Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Katanya Adik-Kakak


__ADS_3

"Sebelumnya, gue mau minta maaf sama lo. Maaf kalau omongan gue tadi bikin lo sakit hati." Wati berujar, memulai pembicaraan.


Setelah gue dan dia lagi duduk di tepi kasur gue, dengan pintu kamar yang sengaja dibuka, biar nggak nimbul fitnah.


"Tadi gue terlalu emosi, Nung," katanya sambil tarik napas terus dikeluarin secara perlahan.


Wati yang sebelumnya nunduk, sekarang nengok ke arah gue. Natap gue dengan tatapan sedih dan perasaan bersalahnya.


"Gue dateng ke sini, karena ngerasa bersalah banget sama lo. Lo bener, di sini gue juga salah, dan nggak seharusnya gue pergi sama mas Ken, padahal udah jelas banget lo pernah cemburu karena dia.


"Nung? Maafin gue, ya? Gue sama mas Ken itu nggak ada hubungan apa-apa kok. Gue udah anggap dia sebagai kakak gue sendiri, dan mas Ken juga udah anggap gue sebagai adiknya."


Adek-kakak, ya? Itu cuma alesannya supaya gue maafin dia atau emang begitu kenyataannya? Entahlah, gue nggak tau mana yang bener.


"Serius, Nung. Gue nggak bohong," ujar Wati yang sepertinya dia bisa baca pikiran gue, hebat udah kayak dukun aja, "lagian mas Ken sebentar lagi mau tunangan kok. Jangan marah lagi, ya?"


Bentar deh, tadi katanya apa? Mas-mas muka gentong mau tunangan? Lah? Udah punya tunangan kok masih ganjen sama pacar gue? Wah, bener-bener nggak menjaga perasaan tunangannya banget.


"Nung. Gue capek nih, ngomong panjang lebar, tapi lo nya malah diem aja. Ngomong, dong." Wati manyun dan hal itu bikin gue gemes, pengen nyubit bibirnya pake tang, wkwkwk bercanda.


Karena Wati manyun gara-gara gue nggak ngomong-ngomong, biar nggak manyun lagi. Akhirnya gue pun ngomong.


"Lo serius, cuma adek kakak aja sama dia?" Gue bertanya, sekaligus sebagai ucapan pertama kali di saat gue diem aja kayak batu.


Usai denger suara gue, Wati udah nggak manyun lagi. Usai denger pertanyaan gue pula dia ngangguk singkat.


"Iya, serius. Kalau lo nggak percaya. Ayo, kita pergi ke rumah mas Ken." Wati berdiri dari posisi duduknya, terus dia meraih lengan gue dengan tujuan untuk ikut ke rumahnya mas-mas muka gentong.


Gue yang masih duduk di tempat, melalui tatapan mata gue menyuruh dia buat duduk lagi. "Nggak usah, gue percaya kok."


Wati senyum, dan senyumnya itu malah nular ke gue, kemudian gue mengembuskan napas. "Gue juga mau minta maaf sama lo soal Bunga."


"Iya. Udah gue maafin kok." Wati berkata, dan jujur aja, perasaan gue jauh lebih tenang sekarang.


"Eiya, Nung. Bunga itu mantan yang pernah lo bilang, udah lo kutuk jadi pot kembang, kan?"

__ADS_1


"Mm-hm."


Ngomong-ngomong, kenapa Wati bilang begitu? Itu karena sebelumnya gue pernah cerita ke dia, perihal mantan-mantan gue yang udah gue kutuk jadi pot kembang, jadi meja makan, jadi dispenser,dan lain-lain.


Kalau Wati sendiri sih, dia cuma bilang kalau mantan-mantannya itu udah dia buang ke laut.


"Jadi, alasan lo putus sama dia itu karena apa?"


Meski gue pernah cerita, kalau si Bunga udah gue kutuk jadi pot kembang, tapi gue nggak menceritakan alasannya kenapa gue sama dia bisa putus, kalau dulu kata Wati sih nggak penting, tapi berhubung sekarang dia nanya. Gue bakal menjawab, tanpa ada rekayasa sedikitpun.


"Penyebab gue putus sama Bunga itu, karena dia mau fokus UN, etapi seminggu setelah putus dia malah pacaran sama orang lain."


Wati manggut-manggut. "Terus, sekarang lo masih ada perasaan sama dia?"


Gue mendelik saat mendengarnya, dan buru-buru gue pun menjawab, "Ya, enggaklah. Ngapain juga gue masih ada perasaan sama dia? kan gue udah punya Indira Raisawati," ucap gue sambil pencetin hidungnya biar mancung.


Wati kelihatan salah tingkah gitu, tapi beberapa detik kemudian dia natap gue penuh selidik.


"Terus kenapa lo mau makan bareng sama dia?" tanyanya sambil melipatkan kedua tangan di depan dada.


Sebelum menjawab, gue menyempatkan diri buat nyengir dulu. "Itu karena gue ditraktir sama dia."


Usai mendengar jawaban gue, Wati mendengus. "Dasar bocah gratisan," ledeknya sambil mukul bahu gue pelan.


"Ya, namanya juga anak kosaaan." Gue menyahut yang masih dibarengi oleh cengiran.


Dan nggak lama kemudian, kami sama-sama diem. Duduk di pinggir kasur dengan pikiran masing-masing, dan terkadang gue melirik ke arahnya yang lagi fokus natap ubin.


Karena gue nggak suka dicuekin atau didiemin kayak begini, gue pun berdeham. Karena mau ada sesuatu hal yang pengen gue lakuin, dan hal itu harus minta persetujuan Wati dulu.


"Kangen ih, boleh peluk nggak?" tanya gue, yang sukses buat Wati noleh ke arah gue dengan tampang kagetnya. Sebenernya, kalau boleh jujur, gue cukup malu bilang begitu. Tapi berhubung rasa kangen lebih dominan, jadinya rasa malu terkalahkan.


Saat gue natap Wati, dia juga sama. Malu-malu, beberapa detik dia nggak jawab, gue dapat menyimpulkan kalau dia diem itu artinya 'iya' lagian siapa yang nggak mau sih dipeluk sama pacarnya sendiri? Apalagi pacarnya ganteng begini, aseq.


Yaudahlah ya. Tanpa banyak basa-basi gue bawa aja Wati ke dalam pelukan gue, buat mengurangi rasa rindu di hati.

__ADS_1


Sebenernya, sekarang bukan pelukan pertama antara gue dan Wati. Tapi, entah kenapa. Setiap meluk dia, gue merasa nyaman banget malah lebih nyaman pelukan Wati daripada Anjeli.


Teruntuk Anjeli, maafin Akangmu ini ya, soalnya udah berpaling dari kamu, ekekeke.


"Peluknya udahan, ya? Malu kalau ada yang liat," kata Wati yang kepalanya dongak buat natap gue.


Kalau dilihat dari deket kayak begini, pipinya yang merah jadi kelihatan jelas.


Sebenernya, gue nggak mau lepasin pelukannya begitu aja. Bodo amat sama penghuni kos yang bakalan lihat. Tapi berhubung Wati yang minta, mau nggak mau gue harus lepasin pelukannya.


Tapi sebelum itu, gue mau bikin jantung dia meledak. Mau tau gimana caranya? Caranya adalah dengan mendekatkan wajah gue ke wajahnya, setelah itu tempelin hidung gue di hidungnya, dan sentuhan terakhir berikan senyum maut tepat di depan matanya. Barulah pelukannya bisa gue lepaskan.


Melihat Wati yang bengong bikin gue ketawa, pertama karena ekspresinya dan kedua karena cara gue berhasil.


"Biasanya juga lo malu-maluin." Gue berkomentar sambil terkekeh, mengenai alasannya yang meminta buat mengakhiri pelukannya.


Wati sadar dari bengongnya karena sekarang dia lagi mengerjap-ngerjap.


"Ih, apaan siiih!" Dengan ganasnya Wati nyubit pipi kiri gue secara bertubi-tubi.


Anjerrr.. bales dendam nih ceritanya?


"Aw. Aw. Sakittt." Gue mengaduh kesakitan sambil usap-usap pipi gue yang abis dicubit sama dia, seriusan gue nggak bohong cubitannya bener-bener sakit.


"Eh, maaf. Gue kekencangan ya nyubitnya?" tanyanya dengan raut wajahnya yang panik.


Gue mengangguk singkat sambil cemberut. "Mm-hm, sakit tau. Nyut-nyutan nih."


Gue yang merengek, tiba-tiba langsung terdiam. Mata gue membulat sempurna, mulut gue tertutup rapat, dan jantung gue berdetak secara gila-gilaan. Penyebahnya karena...


Wati cium pipi gue. Wow, amazing.


"Gimana? Udah nggak sakit lagi, kan?" Gue nggak jawab, gue masih diem aja, karena...


Anjay, gue nggak sesak napas. Anjay, ginjal gue mau meledak. ANJAYYY, GUE MAU PINGSAN AJA RASANYA!

__ADS_1


__ADS_2