
Gue enggak tahu si Wati kesambet apa, tapi yang jelas di hari minggu ini si Cacing Benjol maksa banget buat pergi ke kebun binatang dan katanya sih dia pengen liat macan. Dia penasaran macan itu segede apa dan semenakutkan apa dan katanya juga kalau menurutnya si macan itu nggak menakutkan, si Wati mau nantangin itu hewan buat maen karambol.
Emang bocah pele.
Pagi-pagi gue udah mandi, udah wangi pula dan di pagi menjelang siangku ini gue udah berdiri di depan kandang macan. Dan tentunya di samping gue udah ada si Wati yang kelihatan girang banget karena bisa lihat macan secara langsung.
"Lah, anjir. Macannya gede." Begitu yang gue denger sambil liat si Wati yang lagi cekikikan entah karena apa.
"Emang lo pikir macan badannya segede kucing?" Saat gue berkomentar respons Wati cuma sebatas cengiran singkat. "Gimana? Berani lo tantangin doi maen karambol?" tanya gue sekedar mengingatkan dia atas tujuannya ke kebun binatang.
"Enggak lah gila aja lo. Dia mana ngerti maen karambol, kalau nyerang orang baru dia ngerti," cetusnya sedikit sewot.
Ya, lagian salah dia sendiri. Kalau mau ke kebun binatang tinggal bilang aja mau berjumpa sama kawan lama, ini malah sok-sokan nantangin macan maen karambol. Macan mana bisa maen begituan, emang nih Wati sama pikirannya itu bener-bener aneh, ckckck.
Masih di depan kandang macan, gue mulai menghitung berapa banyak macan yang ada di sana dan kurang lebih sih macannya sekitar ada delapan, enggak tahu deh yang ngumpet ada berapa yang jelas macan di sini sejahtera semua satu pun badannya nggak ada yang kurus.
"Nung?"
"Apaan?"
"Lo liat dah itu macan yang ada di sebelah kanan di bawah pohon."
Sesuai petunjuk yang dikatakan oleh Wati, gue langsung mencari keberadaan salah satu macan yang dia maksud, enggak butuh waktu satu menit gue udah liat macan yang di maksud, doi lagi nyantai di bawah pohon yang sebelumnya sempet nguap lebar kayak jidatnya Dodo. Setelah gue liat macannya biasa aja, doi enggak kenapa-kenapa bahkan cenderung kayak sesosok makhluk yang sedang menikmati hidup.
Karena gue nggak ngerti sama maksud ucapan Wati sebelumnya akhirnya gue pun bertanya, "Macannya kenapa?"
"Itu macan lagi melototin elu tau," jawabnya sambil bergidik ngeri.
Seketika gue sempat bengong sebentar. Apaan dah maksudnya? Perasaan itu macan matanya biasa aja dah nggak melotot atau apa dan sejak kapan macan bisa melotot? Itu macan apa Susana? Heran banget dah gue sama itu bocah satu.
"Matanya biasa aja kali, Ti. Enggak melotot elo kali yang melototin dia."
"Enggak, Nung. Beneran, dia melototin elo tahu. Soalnya lo mirip bapaknya yang nggak pulang-pulang." Di akhir kata si Wati malah ngakak.
__ADS_1
Busett dah, yakali gue kawin sama macan. Dikira gue siluman macan kali ya.
"Lo pikir gue bang Toyib yang nggak pulang-pulang?"
Setelah Wati selesai ngakak, dia pun ngomong lagi sambil mukul pelan lengan gue. "Pelototin balik, Nung. Siapa tau gitu elo bisa jadi pawang macan."
Yailah, daripada jadi pawang macan mending gue jadi pawang ujan.
***
Puas berdiri di depan kandang macan dan pamit sama macan yang katanya melototin gue, tujuan kandang berikutnya adalah kandang monyet. Sengaja ke kandang monyet duluan soalnya gue tahu pasti si Wati udah kangen berat sama saudara-saudaranya.
Menurut gue monyet itu salah satu hewan yang hiperaktif, beda sama kucing yang seharian kerjaannya cuma rebahan doang dan sekalipun ada ujan, gempa, geledek, banjir si kucing nggak akan bangun kecuali kalau denger bunyi bungkus makanan yang lagi dibuka.
Kembali soal monyet, katanya nih monyet itu hewan jail dan gue cukup percaya karena dari banyaknya film kartun tentang hewan yang pernah gue tonton, di film itu kebanyakan monyet itu emang jail suka nyolong, bikin keributan, tukang cari masalah. Persis banget dah kayak si Wati dan nggak heran juga sih kalau Wati ada hubungan sama monyet, wkwk.
"Nung, berdiri di deket kandang deh."
"Mau gue fotoin lah, terus pengen gue share di sosmed." Wati berkata sambil ngeluarin handphone-nya yang ada di kantong celananya.
Gue yang ngerti maksudnya pun segera ngambil posisi buat siap-siap di foto. Kira-kira kalau foto di depan kandang monyet gini pose yang bagus itu kayak apa ya?
"Ayo, Nung. Buruan ih jangan kebanyakan mikir. Lo posenya kayak biasa aja."
Okelah, karena Wati udah bilang kayak begitu mau nggak mau gue posenya sederhana cuma berdiri kaku di depan kandang ngelipetin kedua tangan di depan dada sambil senyum manis.
Selesai di fotoin Wati, gue pun pengen liat hasilnya kayak apa. Dan seperti biasa gue selalu ganteng meski dalam keadaan apa pun, pose apa pun, dan di berbagai tempat mana pun.
"Menurut lo captions-nya bagusan yang mana? Ada monyet di luar kandang atau ada monyet lagi foto sama monyet?" ledek si Wati sambil ngakak sendiri.
Asem nih bocah, kalau tahu captions-nya bakalan begitu mending gue kabur aja dah pura-pura mules. Tapi yaudalah, entar juga orang-orang pada tahu mana yang monyet mana yang bidadara.
"Mana ada monyet ganteng kayak gue?" kata gue sama sekali nggak menjawab pertanyaannya mengenai captions.
__ADS_1
"Ya ada, elo buktinya. Gue tahu kok kalau lo itu sebenernya siluman monyet."
Yaudahlah ya, daripada gue ladenin ocehannya dia gue ngalah aja mempersingkat dengan cara cubit salah satu pipinya biar tahu rasa entar pipinya jadi tembem sebelah.
"Abis ini lo mau liat apa lagi?"
"Elang."
Refleks gue menaikkan sebelah alis. "Lo mau lihat burung elang?"
Wati menggeleng singkat. "Bukan. Orang itu kayak tetangga gue, Nung. Namanya Elang," katanya sambil nunjuk ke arah cowok yang pake baju cokelat lagi beli boneka yang udah pasti itu boneka buat pacarnya yang ada di sebelahnya.
"Jangan disamperin."
"Kenapa nggak boleh?"
"Lo liat nggak? Di sebelahnya ada cewek yang menurut gue itu pacarnya. Entar kalau lo tiba-tiba nyamperin dia nanti yang ada ceweknya bisa salah paham, takutnya lo mau minta pertanggungjawaban sama cowoknya."
"Gitu, ya? Tapi kan gue samperinnya sama elo."
"Dih, ngapain gue ikut? Kenal sama dia juga enggak."
Enggak tahu apa yang ada dipikiran Wati, tapi yang jelas si Wati ngeliatin gue dengan mata yang sengaja di sipit-sipitin dan nggak lama kemudian dia malah senyam-senyum sendiri. "Lo cemburu, ya? Takut nanti lo gue cuekin karena keasikan ngobrol sama Elang?"
Di kala Wati lagi ngegodain gue, di saat itu gue buang muka berdeham pelan dan langsung membantah. "Siapa yang cemburu sih? Biasa aja gue mah."
Oke, gue akui. Gue emang sedikit cemburu dan gue itu tipikal cowok yang nggak secara gamblang mengakui kalau cemburu gue gengsian, beda sama Yohan yang secara terang-terangan bilang kalau dia lagi cemburu.
"Masa sih? Kalau nggak cemburu gue samperin aja ya."
Gue buru-buru tahan tangan dia. "Jangan ih! Nanti lo ganggu udah sini sama gue aja, kita liat hewan yang lain."
"Aduh, pacar aku ternyata orangnya cemburuan." Begitu kata Wati sambil senyam-senyum sendiri dan gue merasa salah tingkah sama ucapannya barusan.
__ADS_1