
Gue sama sekali nggak fokus nonton film di bioskop, penonton lain pada ketawa gue cuma begong dengan mata yang fokus natap ke layar tapi pikiran yang melayang ke mana-mana.
Iya, gue emang cowok lemah. Enggak sengaja ketemu mantan malah jadi kepikiran, mana tadi senyumnya pot kembang manis banget kayak jus jeruk kebanyakan gula.
Gue nggak munafik coi, kalau tadi gue sempet oleng dikit. Pertemuan nggak sengaja yang terjadi antara gue dan mantan bener-bener menganggu pikiran gue, dan entah kenapa gue jadi teringat sama kenangan masa lalu gue sama dia.
Masa-masa suram emang susah banget dilupain.
Tadi sih, selain saling nyapa gue sama pot kembang sempet ngobrol-ngobrol sedikit nanyain kabar, kesibukkannya apa, terus terakhir pot kembang nanya nomor gue yang dulu masih aktif apa enggak, dan gue langsung jawab kalau nomor lama gue udah nggak aktif lagi. Karena semenjak putus sama dia gue langsung ganti nomor.
Nomor lama gue buang ke tong sampah, sengaja sih. Tujuannya biar tangan gue nggak kegatelan buat sms atau nelepon dia lagi. Karena ganti nomor hp adalah salah satu cara biar bisa cepat-cepat melupakan kenangan bersama pot kembang, terlebih sama orangnya.
Ngomongin tentang pot kembang, kira-kira dia dateng ke mall sendirian apa sama siapa? Tapi tadi sih, pas gue nggak sengaja ketemu, dia lagi sendirian. Tapi bisa aja kan orang yang bareng sama dia lagi pergi ke suatu tempat.
Dan kalau misalkan nggak gue sengaja ketemu dia buat kedua kalinya, maka dengan bangganya gue bakal kenalin Wati secara live ke pot kembang, memperkenalkan Wati sebagai pacar terbobrok yang paling gue sayang, ihiw.
"Nung, liat itu cowoknya bloon banget." Denger dia ngoceh sambil nabok paha gue, amat sukses bikin lamunan gue buyar, "Sama kayak lo." Di akhir kata dia natap gue, meski cahaya di sini kurang jelas gue amat yakin kalau dia nyamain gue sama cowok yang di bilang bloon sambil cengengesan.
Iya, terserah majikan Nyi Wati Blorong mau ngatain gue apa.
Gue lanjut natap layar, dan lagi-lagi gue nggak fokus karena buat kedua kalinya pikiran gue lagi dibawa kabur sama kenangan. Sama seperti sebelumnya penonton pada ketawa sedangkan gue cuma bengong doang, bahkan saking fokusnya begong gue sampai nyuekin popcorn caramel yang isinya masih banyak.
Serius, gara-gara pot kembang gue jadi kayak begini. Biasanya nih, kalau gue lagi di bioskop popcorn yang gue beli belum ada setengah film udah abis duluan.
"Ya ampun, gue nggak bisa berhenti ketawa." Wati ngoceh sambil ngakak dan hal itu bikin gue nengok ke arah dia yang kebetulan masih fokus natap layar sambil megangi perutnya. Yaiyalah perutnya, masa iya perut bapaknya.
"Tuh, kan. Perut gue sakit gara-gara kebanyakan ketawa."
__ADS_1
Dan nggak lama setelah itu, film bergenre komedi selesai, seketika berbagai macam kata-kata umpatan pengen gue keluarin karena gue sama sekali nonton film itu.
Hm, teruntukmu mantanku yang aku panggil pot kembang. Terima kasih banyak karena berhasil mengacaukan pikiranku seperti ini.
Karena filmnya udah selesai, lampu bioskop jadi terang dan orang-orang yang nonton mulai beranjak pergi dari bioskop. Termasuk Wati, dia udah berdiri dari posisi duduknya.
"Kuy, pergi."
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, gue ikut berdiri terus jalan di belakang dia sambil bawa popcorn caramel yang belum habis. Sambil jalan beriringan sama Wati gue nyemilin popcorn, fokus natap ke depan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Nung?"
"Hm."
"Lo kenapa sih? Dari tadi diem aja? Nahan berak?"
"Apaan sih! Asal banget kalau ngomong!"
Wati mendengus sambil berhenti melangkah. "Ya, terus kalau bukan. Kenapa dari tadi lo cuma diem aja? Nggak biasanya lo itu diem kayak begini, biasanya kan lo suka ketawa nggak jelas atau komentar nggak jelas tentang film yang habis ditonton."
Ngeliat dia yang ngomel sambil khawatir gitu bikin gue gemes, ternyata dia nyadar, gue kira bakal cuek bebek karena saking asyiknya nonton.
"Lo kenapa? Lagi ada masalah?"
Gue senyum terus menggeleng secara singkat, gue nggak bisa bilang begitu aja ke Wati penyebab diri ini kebanyakan begong tadi, karena bisa-bisa pulang nanti kepala gue jadi ada dua belas karena ditabok sama dia.
"Gue nggak apa-apa, kok. Cuma lagi pengen diem aja. Siapa tau jadi emas."
__ADS_1
"Apaan sih." Wati ketawa pelan sambil mukul lengan gue pelan juga. Ngeliat pacar ketawa gini bawaannya pengen cepet-cepet dilamar, wkwkwk.
"Eh, iya. Lo mau makan dulu nggak?" Gue bertanya, saat baru menyadari tujuan gue ngajak Wati jalan malem mingguan selain menghabiskan waktu berdua. Ya, tentu aja makan.
"Hm, boleh deh. Tapi kita cari makannya jangan di mall ya."
Kening gue mengerut, saat denger jawabannya. "Lo mau nyari makan di luar? Kenapa? Ah, tau gue. Jangan-jangan lo nggak sanggup bayar karena kemahalan, ya?"
Bukannya langsung ngejawab tebakan gue, si Wati malah nabok, tabokannya nggak sakit kok, soalnya gue ditabok pake cinta, ihiw.
"Dih, sok tau lo!"
"Terus apa?"
"Gue lagi kepengen makan di pinggir jalan, sekalian mau ngitungin mobil yang lewat."
Setelah tau alasannya, gue manggut-manggut nggak banyak komentar mau pun ngebantah. Karena sesuai dengan apa yang pernah gue bilang sebelumnya, ke mana pun Wati pergi gue selalu setuju.
Kios kecil penjual ayam geprek di pinggir jalan. Iya, gue sama dia memutuskan buat makan di sana. Itu juga Wati yang milih buat makan di sana, katanya sih dia lagi kepengen makan ayam geprek.
Hm, ayam geprek ya? Makanan kesukaannya pot kembang.
Tuh, kan. Sialan banget emang. Gara-gara ayam geprek gue jadi keinget masa-masa itu. Masa-masa di mana pot kembang makan ayam geprek yang sambel uleknya nempel disudut bibirnya, terus dengan ala-ala adegan di sinetron gue pernah ngeliapin sudut bibirnya yang kotor karena sambel ulek pake jari tangan gue, dan abis itu gue sama dia jadi salah tingkah.
Gue menghela napas, merasa capek sama diri sendiri yang terus mikirin mantan yang kemunculannya kayak dedemit tiba-tiba muncul tanpa sengaja. Kenapa sih pot kembang harus muncul di hadapan gue?
Ayo, Nung. Lo harus inget, sekarang ini pacar lo bukan lagi cewek yang sengaja lo kasih nama samaran pot kembang. Pacar lo itu Indira Raisawati. Jadi, lo dilarang ambyar sama mantan.
__ADS_1