
Salah satu mall ternama di Ibu kota Jakarta adalah tempat di mana gue dan Wati akan menghabiskan malam minggu bersama di tempat itu, kenapa pergi ke mall? Itu karena Wati ngajakin nonton, dan gue sebagai bucinnya setuju-setuju aja, asalkan sama dia gue selalu setuju buat ke mana aja, Hahay.
Kita udah beli tiket, tapi berhubung film yang pengen kami tonton mulainya masih tiga puluh menit lagi, jadi sembari menunggu gue sama Wati memutuskan buat pergi ngelilingin mall sekalian liat-liat dagangan di mall kali aja gitu nemu barang yang nyantol di hati.
"Eh, Nung. Kita mampir ke situ dulu yuk." Wati berucap sambil nepuk lengan gue, dan sontak saja gue jadi berhenti melangkah.
"Mau ke mana?"
"Ke situ." Wati nunjuk department store yang jaraknya radius lima meter dari tempat gue sama Wati berdiri, department store yang Wati tunjuk ngejual produk-produk buat cewek kayak misalnya hiasan kamar, lampu tidur, boneka, dompet, slingbag, aksesoris, dan lain-lain.
"Mau ngapain ke sana?"
"Mau liat-liat aja."
"Yaudah, liat-liatnya dari sini aja," kata gue asal dan itu ngebuat Wati nyubit gue, seketika gue jadi nyesel ngomong asal, Hmmm.
"Ih, mana bisa. Kalau liat dari sini nggak keliatan, dodol!"
Iya, guys. Gue dihina sama pacar sendiri, di bilang dodol. Iya nggak apa-apa, di bilang lemper juga nggak apa-apa. Karena gue bucinnya Indira Raisawati kami berjalan beriringan ke department store itu meski sebenernya gue agak ogah-ogahan ke sana. Kenapa? Karena tempat itu habitatnya cewek, udah jelas yang jual sama yang beli kebanyakan cewek.
Sementara gue sendiri adalah cowok tulen yang harus mampir ke sana buat nemenin pacar. Dan, ya. Gue mencoba buat bersikap bodo amat sama tatapan terpincing-pincing atau terkaget-kaget kaum hawa yang ada di sana.
Sesuai dugaan, karena gue adalah satu-satunya cowok yang mampir ke department store itu semua mata tertuju padaku. Iya, gue dilihatin guys, udah kayak artis dan seketika gue merasa Lee Minho itu sebelas dua belas sama gue, wkwkwk.
Berhubung di sini gue cuma nemenin otomatis ke mana Wati melangkah selalu gue ikuti, anggep aja gue ini anak bebek yang selalu ngikutin induknya biar nggak tersesat.
Kalau gue lihat dari jam tangan yang gue pake, sekitar tujuh menitan si Wati kerjaannya mondar-mandir mulu dan hal itu udah jelas bikin kepala gue puyeng karena ngikutin dia mondar-mandir.
"Mau nyari apaan lo di sini? Dari tadi mondar-mandir doang kerjaannya," ucap gue sembari melipatkan kedua tangan di depan dada, merasa waktu gue terbuang secara cuma-cuma di tempat ini.
Tanpa menoleh sedikit pun, Wati pun menjawab, "Gue tuh lagi nyari boneka tau."
Usai denger jawabannya, gue langsung melongo. Begini, Wati itu kan tipikal cewek tomboi yang cukup bar-bar, dan gue rasa cewek tomboi itu kalau disuruh memilih antara boneka dan bola udah jelas pilihannya bola.
__ADS_1
Dan selain itu, hal yang bikin melongo gue makin jelas adalah katanya dia mau cari boneka, dia punya mata yang berfungsi dengan baik, tapi kok dia nggak sadar atau mungkin pura-pura nggak sadar kalau rak bagian atas di tempatnya berdiri itu ada macem-macem boneka yang berjejer rapi di sana.
"Woi, itu di depan mata lo boneka."
Sebelum ngomong, Wati sempat dongak ke atas mengamati boneka-boneka lucu seperti beruang, gajah, panda, burung hantu, jerapah, monyet, dan lain-lain.
Usai mengamati si Wati geleng-geleng kepala. "Nggak mau ah, gue nggak suka."
Serius, pas denger jawabannya gue melongo buat kedua kalinya. "Lah, terus? Lo lagi nyari boneka model apaan?"
"Tengkorak, gue lagi nyari boneka tengkorak." Wati ngejawab sambil nyengir-nyengir macem onta.
Anjerlah, nyari boneka tengkorak, nggak sekali tuh dia nyari boneka santet di sini?
"Heh! Di sini mana ada boneka tengkorak?!"
"Ya, kali aja gitu bonekanya nyempil."
Gue mendengus dan tanpa banyak basa-basi gue langsung tarik dia keluar dari tempat ini.
*
"Keren nggak?" tanya gue sambil bergaya saat pake kacamata hitam yang biasa dipake artis-artis kalau lagi ke pantai atau jalan-jalan ke luar negeri.
Wati nyengir sambil acungin kedua jempolnya. "Wih, iya. Keren banget, topeng monyet kalah keren sama lo."
Gue nggak tau itu kalimat pujian atau hinaan, tapi kok feeling gue mengatakan kalau tadi adalah kalimat hinaan berupa 'muka lo nggak beda jauh dari monyet' atau lebih kasarnya 'muka lo mirip monyet', ya begitu kira-kira maknanya.
Dan lupakan soal monyet, sekarang gue sama Wati lagi di department store yang menjual berbagai macam model serta ukuran kacamata, mulai dari yang sekecil penghapus karet sampai segede barbel, terus seringan kapas sampai seberat dosa lo lo pada selama bertahun-tahun.
Gue udah coba sekiranya tujuh kacamata yang ada di sini, bagus-bagus sih modelnya dan rata-rata kacamata yang udah gue cobain amat cocok di muka gue, karena pada dasarnya orang ganteng emang cocok dipakein apa aja, hihiw.
Sebenernya gue ada keinginan buat beli tapi berhubung harganya rata-rata setara sama biaya hidup gue selama dua bulan, jadinya niat itu gue batalkan. Nantilah, kalau harta gue sebanyak Bill Gates atau Mark Zuckerberg semuanya bakalan gue borong termasuk tembok department store-nya.
"Abis nonton mau mampir ke timezone dulu nggak?" tanya gue yang masih ngeliat-ngeliat kacamata yang rasanya pengen gue cobain semua. Dari pantulan kaca, gue bisa ngeliat setelah denger ucapan gue si Wati menggeleng singkat.
__ADS_1
"Nggak ah, emang lo kira gue bocah?" katanya yang juga ikut liat-liat kacamata, dia sih cuma lihat doang dicoba mah kagak. Mungkin karena harganya cukup mahal jadinya dia nggak berani pake karena takut rusak kali, yak?
Usai denger jawabannya gue pun mencibir. "Halah, palingan pas di sana lo langsung nggak inget umur."
"Berisik lo!" Ngeliat dia yang agak sewot, gue sih cuma bisa cengengesan doang.
"Eh, Nung. Waktunya tinggal sepuluh menit lagi nih, langsung ke bioskop aja yuk?" ajaknya setelah ngeliat jam yang ada di hpnya dan ketika gue melakukan hal yang sama yaitu ngecheck waktu di jam tangan ternyata bener sisa waktunya tinggal sepuluh menit lagi, bener-bener nggak terasa.
"Yaudah, ayo. Etapi, bentar dulu deh."
"Kenapa?"
"Gue mau ke toilet dulu."
"Yaudah sana, tapi lo tau tempatnya, kan?"
"Taulah, kan yang punya mall ini gue," kata gue sambil cengengesan.
"Si Bapak, mimpinya ketinggian."
"Yee, jangan salah loh. Ada yang pernah bilang kalau semuanya itu berawal dari mimpi."
"Iya, bapak Hanung yang terhormat."
"Gue mau ke toilet dulu, lo tunggu di sini, jangan ke mana-mana."
"Iya."
Gue melangkah pergi, ninggalin Wati sendirian di department store tempat jualan kacamata. Dan berhubung toiletnya nggak terlalu jauh dari tempat Wati nunggu, jadinya nggak terlalu khawatir kalau semisal tuh bocah digondol kucing.
"Hanung?"
Saat ada seseorang yang manggil nama gue, otomatis gue berhenti ngelangkah dan nengok ke belakang buat cari tau siapa seseorang yang udah manggil nama gue.
Dan saat tau siapa pelakunya, detik ini juga gue nggak bisa bergerak mulut gue ternganga cukup lebar, karena sang mantan pacar yang gue samarankan namanya menjadi pot kembang, kini dengan lancangnya menyapa gue dan berjalan menghampiri dengan senyum lebarnya.
__ADS_1