Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Kado Ulang Tahun


__ADS_3

Hari ini ada yang ulang tahun, dan gue tahu di dunia ini bukan cuma satu atau dua orang aja yang punya tanggal ulang tahun yang sama tapi banyak mungkin ada ratusan atau mungkin ribuan orang. Tapi yang jelas di hari ini yang gue tahu kalau yang ulang tahun sekarang itu adalah pacar yang merangkap sebagai majikan gue, siapa lagi kalau bukan Indira Raisawati alias Wati.


Dari setengah jam yang lalu kerjaan gue cuma mondar mandir kayak model di catwalk, cuma bedanya para model jalannya pake gaya udah gitu pakaian yang mereka pake bagus-bagus dan berkelas, nggak kayak gue yang jalannya sembarangan sampai nabrak kaki meja sekali dan pake baju kaos oblong sama celana pendek doang.


Dan gue mondar-mandir kayak gini bukan tanpa alasan, jadi tuh. Sebenernya gue nggak inget sama sekali kalau hari ini Wati ulang tahun kalau bukan diingetin sama kalender yang terpasang di hp gue yang tiba-tiba ngasih tau.


Gue yang lagi-lagi selonjoran di sofa sambil menikmati peran sebagai raja indekos, langsung benerin posisi duduk


Masalahnya tuh, gue bingung mau beliin dia kado apaan? Masa iya, cicin kawin? Nanti ajalah gue aja belum lulus kuliah, emang dikira ngempanin anak bini kayak ngempanin ayam yang cuma dikasih dedek sama beras doang?


Kalau semisal gue kasih boneka dia mau nggak ya? Tapi kalau dipikir-pikir cewek modelan kayak Wati nggak suka boneka deh, kalau disuruh pilih antara boneka sama ketapel pasti dia bakalan pilih ketapel.


Terus apaan dong? Kira-kira hadiah yang bagus buat gue kasih dia? Ah, jadi bingung sendirikan gue.


"Kenapa lo dari tadi mondar-mandir mulu?"


Entah sejak kapan, mungkin karena gue yang terlalu sibuk berpikir sambil mondar-mandir di ruang tamu jadi nggak sadar sama kemunculan Yohan yang tiba-tiba lagi nyender di tembok sambil ngelipetin tangan di depan dada.


"Lagi bingung," keluh gue yang bikin dia naikin alisnya sebelah.


"Bingung kenapa?"


Gue berhenti mondar-mandir dan setelah itu gue berdiri menghadap dia. "Kira-kira Wati sukanya apaan ya?"


Respon Yohan malah ngangkatin bahunya sambil ngomong, "Mana gue tahu, mending tanya sendiri aja sama orangnya."


Sedangkan respon gue buat jawaban dia adalah mengembuskan napas. "Kalau gue tanya, nggak bakalan suprise nantinya."


"Hah? Emangnya lo mau ngapain? Mau ngelamar dia?"


"Yakali, gue ngelamar dia sekarang. Itu mah urusan nanti kalau gue udah mapan."


"Terus apaan dong?"


"Hari ini dia ulang tahun, terus gue bingung mau kasih dia kado apaan."


Yohan manggut-manggut dan bocah itu ngerubah posisi berdirinya, kali ini dia nggak nyender lagi mungkin karena dia tahu kalau nggak mau saingan sama cicak karena udah ngerebut tembok yang notabenenya adalah belahan jiwanya si hewan yang suka putusin ekornya kalau lagi terancam.


"Oh, begitu. Pantesan tampang lo kayak orang bingung."


"Kira-kira lo tau nggak hadiah apa yang bagus buat dia?"


"Kasih aja chiki satu kardus, pasti dia suka," jawabnya spontan sambil nyengir macam kuda lumping.

__ADS_1


Gue mendengus, karena dia nggak gunain otaknya buat bantuin gue, soal ngasih kado ulang tahun buat Wati. "Masa iya, chiki? Nggak bisa dijadiin barang kenangan dong?"


Iya, gue mau ngasih kado buat dia itu. Kayak barang bukan makanan, kalau barang dia bisa simpan barang pemberian gue sampai kapan pun, sekaligus buat pengingat kalau gue pernah jadi orang terpenting dalam hidupnya.


"Bisalah, lo suruh aja bungkus chikinya di laminating terus ditempel deh di tembok kamarnya, terus lo jangan lupa bilang ke dia buat nulis keterangan di bawahnya kalau itu chiki pemberian lo waktu dia ulang tahun." Yohan malah ngakak.


"Sinting lo!" Gue pun mulai sewot.


"Yaudah sih, daripada bingung kasih aja bunga, boneka, atau nggak cokelat?" Saran Yohan yang begitu pasaran, tentu aja gue nolak.


"Enggak deh, terlalu mainstream. Lagian gue nggak yakin kalau dia suka begituan." Kecuali cokelat, gue tau dia suka cokelat, tapi buat kali ini gue nggak mau ngasih dia cokelat.


Yohan manggut-manggut. "Iya, juga ya? Cewek elo kan unik nyerempet aneh."


"Nah, itu lo tau."


Selesai menyahut ucapan Yohan, gue kembali diam buat mikirin hadiah apa yang bakalan gue kasih buat Wati.


.


Setelah mengetahui kado apa yang bakal gue kasih ke dia, gue ngajak dia makan di kedai ramen dan nggak lupa gue simpan kado buat dia di dalem saku jaket gue, karena ya. Ukuran kado gue buat dia nggak gede-gede banget tapi juga nggak kecil-kecil banget, intinya sih tuh kado bisa gue masukin ke saku jaket.


Dan sekarang ini gue sama dia udah ada di kedai ramen, lagi duduk di kursi sambil nungguin dua mangkuk ramen dateng. Sekitar sepuluh menit nunggu dua mangkuk ramen yang ditunggu akhirnya dateng juga, dan tanpa banyak omong gue sama dia langsung makan ramen masing-masing.


Gue yang sempat ngelirik dia yang lagi nyeruput kuah ramen di sendok, Wati noleh ketika gue melayangkan sebuah perkataan.


"Ulang tahun? Oiya ya? Kenapa gue nggak inget." Di akhir kata dia malah sibuk ketawa, apalagi kalau bukan lupa sama tanggal ulang tahunnya sendiri.


Gue cuma bisa geleng-gelengin kepala karena kebiasaannya yang gampang lupa itu, dan mendadak gue jadi curiga kalau dia lupa sama tanggal jadian kami. Tapi kalau seandainya lupa nggak apa-apa sih, soalnya gue juga lupa, hehehe.


"Pikun lo! Jangan-jangan lo lahirnya lewat idung ya? Jadinya lupa sama tanggal ulang tahun sendiri."


Candaan gue bikin dia mendengus sebal. "Yeee, sembarangan banget lo! Gue nggak inget karena lupa."


Au ah.


"Eiya, kado buat gue mana?" tanyanya sambil julurin kedua tangannya di depan muka gue, dengan posisi kedua telapak tangan di atas kayak lagi minta sesuatu, dan nggak lupa sambil nyengir lebar.


"Harusnya tadi gue nggak bilang kalau hari ini lo ulang tahun." Gue berujar cuek, memilih buat fokus nyeruput kuah ramen.


Dan ketika gue melirik sekilas ke Wati, dia malah manyun-manyun. Mendadak gue jadi pengen ketawa. "Lo selesain dulu makannya, nanti gue kasih."


"Beneran?" tanyanya dan udah nggak manyun lagi.

__ADS_1


"Hm."


Wati yang antusias, tanpa basa-basi langsung abisin ramennya yang tinggal setengah porsi, gue udah nggak kaget lagi sih soal dia yang makan selalu nggak nyantai apalagi kalau tuh bocah lagi kelaperan, belum selesai dikunyah malah masukin makanan lagi ke mulutnya.


Kalau liat dia makan cepat kayak gini sih, gue yakin banget setengah menit juga ramennya juga udah abis.


"Ramen gue udah abis nih," lapornya sambil geser sedikit mangkuk ramennya yang bersih, kan dugaan gue bener. Belum semenit makanannya udah abis, bener-bener bakat yang terpendam.


"Yaudah, cuciin gih mangkoknya." Lagi-lagi candaan gue bikin dia manyun.


"Iya, iya. Sekarang gue kasih. Tapi lo harus tutup mata dulu."


Perkataan gue buat keningnya mengerut. "Kenapa harus tutup mata?"


"Soalnya kan gue mau ngasih suprise."


Usai ngasih sedikit penjelasaan, dia nurut. Wati langsung mejamin matanya bahkan kedua tangannya nutupin mukanya. Dan gue langsung aja ngeluarin kado yang ada di dalem saku jaket gue.


Terus taruh kado itu di atas meja yang posisinya deket dia.


"Buka matanya."


Wati langsung buka matanya, dan seketika gue ngeliat ekspresi senang campur bingung saat matanya menatap kado yang ada di atas meja.


"Apaan nih?"


"Buka aja."


Perlahan tangannya ngambil kado itu, dan perlahan juga tangannya buka kado itu. Sebuah kado yang berisi selusin ikat rambut beda warna yang gue hadiahkan buat di hari ulang tahunnya.


"Lo tau nggak kenapa gue kasih iket rambut ke elo?"


Wati geleng-geleng sambil merhatiin satu persatu ikat rambut itu. "Nggak taulah, lo aja nggak ngasih tau."


"Lo mau tau nggak?"


Wati ngangguk, dan kali ini matanya natap gue. "Tapi janji abis ini lo jangan mukul gue, soalnya gue rasa lo bakalan merinding dengernya."


Meski kelihatan bingung, Wati lagi-lagi anggukin kepalanya.


Sebelum gue menjelaskan alasan kenapa ikat rambut adalah benda yang gue pilih sebagai kado, gue sempat berdeham sebentar menetralkan detak jantung gue yang mulai menggila.


Serasa udah tenang, gue natap dia lekat-lekat. "Gue kasih lo iket rambut, supaya lo lebih sering iket rambut lo. Soalnya lo tambah cantik kalau rambutnya diiket ekor kuda." Dan nggak tau lagi deh, ekspresi gue setelah ngomong itu bakalan kayak gimana.

__ADS_1


Tapi yang jelas setelah gue ngomong alasannya, Wati nggak mukul atau nyubit seperti yang gue duga. Tapi dia malah senyum malu-malu dan sekilas sebelum dia buang muka ke arah lain, gue sempat ngeliat kalau ada semburat merah di pipinya.


__ADS_2