Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Ngajak Ribut


__ADS_3

Karena hari ini gue lagi libur ngampus alias hari minggu, gue berencana buat ajakin main si Wati dan sebelum berangkat gue harus mandi, pake pakaian yang rapih, dan tentunya harus wangi, sebelum gue berangkat buat jemput sang pacar bersama bagong.


Gue mampir sebentar ke dapur buat ambil air minum soalnya gue haus, dan ternyata di dapur ada Rian yang lagi makan mi goreng di meja makan, dan menyadari keberadaan gue, Rian malah nyengir-nyengir nggak jelas.


"Aih, aih, aih. Bapak Hanung sudah rapi di pagi hari. Ada apakah gerangan?"


Gue yang lagi nuangin air di gelas yang gue ambil di rak piring, langsung mendengus karena kebodohan Rian. Sebenernya sekarang ini udah masuk siang hari bukan pagi hari seperti apa yang itu bocah bilang, tapi di sini gue bisa memaklumi karena si Rian lagi mabok micin.


"Kencanlah, emangnya elo jomblo sejak jaman penjajahan Belanda?" Gue meledek kemudian minum air putih yang abis gue tuangin di gelas.


"Jahat lo! Gue doain semoga lo nyungsep di comberan!" cibir si Rian buat gue.


Lagi-lagi buat kedua kalinya gue mendengus sebal. "Ngatain gue jahat, sendirinya juga jahat."


Tau tanggapan tuh bocah? Dia cuma cengengesan. Karena gue udah selesai minum, gue taruh gelas yang abis gue pake di tempat cucian piring, terus melangkah singkat berdiri di samping Rian sambil taruh lengan kanan gue di bahunya.


"Lo mau gue cariin cewek nggak? Biar hidup lo nggak ngenes-ngenes amat." Gue menawar, bukannya anggukin kepala dia malah gelengin kepala.


"Nggak, makasih. Gue masih setia sama Irene Red Velvet."


Setelah ngomong begitu, si Rian lanjut makan mi gorengnya yang tinggal setengah porsi.


"Ngehalu mulu lo kerjaannya," kata gue sambil mukul bahunya pelan.


Rian nengok ke gue sambil ngasih tatapan jengkelnya. "Heh! Emang apa bedanya sama lo? Sebelum punya pacar juga lo demen banget ngehalu. Siapa tuh pacar khayalan lo? Maemunah, Munaroh, Markonah, Jubaedah, Juleha, apa Munawir?"


Lagi gue mukul dia masih dibagian bahunya. "Munawir nama cowok, dodol!"


"Emang iya?"


"Au ah."

__ADS_1


Tanpa merasa bersalahnya karena udah bikin gue kesel, tuh bocah malah cengengesan lagi. Mendadak gue jadi khawatir kalau otaknya itu udah dikuasai sama micin.


Karena tujuan gue ke dapur cuma minum doang, jadi gue berencana buat pergi dari sini, daripada di sini ngomongin hal yang nggak jelas sama si Rian mendingan gue langsung berangkat.


Dan ketika gue udah balik badan, dan baru berjalan satu langkah, suaranya Rian bikin gue berhenti gerak.


"Eh, Nung. Bentar dah. Jangan pergi dulu." Rian yang ngomong kayak gitu, bikin gue balik badan lagi gue natap dia dengan alis yang terangkat sebelah.


Terus si Rian berdiri dari posisi duduknya ninggalin gue serta mi gorengnya yang masih tersisa, dia pergi ke arah belakang dapur tempat mesin cuci baju ditaruh, dan nggak lama setelah itu dia bawa keranjang ukuran sedang yang isinya berbagai macam warna baju serta kolornya buat diserahin ke gue, dan dengan begonya gue nerima keranjang cuciannya itu.


Karena udah sadar dari kebegoan gue yang sempat mampir, gue berencana buat ngomelin dia. "Eh, Rina! Maksud lo apaan nyuruh gue pegang beginian?!"


"Lo mau kencan, kan?"


"Iya, tapi apa hubungannya sama kolor lo, hah?!" sewot gue.


Rian malah senyam-senyum. "Nggak ada hubungannya sih, jadi tuh. Elo itu mau keluar, kan?" Gue ngangguk singkat, "sekalian keluar. Gue minta tolong buat jemurin."


*


Karena Wati belum selesai dandan, jadi gue memutuskan buat nunggu dia di teras rumahnya, gue sengaja nunggu di teras soalnya di rumahnya lagi nggak ada siapa-siapa selain dia, jadi daripada nimbulin fitnah yang iya-iya. Jadi gue nungguin dia di sini sambil main hp.


Kata Wati orang tuanya lagi kondangan di Tangerang kalau abangnya lagi main sama temennya nggak tau main ke mana, tapi yang jelas sih bukan main di kali buat nyari ikan ******.


"Eh? Kayak kenal."


Karena gue denger suara orang dan suara langkah kaki, membuat kepala gue mendongak. Saat tahu siapa orangnya gue cukup kaget sama kehadirannya di sini.


"Lo temennya Yuvin bukan?" Meski gue lupa sama namanya, tapi gue masih inget muka.


"Iya, lo temennya bang Yuvin juga, kan?"

__ADS_1


Iya, orang yang lagi berdiri di deket gue itu ternyata temennya bang Yuvin yang nggak sengaja ketemu di indekos.


"Bener, nama gue Kenzo," katanya sambil senyum ramah. "Btw, lo ngapain di sini?"


Sontak saja saat denger pertanyaan itu, bikin alis gue terangkat sebelah. "Lah, bukannya seharusnya gue yang nanya kayak gitu? Gue bisa ada di sini karena rumah ini, rumahnya pacar gue."


Dari ekspresi mukanya, dia keliatan bingung. "Pacar?" tanyanya dan gue mengangguk singkat, "Oh. Ternyata dek Indi itu pacar lo?"


"Iyalah."


Masa iya gue pacaran sama mamanya? Yakali, gue nggak segila itu buat rebut istri orang.


"Gue kira Indi masih jomblo," katanya sambil ketawa pelan.


"Eh, ada Mas Ken. Ada apa, Mas?" Wati yang tiba-tiba muncul dan langsung melontarkan pertanyaan buat temennya bang Yuvin, membuat gue menoleh ke arahnya.


"Bang Indra ada, Dek?" tanya temennya bang Yuvin yang dipanggil 'mas' sama Wati.


Sebagai respons pertama Wati gelengin kepalanya. "Nggak ada, Bang Indra lagi keluar. Ada perlu apa ya, Mas?"


Dari raut wajahnya gue bisa merasakan kalau dia lagi kecewa. "Tadinya mau ngajakin ke toko baju, tapi orangnya malah nggak ada."


"Oh, begitu."


Gue masih menyaksikan mereka, dan maka dari itu gue bisa tau kalau temennya bang Yuvin lagi menghela napas.


"Yaudah, gue balik dulu ya, Dek." Temennya bang Yuvin pamit sambil ngasih senyum simpul buat Wati, terus Wati ngelakuin hal yang sama.


"Iya, Mas."


Gue sih awalnya biasa-biasa aja kalau mereka saling melempar senyum. Toh, gue cukup ngerti karena senyum itu ibadah dan membalas senyuman dari orang lain itu sangat dianjurkan. Dan kalau semisal si Wati nggak bales senyum bisa-bisa dia dicap sebagai orang sombong dan dikutuk jadi kaleng roti sama mamanya karena mamanya nggak suka sama anak yang sombong kayak malin kundang.

__ADS_1


Ya, gue awalnya gue emang biasa-biasa aja. Tapi di detik berikutnya aku nggak lagi biasa-biasa aja. Penyebabnya karena temennya bang Yuvin dengan lancangnya ngacak-ngacak rambutnya Wati di depan mata gue, itu maksudnya apaan ya? Mau ngajakin perang?


__ADS_2