
Gue dan temen-temen yang udah selesai ngampus dan sekarang lagi ngumpul di parkiran, rencananya kita mau mampir dulu ke McD. Tujuannya sih selain nongkrong, di sana katanya ada menu makanan baru dan lagi ada promo juga. Jadi gue sebagai mahasiswa pejuang akhir bulan, langsung menyetujui ajakan tersebut.
Gue, Yohan, bang Radit, dan anak-anak Dear One langsung bergegas menuju McD. Dan berhubung tempatnya nggak terlalu jauh dari kampus sekitar lima menit perjalanan, kita udah sampai di tempat tujuan.
Setelah markir motor, satu persatu kita masuk ke dalam restoran cepat saji ini buat pesan makanan, terus milih tempat duduk yang deket jendela.
Oiya, ngomong-ngomong hari ini gue dan yang lain pergi tanpa pacar, sengaja sih. Soalnya ini adalah waktunya para perjaka berkumpul, membahas masa depan dan keluh kesah bagi yang punya pacar.
Dan sebagai pembukaan dan sembari nunggu pesanan dateng, Yohan adalah orang pertama yang nyeritain keluh kesahnya, tapi sebelum itu gue sempat mengira kalau pacaran sama cewek sejenis Rinjani itu bakalan bahagia dunia akherat karena nggak punya keluhan apa-apa mengenai hubungan mereka, tapi ternyata gue salah besar.
Dan begini cerita Yohan mengenai pacarnya.
"Akhir-akhir ini Rinjani bikin gue geleng-geleng kepala karena kelakuannya." Di akhir kata dia menghela napas.
Gue yang kebetulan duduk di sampingnya, langsung menceletuk. "Kenapa? Rinjani sering nyolong rambutan di kebon orang?"
Karena sahutan gue tadi, Yohan malah mendengus sambil natap gue tajam. "Tolong jangan sama kan kelakukan bidadariku dengan kelakukan pacarmu!"
Gue cekikikan pas denger omongannya tadi, karena mendadak gue jadi inget sama ceritanya Wati tentang dia yang hampir ketahuan ngambil mangga spanyol alias separuh nyolong di kebon orang, mana katanya sendal jepitnya sempet nyangkut di batang pohon pas turun.
"Rinjani kenapa? Sering salto di tengah jalan?" Bang Wahyu yang tiba-tiba nyeletuk, juga dapet tatapan tajam dari Yohan.
Mungkin kalau ada satu lagi yang menyeletuk dan isi celetukannya nggak bener, gue nggak yakin kalau meja-meja yang ada di sini bakalan baik-baik aja alias jadi korban mutilasinya si Yohan, wkwkwk.
"Udah, Han. Lo lanjut cerita aja nggak usah dengerin omongan dua dedemit itu." Faris menyahut sambil ngeliatin gue sama bang Wahyu.
__ADS_1
Dan sesuai dengan apa yang Faris omongin, Yohan kembali bercerita. "Udah tiga kali Rinjani pinjem kuku gue buat di kuteks, alesannya sih karena kuku gue bagus." Di akhir kata Yohan ngeliatin kuku-kuku jarinya yang emang bagus, kalau menurut gue.
Setelah itu dia menghela napas sambil taro kedua tangannya di atas meja, dan dia lanjut cerita. "Sebenernya gue mau protes, tapi sebagai bucinnya gue cuma bisa senyum menerima kenyataan sekaligus pasrah."
"Efek terlalu bucin sama pacar, jadi nggak bisa nolak kemauannya deh," sindir bang Radit sambil bawa nampan yang isinya sebagian makanan pesanan kami, dan di belakangnya ada Geo yang juga bawa nampan sambil nyengir.
Bang Radit sama Geo, langsung taro makanan itu di atas meja dan kami segera ngambil makanan masing-masing, setelah itu bang Radit dan Geo duduk di tempat yang udah kami sediakan buat mereka.
Omong-omong, bang Radit nyindir gitu soalnya dia belum punya pacar, jadi ya gitu deh. Seenaknya aja nyindir kami-kami yang bucin ini, dan gue yakin banget entar kalau bang Radit punya pacar pasti dia bakalan bucin juga.
"Bukan cuma kuku-kuku gue aja sih yang di kuteks, Rinjani sama mantannya yang namanya Aksa itu makin sering komunikasi." Dari raut wajahnya gue bisa merasakan ada aura-aura tidak enak yang memancar keluar.
"Malah minggu kemarin mantannya itu ngajakin makan bareng, berduaan pula. Kampret banget nggak tuh?" Yohan agak naikin nada bicaranya.
"Wah, parah banget itu mah! Lo nggak boleh sampai lengah." Geo berkomentar setelah cowok itu selesai minum.
Tiba-tiba aja si Yohan, ngebrak dengan tatapan penuh kekesalan. Dan karena gebrakannya itu bikin gue dan yang lain kaget.
"Makanya itu! Gue sih nggak permasalahin kalau mereka masih berhubungan sebagai teman! Tapi kalau keseringan, gue takutnya Rinjani malah puter haluan ke mantannya! Alesannya sih pas ketemu mau silaturahim! Alah, silaturahim kolor kadal!"
Saking keselnya dia nggak peduliin sama tatapan orang-orang ada di sekitar, bahkan beberapa orang ada yang saling bisik-bisik kayak ibu-ibu lagi gibahin tetangganya, dan yang lebih parahnya lagi sejak kapan kadal berkolor?
Bang Adam salah satu korban, cuma bisa menghela napas ngeliat kelakuannya Yohan. Mungkin kalau tangannya panjang atau dia lagi duduk di samping Yohan, bang Adam pasti bakalan nepuk-nepuk bahunya pelan sambil bilang sabar berkali-kali.
"Kalau menurut gue sih, itu namanya bukan silaturahim tapi silaturasa," ujar bang Adam dan membuat yang lain mengangguk setuju.
__ADS_1
"Nah, bener tuh apa kata Adam. Intinya sih lo harus hati-hati sama manusia yang namanya Aksa, apalagi Hanung," ucapan bang Radit bikin gue melongo.
Gue yang lagi ngunyah burger, langsung gue telan karena gue mau protes. Enak banget sebut-sebut nama gue, padahal gue sendiri nggak ada sangkut pautnya sama masalah percintaannya Yohan.
"Kok gue sih, Bang???!"
"Iyalah, soalnya kan lo pembawa masalah." Bang Radit cekikikan dan yang lain juga ikutan cekikikan.
Sumpah, kalau bukan karena dia abang panutan, udah gue sambelin kali mulutnya, sembarangan banget kalau ngomong.
"Padahal gue diem aja loh, Bang!" Untuk kedua kalinya gue protes.
"Lo lagi ngunyah burger sekarang, jadi nggak mungkin kan kalau lo diem?" Ini kok bang Radit, lama-lama jadi nambah tengil gini, ya? Penyebabnya karena kebanyakan makan gorengan atau apa nih?!
Di dalam bayangan gue, rasanya gue pengin ngambek, terus pergi dari sini, biar setelah itu dikejar sama bang Radit sambil bilang minta maaf. Wkwkwk, najis banget dah. Geli banget gue bayanginnya. Pikiran gue jadi absurd begini gara-gara dicekokin sinetron mulu sih waktu kecil.
"Jadi, Han. Gue punya usulan. Kalau Rinjani nggak mau direbut sama Aksa, diem-diem lo blokir aja nomornya Aksa di hpnya Rinjani," usul Faris yang dari tadi cuma nyimak aja.
"Tapi kalau tiba-tiba dia nyamperin cewek gue gimana?"
"Usirlah, kalau perlu lo lempar pake kemenyan," jawab Geo dengan santainya sambil makanin kentang goreng.
"Kenapa harus kemenyan?" tanya Yohan, yang sebelumnya lagi minum.
"Biar semua setan yang ada di badannya si Aksa keluar, kan ngajakin mantan balikan apalagi si mantan udah punya pacar. Salah satu bujukan setan," penjelasan Geo mendapat tepukan tangan dari bang Wahyu.
__ADS_1
"Wih, cerdas banget emang pemikiran lo. Nggak salah gue milih lo sebagai adek kesayangan gue di Dear One."
Mendapat pujian dari bang Wahyu, bikin Geo besar kepala, buktinya aja mukanya kelihatan songong gitu. Aduh, ini lama-lama gue bisa ketularan cerdasnya si Geo nih.