Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
#S2 Cilok dan Bolu Pisang


__ADS_3

Ada sebuah kejadian di mana gue tiba-tiba meraing saat melihat senyum Wati yang terlampau manis dan ampasnya penyebab dia senyum itu bukan karena gue melainkan pada beberapa cemilan pinggir jalan yang bentuknya bulet-bulet, bukan bakso tapi mungkin masih ada hubungan kekeluarga sama si bakso. Setahu gue bahannya itu dari aci alias tepung tapioka, tepung terigu, air panas, daun bawang, secukupnya garam dan sedikit penyedap rasa. Sebagai tambah mungkin sosis atau irisan daging ayam bisa jadi isi dari si cilok yang berhasil bikin Wati tergila-gila.


Dan jujur aja, gue nggak ngerti sama dia. Kok bisa jajan murah meriah itu bisa jadi cemilan favoritnya dia? Bahkan waktu gue lagi bonceng dia buat nganterin pulang atau nge-date si Wati sempet-sempetnya buat nabok pundak gue berkali-kali buat berhenti dan awalnya gue pikir mungkin sepatu copot sebelah atau barangnya ada yang jatuh di jalan jadi dia buru-buru nyuruh gue buat berhentiin si Bagong, tapi ternyata itu bocah malah lari sumringah ke arah tukang cilok yang lagi mangkal di pinggir jalan.


Sama halnya kayak sekarang di saat gue mau nganterin dia pulang secara tiba-tiba dia nyuruh gue buat berhenti karena ada tukang cilok yang lagi ngobrol sama tukang batagor. Kata gue sebelumnya Wati itu udah tergila-gila banget sama cilok jadi katanya sehari atau seminggu nggak makan cilok Wati nggak punya semangat buat menjalani hari-harinya yang berat. Emang alay banget itu bocah.


"Bang, ciloknya ceban."


"Oiya, siap. Neng."


"Pedes nggak?"


"Iya."


"Lo mau juga nggak?" tanya Wati dan buru-buru gue bales pakai gelengan kepala.


"Enggak deh, makasih." Kalau ditawarin cilok seratus kali gue bakalan tolak soalnya gue nggak begitu doyan, tapi beda cerita kalau yang ditawarin itu duit sama sekali gue nggak akan tolak, ehehe.


Karena si abang cilok lagi layanin pembeli dan nggak lagi ngobrol sama tukang batagor, si abang batagor yang lagi duduk sambil merhatiin tiba-tiba bersuara. "Enggak sekalian sama batagornya, Neng?" tawarnya yang membuat Wati menoleh.


Sambil gelengin kepala pelan dia juga senyum tipis. "Enggak, Bang. Saya jatuh cintanya sama cilok."


"Lah, terus itu pacarnya nggak dianggep, Neng?" sahut abang batagor sambil cekikikan.


Padahal yang ditanya itu Wati tapi gue yang lagi duduk di jok Bagong mulut gue tiba-tiba gatel pengen bilang kayak begini. "Saya mah pawangnya, Bang. Bukan pacarnya, jadi kalau ini manusia kumat langsung saya masukin ke mesin cuci biar otaknya bersih."


Candaan gue membuat dua penjual pinggir jalan ketawa sementara Wati mendelik karena candaan gue yang menurutnya lagi ngeledekin dia.


"Kalau bukan karena cilok udah gue sumpel kali itu idung lo pake kapas," ocehnya sambil nunjuk-nunjuk hidung mancung gue.


Gue bergedik pura-pura ngeri. "Ih, serem!"

__ADS_1


***


Habis beli cilok gue lanjut lagi buat nganterin tuan putri pulang ke istananya, tadinya niat gue pengen langsung balik aja gitu ya, tapi Wati malah nahan gue dia nggak ngebolehin gue pulang dulu sebelum abangnya pulang dengan alasan dia takut sendirian apalagi kalau malem-malem. Abangnya belum pulang kerja sementara orang tuanya lagi nginep di rumah adek nyokapnya Wati, biasalah orang tua butuh refreshing.


"Pelan-pelan makannya, heh!" Di ruang tamu gue memperingati dia buat biasa aja makan ciloknya, serius seenak itu kah cilok sampai buat dia tergila-gila? Sementara itu Wati yang duduk di sebelah gue cuma cengar-cengir sambil ngunyah.


"Lo nggak kepedesan?" tanya gue yang mendapat gelengan pelan dari manusia yang gue tanya.


"Enggak takut keselek?" Lagi-lagi buat kedua kalinya pertanyaan gue dibales pake gelengan.


"Enggak butuh minum?"


Kalau sebelumnya pake gelengan sekarang pake anggukan. "Ambilin, seret nih tenggorokan." pintanya setelah menelan cilok yang ada di mulutnya.


Karena gue adalah pacar sekaligus budak cinta yang baik, sesuai dengan permintaannya gue beranjak dari sofa melangkah ke dapur gue ambil segelas air minum buat Wati kesayanganku. Enggak harus tunggu lama gue udah balik bawa segelas air yang isinya hampir penuh.


"Nih," ucap gue seraya menyodorkan segelas air buat dia.


Gelas yang isinya air enggak langsung diambil sama dia, justru Wati malah natap gue sambil bilang, "Ini air mateng, kan?"


Tahu sih itu cuma bercanda, tapi ya gimana tangan gue pengel lama-lama megangin gelas ditambah lagi gue orangnya emang suka ngegas.


Wati cekikan seraya mengambil gelas yang ada di tangan gue. "Makasih, Sayangku."


Seketika gue pun langsung bergidik ngeri dan kali ini bukan pura-pura. "Idih."


Setelah Wati minum, setelah gue duduk lagi, dan setelah ciloknya abis Wati pun bersuara, "Oiya, baru inget gue. Lo jangan ke mana-mana dulu, ya."


Kening gue seketika mengerut. "Emangnya lo pikir gue mau ke mana?"


"Ya kali aja gitu lo mau umpetin sendal gue di depan."

__ADS_1


"Enggak ada kerjaan banget, anjiir."


Buat kedua kalinya itu bocah cekikikan terus dia berdiri buat pergi ke dapur dan gue sendiri pun nggak tahu dia mau ngapain di sana. Mungkin sekitar dua menit atau tiga menitan Wati udah balik dengan sepiring kue yang ada di tangannya.


Wati taruh piring itu di atas meja dan langsung duduk di tempat sebelumnya. "Nih, makan."


"Apaan tuh?" tanya gue basa-basi.


"Bolu pisang buatan gue, bikinnya kemarin sih."


Sekejap mata gue kedip-kedip kayak orang cacingan, bentar dah. Ini maksudnya apaan dah? Dia bikin bolu pisang, sejak kapan? Omong-omong, dia lagi nge-prank kali ya? Bilangnya bikin sendiri tapi nyatanya malah beli di toko kue. Etapi, gue nggak boleh souudzon. Kalau dia beneran yang bikin bagus juga sih, kali aja gitu gue jadi keseringan dibuatin kue sama dia, hehehe.


"Ini nggak pake sianida, kan?"


"Enggak ada. Sianidanya lagi abis."


"Enak nggak nih?"


"Makanya lo cuma bolpis enak apa enggak."


Tanpa ragu gue ambil satu potong, baca bismillah dalam hati sebelum gigit si bolpis. Satu gigitan membuat gue manggut-manggut, bolunya lembut, pisangnya kerasa, terus nggak manis-manis banget, paslah pokoknya. By the way, hebat juga nih si Wati bikin kuenya.


"Gimana?"


"Enak, tapi kayak yang masih ada kurangnya gitu."


"Apanya yang kurang?"


"Kurang senyum manis gue kayaknya."


"Najis."

__ADS_1


Wati mencibir sementara gue cengengesan. "Iya, Ti. Gue tahu kok lo itu sayang banget sama gue."


"Au ah. Terserah lo mau ngomong apa." Begitu ucapnya yang kemudian dia pergi ke dapur dan menurut gue dia mau ambil kue buatan dia lagi kali ya buat gue cicipin lagi? Mungkin iya, mungkin juga enggak, hehehe.


__ADS_2