Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Latihan


__ADS_3

Habis main ke rumah bibi sebentar sekalian minjem buku ke bang Egi, gue diperintahkan sama ketua band Dear One buat latihan jam tujuh malem nanti di studio yang udah dia sewa. Omong-omong, mengenai Dear One, reputasi band yang anggotanya diisi oleh pria-pria tampan terutama gue, semakin lama makin bagus.


Apalagi bang Adam yang berposisi sebagai vokalis, popularitasnya lebih bagus dua kali lipat dari yang lain. Wajar sih, soalnya suaranya bang Adam bagus malah kata Wati suaranya bikin ambyar kayak nasi padang yang aur-auran karena karet buat bungkusin nasinya putus.


Selain itu, kalau kita lagi manggung pasti para penonton kebanyakan lebih fokus ke vokalisnya, dan terakhir gue mengakui kalau bang Adam itu ganteng. Jadi masuk akal, kan. Kalau ketenaran bang Adam di Dear One lebih bagus?


Balik lagi soal Dear One, karena dua hari lagi kami bakalan manggung di cafe. Jadinya sebagai persiapan dan agar penampilan kami lebih maksimal, kami harus latihan.


Berhubung sekarang gue udah ada di kosan dan sekarang masih jam empat sore, maka sebelum jam tujuh malem, gue memutuskan buat nyantai-nyantai di ruang tamu sambil mabar sama Rian di aplikasi games online.


Ketika gue lagi perang sama musuh dan berusaha buat mematikan musuh dibantu Rian, tiba-tiba aja secara nggak terduga. Ada telepon masuk dari Wati.


Dan, ya. Gara-gara telepon itu games yang gue mainin otomatis kalah. Hm, rasanya mau mengumpat tapi nggak bisa karena yang ada gue malah digeprek sama dia.


"Kenapa?"


"Nung, jemput gue dong."


"Lo di mana?"


"Rumahnya Rinjani."


"Di mana? Gue nggak tau rumahnya."


"Deket kampus, Nung."


Sontak gue mendengus, karena jawabannya nyebelin.


"Iya, gue tau rumahnya Rinjani emang deket kampus. Tapikan gue nggak tau lebih detailnya, emang lo pikir gue bisa baca pikiran orang, apa?"


Di seberang sana gue bisa denger suara Wati cekikikan.


"Iya, ya? Yaudah gue kirim alamatnya ya."


"Tapi jemputnya nanti ya, abis mandi. Gue cepet kok mandinya."


"Iya, btw. Tumben lo mandi? Biasanya kan lo mandi sehari sekali."


Lagi-lagi gue pengen mengumpat, tapi kalau dipikir-pikir lagi omongannya emang ada benernya. Soalnya waktu itu gue pernah bilang ke dia, kalau gue kadang mandi sehari sekali biar menghemat air untuk anak cucu di masa depan.


"Iya, soalnya gerah. Terus juga nanti gue mau latihan."


"Latihan nge-band?"


"Iyalah."


"Jam berapa?"


"Jam tujuh malem."

__ADS_1


"Ikuttttttttttttt! Nung, gue mau ikut!"


Gue menjauhkan hp, karena nada bicaranya yang agak meninggi. Untung aja kuping gue nggak sampai budek.


"Ngapain sih?"


"Liat kak Adam lah, emang lo kira siapa lagi?"


Untuk kedua kalinya gue denger suara dia lagi cekikikan. Aduh, punya pacar begini amat ya. Padahal pacarnya itu gue bukan bang Adam.


"Gue ikut ya, Nung. Please."


"Iya, iya."


Gue yakin banget pasti tuh bocah lagi senyum-senyum, karena gue ijinin ikut ke sana.


"Yaudah, kalau begitu. Lo jemput gue nanti aja pas mau berangkat latihan, oke?"


"Iya."


Dan sambungan telepon dia tutup.


.


Sesuai janji, gue dateng ke rumah Rinjani buat jemput Wati yang masih betah numpang rebahan di sana. Dan ketika gue udah sampai di depan rumahnya Rinjani tanpa turun dari motor, gue menekan tombol klakson sebanyak dua kali sebagai tanda kalau sang pangeran ingin menjemput tuan putrinya. Anjay gurinjay.


Nggak lama kemudian, orang yang gue tunggu menampakkan dirinya dan ternyata dia nggak sendirian ada Rinjani yang nemenin dia keluar.


"Iya, hati-hati ya," ujarnya sembari memberikan seulas senyum pada Wati, dan setelah itu tatapan matanya teralih ke arah gue. "Nung, bawa motornya jangan ngebut-ngebut."


"Iya, tenang aja," sahut gue, "pamit dulu ya, Rin."


Selesai pamitan sama Rinjani, gue menjalankan motor dan dari pantulan kaca spion si Wati sempet ngelambain tangannya sama temennya itu. Ketika gue udah ada di jalan raya buat pergi ke tempat latihan, dan berhenti karena lampu merah.


Wati tiba-tiba deketin mukanya di bahu gue dan kalau udah kayak gini ada dua kemungkinan, pertama karena dia ngantuk dan kedua karena dia pengen ngomong sesuatu.


"Nanti band lo mau tampil di mana?"


Meski di jalan raya dan berada di atas motor, gue bisa denger suaranya jelas tanpa ada gejala budek seperti biasanya.


"Cafe yang ada di Pulo Gadung."


"Gue boleh dateng nggak?"


Tanpa banyak basa-basi gue langsung ngejawab, "Nggak boleh, nanti yang ada lo malah bikin malu."


Lagi, melalui kaca spion gue bisa liat kalau dia lagi cemberut. Gimana ya? Gue bukannya nggak ngebolehin dia dateng saat band gue tampil nanti.


Sedikit cerita aja nih, waktu dulu gue pernah ajak dia buat dateng pas Dear One tampil di depan umum yang tempatnya di cafe lain. Dan waktu itu gue menduga kalau dia bakalan duduk anteng sambil dengerin lagu selesai dinyanyiin, tapi nyatanya. Pas kami tampil dengan nggak tau malunya dia teriak-teriak nama bang Adam berkali-kali, mana teriakannya paling kenceng.

__ADS_1


Dan untuk kali ini gue bisa nebak, sebagai fans nomor satunya bang Adam. Gue yakin kalau nanti dia bakalan pake kaos gambar mukanya bang Adam, bawa banner gede bertuliskan 'Adam Darma Mahesa' beserta mukanya bang Adam, dan tentunya sambil teriak-teriak sebutin namanya bang Adam sampai serak.


"Nggak kok, Nung. Paling juga gue teriak-teriak nama kak Adam sambil bawa banner yang gambar mukanya dia."


Tuh, kan. Tebakan gue bener.


.


"Halo, guysss!"


"Halo, Kak Adam!"


Sapaan dari Wati itu, bikin anggota Dear One yang lagi ngumpul noleh semua. Ngeliatin gue maupun Wati yang lagi cengengesan.


"Tumben kamu ke sini, diajakin Hanung ya?" tanya bang Adam, ketika cowok itu berdiri dari duduknya.


"Enggak, Bang. Dia sendiri yang minta ikut," sahut gue bikin Wati nyengir sok malu-malu kayak kucing garong.


"Hehehe, iya. Kak. Soalnya aku kangen pengin liat Dear One latihan, tapi lebih kangen denger Kakak nyanyi sih." Di akhir kata Wati makin ngelebarin cengirannya dan bang Adam yang liat cuma bisa senyum-senyum aja.


Anggota Dear One yang udah kumpul semua, mulai ambil posisi masing-masing. Bang Adam sebagai vokalis, bang Wahyu sebagai bassist, Geo sebagai gitaris, Faris sebagai Keyboardist, dan gue sebagai drummer.


Wati yang nonton dia duduk di depan sambil ngasih semangat ke semuanya, dan ketika Dear One lagi bawain salah satu lagunya Naff, si Wati ikutan nyanyi bahkan di tengah-tengah lagu dia sempet teriak heboh nyebutin namanya bang Adam mulu dan untungnya aja tuh bocah nggak sawan.


Bukan cuma pas lagu Naff aja dia heboh sendiri, bahkan waktu kami lagi bawain lagu sendiri pun, tuh bocah ngelakuin hal yang sama bahkan sekarang tangannya ikut goyang. Hm, terlalu menghayati kayaknya.


Selesai bawain lagu sendiri, bang Adam nyuruh kami buat istirahat sebentar. Dan gue berjalan buat duduk di samping Wati yang lagi natap bang Adam penuh kagum.


"Kak Adam."


Bang Adam yang lagi berdiri karena benerin stand mic-nya, langsung noleh ke arah Wati.


"Kenapa?"


"Sebelum kakak tampil sama yang lain aku cuma mau kasih tau aja."


"Soal apa?"


"Nanti kan, aku ada niatan buat dateng ke sana, dan udah pasti aku bakalan nonton paling depan," katanya sambil senyum-senyum. Serius deh, gue yang duduk di sampingnya langsung merinding. "Kalau Kakak nyanyi jangan liatin aku terus, ya."


"Kenapa?" tanya bang Adam karena nggak ngerti.


"Nanti yang ada Kakak malah grogi, hehehe," jawabnya sambil malu-malu, sedangkan bang Adam cuma ketawa pelan.


Mendadak gue jadi julid sendiri ngeliat kelakuan Wati. Kalau gue jadi bang Adam, ini bocah satu bakalan gue usir malah kalau bisa gue bakal blacklist dia sebagai fans.


Jahat? Emang. Karena menjadi jahat adalah jalan ninjaku, Hahaha.


Gue yang ngeliat secara langsung gimana centilnya dia dan gimana genitnya dia, gue sebagai pacarnya cuma bisa geleng-gelengin kepala.

__ADS_1


Sebenernya gue biasa aja sih, soal dia yang kecentilan sama bang Adam atau apalah itu. Karena pertama bang Adam itu udah punya pacar dan kedua karena gue tau gimana tipe perempuan kesukaannya bang Adam, dan Wati nggak masuk kriterianya.


Kenapa gue bisa bilang nggak termasuk? Karena bang Adam itu sukanya sama perempuan yang kalem sedangkan Wati enggak ada kalem-kalemnya sama sekali, dan bang Adam itu suka sama perempuan yang dewasa, kalau Wati jangan ditanya deh sifatnya masih kayak bocah. Malah lebih bocah dari bocah yang umurnya lima tahun, dah itu aja.


__ADS_2