Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
#S2 Berbagi Ilmu


__ADS_3

Berhubung tadi pagi Abim udah ngerecokin di rumah gue, sekarang giliran gue yang sore ini ngerecokin rumahnya Abim. Caranya cukup maen ps sambil makan kacang kulit yang kulitnya sengaja dilempar ke kolong tempat tidurnya Abim. Gimana? Gue udah jadi tamu yang nggak tau diri, kan.


"Ehh, si ******! Jangan ngelempari kulitnya ke sono! Bala begok!" Si Abim nyadar sama apa yang gue lakukan dan gue digaplok sama dia.


"Biarin napa, Bim. Biar di kolong tempat tidur lo numbuh kacang." Pas gue bilang kayak gitu, gue malah cekikikan.


"Bloon. Lo tuh kalau punya otak jangan kepinteran napah! Kayak begini kan jadinya." Abim yang ngomel bikin gue makin cekikikan.


Abim mencebik, gue lagi abis makan kacang kulit ngambil salah satu stik ps yang abis kita pake buat maen bareng. "Tanding lagi nggak nih?"


"Yaiyalah, masa enggak. Gas sampai subuh." Abim juga ngambil stik ps satu lagi.


Gue mendelik natap dia. "Dih, gila. Gue mau tidur kali. Sampai jam sembilan malem aja."


"Ah, payah lo."


"Gue nggak boleh begadang, Bim. Soalnya besok gue ada acara."


"Acara apaan?"


"Biasa acara orang penting."


"Dih!"


"Sampai jam sembilan aja, Oke?"


"Hooh."


Rencananya nanti malem gue nggak mau begadang, sesuai dengan apa yang gue bilang sebelumnya, kalau besok gue ada acara. Acara keluarga lebih tepatnya, dan tempatnya ada di Sukabumi dan rencananya juga bakal nginep dua hari di sana. Hitung-hitung liburan dan siapa tau aja suasana Sukabumi gue bisa lebih relaks ngerjain skripsi.


Dan pertandingan pun kembali dimulai, kali ini giliran Abim yang milih game baku hantam. Baru lima menit dimulai permainan udah kerasa seru.


"Hajar. Hajar. Hajar!"


"Maju lu! Maju!"


"Kabur begok! Kabur!"


"Ahh! Dikit lagi padahal. Greget bat anjir."


Gue sama Abim teriak-teriak nggak jelas, saking mengkhayatinya maen ps. Kalau cowok lagi maen ps berisik banget emang, mulutnya susah banget dikontrol. Dan sepuluh menit kemudian pertandingan dinyatakan selesai dan tim gue sama Abim dinyatakan menang, hehehe.


Karena pertandingan udah kelar, gue sama Abim memutuskan buat rehat dulu sebentar, kalau dilanjut bisa berubah keriting nih jari. Dan sebelum pulang belum afdol kalau cemilannya belum abis, hehehe.


"Eiya, Bim. Gue mau berbagi nih ilmu sama lo." Gue dengan tiba-tiba berucap dan sok-sokan pengin berbagi ilmu sama dia. Ya, nggak apa-apa sih. Pertama biar gue sama dia ada bahan obrolan dan nggak ada salahnya ngasih tahu Abim tentang ilmu pengetahuan dalam mendapatkan pacar.

__ADS_1


"Ilmu apaan?"


"Cara buat perempuan klepek-klepek alias jatuh cinta sama lo."


Abim kelihatan antusias banget waktu denger omongan gue tadi. "Gimana caranya?"


Gue mengeser posisi duduk, sedikit lebih dekat dari jarak sebelumnya. "Jadi begini, Bim. Gue kan pernah nonton drama picisan. Nah, di drama picisan itu--"


"Bentar dah bentar. Picisan itu apaan, ya?"


Seketika gue mendengkus kesal karena pertanyaan Abim itu. Lagi serius berbagi ilmu malah dipotong udah gitu pertanyaan begitu pula. Gimana nggak kesel.


"Picisan itu temennya buncis sama kacang panjang."


"Oh."


Malah bilang oh lagi.


"Seriusan bloon!" Gue yang kesel lempar kulit kacang ke mukanya Abim.


Abim yang nggak terima mukanya kena kulit kacang, balas dendam ke gue. Dia juga ikut ngelempar kulit kacang ke muka gue. "Elo dulu yang mulai duluan, gue tanya picisan apa lo malah jawab ngawur."


Iya, deh. Ngaku. Gue emang salah tapi ya dia juga nyebelin, coba kalau tiba-tiba nggak nanya picisan itu apa pasti gue nggak akan jawab ngawur sekaligus ngelempar kulit kacang ke mukanya.


"Apaan tarifnya?"


"Mie ayam pake bakso tiga mangkok."


"Dih, dasar perut karet." Kali ini gue bukan dilempar pake kulit kacang, tapi pake kacangnya. Gue sih cuma bisa cengar-cengir aja.


"Lanjut berbagi ilmu nggak nih?" tanya gue.


"Lanjutlah masa enggak, omong-omong ilmu lo nggak pasang tarif, kan?"


Gue pun menggeleng pelan. "Enggak, tenang aja. Gratis kok."


"Oke."


"Gue ulangin, ya," ucap gue yang kemudian disusul sama dehaman pelan.


"Jadi begini. Di drama picisan yang pernah gue tonton ada adegan di mana si pemeran utama pernah bilang. Katanya, ada satu cara bikin cewek jatuh cinta. Caranya gampang banget. Caranya itu cukup bikin dia ketawa. Dan lo tahu apa kelanjutannya?"


Abim geleng-geleng sambil nyemilin keripik kentang, omong-omong dia nyemilin keripik kentang karena kacang kulit udah abis buat dia timpukin ke gue.


Gue sengaja ngasih jeda diucapan gue, biar dia makin penasaran. Dan bener aja mukanya kelihatan penasaran banget dan karena mukanya itu gue ketawa pelan.

__ADS_1


"Kelanjutannya apaan, Nung? Buruan lanjut jangan ketawa."


Karena kesian lihat mukanya yang makin penasaran. Gue pun berucap, "Ternyata, ya. Bim. Si ceweknya itu kuntilanak."


"Kok bisa?"


"Ya, bisalah. Wong si cewek ketawanya ampe keterusan."


"Yang bener lo?" Mukanya Abim terheran-heran dan gue cuma bisa nahan ketawa. "Kesurupan doang kali. Lo nonton apaan sih sebenernya nggak jelas banget!"


Abim yang ngomel, mampu bikin gue nggak bisa lagi nahan ketawa. "Bercanda gue, Bim. Serius banget sih muka lo."


Terdengar suara decakan dan bungkus kripik singkong yang kena kepala gue. Dan udah jelas pelakunya Abim, nggak mungkin intel yang nyamar jadi kang nasgor.


"Tapi, Bim. Gue serius nih."


"Au ah, bodoamat. Nggak mau denger."


Dih, gitu si Abim. Ngambeknya udah kayak cewek. Lagi-lagi gue cuma bisa ketawa sebentar. "Serius ini, Bim. Gue nggak bercanda. Katanya kalau lo mau bikin cewek jatuh cinta sama lo. Lo harus bikin dia ketawa."


Usai denger ucapan gue, si Abim malah diem kelihatan kalau dia lagi mikir. Mungkin lagi menimbang-nimbang ucapan gue benar atau enggak.


"Kalau nggak mempan gimana?" Pertanyaan Abim bikin gue mikir sebentar.


"Hng. Itu tandanya duit lo harus banyak."


Keningnya Abim mengerut sementara matanya natap gue lebih fokus. "Duit lo dikit, tapi kok ada yang mau sama lo?"


Abim kampret, kalau bukan gue lagi mager. Tempat tidur di kamarnya udah gue tebalikin kali.


"Muka gue gantengnya kebangetan, makanya ada yang mau," kata gue mulai sewot.


"Bohong lo! Pasti tu cewek kena pelet lo, ya?"


Gue kok punya temen pada nyebelin semua, ya? Boleh nggak sih kalau gue tuker temen-temen gue terutama Abim sama permen karet? Satu bungkus juga nggak apa-apa dah.


"Kalau gue mainnya pelet, mending gue pelet Selena Gomez."


Abim manggut-manggut. "Oh, jadi lo nggak suka sama cewek lo? Yaudah sini buat gue aja. Gue siap menyayangi dan mencintai doi selama dua puluh empat jam nonstop." Abim senyum dan senyumnya keliatan nyebelin di mata gue.


Akibat terlalu greget sama dia, tangan gue dengan mulus nabok pundaknya Abim sekalian sama kepala sedikit, soalnya dia bloon banget sih.


"Maksudnya enggak gitu juga kali, dodol!" Respons Abim udah jelas cengengesan macem tapir.


Omong-omong. Begini, ya. Walaupun Wati itu nggak secantik dan seaduhai Selena Gomez, yang namanya gue udah cinta sama dia mau dikata apa? Walaupun dia nyebelin tapi dia itu ngangenin. Kan, keinget Wati gue jadi kangen sama dia.

__ADS_1


__ADS_2