kecuali kalau dia lagi nguyah makanan, maka itu bocah bakalan berhenti ngomong karena baginya makan itu lebih penting dari segalanya.


Sewaktu gue masih kecil, kira-kira sekitar umur dua belas tahun, ketika keluarga gue lagi jalan-jalan ke tempat rekreasi yang ada di Jakarta. Dodo yang memang nggak bisa ngeliat makanan yang dijual oleh para pedagang di tempat rekreasi itu, akhirnya dia mengajak gue yang terkesan maksa buat temenin dia beli jajanan. Padahal sebelumnya dia abis makan semangkuk soto Betawi malahan gado-gado punya mama masih sempetnya dia palak.


Dan gue sebagai kakak yang baik, mau nggak mau akhirnya nurut aja apalagi Dodo mintanya sambil masang muka melas dan gue paling nggak tega liat muka dia kayak gitu. Pas gue lagi beli jajan sama dia, itu bocah gembul terus-terusan nanya sama gue gimana rasanya semua makanan yang ada di sana, dan jelas-jelas gue belum pernah nyobain dan juga waktu itu pertama kalinya gue berkunjung ke tempat rekreasi tersebut.


Intinya sih, Dodo sama Wati. Keduanya sama-sama bikin gue kesel.


"Lo kalau mau nyebrangin jalan, nyebrang sendiri aja sana, eh enggak. Berdua sama Rinjani." Gue kembali sewot, ini lama-lama gue bisa ngambek beneran dah.


Wati cekikikan saat gue kembali sewot. "Ih, baru tahu gue, kalau kaleng kerupuk bisa ngambek."

__ADS_1


"Bodo amat!"


"Jangan ngambek dong, nanti mukanya berubah loh jadi gusi motor," katanya sambil nyenggol bahu gue pake tangannya.


"Bodo amat!"


"Yaudah, siniin tangan lo. Biar gue yang nyebrangin lo jalan."


"Bodo amat!"


Wati sedikit cemberut, mungkin karena tadi sebanyak tiga kali gue selalu bilang bodo amat tanpa menambahkan atau mengucapkan kata-kata yang lain lagi, dan kayaknya dia mulai kesel sama gue, hahaha. Bodo amat.


Karena nggak mau berdiam diri di pinggir jalan terlalu lama dan gue masih ada kelas nanti sore, tanpa meminta persetujuannya gue meraih tangan kanannya menyusuri jari-jari tanganya, sampai akhirnya dia menoleh ke arah gue. Sebelum Wati melontarkan ucapan yang bisa aja bikin kepala gue pusing, gue terlebih dahulu menghentikannya dengan berkata, "Udah lo nggak usah ngomong lagi, kapan nyebrangnya kalau lo kebanyakan ngomong?"


Wati sempat bengong sebentar, tapi setelah itu. Dia tersenyum manis masih dengan kepala yang menoleh ke arah gue.


"Tangan gue pegangin yang erat ya biar gue nggak ketinggalan pas nyebrang."


Wati yang masih senyum, perlahan senyumnya nular ke gue. Memang ya selain menguap ternyata sebuah senyuman manis juga bikin nular, malah efeknya sampai menyerang ke hati, jantung, paru-paru, serta tenggorokan.


"Hai, kalian. Aku masih di sini loh. Ada Rinjani."


Gue dan Wati, dengan kompaknya menoleh ke sumber suara, menatap pada seseorang yang berdiri di samping Wati yang sedari tadi cuma jadi figuran.


"Oiya, gue lupa. Maaf Rin, habisnya dari tadi lo diem mulu sih. Gue kan jadi lupa," ucap Wati yang diselangi oleh tawanya. Dan diam-diam di dalam hati gue setuju sama ucapannya.


Rinjani berdecak, tapi setelahnya dia ketawa pelan. "Lupa atau Hanung doang yang kamu liat?"


Aduh, nama gue dibawa-bawa. Jadi malu kan gue.

__ADS_1


"Hm, dua-duanya sih hehehe." Ini lagi si Wati bisa banget ya bikin gue tambah malu.


__ADS_2