Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
#S2 Malam Minggu


__ADS_3

Di malam minggu kali ini, bintang-bintang di langit malam bertebaran kayak beras yang sengaja ditabur di atas tanah buat makan ayam. Dan malam ini juga gue lagi ada di teras balkon indekos lagi duduk santai sambil memangku Tamara alias gitar berwarna cokelat kesayangan gue yang senarnya beberapa kali pernah diganti karena putus.


Selain Bagong si motor bebek yang juga kesayangan gue. Tamara itu adalah salah satu benda berharga gue, awal mula gue ketemu Tamara waktu gue masih imut-imutnya dan waktu gue masih pendiam-diamnya (bercanda), masih imut-imut yang gue maksud waktu gue masih pakai seragam putih biru yang saat itu gue baru menginjak kelas dua SMP. Gue dikenalin sama Tamara sama bokap alias sebagai kado ulang tahun karena seminggu sebelum ulang tahun gue bilang mau gitar.


Alasan gue kepingin gitar karena keren aja gitu seketika merasa jadi cowok paling ganteng sekaligus paling keren apalagi di hadapan cewek-cewek, hehe.


Tapi semenjak gue kuliah, gue makin sibuk sampai hampir nggak punya waktu buat mesra-mesraan sama Tamara kayak dulu. Tapi kali ini, berhubung gue nggak sibuk, berhubung nggak ada tugas yang harus diselesaikan, dan berhubung lagi nggak nge-date di malam minggu dengan alasan si pacar lagi fokus nonton film India, gue pun bebas. Dan waktu senggang yang gue punya sebelum tidur gue pakai untuk kembali menjadi cowok paling keren di indekos, hehe.


Mungkin karena cukup lama gue nggak main sama Tamara, gue agak lupa sama kunci-kuncinya kadang ketika mulut gue bergumam untuk bernyanyi jari-jemari gue menempatkan posisi di senar yang salah.


"Tumben lo nggak keluar? Biasanya kan lo sama Wati sering pungutin sedotan bekas kalau malam minggu begini."


Gue mendesis dan nggak perlu menoleh karena gue udah tahu siapa pelakunya, namanya Yuvino Sebastian mahasiswa kedokteran yang sibuk magang di rumah sakit swasta terkenal dan gue biasanya manggil dia bang Upin. Kemudian gue menebak cowok itu lagi berdiri bersandar di pojok tembok karena itu posisi favoritnya kalau lagi di balkon.


“Dih, sembarangan banget itu mulut,” komentar gue dengan fokus menempatkan jari-jemari di senar yang benar. Abis itu gue genjreng sekali. Oke, suaranya nggak terlalu buruk.


Setelah satu sampai tiga kali genjrengan gitar, ada satu hal yang gue pertanyakan mengenai keberadaan bang Upin yang ada di sini karena biasanya kalau lagi senggang kayak malam minggu begini pasti bang Upin bakalan keluyuran.


"Lo juga tumben banget di sini? Biasanya juga ke rumah sakit nemenin Alsa," tanya gue sambil coba petik senar gitar lagi tapi kali ini suaranya lebih pelan.


Omong-omong, nama cewek yang gue sebut itu adalah teman masa kecilnya bang Upin yang baru ketemu lagi dan sekarang lagi dirawat di rumah sakit tempatnya magang. Takdir yang berkedok kebetulan banget, kan?


"Alsa nyuruh gue nggak usah dateng ke RS soalnya dia lagi nggak kepingin diganggu."


Jawaban bang Upin bikin pergerakan tangan gue terhenti kemudian salah satu alis gue pun terangkat sedikit. "Diganggu?"


Barulah ketika gue mencetuskan satu kata yang bisa dijadikan pertanyaan itu gue noleh natap bang Upin yang beneran lagi menyandarkan badan di tembok dengan satu tangan yang memang piring dan satu tangan lagi pegang handphone mungkin lagi baca artikel tentang kedokteran seperti biasa.


"Iya, dia pingin tamatin bacaan komiknya," jawabnya sambil fokus natap handphone.

__ADS_1


Sekilas gue manggut-manggut dan kini gue nggak mau bertanya lebih dalam mengenai komik apa yang lagi dibaca Alsa atau apa pun itu, karena kini fokus gue bukan ke situ lagi tapi ke piring berwarna putih yang dipegang bang Upin. Menurut dugaan gue, piring itu isinya Indomie goreng karena penampilannya dan waktu angin berembus gue dapat menciumnya, tapi aromanya beda nggak seperti Indomie goreng yang biasa gue makan.


"Bikin Indomie, Bang?"


"Hm, lagi iseng aja butuh camilan."


Bang Upin nggak lagi fokus natap handphone karena benda elektronik itu dia masukin ke kantong celana pendeknya kemudian bang Upin jalan mendekat buat duduk di kursi kosong yang ada di sebelah gue yang berbatasan sama meja bundar.


Dari tekstur, aroma, sama warnanya agak beda dan karena terlalu serius lihat mi instan itu gue jadi kepingin dan otomatis cacing-cacing diperut mulai rusuh. Melihat bang Upin yang mulai makan mi instannya yang dicampur sama telur yang udah diorak-arik bikin mulut gue bersuara.


"Bang?"


Bang Upin pun menoleh. "Kenapa?"


"Lo harus tanggung jawab."


"Hah?"


Teman sekamar gue itu pun mendesis. "Enggak akan gue bagi, lo bikin sendiri sana!"


"Dih, pelit," cibir gue.


"Bodoamat, lagian jangan dijadiin kebiasaan. Setiap gue makan pasti lo minta."


Gue tahu bang Upin kesal tapi entah kenapa kekesalannya sama omongannya itu bikin gue cengengesan. Ya, anggap aja gue nggak sadar diri.


"Kan berbagi itu indah, Bang. Lagian lo juga salah makan di depan gue," alibi gue membela diri.


"Gue tabok juga ya mulut lo," galaknya yang kembali bikin gue cengengesan.

__ADS_1


"Bercanda, Bang."


Oke, karena bang Upin sewot gue pun nggak memberanikan diri lagi buat minta Indomienya walaupun sedikit. Toh, kalau minta pasti dapetnya dikit beda kalau bikin sendiri.


"Itu Indomie apaan dah? Kok warnanya kayak bukan Indomie goreng biasa? Aromanya juga beda," tanya gue karena sebelumnya pun gue sempat penasaran sama Indomie yang dimakan bang Upin itu.


"Ini Indomie goreng ayam geprek."


"Oh, yang hype abis itu?"


Bang Upin membalas dengan anggukan singkat karena sekarang mulutnya lagi sibuk mengunyah. Karena gue pingin dan karena gue pengen tahu gimana rasanya Indomie goreng ayam geprek itu gue udah membulatkan niat buat bikin juga, kemudian gue bangkit dari duduk pergi ke dapur dan ninggalin Tamara sama bang Upin di teras balkon.


***


Buat bikin Indomie ayam geprek nggak membutuhkan waktu lama. Ya, namanya juga mi instan. Selesai buat mi instan di dapur gue langsung balik ke teras balkon karena rencananya gue makan makan Indomie yang belum pernah gue coba sambil lihat bintang-bintang.


Kursi gue masih kosong dan ada piring kosong yang ada di atas meja, bang Upin kini sibuk sama handphone-nya dan gue nggak peduli karena yang gue pedulikan saat ini adalah makanan di piring yang gue pegang.


Satu sendok gue rasakan Indomie ayam geprek rasanya enak cocok banget dilindah, tapi disendok yang ketiga kalinya perlahan lidah gue rasanya kebakaran alias gue kepedasan, sontak dengan tatapan tajam gue menoleh ke bang Upin yang kini lagi tahan tawa.


"LO KENAPA NGGAK BILANG KALAU INDOMIENYA PEDES?! LO TAHU SENDIRI GUE NGGAK KUAT PEDES!"


Saat itu pun bang Upin nggak bisa tahan tawanya lagi. Sialan gue dikerjain.


Salah gue juga sih, kenapa gue bego banget nggak memperhatikan bungkus Indomienya baik-baik karena gue beranggapan itu cuma Indomie biasa yang maksudnya Indomie goreng itu rasa ayam geprek yang nggak ada pedas-pedasnya sama sekali dan sekalipun pedas pasti rasanya nggak terlalu kentara.


"Tapi enak kan, Nung. Indomienya?"


"ENAAAK!" Satu kata yang gue keluarkan sambil teriak karena kepedasan bikin ketawa bang Upin tambah parah.

__ADS_1


Awas aja ya bang, nanti malam tidur lo nggak tenang.


Seperti apa yang gue katakan sebelumnya, rasanya enak tapi pedas karena rasa telah mengalahkan pedas, gue lebih memilih buat menghabiskan karena sayang aja kalau nggak habis. Biarin aja deh sesekali ini gue nggak apa-apa harus kepedasan sampai nanti beberapa jam ke depan.


__ADS_2