
Abis bikin rujak sama penghuni-penghuni kosan gue punya kegiatan lain, yaitu rebahan sambil pejamin mata di atas kasur sampe maghrib. Ya, kegiatan itu adalah kegiatan yang nggak boleh terlewatkan semenit pun. Dan berhubung ini masih jam satu siang, waktu rebahan gue jadi agak panjangan dikit.
Tadinya sih, gue pengen rebahan di atas sofa yang ada di ruang tamu, tapi tempat itu udah di booking duluan sama si Yohan. Nggak apa-apalah, kalau gue tidur siang di kamar, gue bisa manja-manjaan sama Neneng, Ningsih, dan Anjeli. Nama-nama yang gue berikan khusus buat kasur, guling, sama bantal.
Dan ternyata, di kamar cuma ada gue doang, nggak ada bang Upin. Tau dah tuh orang lagi di mana, kalau tebakan gue sih, palingan dia lagi gibahin kucing yang gayanya kayak preman bareng bang Wildan.
Jadi gue mau sedikit cerita aja nih, di kawasan indekos yang gue tempatin, ada dua kucing jantan kampung yang cukup meresahkan kucing betina, baik itu kucing peliharaan maupun kucing liar.
Kenapa gue menyebutkan dua kucing jantan itu preman? Karena mereka sering buat onar, mulai dari suka nyolong makanan di rumah orang-orang, pipis sembarang, berak sesuka hati, dan ngajakin berantem kucing lain sampai bikin heboh sekampung.
Btw, gue mau tanya. Kucing kalau berantem karena hal apa sih? Sampe gempar begitu, dan yang lebih keselnya selain berisik, kucing yang berantem udah nggak mempan lagi kalau disiram pake aer cucian.
Saking seringnya buat masalah, dua kucing jantan itu udah dikasih nama sama warga. Namanya Rembo sama Toil, banyak yang bilang kalau kucing oren sama kucing abu-abu itu musuh bebuyutan tapi nyatanya mereka malah sohib, best friend forever. Saling bantu membantu apalagi dalam hal nyolong ikan di rumah orang. Beuh, sangat kompak sekali, si Rembo yang nyolong si Toil yang jaga diluar.
Ya, untungnya aja sih. Cosmos beserta tiga anaknya aman dari jangkauan Rembo dan Toil, gue nggak bisa bayangin kalau semisal mereka masih satu lingkungan, bisa-bisa dua kucing preman yang best friend forever nggak jadi best friend lagi, gegara ngerebutin Cosmos si janda anak tiga.
"Nung. Nung. Nung!"
Gue yang lagi meluk Ningsih dan udah siap-siap meluncur ke alam mimpi, mata gue terbuka nengok ke belakang buat natap tajem si Juna yang udah manggil nama gue sambil nepuk bahu gue sebanyak tiga kali.
"Apaan?"
"Mabar kuy," jawabnya sambil cengengesan.
Gue rolling eyes sambil berdecak. "Males ah, gue ngantuk pengen tidur."
Padahal gue pengen lanjutin bobo siang gue yang tertunda, tapi karena si Juna ngomong mulu, gue jadi nggak bisa tidur.
"Yaelah, masa tidur sih? Pamali tau abis makan langsung tidur."
Omongannya sama sekali nggak gue gubris, bodo amatlah. Mau dibilang pamali kek, bumali kek, ommali kek, bimali kek. Gue nggak peduli yang penting gue bisa tidur sambil peluk Ningsih, tidur dipangkuan Anjeli, dan Neneng yang bikin gue nyaman.
"Mabarlah, bentaran doang kok."
"Males, Jun." Gue menyahut dengan mata tertutup dan nggak nengok lagi natap dia.
"Kok lo begitu, sih. Sama gue, Nung? Lo nggak inget tentang kenangan kita dulu?"
Juna terus ngoceh dan gue tetep nggak peduli.
__ADS_1
"Inget, Nung. Dulu itu kita deket banget kayak ketumbar dempet." Gue mendengus karena gue merasa kalau gue sama dia itu bukan kayak ketumbar dempet, tapi kayak kemiri dempet.
"Kita pernah tidur seranjang, Nung. Makan sepiring berdua, masak berdua, nyuci baju berdua, bahkan kita juga pernah—"
"Oke, kita mabar!"
"Nah, gitu dong." Juna cengengesan.
Dan gue cuma bisa mendengus sebal karena rencana gue buat tidur siang jadi tertunda.
*
"Nung, bangun dong! Jangan kayak kebo gini dong!"
Padahal gue baru aja pejamin mata, setelah lima menit yang lalu gue udah selesai mabar sama Juna. Terus ini si Jeri dateng-dateng ngatain gue kebo.
"Apaan lagi, sih?!"
"Bantuin gue dong."
"Maaf nih, mending lo minta tolong sama yang laen aja. Soalnya gue pengen tidur."
Mendadak gue jadi pengen mengumpat, pengen gitu nih mulut ngomong kata-kata kasar. Karena siapa sih yang nggak kesel kalau acara bobo siangnya jadi terganggu buat kedua kalinya?
"Nggak bisa, Jer. Gue ngantuk!"
Karena udah terlanjur males gerak, gue ngambil si Anjeli buat nutupin muka terutama kuping gue.
"Nung. Ayo dong, bantuin gue. Nanti urusan makanan lo selama seminggu gue yang tanggung."
Enggak tahu itu sogokan atau ketiban rejeki nomplok, gue nggak lagi nutupin muka pake Anjeli dan enggak tahu kenapa gue udah nggak kenal sama yang namanya males.
"Jadi, lo mau minta tolong apa?" tanya gue dengan mendudukkan diri di atas kasur yang gue kasih nama Neneng.
"Hm, itu bola sepak gue yang ada tanda tangannya Mesut Ozil diambil sama bocah kampung yang sering lewat kosan kita."
"Terus?"
"Tolong ambilinlah, Nung. Soalnya di kosan ini yang muka sama badannya yang serem cuma lo sama bang Bagas doang."
__ADS_1
Bangke, gue dibilang serem. Kalau bukan karena Jeri yang bakalan nanggung biaya makan gue selama seminggu, gue nggak akan mau.
"Tadinya gue mau minta tolong bang Bagas, cumanya dia udah pergi duluan."
Gue mendengus. "Emangnya lo udah coba ambil sendiri?"
"Udah, tapi gue malah diledekin. Bocahnya pada begal semua."
Oke, kalau udah kayak gini. Gue emang harus turun tangan.
*
Tadi pas gue mau ngambil bola sepaknya Jeri yang ada tanda tangannya Mesut Ozil, ada satu bocah bengal yang bilang kalau bapaknya itu polisi terus katanya dia mau laporin gue sama Jeri biar ditangkep.
Bentar, sebelum gue mau ngebacot. Gue mau tarik napas dulu. Satu, dua, tiga...
HELLOOOO? Buat lo bocah kurus yang kakinya banyak koreng! Gue bilang nih ya sama lo dan temen-temen lo! Gue sama Jeri salah apa emang? Bolanya juga punya si Jeri, bukan punya elo bocah koreng! Belum tau aja tuh bocah kalau bapaknya Jeri orang penting.
Kalau mau laporin tuh si Rembo sama si Toil soalnya udah meresahkan kucing-kucing yang lain.
Dan urusan gue yang udah selesai buat ngambil bolanya Jeri, gue langsung balik ke kamar mau bobo siang. Dan saat gue baru taruh pantat di atas kasur, handphone gue yang ada di atas nakas bergetar, itu tandanya ada panggilan telepon yang masuk, dan ternyata Wati nelepon gue.
"Kenapa?"
"Lo di mana?"
"Kosan."
"Bisa ke rumah gue nggak sekarang?"
"Ngapain?"
"Temenin gue, Nung. Gue sendirian di rumah. Mau ngajakin lo maen keluar tapi mager. Lo bisa dateng ke sini, kan?"
Gue sempat diam sebentar, buat berpikir. Kalau semisal gue bilang enggak bisa, gue yakin Wati bakalan cemberut. Kalau gue bilang bisa, mau nggak mau gue harus merelakan jam tidur siang. Tapi demi pacar apa pun bakalan gue lakuin, kecuali lompat dari gedung sama minum racun.
"Hm, bisa. Ti."
"Oke, gue tunggu ya."
__ADS_1
Ya, rencana gue bener-bener gagal buat hibernasi layaknya beruang kutub. Dan kini saatnya gue harus mengucapkan selamat tinggal pada Neneng, Ningsih, sama Anjeli.