
Gue udah sampai di rumah Wati, dan saat gue baru lima menit duduk di sofa yang ada di ruang tamunya, bang Indra dateng. Nggak tau dia abis dari mana. Tapi sebelum bang Indra masuk ke kamarnya kami sempat ngobrol sebentar.
Dan sekarang gue masih duduk di sofa dan di samping gue bukan lagi bang Indra, tapi adiknya. Adik perempuannya yang bikin gue hinggap di rumah ini.
"Muka lo kusam banget dah." Wati berkata, saat dia lagi merhatiin muka gue dengan serius.
Iyalah, gimana nggak kusam coba? Kalau sebelum dateng ke sini, gue nggak sempat cuci muka udah gitu waktu diperjalanan ke rumah Wati. Matahari lagi terik-teriknya, pencemaran udara yang berasal dari knalpot kendaraan juga ada di mana-mana, jadi begini deh hasilnya. Muka gue jadi kusam dan agak berminyak gitu.
"Biarinlah," kata gue sambil minum es jeruk yang ada di atas meja.
"Kok malah dibiarin? Nanti kalau muka lo jerawat gimana? Terus itu komedo lo makin banyak gimana?"
Mata gue natap ke atas sebentar, ngeliatin lampu ruang tamu, terus nggak lama setelah itu gue menjawab, "ya. Nggak gimana-gimana."
Usai mendengar jawaban gue, Wati rolling eyes sambil mendengus. "Jangan begitu lah, Nung. Lo harus rawat muka lo."
"Biar apa?"
Wati menghela napas, sambil natap gue datar. "Biar makin ganteng." Di akhir kata sengaja dia kencengin suaranya.
Dan gue pun menyengir ganteng, soalnya gue paling demen kalau dibilang ganteng, apalagi sama pacar sendiri, ehehe.
"Iya."
"Sana pergi ke kamar mandi," katanya sambil dorong-dorong bahu gue pelan.
Sementara gue malah mengerutkan kening, masalahnya tujuan dia nyuruh gue buat ke kamar mandi itu apa? Serius, gue nggak ngerti sama sekali.
"Ngapain? Gue lagi nggak pengen pipis apalagi pup."
Wati mendengus sebal dan nggak lama setelah itu dia nabok gue. "Cuci muka, Hanuuuung!"
Oh, ternyata. Dia nyuruh gue buat cuci muka? Bilang dong! Jangan setengah-setengah gitu ngomong. Etapi, gue cuci muka pake apaan? Nggak bawa sabun cuci muka. Yakali kembarannya Rizky Nazar cuci muka pake sabun colek.
"Lah? Gue kan nggak bawa sabun pencuci muka?"
Lagi-lagi Wati mendengus sebal, ini lama-lama kalau dia ngedengus sampai sepuluh kali berturut-turut, fix. Bangetlah kalau si Wati itu jelmaan banteng.
__ADS_1
"Pake punya abang gue aja, nanti gue yang bilang," katanya, "cepetan sana ke kamar mandi," lanjutnya sambil dorong-dorong bahu gue kayak tadi.
"Iya, iya."
Meski gue agak mager buat berdiri apalagi buat melangkah ke kamar mandi, tapi karena pacar tercinta yang nyuruh gue harus ngelakuin. Ya, gue emang bucin.
Ke kamar mandi cuma mau cuci muka aja, pake sabun cuci muka khusus buat cowok. Dan nggak lama setelah itu muka gue terasa lebih segar dari sebelumnya.
Karena cuci mukanya udah selesai, gue langsung balik ke ruang tamu. Dan gue cukup mengerutkan kening soalnya di tempat ini ada piring kecil yang isinya semacam cairan warna ijo gelap, dan gue sendiri nggak tau itu apaan. Kalau bubur sih kayaknya nggak mungkin banget.
"Itu apaan?"
"Masker."
"Kok warnanya mirip tayi kebo?"
Gue ditabok lagi setelah ngomong kayak gitu. Sumpah gue bingung sama si Wati, dia itu kenapa sih? Hobi banget nabok gue?
Wati nggak nyahut omongan gue, tapi dia malah menggeser posisinya jadi lebih deket ke gue, dan hal itu membuat alis gue terangkat sebelah.
"Ti, apaan sih ini?! Gue nggak mau pake beginian!" Gue memprotes karena serius benda yang cukup cair berwarna ijo gelap itu mau diaplikasikan ke muka gue.
Sebenernya Wati cuma megang kuasnya aja sih, tapi dengan posisi dia yang duduk menghadap gue dengan piring yang katanya diisi sama masker di atas pangkuannya itu sudah menjelaskan kalau benda cair itu bakalan mengotori muka gue yang ganteng ini.
"Biar apa sih?" tanya gue sembari menepis tangannya yang mau nyodorin masker ke muka gue.
"Biar lo makin ganteeeeeeng."
Nah, kan. Kalau dibilang ganteng kayak tadi gue mana bisa nolak.
"Yaudah, iya."
"Lo diem aja. Biar gue yang pakein maskernya," ujarnya dengan tangan kiri yang megang muka gue.
"Gue harus merem nggak, nih?"
"Terserah."
"Merem aja kali, ya?"
__ADS_1
Wati nggak jawab, karena dia lagi sibuk ngaduk-ngaduk masker. Btw, serius deh. Gue nggak begitu yakin kalau itu beneran masker.
"Oiya, biar poni rambut lo nggak kena masker, pake ini dulu." Wati nyerahin sebuah benda yang lagi-lagi bikin alis gue terangkat sebelah, tapi kali ini ditambah sama mulut gue yang menganga.
"Bandananya nggak ada yang lebih bener lagi apa?" tanya gue saat bandana yang Wati kasih udah ada di tangan gue.
"Itu udah bener, Nung. Masih bagus, masih bisa dipake juga."
Gue berdecak. "Maksud gue tuh warnanya, emang nggak ada yang lebih bener lagi apa?"
Sebagai cowok macho, sangat wajar sekali kalau gue protes soal bandana yang Wati kasih, soalnya tuh warnanya sangat feminim sekali alias warna pink udah gitu ada teliga kelincinya, buset dah. Ini kalau diliat sama temen-temen Dear One sama anak kosan bisa-bisa gue kena hujat.
"Nggak ada! Udah deh, lo nggak usah banyak protes. Pake aja, lagian juga nggak ada yang liat kok."
Usai ngomong begitu, bandana yang Wati kasih dia ambil lagi, terus benda warna pink itu dia pakein ke kepala gue. Serius gue udah pasrah, terserah dia mau ngelakuin apa. Soalnya percuma aja kalau gue protes.
Wati itu keras kepala, wajar sih. Kalau kepalanya nggak keras nanti yang ada malah disangka slime, wkwkwk.
"Ihhh." Mulut gue bersuara dengan refleks soalnya masker yang Wati pakein udah nyentuh pipi gue.
Wati yang tadi lagi ngolesin masker ke pipi gue pake koas, langsung berhentiin pergerakan tangannya. Dan dia natap gue agak panik. "Kenapa?"
Sebelum jawab, gue menyempatkan diri buat menyengir. "Maskernya dingin."
Wati rolling eyes, terus dia lanjutin kegiatannya yang sempat tertunda. Dan satu menit kemudian gue kembali bertanya, "Ti, ini beneran masker, kan? Bukan tayi kebo?"
Wati mendengus sebal, serius deh. Yang di depan gue itu beneran Wati apa banteng yang lagi berkamuflase?
"Iya, itu tayi kebo!" sewotnya.
"Ah, bercanda mulu luh!" kata gue nggak beda jauh dari kata sewot.
"Yang ada elo yang bercanda mulu daritadi!"
"Gue nggak bercanda, tapi nanya. Emangnya lo nggak bisa ngebedain mana yang bercanda mana yang nanya?"
"Yailah! Bawel banget sih lo?! Mulut lo diem kek! Mingkem, Nung. Mingkem!"
"Nggak bisa! Kalau disumpel pake roti baru bisa!"
__ADS_1
Setelah gue ngomong kayak gitu, tangannya terjulur buat ambil makanan yang ada di atas meja.
Yah, padahal gue mintanya roti, tapi malah disumpel ketan. Tapi nggak apa-apalah yang penting bisa dimakan, wkwkwk.