
Karena Dodo beneran nginep di kosan dan nggak mau balik ke rumah bibi yang alasannya karena masih betah, gue yang rencananya mau nongkrong-nongkrong ganteng bareng anak-anak Dear One harus ajak Dodo ke sana.
Begini, kalau semisal gue pulangin tuh bocah ke rumah bibi dulu, bisa-bisa gue dateng ngaret ke tempat tongkrongan, dan katanya sebagai hukuman, yang datengnya ngaret alias telat bakalan disuruh bayar makanan yang dipesen anak-anak tongkrongan, karena itu udah ketentuannya dan udah disepakati oleh bersama.
Karena gue bukan anak sultan, dan uang tabungan pun mulai pas-pasan, terus gue juga bukan bocah lima tahun yang kagak pernah malu minta duit ke orang tua (Jangankan minta duit ke orang tua, pergi beli cokelat payung di warung cuma koloran sama kaos kutangan juga nggak akan malu).
Maka dari itu, gue memutuskan buat ngajak Dodo ke tongkrongan. Gue nggak akan ninggalin Dodo sendirian di kosan, kecuali kalau penghuni kosan kelakuannya pada bener semua.
Sebenernya, temen-temen tongkrongan gue kelakuannya nggak beda jauh sih sama penghuni kosan. Tapi seenggaknya masih ada bang Adam yang amat gue yakini, bakal ngebantu gue ngejitak mereka-mereka kalau ngomong yang aneh-aneh di depan Dodo yang masih dibawah umur.
By the way, keluarga gue bakalan nginep seminggu di Jakarta, katanya sih mumpung si Dodo lagi libur sekolah. Jadinya sekalian liburan keluarga.
*
"Yah, Hanung dateng." Geo berujar kecewa, saat gue udah menampakkan diri di tempat tongkrongan, dan Dodo yang ngikutin gue dari belakang.
Karena ucapannya Geo yang bisa dikatakan sebagai ungkapan kekecewaan karena kehadiran gue di sini, gue pun menatapnya sinis dengan bumbu-bumbu kejulidan.
"Oh, jadi lo nggak suka kalau gue dateng?!" tanya gue dengan sewot, dan mungkin kalau gue nggak ngajak bocah dibawah umur, bakal ada adegan kekerasan. Antara gue, Geo, juga meja.
Mungkin karena tampang gue yang keliatan serem kayak preman yang siap buat gebukin dia. Geo buru-buru gelengin kepalanya.
"Enggak gitu, Nung. Maksud gue nggak gitu," Karena di mulutnya ada gorengan, Geo ngunyah gorengan yang ada di mulutnya sampai abis, "kalau lo dateng sekarang berarti lo nggak bayarin makanan yang kita makan."
Oh, ternyata karena itu. Tentang perjanjian yang dateng terlambat bakalan bayar semua makanannya. Dan ternyata disini, yang dateng terakhir emang gue.
"Hooh, padahal kalau lo dateng tiga menit lagi, itu tandanya lo yang bayar semuanya," timpal Faris yang ikut-ikutan makanin gorengan. Dan yang lain pun cuma ngangguk-ngangguk.
Hah, dasar. Temen-temen biadab.
"Adek lo, ya?"
Pertanyaan dari bang Adam membuat gue ngangguk singkat. "Mm-hm."
Dan setelah itu gue nyenggol Dodo dengan pelan, yang sebagai pertanda kalau sekarang waktunya dia buat memperkenalkan diri.
Dodo yang paham, langsung maju selangkah ke depan. Terus dia senyum lebar yang ditujukan buat bang Adam, bang Radit, Geo, Faris, dan bang Gaga.
Sebenernya Yohan termasuk temen tongkrongan juga, cuma sekarang dia berhalangan hadir karena lagi nge-date sama princess-nya.
__ADS_1
Ya, namanya juga manusia bucin alias budak micin. Jadinya nggak bisa jauh-jauh dari ayang bebeb.
"Halo, Abang-abang," Dodo melambaikan tangannya, "nama aku Doryln Binsetya, dan Abang-abang bisa panggil aku Dodo," ucapnya yang masih senyum ala iklan pasta gigi.
Serius, setelah liat gimana cara perkenalan Dodo sama temen-temen gue. Gue sebagai abang rasanya pengen nangis, antara terharu campur sedih.
Terharunya karena Dodo masih amat sangat lugu dan polos, pengen nangisnya karena cara perkenalannya nggak up to date banget.
Dan sebagai reaksinya, gue cuma bisa geleng-geleng kepala. Apalagi pas ngeliat temen-temen gue yang pada bengong berjamaah.
Begini, Dodo itu emang bocah di bawah umur. Tapi kenapa caranya memperkenalkan diri di depan anak-anak kuliahan persis kayak bocah paud?
Mendinglah, kalau Dodo lagi kenalan sama anak-anak paud. Lah, ini???
Dan serius, rasanya gue mau mengundurkan diri aja jadi abang kebangaannya Dodo.
Karena dia itu nggak swag, nggak keren, nggak songong, dan gayanya Dodo bukan gue banget.
"Halo, Dodo." Geo ikut-ikutan melabaikan tangannya sambil senyum lebar juga.
Dan, ngomong-ngomong Geo yang pertama kali sadar dari bengong berjamaahnya.
"Nama aku Zargeo," katanya yang sukses bikin gue mau muntah. Sok imut banget sumpah. "Karena kita seumuran, panggilnya Geo aja, ya."
Pas gue nengok ke arah Dodo, tuh bocah cuma cengengesan doang.
"Hallo juga Dodo." Sekarang, giliran bang Wahyu juga ikut-ikutan melambaikan tangannya, dan satu lagi nggak lupa sama senyuman lebarnya.
"Kalau nama aku Wahyu. Karena kita cuma beda setahun kamu boleh kok panggil aku Kakak atau Abang."
"Iya, Kakak-Abang."
Yailah, ini kenapa dua orang pada nggak nyadar umur sih? Bener-bener temen kagak ada akhlak.
Dan gue berharap, sisanya nggak ikut-ikutan juga. Kalau sampai ikutan juga, gue bener-bener pengen mengundurkan diri jadi abangnya Dodo sekaligus mengundurkan diri jadi temen-temen mereka.
*
Jadi, sebelum gue nganterin Dodo ke rumah bibi, gue menyempatkan diri buat mampir ke restoran cepat saji. Sebenernya sih yang maksa buat mampir itu Dodo bukannya keinginan gue sendiri.
Katanya dia masih laper, padahal di tempat tongkrongan tadi Dodo udah makan gorengan sepuluh biji, lontong empat biji, cilok sebungkus, cilor dua bungkus, sama minuman rasa jeruk dua botol.
__ADS_1
Bener-bener, perut karet. Dan untungnya aja gue bawa duit lebih. Coba kalau enggak? Pasti tuh bocah bakalan guling-gulingan di aspal sambil mewek gara-gara nggak diturutin kemauannya buat makan ayam sama kentang goreng di kaepci, wkwkwk.
"Bang?"
Gue yang lagi khusyuk nyomotin kulit ayam, langsung natap Dodo yang duduk di depan gue.
"Apaan?"
Dodo nggak langsung jawab, karena tuh bocah minum dulu sebelum lanjut ngomong.
"Temen Abang yang tadi namanya siapa? Aku lupa."
Usai mendengar jawaban yang menyerupai pertanyaan, membuat kening gue mengerut. Masalahnya temen-temen gue bukan cuma satu atau dua orang aja.
"Yang mana sih?"
"Yang matanya segaris, terus duduk di depan aku."
Gue memutar bola mata. Masalahnya si Dodo nggak nyadar diri banget.
Mata lo, juga segaris kali, Do.
Tanpa banyak berpikir, gue udah tau siapa orang yang di maksud sama Dodo. Dan orangnya adalah bang Radit, karena cuma bang Radit doang yang matanya cuma segaris.
"Bang Radit, maksud kamu?"
"Nah, iya, itu. Bang Radit," ucapnya yang heboh sendiri.
"Ngapain kamu nanyain bang Radit?" tanya gue, dengan kening yang mengerut buat kedua kalinya.
"Dia keren, Bang," jawabnya sambil cengengesan.
Hm, keren ya? Apakah Dodo merasa kalau dirinya dan bang Radit cocok sebagai partner dalam hal pertemanan sekaligus abang-adek? Kayaknya sih iya deh. Soalnya di antara temen-temen gue yang lain, Dodo keliatan seneng banget kalau lagi ngobrol sama bang Radit.
Dan, gue berpendapat kalau bang Radit bakalan jadi panutannya yang kedua.
"Abang juga keren kaliii."
"Iya, Abang juga keren. Tapi, tingkat kekerenan Abang sama temen Abang itu beda."
Iya dah, terserah Dodo aja mau ngomong apa.
__ADS_1
"Nanti kalau aku udah SMA atau kuliah, aku mau jadi keren kayak dia," lanjutnya sambil cengengesan. Kalau gue sih lanjut nyemilin kulit ayam yang ada kriuk-kriuknya.