Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Minta Tolong


__ADS_3

Wisnu itu udah gue anggep sebagai saudara gue sendiri, karena bagi gue saudaranya Wati saudara gue juga, abangnya Wati abang gue juga, kakek-neneknya Wati kakek-neneknya gue juga, dan tentunya orang tuanya Wati orang tua gue juga, wkwkwk.


Dan ketika Wisnu minta pertolongan, gue sebagai calon saudara sepupu yang baik sekaligus sebagai sesama makhluk hidup yang bernapas melalui hidung, gue harus tolongin dia.


Berhubung Wisnu minta ketemuan di darkit, jadi ya gitu. Walaupun agak males jalan ke sananya tapi gue harus ke sana soalnya gue udah terlanjur janji dan janji itu harus ditepati, dan gue sebagai laki-laki sejati sangat pantang mengingkari janji. Aseq.


Sesampainya di darkit, gue pikir cuma si Wisnu aja yang nungguin gue tapi ternyata ada satu cewek yang nggak gue kenal lagi duduk di sampingnya Wisnu. Cewek yang duduk di samping Wisnu kalau diperhatiin dari samping mirip Syifa Hadju, kalau dari depan mah nggak tau mirip siapa, palingan mirip orang tuanya. Yaiyalah.


"Woi. Nu," sapaan gue itu buat Wisnu nengok ke arah gue, "Udah lama nunggunya?"


Sebelum Wisnu menjawab pertanyaan gue, matanya ngelirik ke jam tangan yang dia pake, dan gue terlebih dulu narik kursi kosong yang ada di depan dia buat gue dudukin. Yaiyalah, didudukin masa ditebalikin.


"Enggak kok, lo datengnya pas menit ketiga gue dateng ke Darkit," jawabnya bikin gue manggut-manggut, "Oiya, kenalin nih. Dia namanya Eva temen satu prodi sama gue."


Usai Wisnu bilang begitu, si cewek yang gue bilang mirip Syifa Hadju kalau dari samping senyum penuh keramahan, dan beberapa detik selanjutnya dia menjulurkan tangannya sebagai tanda ngajak bersalaman.


"Eva."


"Hanung."


Setelah acara kenal-kenalannya selesai, si Wisnu natap gue terus disusul sama ucapannya. "Langsung ke intinya aja kali, ya?"


"Terserah sih, lo mau basa-basi dulu juga nggak apa-apa," kata gue dan itu buat Wisnu jadi diam sebentar.


"Indi, mana?"


"Masih di kandang." Keningnya Wisnu mengerut, gue paham kayaknya dia nggak paham sama kata 'kandang' yang gue maksud, "Kelas maksudnya."


"Oh."

__ADS_1


Enggak tau kenapa, setelah Wisnu ngomong 'Oh' dia malah ketawa gitu, serius gue nggak ngerti dia ketawa karena apa.


"Katanya mau langsung ke intinya? Kok jadi ngomongin dia?" Gue sengaja ngomong begitu, tujuannya biar dia cepet-cepet berhenti ketawa.


Si Wisnu emang berhenti ketawa, tapi sekarang dia malah mendengus sambil ngasih tatapan datar ke gue. "Kata lo basa-basi dulu nggak apa-apa."


Reaksi gue setelah dia ngomong begitu adalah nyengir-nyengir kayak orang begok sambil ngusap leher. "Yaudahlah, langsung ke intinya aja."


Sebelum ngomongin tentang tujuan dia minta bantuan ke gue, Wisnu sempat berdeham pelan. "Jadi sebenernya yang mau minta tolong itu bukan gue, tapi Eva."


Mendengar namanya yang disebut, Eva ngangguk-ngangguk. Sedangkan gue dengan refleks menaikkan sebelah alis.


"Minta tolong apa?"


"Eva yang ngomong, soalnya lebih enak ngomong secara langsung daripada lewat perantara." Wisnu berkata, "Silahkan ngobrol."


Eva sempat natap gue dan gue juga ikut natap dia sambil nungguin ucapan apa yang akan dia lontarkan dari mulutnya, mengenai permintaan tolongnya ke gue.


Meski gue nggak ngerti kenapa dia nanya tentang temen-temen gue yang jomblo, tapi gue tetap menjawab. "Iya, banyak. Kenapa?"


"Kenalin satu aja temen lo yang jomblo ke gue."


"Buat apa?"


"Buat jadi pacar pura-pura."


Mungkin nih, kalau ada kamera muka gue bakalan di zoom karena saking kagetnya. "Hah? Pacar pura-pura? Buat apaan?"


"Buat dijadiin pacar bohongan gue."

__ADS_1


Serius, gue bingung. Ini tuh ceritanya dia mau kayak pemeran utama yang ada di sinetron bukan sih? Jadi tuh, si cewek sengaja nyewa pacar bohongan buat dikenalin ke orang tuanya yang mau ngejodohin dia sama anak dari temen orang tuanya, jadi secara nggak langsung si cewek nggak suka dijodohin.


Dan yang jadi pertanyaan gue, dari sekian banyaknya cowok jomblo di dunia ini, kenapa harus temen gue yang dijadiin sasarannya?


"Kenapa lo nggak minta bantuan aja sama temen satu prodi lo atau temen satu fakultas lo?"


"Enggak bisa."


"Kenapa nggak bisa?"


"Gue bisa ketahuan bohongnya nanti."


Bentar, bentar. Kalau dia mau ngenalin si pacar pura-pura ke orang tuanya, kenapa dia bilang bisa ketahuan? Emangnya orang tua si Eva kenal semua sama temen-temennya gitu? Ini kenapa gue jadi pusing begini dah.


"Seriusan, gue nggak paham sama sekali."


Si Eva diem, karena dia lagi tarik napas bukan tarik tambang. "Jadi begini. Temen satu prodi gue sebentar lagi ulang tahun, di acara ulang tahunnya itu dia ngundang temen-temen satu prodinya. Nah, kebetulan temen-temen deket gue udah punya gandengan semua sedangkan gue belum. Karena gue kesel karena mereka suka diledekin status gue yang sampai sekarang jomblo. Akhirnya tanpa pikir panjang gue bilang ke mereka kalau gue itu udah punya pacar yang beda kampus sama gue." Penjelasan super panjang dari Eva, buat gue manggut-manggut.


Oh, jadi begitu ceritanya. Ternyata ini nggak ada sangkut-pautnya sama orang tua dia yang mau ngejodohin dia seperti dugaan gue sebelumnya.


Dan kalau boleh jujur, permintaan tolongnya Eva itu lumayan susah. Tapi berhubung gue tahu rasanya jadi jomblo bertahun-tahun dan sering diledekin sama temen-temen gue memutuskan buat bantu dia. Ya, siapa tau aja gitu temen gue yang jadi pacar pura-puranya Eva jadi pacar benernya Eva, Hahay.


"Oke, gue paham."


"Tolongin gue, ya? Dan satu lagi, kalau bisa temen lo jangan ada yang kuliah di sini."


Sebagai jawaban gue mengangguk singkat, dan karena anggukan gue itu, Eva tersenyum lebar.


Ngomong-ngomong di antara anak kos yang sedang menjomblo, kira-kira siapa ya? Yang bakalan gue jadiin partnernya Eva di acara ulang tahun temennya nanti?

__ADS_1


Hm, apakah Jeri? Tapi kayaknya dia nggak akan mau sekalipun gue sogok dia pake cilor sebaskom. Bang Bagas? Gue nggak yakin, soalnya dia itu tipikal orang yang nggak suka berpura-pura. Bang Yuvin? Kalau gue minta tolong ke dia, kepala gue bakalan digetok pake termos.


Dan, ya. Sasaran gue cuma mereka berdua si anak kembar yang ngaku-ngaku sebagai penggemar sejatinya Red Velvet. Si Juna sama Rian. Karena selain mereka gampang disogok, mereka juga nggak akan masalah kalau disuruh jadi pacar pura-pura, lagian cuma setengah hari doang kok. Jadi udah pasti Juna sama Rian nggak akan keberatan. Ya, kalau keberatan tinggal dikurangin aja timbangannya. Wkwkwk.


__ADS_2