
Entah, udah berapa jam gue galau duduk dipojokan sambil dengerin lagunya pak Haji Rhoma Irama berkali-kali.
Dan udah berkali-kali juga, penghuni kosan berusaha buat menghibur gue, mulai dari Juna yang jadi uler kobra, Rian jadi spiderman nempel ditembok udah kayak cicak, Yohan yang pura-pura jadi kaleng fanta, bang Upin ngajakin gue nonton yang diiming-imingi oleh gratisan, serta bang Bagas yang berusaha buat ngajak ngobrol.
Dan dari usaha mereka semua, gue tetap bergeming, masih diam seribu bahasa yang kadang sesekali ngelirik mereka sebentar terus natap tembok lagi.
Sebenernya, gue cukup capek sama kegalauan ini, tapi hati gue masih sakit coi. Mau coba ngilangin kegalauan, eh malah makin menjadi-jadi.
Kan, kalau udah kayak begini gue harus apa? Menjelma jadi tembok?
Secara tiba-tiba, gue denger suara ketukkan pintu berkali-kali.
"Nung, buka pintunya." Gue denger ada suara Yohan di luar sambil ngetok pintu.
Dan gue, cuma diem aja di tempat. Males bukain pintu soalnya nanti mereka bakal ngerusuh lagi. Jadi, semenjak mereka ngerusuh pintu kamar sengaja gue kunci.
"Nung, buka dong. Gue ngeri liat lo galau. Gue sebagai temen sekamar lo jadi sedih liatnya." Nggak usah ditanya itu suara siapa, tapi kalau ada yang nggak tau gue bakal kasih inisialnya, namanya Yuvino Sebastian.
"Iya, Nung. Gue juga," Setelah suara bang Upin yang gue denger, sekarang suara beratnya Juna yang nyusul, "daripada lo galau mending lo hina gue aja, nggak apa-apa."
"Iya, Nung. Lo hina si Juna aja. Kita gibahin bareng-bareng, Nung. Mumpung gue punya bahan gibahannya nih," kata Rian yang membuat gue amat yakin, setelah dia ngomong kayak begitu Juna melotot dan nggak lama setelah itu mereka adu bacot alias berantem.
"Adaw! Sakit bodoh! Dasar kingkong wakanda!"
"Daripada lo, curut taman safari!"
Tuh, kan. Bener dugaan gue, mereka pasti berantem. Btw, kingkong wakanda itu panggilan sejenis hinaan buat Juna dari Rian, sedangkan curut taman safari hinaan buat Rian dari Juna.
"Heh! Kok lo nyubit sih?!"
"Sorry, nggak sengaja."
Dan setelah itu tercipta suara baku hantam.
"Heh! Ini kenapa kalian malah berantem sih?!" omel bang Wildan, yang suaranya baru gue denger.
"Lah, iya? Ngapa kita jadi berantem, ya?"
__ADS_1
"Tau dah, gue juga bingung."
Beberapa kemudian, terdengar suara jeritan Juna sama Rian, dan lagi-lagi gue menebak kalau penyebab mereka menjerit karena bang Wildan.
Ngomong-ngomong, kalau mereka udah sama bang Wildan. Peran mereka bakalan jadi anak tiri, sedangkan bang Wildan udah jelas ibu tiri yang kejam.
"Adoh. Sakit, Baaang."
"Ampun, Bang. Jangan cubit gueee."
"Awas aja, ya. Kalau kebodohan kalian sampai nular ke gue!" omel bang Wildan yang seketika bisa gue bayangkan, kalau dua anak tirinya lagi nunduk mau mewek.
Dan beberapa detik kemudian, suara ketukkan pintu terdengar lagi.
"Nung, buka pintunya. Lo belum makan dari tadi," ucap bang Bagas, yang dari sekian banyaknya yang berusaha bujuk gue, cuma bang Bagas yang bujukkannya paling normal. Tapi tetep aja, bujukannya nggak berhasil buat gue luluh, sekalipun ada Chelsea Islan, Yuki Kato, atau host uang kaget ngedor-ngedor pintu kamar kosan gue, tetep nggak akan mempan.
"Nung, ini gue Jeri, kalau lo mau sesuatu bilang ke gue."
Anjerr, kalau mau sesuatu bilang aja. Mentang-mentang orang kaya, kalau gue mau lahar gunung berapi atau segumpal awan bakal diturutin nggak nih? Palingan juga dijitak.
"Iya, bukan cuma Yohan aja yang dobrak, bang Bagas sama Juna. Juga bantuin dobrak, kalau perlu sekalian sama temboknya dibobol!" Lagi-lagi ucapan yang ditambah sama Rian, bikin gue sama sekali nggak peduli.
Beberapa menit kemudian, gue nggak denger suara kesuruhan, ketukan pintu, dan lain-lain. Keadaan sepi seperti sebelum mereka dateng.
Dan entah kenapa, di saat mereka pergi. Gue mengembuskan napas, yang panjangnya nggak sepanjang rel kereta api.
*
Saat ketukan pintu terdengar, secara spontan gue buka mata. Tadi pas gue lagi natap langit-langit kamar gue tiba-tiba ngantuk serasa lagi dihipnotis sama langit-langit kamar.
"Nung, tolong buka pintunya. Gue mau ngomong."
Samar-samar gue denger suara seseorang yang balik pintu, dan kalau nggak salah suara yang gue denger itu, suara cewek. Tapi gue agak ragu, soalnya kan gue baru bangun tidur yang jangka waktunya nggak lebih dari setengah jam.
"Nung, please. Buka pintunya."
Kayak suaranya Wati? Atau emang beneran ada Wati di depan kamar? Ah, masa sih. Gue nggak percaya, pasti itu kerjaannya Yohan, dia ngubah suaranya jadi cempreng supaya gue penasaran dan akhirnya bukain pintu buat mereka-mereka.
__ADS_1
Tapi, sayang sekali. Gue nggak akan semudah itu tertipu, cuih.
"Hanung, gue tau. Lo denger dan lo juga nggak tidur."
Bentar, bentar. Kok perasaan gue jadi bimbang gini, ya? Kalau semisal itu suaranya Yohan, mana mungkin suaranya sama persis kayak Wati?
"Kalau dalam hitungan sepuluh, lo nggak buka pintu juga. Gue bakalan pulang!"
Rasa penasaran yang memuncak dan sekedar memastikan, akhirnya gue memutuskan buat bukain pintu, kalau semisal suara cewek yang persis kayak Wati, adalah kerjaannya si Yohan. Itu tandanya dia ngajak perang.
"Akhirnyaaaaa."
Anjerrr, ini kenapa orang-orang pada ngumpul di depan pintu semua????? Dan, ya. Dugaan gue salah. Ternyata Wati beneran ada di sini. Enggak tau deh, gue harus senang atau kesal?
"Gue mau ngomong sama lo," katanya sambil natap gue, nggak ada tatapan sinis di matanya.
Gue mendengus kasar, karena jujur aja gue masih kesel sama kejadian itu. "Mau ngomong apaan?"
Wati nggak langsung jawab, dia malah ngusap lehernya sebentar sambil nengok ke belakang sebentar juga. "Hm, bisa nggak kita ngomongnya secara empat mata aja?"
"Wah, kita diusir, guysss," sahut Juna, yang langsung nyadar sama ucapannya Wati. Tumben tuh bocah peka.
"Yuk, kita pindah, yuk. Mereka butuh privasi," perintah bang Wildan, dan buat mereka secara satu persatu pergi. Dan yang terakhir pergi adalah Yohan.
Karena sebelum pergi, tuh bocah mau ngomong sesuatu dulu.
"Jangan berantem ya, awas aja kalau sampe berantem. Gue nggak akan segan-segan bilang ke orang tua kalian, kalau Hanung udah hamilin Indi. Biar kalian dikawinin secara paksa. Hahaha mamposss." Yohan ketawa setan, sampai dia nggak nyadar kalau gue sama Wati natap dia galak dan siap buat nabok kepalanya berkali-kali biar otaknya nggak miring lagi.
Mungkin, karena punya firasat yang nggak bagus. Yohan si jelmaan ayam langsung berhenti ketawa, pandangannya natap gue sama Wati secara bergantian, dan nggak lama kemudian tuh bocah malah cengengesan. "Hehehe, yang tadi aku bercanda, guys. Tapi awas aja kalau sampai berantem lagi."
Setelah selesai ngomong, Yohan pergi. Nyusul yang lain.
Dan sekarang cuma ada gue sama Wati di depan pintu kamar, dan sejak satu menit yang lalu dia sama sekali diem, nggak ngomong apa-apa, mungkin karena dia sendiri bingung kali, ya mau mulai ngomong dari mana dulu.
***
Hm, guys. sebelumnya aku mau ngucapin terima kasib karena udah setia nunggu cerita ini, dan biar nanti nggak kaget, aku mau bilang kalau kurang dari 10 chapter lagi, cerita ini bakalan tamat. Jadi... ditunggu aja chapter-chapter berikutnya ya, hehehe.
__ADS_1