
Gue udah sampe kosan, bahkan sekarang gue lagi rebahan di atasnya Neneng, tidur dipangkuan Anjeli, dan Ningsih yang gue rangkul.
Niatnya sih gue mau langsung tidur, tapi berhubung ada hal yang gue pikirin jadinya ya begini, rebahan sambil natap langit-langit kamar kosan alias bengong.
Banyak hal yang gue pikirin. Mulai dari tugas kuliah, masa depan gue, kelanjutan kisah hidupnya kurcaci serta Snow White yang nikah sama pangeran, anime Hyouka mau dibikin season duanya apa enggak, besok mau makan pake apa, si Wati sekarang lagi apa yang malah nyerempet ke pot kembang juga sekarang lagi apa, dan terakhir tentang masa depannya Dear One.
By the way, ngomongin soal Dear One. Sekarang ini Dear One lagi renggang alias hiatus soalnya ketua sama wakilnya udah jadi mahasiswa akhir yang otomatis bang Adam sama bang Wahyu lagi sibuk bikin skripsi.
Terus juga, sebentar lagi gue, Geo, sama Faris mau PPL (program pengalaman lapangan) dan PKL (Praktek Kerja Lapangan) jadinya mau nggak mau Dear One harus bener-bener hiatus dulu sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Dua menit kemudian gue pindah posisi, masih lanjutin bengong tapi kali ini bukan lagi natap langit-langit kamar kosan tapi natap tembok beserta Ningsih yang ada dipelukan gue. Btw, natap tembok nggak buruk-buruk amat kok.
"Ebuset," ujar gue saat merasakan ada yang ikut tidur di atasnya Neneng, gue bisa tau karena rasanya ada yang bergerak selain gue di atas kasur terus leher bagian belakang gue kena embusan napas yang sukses bikin gue merinding, saat gue nengok ada satu makhluk yang sekarang lagi cengengesan, "Lo ngapain di sini, Useeeeeep!"
"Mau numpang tidur sini, boleh ya?"
Gue mendengus saat orang yang sukses bikin gue merinding tadi, lagi cengengesan. "Ngapain sih? Emang kamar lo kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa sih, tapi di sana ada bahaya yang bener-bener mengancam."
Gue yakin kalau itu cuma alibi dia doang, karena nggak begitu aja gue percaya sama omongan dia. Yaiyalah, mana ada ancaman berbahaya. Wong, di kamar kosnya juga nggak ada apa-apa.
"Bodo amat, gue nggak peduli. Pergi sana dari kasur gue! Gue mau tidur!" Selain ngusir lewat omongan, gue juga ngusir dia pake dorongan biar cepet-cepet menyingkir dari Neneng.
"Jangan usir gue dong," katanya sambil cemberut.
Ngeliat dia cemberut, gue jadi nyesel nggak kunci pintu sebelum rebahan. Soal dia yang cemberut gue sih beneran nggak peduli, dan gue masih berusaha buat dorong dia yang susah banget diusir dari sini. "Bodo amat, sempit nih. Gue susah gerak."
"Makanya kalau punya badan itu jangan gede-gede."
"Heh! Kalau ngomong tuh ngaca, ya! Bapak Yohan Septa Jouhari!" sewot gue pada si penganggu di malem ini yang namanya Yohan Septa Jouhari, si jelmaan ayam tiren.
__ADS_1
Buat ketiga kalinya Yohan lagi-lagi cengengesan. "Etapi, masih gedean badannya bang Bagas sama Juna sih kalau menurut gue. Bang Bagas lebih ke tinggi keker gitu, kalau Juna cuma tinggi doang tapi badannya lumayan lah berisi."
Serius, ocehannya itu bener-bener nggak berfaedah sama sekali. "Bodo amat, sana pergi dari tempat gue. Tidur sama bang Upin kek."
Yohan menggeleng. "Ogah ah, bang Upin kalau tidur ngorok udah gitu tidurnya nggak bisa diem, kebanyakan gaya."
Mendadak gue diem, karena apa yang dia omongan emang sesuai sama kenyataan. Buktinya aja di seberang kasur gue bang Upin lagi ngorok.
"Tidur di bawah sana."
Lagi-lagi Yohan gelengin kepalanya secara singkat. "Enggak mau, di bawah dingin, enakkan juga di sini bisa sambil meluk si Ningsih." Yohan ngomong begitu, sambil berusaha buat rebut Ningsih dari gue.
Gue yang notabene adalah pemilik sahnya Ningsih, nggak akan gue biarkan begitu saja saat siluman ayam tiren buat merebutnya. Cih, jinjja.
"Ningsih punya gue! Inget noh Stepani di kamar lo!"
"Oiya, gue lupa." Dia nepok jidat dan tentunya sambil cengengesan.
Gue sih, udah nggak kaget lagi kalau sehari Yohan bisa cengengesan di setiap menitnya. Entahlah, gue sendiri pun nggak tau yang tadi cengengesan yang keberapa.
"Kamarnya udah dikunci."
"Kamarnya Rian."
"Nggak mau, kalau tidur di sana suka dikasih tarif."
"Kamarnya Jeri."
"Orangnya kan lagi ke istana, otomatis kamarnya di kunci lah."
"Elo kan bisa taekwondo, tendang pintu kamarnya sampai rusak." Iya, gue akui ajaran gue emang sesat.
"Nggak, Nung. Gue diajarin taekwondo bukan buat ngerusakin barang tapi buat menjaga diri, apalagi ngejagain Rinjani." Di akhir kata, lagi-lagi Yohan cengengesan. Ngomong-ngomong soal cengengesan anggep aja itu cengengesannya yang keenam puluh sembilan kalinya dalam sehari.
__ADS_1
"Balik sana ke kamar lo!" cetus gue sambil dorong badannya biar jatoh dari kasur, tapi sayangnya dia nggak jatoh-jatoh yang mendadak bikin gue jadi heran serta kesel sendiri.
Begini, sebenernya gue sih nggak mempermasalahkan kalau si Yohan numpang tidur di kasur gue, tapi sayangnya kasur gue itu model single bed jadi bisa bayangin dong gimana sempitnya gue yang nggak bisa bergerak ke sana kemari kalau ada dia? Ditambah lagi ukuran badan gue sama dia bukan seukuran sereh sama daun salam.
Dan sebenernya dulu dia pernah tidur di kosan gue, tapi waktu itu Yohan tidurnya di bawah bukan di atas.
"Nggak bisa, Nung. Kan gue udah bilang tadi di sana itu lagi ada ancaman berbahaya." Yohan kekeuh, "Udahlah, biarin aja gue tidur di sini. Semaleman doang kok," lanjutnya yang lagi berusaha buat bujuk gue.
"Lagian enak tau kalau ada temen tidur tuh. Bisa ngobrol dulu, bisa ketawa-ketawa dulu, terus bisa saling pelukan itu juga kalau lo mau," ujarnya lagi-lagi sambil cengengesan.
Denger omongan dia, sukses bikin gue bergidik geli sekaligus jijik.
"Dih, ogah!"
"Sama, Nung. Sebenernya sih gue juga ogah." Yohan sibuk nyengir, sedangkan gue sibuk mendengus. Kalau ogah, kenapa tadi nawarin?? Dasar Jupri!
Berhubung gue udah muak, gue bangkit dari posisi sebelumnya yang tadi rebahan di atas kasur, terus melangkah buat keluar dari kamar.
"Eh, mau ke mana?"
Tanpa menoleh gue pun menjawab, "Mau tidur di kamar lo."
"Jangan, Nung. Di sana bahaya!" Yohan memperingati dan jujur aja gue nggak peduli sama sekali.
"Nung, gue bilang jangan ya jangan!"
Gue mengembuskan napas, karena gue makin muak sama kelakuannya dia. Sambil natap datar gue pun berkata, "Emangnya di sana ada apaan sih? Ada bom, ranjau, sinar x, uler kobra, kudanil, buaya, singa, apa beruang kutub?!" Tentu aja yang gue sebutkan tadi cuma asal-asalan.
Kemudian dengan tampang seriusnya, si Yohan menggeleng singkat. "Bukan, ancamannya lebih berbahaya dari itu semua."
"Apaan emang?"
"Kecoak terbang."
__ADS_1
Ngomong-ngomong. Jangan salahkan gue, kalau semisal besok pagi kepalanya Yohan benjol segede bohlam.