Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Maskernya Belum Kering


__ADS_3

"Ini maskernya sampai kapan dipakenya?" tanya gue ketika diri ini sedang rebahan di atas sofa sambil benerin letak ketimun yang merosot melulu.


Kata si Wati kegunaan potongan ketimun buat kelopak mata buat nyengerin mata. Tapi serius deh, menurut gue menempel ketimun di kelopak mata kagak ada seger-segernya sama sekali. Kalau kata gue nih, kalau mau nyengerin mata ya tinggal siram aja pake air es seember sambil liat cewek-cewek cantik.


Astaghfirullah, gue keceplosan. Jangan bilang-bilang si Wati. Awas aja kalau ada yang bilang, mau ubun-ubunnya gue sentil?


Btw, berbicara soal Wati. Sekarang itu makhluk lagi duduk di atas karpet sambil mainin hp, dan tanpa noleh dia langsung jawab pertanyaan gue yang tadi.


"Sampai kering, Nung. Kalau udah kering bisa dilepas."


Mendadak gue diem sebentar buat mencerna jawabannya tadi, yang katanya kalau udah kering bisa dilepas. Hm, kering ya? Gue nggak paham serius, tapi yang gye rasain muka gue rada-rada mulai kerasa kaku. Itu tandanya udah kering belum sih? Kok gue jadi bloon gini ya?


"Kalau begini udah kering belum, Ti?" Gue bertanya buat kedua kalinya, dan dia sama sekali nggak nengok ke arah gue soalnya si Wati masih fokus mainin hpnya.


"Coba lo pegang pake tangan."


"Terus?"


Bukannya langsung jawab pertanyaan gue, dia malah mendengus dan nggak lama setelah itu si Wati nengokin kepala ke arah gue. "Kalau maskernya nempel di tangan berarti belum kering, masa gitu aja nggak tau sih?!"


Gara-gara dia yang sebelumnya mendengus, gue jadi ikut-ikutan.


"Kan gue nggak pernah pake masker kayak beginian, Watiiiiii! Wajarlah kalau gue nggak tau kecuali masker buat mulut, baru tuh gue paham gimana cara pakenya," ucap gue sambil benerin letak ketimun yang sukses bikin gue kesel sendiri, dan kalau semisal ini ketimun masih merosot lagi, gue bakalan angkat tangan udah nyerah dan nggak mau peduli lagi.


Terserah ketimun mau pergi ke mana, mau mengelilingi dunia juga silahkan. Gue udah nggak bisa nahan kepergiannya lagi.


Dan lupakan soal ketimun yang udah nggak gue peduliin lagi, sekarang balik lagi soal masker yang nempel di muka gue. Kata Wati kalau maskernya nempel di tangan itu tandanya belum, dan karena gue penasaran jari telunjuk gue terjulur buat nyentuh pipi dan ternyata hasilnya ada yang nempel di jari. Hm, ternyata belum kering.


Kira-kira kapan keringnya ya? Seriusan, gue udah nggak betah. Mana jidat gue gatel banget lagi, rasanya pengen banget digaruk.


"Masih lama nggak sih keringnya?" tanya gue untuk kesekian kalinya.


Kalau sebelumnya makhluk hidup berjenis kelamin perempuan yang rambutnya dicepol asal pernah mendengus, sekarang dia malah tarik napas dan tentunya nggak lama setelah itu, si napas nggak lupa dihembuskan.


"Mana gue tau! Lo tanya aja sendiri sama maskernya."


Usai denger ucapannya, gue malah diem sambil natap langit-langit ruang tamunya dan nggak lama setelah itu gue mengubah posisi rebahan di atas sofa jadi duduk di atas sofa.


Yaiyalah, di atas sofa. Masa iya di atas gentong, dikira gue jin gentong.

__ADS_1


"Ker, lo kapan keringnya?"


Pertanyaan gue yang ditujukan buat masker yang nempel di kulit muka gue, malah bikin si Wati ketawa.


"Dasar bocah gelo, masker malah diajak ngobrol."


Ya, pacar gue emang gitu. Dari sekian banyaknya pacar-pacar gue terdahulu. Wati doang emang yang suka banget ngehujat pacarnya sendiri.


"Tadi kan, elo yang nyuruh!" sewot gue yang berusaha buat nyalahin dia.


"Kenapa juga harus diturutin? Tadikan gue cuma asal ngomong doang," kata dia membela diri, iya deh. Sebagai pacarnya yang ganteng dan baik gue memilih buat nyerah, nggak ngelanjutin adu bacot ini, karena pada dasarnya perempuan itu selalu benar.


Gue diem lagi, dan jika sebelumnya gue diem sambil merhatiin langit-langit ruang tamu, kali ini gue diem sambil merhatiin Wati yang lagi-lagi sibuk mainin hp. Sempat saling diam selama beberapa menit, gue yang nggak suka sama suasana hening berinisiatif buat ngajakin Wati ngobrol lagi. Sekalian mau nanya sesuatu hal yang dari tadi pengen gue tanyain.


Gue yang udah nggak betah duduk di sofa, memilih buat pindah ke karpet buat duduk di samping Wati. Ini kalau semisal gue sama dia posisi duduknya menghadap satu arah atau dia duduk di depan dan gue di belakangnya, serasa lagi naik karpet terbangnya aladdin, wkwkwk.


Berhubung gue duduk di samping dia, otomatis gue bisa ngeliat si Wati lagi sibuk apa sama hpnya dan ternyata dia sibuk maen games cacing alaska yang ada di kartun bang Bob alias Spongebob yang cacingnya bisa senyum, yang kulitnya warna-warni kayak ayam piloks, terus yang panjangnya bisa ngalahin kali ciliwung.


Karena gue nggak suka dicuekin, pipinya gue colek pelan, dan gue nggak peduli soal cacingnya yang bisa aja mati karena gue ganggu.


"Wati?"


"Kenapa lo nggak pake masker juga?"


"Udah kok, selesainya sebelum lo dateng."


Jawabannya yang tanpa noleh itu sukses bikin gue cemberut, soalnya kenapa dia nggak nungguin gue dulu? Biar maskerannya barengan. Pantesan aja di sini yang pake masker cuma gue doang.


"Pake lagi dong, temenin gue," bujuk gue sambil goyang-goyangin lengannya pelan.


Dan gara-garanya cacingnya mati, Wati mendengus sebal terus dia nengok ke gue sambil masang muka datar.


"Nggak, Nung. Makasih. Lo liat nih muka gue, nggak lagi kusam," katanya sambil nunjuk-nunjuk mukanya yang emang keliatan bersih.


"Ck, gitu lo mah. Nggak setia kawan."


"Bodo."


Gue pun cemberut. "Nggak temen nih!"

__ADS_1


"Bodo amat."


"Jahat lo!"


"Emang."


"Tega lo!"


"Iya, tau."


"Cium nih."


"Gue tabok luh!" sahutnya sambil melototin mata, sedangkan gue cuma bisa ngakak dalam hati.


"Galak amat, Mbak."


"Biarin."


Merasa gemas sama kelakuannya, kedua tangan gue terjulur buat cubit kedua pipinya yang agak tembem.


"Aduh. Sakit, Nung." Padahal gue cubit pipinya pelan, tapi si Wati sok-sokan merasa tersakiti.


"Lebay lo."


Tanggapan gue yang ngatain dia lebay, bikin Wati malah cemberut dan gue ketawa ngeliatnya.


"Aw, sakittt." Gue berhenti ketawa, diganti sama rintihan kesakitan karena tiba-tiba aja si Wati nyubit pinggang gue yang lumayan berasa cubitannya.


Iya, Wati doang emang yang kayak gini. Selain suka hujat pacarnya dia juga suka nyiksa pacarnya sendiri. Untung aja gue sabar dan udah terlanjur sayang, jadinya apapun yang dia lakukan bakalan keliatan manis dan lucu di mata gue, hehehe.


"Libiy li," ucapannya yang terlampau nyebelin itu, sontak saja membuat gue memiliki keinginan buat ngetekin dia. Biar dia tau, gimana rasanya diketekin sama orang ganteng.


Wati yang udah gue ketekin malah nyerang gue dengan cara memberikan cubitan secara bertubi-tubi.


Etdah, punya pacar kok begini amat ya. Btw, si Wati gue tuker tambah laku nggak sih? Pake cilok sebungkus juga nggak apa-apa.


***


Maafkan saya karena baru sempat up hari ini T_T soalnya hampir seminggu yang lalu lagi sibuk-sibuknya T_T

__ADS_1


Oiya, guys... kalian jaga kesehatan ya jangan sampai sakit. Dan semoga kita semua terlindungin dari berbagai macam wabah penyakit. Aamiin..


__ADS_2