Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Menjelajahi Kampus di Malam Hari 3


__ADS_3

Awalnya sih biasa-biasa aja, tapi pas gue dan yang lain lagi jalan santai tiba-tiba ada suara benda jatuh yang cukup keras dan nggak tau sumbernya dari mana. Karena suara itu sontak aja gue dan yang lain berhenti melangkah dengan pandangan yang saling melempar tatap karena penasaran.


"Kalian tadi denger, itu suara apa?" Pertanyaan yang berasal dari mulut bang Radit mendapat anggukan singkat dari kami semua.


"Denger, kayak ada yang jatoh tapi bukan harapan," sahut bang Guntur dengan puitisnya dan itu membuat kak Windi jadi meringis kecil, kayaknya sih kak Windi cukup merinding apalagi tadi bang Guntur ngomongnya sambil masang muka melas.


"Kayaknya asalnya dari arah perpustakaan deh." Kali ini kak Jena yang menyahut dan gue sependapat sama kak Jena, soalnya letak perpustakaan emang deket banget sama posisi gue dan yang lain berdiri, jaraknya cuma beberapa langkah aja.


"Mau dicheck?" tanya bang Radit dengan semangat yang menggebu-gebu dan mungkin penyebabnya karena tingkat penasarannya udah diambang batas.


Sejenak gue juga ikut penasaran sama pelaku yang udah berhasil ngagetin gue dan yang lain, kira-kira gue bisa liat wujudnya nggak ya?


"Gimana, Jen? Dicheck nggak?" Kak Windi bertanya, meminta persetujuan dulu dari kak Jena yang emang orangnya bisa merasakan berbagai macam hawa.


"Check aja, nggak apa-apa."


Karena kak Jena yang udah bilang kayak begitu, ada sekiranya sedikit ketenangan di dalem hati. Soalnya kemungkinan besar dedemit yang ada di dalem perpustakaan nggak begitu jahat.


"Bentar deh, kita mau ngecheck gimana? Emang ada yang pegang kunci perpustakaan?" Bang Guntur tiba-tiba menyahut, dan sahutannya itu bikin kami semua baru kepikiran sama apa yang dia omongin.


"Lah iya, baru nyadar gue." Bang Radit cengar-cengir. "Didobrak aja kali, ya?"


Usulannya itu langsung dibales gelengan singkat dari kak Windi. "Jangan nanti pintunya bisa rusak."


"Yaelah, Kak. Paling cuma knop pintunya doang yang rusak," kata gue dan kak Windi cuma bisa rolling eyes.


"Hm, Coba deh dibuka dulu aja pintunya, kali aja gitu ada mukjizat." Kak Jena berbicara dan berhubung yang deket pintu perpustakaan itu bang Radit, otomatis tangannya terjulur buat ngeraih knop pintu.


Dan zimzalabiiiiiiiim, mukjizat yang dibilang kak Jena beneran terjadi, ternyata pintu perpustakaan nggak dikunci. Wah, kalau kayak begini sih gue curiga kalau sebenernya kak Jena emang udah tau dari temennya yang tidak bisa dilihat.


"Lah iya bener. Pintunya nggak dikunci, alhamdulillah akhirnya gue bisa silaturahmi sama saudaranya Hanung." Di akhir kata dia cengengesan sambil natap gue yang kebetulan lagi natap dia sambil melotot.

__ADS_1


"Heh! Mulutnya lancar banget ya kalau ngomong!"


"Iyalah, lidah gue kan nggak ada tulangnya." Bang Radit cengengesan.


Hm, kalau bukan senior yang cukup gue banggakan, mungkin salah satu tangan gue nggak akan segan-segan buat jitak dia sampe kepalanya jadi dua belas.


"Kok tumben banget ya, pintunya nggak dikunci?" Kak Windi terheran-heran.


"Lupa dikunci kali." Bang Guntur menyahut.


"Apa jangan-jangan, ada maling di dalem?"


"Hah, maling? Nggak mungkin deh, Dit. Lagian mana ada maling yang mau nyolong buku? Buat apaan coba?" kata kak Windi, ngejawab omongan asalnya bang Radit.


"Yakali aja gitu, buku yang dicolong dijadiin bungkus cabe sama bawang?"


"Ngaco banget lo!"


Berhubung sekarang udah malem jadi otomatis lampu-lampu yang berfungsi buat menerangi hidupku hehehe salah maksudnya buat menerangi perpustakaan lebih terang dari koridor kampus, jadi yang megang senter otomatis senternya dimatiin. Karena selain menghemat daya batre alesan yang lain juga karena nggak guna.


Dan enggak tau kenapa, gue yang baru beberapa langkah masuk ke perpustakaan rasanya tuh kayak ada sensasi merinding yang bikin semua bulu berdiri terutama bulu hidung.


"Kok di sini gue nggak liat apa-apa, ya?" celetuk bang Guntur sambil celingak-celinguk ke kanan dan kiri.


"Lah, emang iya? Berarti lo buta dong?" Bang Radit menyahut asal dan beberapa detik kemudian bang Guntur berdecak sebal.


"Bukan begitu maksud gue! Maksudnya tuh gue nggak liat ada setan atau sejenisnya di sini, padahal tadi jelas-jelas ada suara benda jatuh di sini," jelas bang Guntur.


Bang Radit manggut-manggut. "Oh, begitu. Sama sih gue juga nggak liat apa-apa di sini."


"Gue sih udah liat dua makhluk di sini." Kak Jena menyambar dan sukses bikin gue iri. Serius, dari awal sampai sekarang gue sama sekali belum liat apa-apa sama kayak bang Radit sama bang Guntur.

__ADS_1


Dan mendadak gue menaruh curiga, sebenernya mereka itu emang sengaja lagi ngumpet buat ngasih suprise ke kami, lagi nongkrong di kuburan sebelah sambil nonton layar tancep, atau lagi pulang kampung karena objekan buat takut-takutin orang lagi sepi?


"Wujudnya kayak gimana tuh, Kak?" tanya gue ke kak Jena, karena jujur aja gue cukup penasaran sama makhluk penghuni perpustakaan.


"Yang satu bocah cewek dia lagi duduk di atas rak buku yang dipojok sana," pandangan kak Jena teralih ke arah rak buku yang ada dipojok, "yang kedua nenek-nenek penjaga perpustakaan ini. Tadi gue liat dia lagi berdiri di deket pintu terus sempet ada di belakang lo juga."


*****, pantesan aja tadi gue merinding sekujur badan. Untungnya aja gue bukan orang yang penakut, bisa-bisa gue udah teriak-teriak minta makan. Mau tau apa hubungannya? Yang jelas nggak ada sama sekali.


"Eh, kambing! Apaan tuh?!"


Ada yang latah, dan itu bukan gue. Tapi bang Guntur. Dan wajar aja sih kalau bang Guntur latah soalnya buat yang kedua kalinya kami denger suara benda jatuh dan bunyinya cukup kencang dari sebelumnya. Mungkin yang kaget bukan bang Guntur aja tapi gue dan yang lainnya juga.


"Ih, kaget banget gue," ucap kak Windi sambil elus-elus dadanya.


"Sama, Kak. Gue juga kaget."


Karena udah kepalang tanggung, kami terus jalan buat nyari sumber suara dan penasaran juga benda apa sih yang jatuh.


Lagi dan lagi gue merinding buat kedua kalinya, karena jujur aja tadi gue sempet ngeliat bayangan hitam yang lewat sepintas dan jaraknya itu nggak terlalu jauh dari tempat gue berdiri.


"Astagfirullahaladzim!"


Denger bang Guntur nyebut dengan nada yang cukup keras, membuat gue dan yang lain noleh ke arah dia. Dan ya, nggak jauh dari sana gue melihat sesosok makhluk yang cukup mengerikan lagi berdiri sambil nundukin kepalanya.


Mendadak gue jadi cengo sendiri. Asli, itu setan apa bukan? Kalau setan kok kakinya bisa napak di lantai? Apa jangan-jangan itu jenis setan model baru? Hm, bisa jadi sih.


Dan ada hal yang bikin kecengoan gue makin bertambah, saat makhluk yang gue anggap setan itu angkat mukanya.


"Hai? Hehehe."


Arra dengan muka kucelnya dan rambut panjangnya yang acak-acakan kayak orang edan malah cengengesan tanpa berdosa karena udah kagetin kami semua. Mendadak gue jadi nyesel sekaligus kesel karena mau ikut menjelajah kampus tercinta di tengah malem kayak gini, kalau tau begini hasilnya mending gue molor sambil meluk si Ningsih sampe ileran.

__ADS_1


__ADS_2