Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Rumah Wati


__ADS_3

Pas ngajakin dia makan sekalian jalan-jalan sebentar, jam delapan malem lewat dua puluh lima menit gue nganterin dia pulang. Soalnya gue tau Wati itu nggak dibolehin pulang terlalu malem sama orang tuanya, apalagi sama bundanya.


Gue langsung berhentiin motor ketika gue udah sampai di depan rumahnya, dan tentu aja Wati langsung turun dari motor gue sambil nyerahin helm yang abis dia pake.


"Lo mau mampir dulu nggak?"


Sempat terdiam sesaat buat berpikir, dan setelah mengetahui keputusannya gue mengangguk singkat.


"Boleh deh, sekalian mau nyapa om sama tante."


Wati senyum dan bilang, "yaudah, masukin motornya."


Berhubung rumahnya Wati itu nggak dipasang pager gue bisa langsung masukin motor di halaman rumahnya. Terus tanpa rasa ragu gue ikutin Wati dari belakang buat ikut masuk ke dalem rumahnya.


Di ruang tamu gue langsung tersenyum ramah, saat ngeliat orang tua Wati lagi ngobrol di sana sambil nonton berita di tv dan tanpa rasa ragu lagi gue memberanikan diri buat nyamperin orang tuanya Wati.


"Halo. Om, Tante." Gue menyapa dan hal itu membuat orang tuanya Wati dengan kompaknya noleh ke arah gue.


"Eh, ada Hanung. Udah selesai jalan-jalannya?" tanya mamanya Wati ketika gue lagi menyalaminya setelah papanya Wati.


"Udah, Ma. Tapi katanya Hanung mau mampir ke sini dulu sebentar, sebelum pulang."


Sepasang suami istri yang sudah menghasilkan dua anak itu, lagi-lagi dengan kompaknya anggukin kepala.


"Nung, gue ke kamar dulu ya sebentar." Perkataan Wati gue bales pake anggukan singkat dan setelah itu Wati pergi ninggalin gue bersama kedua orang tuanya yang lagi duduk di sofa.


"Duduk, Nung."


"Iya, Om."


Atas perintah dari calon papa mertua, gue mendudukkan diri di sofa single yang letaknya di sofa double yang orang tuanya Wati dudukin.

__ADS_1


Sebenernya gue terhitung sebanyak tujuh kali gue mampir ke rumah Wati, tapi gue ketemu orang tuanya Wati itu baru empat kali termasuk sekarang ini, sedangkan abangnya gue sama sekali belum ketemu sama dia. Dan selama empat kali ketemu sama calon mertua gue tetep aja ngerasa deg-degan dan rasanya nggak beda jauh saat gue manggung.


Emang sih orang tuanya Wati itu baik, ramah, dan enggak nanya yang macem-macem, tapi kan tetep aja gue deg-degan. Soalnya takut tiba-tiba ditanya 'kapan kamu mau halalin anak saya?' Atau 'kenapa kamu milih anak saya sebagai pacar kamu?' Nahloh, kalau ditanya gitu gue harus jawab apa? Masa iya, gue harus jawab 'saya suka sama anak om dan tante itu karena dia keanehannya', masa iya gue harus jawab kayak gitu? Yang ada nanti gue malah diusir dengan cara yang tidak elit.


"Kuliah kamu gimana, Nung? Lancar?"


"Alhamdulillah, lancar dan aman sentosa, Om." Gue menjawab, dan respons dari calon mertua adalah acungan jempol.


"Oiya, kakak laki-lakinya Wa—. Maksud saya Indi belum pulang ke rumah?" Hampir aja gue keceplosan sebut nama kesayangannya sang pacar.


"Enggak, si abang mah pulangnya besok pagi," jawab calon mama mertua.


Dan nggak lama setelah itu, Wati dateng. Sambil bawaan secangkir minuman berupa teh sama beberapa potong gue bolu yang ditaruh di atas piring. Kemudian Wati naruh cangkir sama kue itu di atas nampan. Dan gue sangat yakin kalau itu disajikan buat gue, ya jelas dong. Gue ini kan tamu bukan siluman.


"Makasih, ya." Gue berucap sambil tersenyum manis.


Hm, gue jadi membayangkan tentang masa depan gue nanti kalau udah berumah tangga, di saat gue lagi santai-santai lagi nonton bola atau berita, tanpa diperintah Wati bakalan bawa secangkir kopi sama beberapa potong kue buat nemenin gue nonton tv. Hm, lagi-lagi gue tersenyum karena apa yang gue bayangkan adalah bener-bener khayalan yang indah.


Ucapan salam, dari luar membuat kami semua dengan kompaknya noleh ke sumber suara sambil bilang, "Waalaikum salam."


Calon mama mertua langsung berdiri dari duduknya buat nyamperin tamu yang ada diluar.


"Di minum, Nung. Tehnya."


Ucapan dari calon papa mertua, bikin gue yang masih nengok ke arah pintu luar buat ngeliat si tamu yang berkunjung karena penasaran, langsung senyum tipis ke calon papa mertua dan buat kedua kalinya gue turutin apa yang diperintahkan beliau.


Dan beberapa detik kemudian, calon mama mertua masuk ke rumah sambil bawa bingkisan dan ketika gue nengok ke arah pintu si tamu udah nggak ada, hilang mendadak kayak kartu parkir.


"Siapa tadi yang dateng, Ma?" tanya Wati pada sang mama.


"Mas Ken, ngasih ini buat abang." Mamanya jawab sambil nunjukin bingkisan yang dipegang.

__ADS_1


"Apa itu, Ma?"


"Buku abang kamu yang dia pinjem."


Calon mama mertua kemudian pergi enggak tau kemana, tapi yang jelas nggak lama setelah itu calon mama mertua balik lagi duduk di samping suaminya tapi kali ini nggak bawa bingkisan yang sebelumnya beliau pegang.


Gue diajak ngobrol tanpa henti oleh kedua orang tuanya Wati, kadang Wati yang tadi nyimak juga ikut nimbrung tapi sekedar buat membela diri atau menimpali, dia kebanyakan ketawa sama cengengesan aja. Dan karena terlalu asik ngobrol, gue sampai nggak menyadari kalau satu jam sudah berlalu, padahal rencana gue cuma mau mampir sekitar lima belas atau tiga puluh menit aja, eh. Malah kebablasan, tapi enggak apa-apalah itung-itung memperkuat ikatan pada calon mertua, hehehe.


Berhubung sekarang udah jam sembilan malem, gue memutuskan buat balik ke kosan dan tentu aja sebelum gue nyamperin si bagong di halaman rumah Wati, sebagai tamu yang baik dan sopan gue izin pamit sama orang tuanya Wati.


"Ehiya, gue titip salam buat abang lo." Gue berucap sambil pake helm di kepala.


Wati ngangguk singkat. "Iya, nanti gue sampein kok."


Gue udah dudukin bagong, helm udah dipake, mesin bagong udah dinyalain, berarti langkah selanjutnya adalah ngajakin bagong jalan.


"Gue pamit ya," kata gue sambil mundurin bagong secara perlahan buat keluar dari halaman rumahnya Wati.


"Hm, hati-hati dijalan."


"Eiya, Nung."


Padahal gue mau jalan, tapi berhubung Wati manggil gue nengok ke arah dia yang lagi senyam-senyum.


"Makasih ya kadonya." Wati senyum malu dan hal itu membuat gue berkeinginan buat nyubit pipinya, gemes banget sumpah.


"Hm, sama-sama. Jangan dihilangin ya. Kalau sampai hilang, siap-siap aja lo gue jadiin pembantu." Gue terkekeh karena ucapan gue tadi adalah candaan.


"Tenang aja, semua barang pemberian dari lo nggak akan gue hilangin, apalagi orangnya." Wati berujar sambil nyengir dan juga melakukan hal yang sama.


Serius, pacar gue itu kenapa sih? Kenapa makin hari makin gemesin.

__ADS_1


__ADS_2