Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Tukang Fotokopi dan Pot Kembang


__ADS_3

Sebelum balik ke kosan, gue mampir bentar ke tukang fotokopi di deket kampus, yang tentunya bukan beli kopi tapi beli pulpen buat gantiin pulpennya Yeda yang entah sengaja atau enggak sengaja udah gue hilangin dari permukaan bumi.


Kenapa gue bilang begitu? Karena tuh pulpen udah jadi barang ghaib. Buktinya aja pas gue balik ke kelas, barangnya udah nggak ada.


"Bang, yang ini pulpennya berapaan?" tanya gue sambil nunjuk pada pulpen yang ada di dalem etalase, ngomong-ngomong pulpen yang gue pinjam sama yang gue tunjuk punya kemiripan seratus persen alias mirip.


"Sepuluh rebu," jawab si abang yang kalau gue perhatiin gaya rambutnya mirip Ariel Noah. Ngomong-ngomong, gue cukup kaget sama harganya karena nggak sesuai sama ekspektasi gue.


"Lah? Bukannya goceng, Bang?"


Si abang diem bentar, terus nggak lama setelah itu dia jawab, "Bisa sih goceng, tapi cuma casing pulpennya doang, mau?"


Gue yang mendengar jawabannya cukup tersanjung, gimana, ya? Masa iya ya cuma casing pulpennya doang? Entar si Yeda nulisnya pake apaan? Pulpen yang tinta ghaib? Gue rasa nih si abang nggak niat jualan, buktinya aja mukanya kusam terus kusut kayak orang belum mandi seminggu.


"Kalau yang ini berapaan, Bang?" tanya gue lagi masih sambil nunjuk pulpen yang beda model dan tempatnya nggak jauh dari pulpen sebelumnya.


"Tujuh puluh rebu." Sontak gue pun langsung melotot.


Buset dah, pulpen doang harganya tujuh puluh ribu, pulpen jenis apaan sih itu? Dilapis emas juga kagak, modelnya juga biasa aja. Kalau kayak begini sih gue yakin banget si abang emang nggak niat jualan.


"Jadi beli pulpen kagak?" Gue cukup tersentak saat si abang tukang fotokopi nanya kayak begitu di saat gue masih bingung mau beli pulpen yang mana.


"Jadilah."


"Ya buru dibeli, gue pengen tidur nih."


Gue pun mendelik karena raut wajah serta nada bicaranya nggak ada ramah-ramahnya sama pembeli. "Buset dah, makanya jangan begadang, Bang. Ngantuk gitu jadinya."


Si abang cuek sambil nguap lebar kayak kudanil.


Karena si abang katanya mau tidur dan gue juga nggak betah lama-lama di sini, gue udah memutuskan buat beli pulpen yang mana.


"Ya udah, gue beli pulpen yang harganya sepuluh rebu."


"Berapa biji?"


"Dua aja."


Di saat si abang ngambil pulpen yang pengen gue beli di dalem etalase, gue ngambil duit lembaran dua puluh ribu di dalem kantung celana jeans. Terus si abang nyerahin pulpennya dan gue nyerahin duitnya.


"Bang, saya mau fotokopi."


"Yah, maaf. Neng. Mesin fotokopinya lagi rusak."

__ADS_1


Gue mencibir bukan tanpa alasan, karena di saat ngelayanin gue si abang kayak nggak punya semangat hidup, tapi giliran konsumen baru ramahnya minta ampun.


Dih, mentang-mentang yang dateng cewek, jadi sok ramah begitu.


Ngomong-ngomong soal cewek, gue kok kayak nggak asing gitu ya sama suaranya?


"Yah, kira-kira bisanya kapan?" tanya tuh cewek, yang sukses bikin gue yakin banget kalau suaranya itu bener-bener nggak asing di telinga gue.


"Dua hari lagi, Neng," jawab si abang tukang fotokopi sambil senyam-senyum, idih.


Karena gue penasaran, tanpa rasa ragu, gue noleh ke cewek yang suaranya cukup familiar di telinga.


Dan ternyata, dugaan gue emang bener. Cewek itu beneran orang yang gue kenal, yaiyalah wong seminggu yang lalu gue ketemu dia di mall.


"Yah, kelamaan. Nggak bisa hari ini juga, Bang?" Pot kembang nanya, yang sampai detik ini belum menyadari eksistensi gue.


"Nggak bisa, Neng."


Ada raut kekecewaan di wajahnya, tapi pot kembang berusaha buat tetep senyum. "Oh, gitu. Makasih, Bang."


Dan di saat obrolan yang terjadi antara pot kembang dengan abang tukang fotokopi yang gaya rambutnya kayak Ariel Noah, akhirnya sang mantan menyadari keberadaan gue dengan tampang yang terlihat terkejut.


"Eh, Hanung?" panggilnya yang membuat gue mengangguk singkat.


"Ya ampun, nggak nyangka banget ya kita ketemu lagi," ujarnya heboh, kalau gue sih biasa aja nggak ada heboh-hebohnya sama sekali.


"Lo ngapain di sini?" tanyanya lagi.


Sebelum menjawab, gue nunjukkin dua pulpen yang baru dibeli. "Abis beli pulpen."


Oiya, gue belum kasih tau, ya? Jadi tuh gue beli pulpen dua, yang satu buat gantiin pulpennya Yeda dan kedua buat gue sendiri, karena jujur aja gue cukup kangen pengen ngerasain punya pulpen sendiri, wkwkwk.


"Eiya, Nung. Gue mau tanya lo tau tukang fotokopi selain di sini nggak?"


Tanpa banyak mikir gue pun mengangguk singkat. "Tau."


Pot kembang senyum lebar saat denger jawaban gue. "Di mana tempatnya?"


"Di pertigaan sana." Gue menjawab sambil nunjuk ke arah jalan lurus yang kalau belok kiri bakal ada pertigaan dan nggak jauh dari sana, ada tukang fotokopi yang kayaknya penjaganya punya semangat hidup yang lebih tinggi dari penjaga yang ini.


"Deket nggak tempatnya?"


"Lumayan."

__ADS_1


Pot kembang diem sebentar. "Boleh minta anterin nggak?" tanyanya agak ragu.


Jika sebelumnya dia sempat diem sebentar, sekarang giliran gue yang diem.


Begini, bukannya gue nggak mau bantuin dia tapi sekarang ini ada hati yang harus gue jaga. Iya, gue harus jaga hatinya Bagong, Neneng, Ningsih, sama Anjeli.


"Lo naik angkot aja," kata gue sok cuek.


Cemberut, iya. Itu ekspresinya pot kembang. "Gue nggak tau tempatnya, Nung. Nanti kalau gue nyasar gimana?"


"Ya, tinggal tanya sama orang."


Setelah gue bilang kayak begitu, pot kembang makin cemberut.


"Mas, nggak boleh gitu. Kata nenek gue, kalau ada yang minta tolong harus dibantu, kesian itu si enengnya. Nggak tau jalan, jangan jahatlah sama cewek," celetuk si abang yang sukses bikin gue sama pot kembang noleh ke arah dia yang lagi nopang dagu, dan seketika gue mengembuskan napas.


Katanya jangan jahat sama cewek? Tapi kalau si cewek dulu pernah jahat gimana? Apa perlu gue ceritain masa lalu gue yang berhubungan sama pot kembang, biar si penjaga kios fotokopi yang nggak punya semangat hidup narik kata-katanya? Tapi kayaknya nggak usahlah, lagian juga nggak penting.


"Kalau saya jadi situ, udah saya anterin kali." Gue nggak itu kalimat sindiran atau bukan, tapi yang jelas si abang nyebelin.


"Yaudah, abang aja yang nganterin kalau begitu."


"Enggak bisalah, gue kan harus jaga ruko terus juga gue nggak tau tempatnya ada di mana."


Buat kedua kalinya, gue mengembuskan napas.


Yaudahlah, daripada gue adu bacot sama tukang fotokopi mending gue ngalah aja, lagian kesian juga si pot kembang kalau nggak ditolongin. Dan kayaknya sesuatu yang pengen dia fotokopi penting banget dan harus disegerakan.


"Yaudah, lo gue anterin."


Ekspresi cemberutnya langsung berubah drastis. Pas gue melangkah buat nyamperin Bagong, dia ngikutin dari belakang.


Biar aman, gue kasih dia helm punya tetangganya Wati, si cowok yang gue juluki si muka gentong. Oiya ngomongin soal Wati, tuh cewek udah balik duluan masa, parah banget emang.


Meskipun gue masih ngambek sama dia, tapi setidaknya gue masih punya tanggung jawab buat nganterin dia pulang.


"Eiya, tadi lo ke sininya naik apa?" tanya gue saat nyalain mesin Bagong, dan tentunya gue udah pake helm.


"Motor, tadi nebeng sama temen," jawabnya yang kemudian langsung naik ke motor gue.


"Terus sekarang temen lo ke mana?"


"Udah pergilah."

__ADS_1


Sebelum gue jalanin si Bagong, gue sempet natap speedometernya yang ibarat kata itu tuh matanya Bagong.


Seketika gue natap dia lekat-lekat dan di dalam hati pun berkata. Bagong, please. Gue minta tolong jangan kasih tau Nyi Wati Blorong kalau gue boncengin cewek selain dia. Ini keadaan darurat jadi gue harap lo bisa memakluminya dan gue yakin lo bisa jaga rahasia.


__ADS_2