Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
#S2 Hanung Menggonggong


__ADS_3

Siang ini gue lagi mejeng di teras indekos baru pulang ngampus dan nggak ada agenda buat jalan-jalan setelah mata kuliah udah selesai. Karena jujur aja kalau Wati nggak ada kelas sampai sore gue nggak akan merasa males kayak begini buat keluyuran soalnya ada sang pawang yang menemani di boncengannya. Pengen nungguin Wati kelar ngampus tapi males juga lagian kelamaan terus daripada gue mondar-mandir di kampus kayak orang begok yang nggak punya tujuan mending gue balik aja ke kosan dan kalau Wati minta jemput gue tinggal tancap gas aja soalnya kampus sama kosan nggak terlalu jauh-jauh amat jaraknya.


Gue lagi terdampar di teras nggak merebahkan diri di atas ubin dingin kayak orang terkulai lemas gara-gara belum makan berhari-hari, gue lagi duduk di temani sebungkus sukro dan segelas kopi pahit yang pahitnya nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama kenyataan.


Gue duduk di kursi sibuk main handphone karena bales bales chat di grup yang namanya "anak-anak manusia" dan sesekali mengawasi bocah-bocah yang berkerumun menyusun sebuah rencana yang gue duga bocah-bocah itu berkomplot buat nyolong mangga di pekarangan rumahnya bang Junet. Soalnya dua dari lima bocah itu beberkali nunjuk ke arah mangga yang udah mateng.


Omong-omong pemilik pohon mangg alias bang Junet pernah berpesan beberapa kali sama gue kalau ada bocah yang nyolong mangga di depan rumahnya dia nggak akan marah kecuali kalau nyolong mangganya lebih dari tiga. Berhubung bang Junet menaruh kepercayaan yang amat besar ke gue buat mantau bocah-bocah itu gue nggak akan mengecewakannya. Enggak boleh ngambil mangga lebih dari tiga? Oke, kalau mereka ngambil lebih gue tahu harus ngapain.


Omong-omong, terakhir chat yang gue bales itu dari Geo yang katanya itu bocah lagi bosen, karena tahu gimana kebosanan itu rasanya amat sangat tidak enak gue memberi usul ke Geo buat dateng ke kos-kosan gue dan nggak lama mungkin sekitar enam menitan kali ya? Geo dateng bersama motor hijau kesayangannya yang diberi nama Kloper tapi gue lebih seneng manggilnya Klepon.


"Udah berapa lama lo mejeng di sini?" tanya Geo ketika orang itu jalan mendekat.


"Sepuluh menitan kali," jawab gue menerka-nerka. "Duduk, Yo."


"Heeh." Dia pun mendudukkan dirinya di kursi kosong yang tempatnya cuma ke pisah sama meja.


Gue menaruh handphone di atas meja semantara pandangan gue fokus kepada lima bocah yang mulai beraksi buat nyolong mangga.


"Lo serius mantau mereka?"


Pertanyaan yang gue dengar buat kepala gue mengangguk singkat kemudian menoleh memasang tampang serius. "Iyalah, lo pikir gue lagi bercanda?"


"Iya soalnya lo itu kan demen banget bercanda, di saat orang lain serius masih aja sempet-sempetnya lo bercanda. Emang bocah gendeng lo itu." Sebagai respons gue menanggapinya dengan kekehan pelan.


"Enggak ada makanan, Nung? Lo nggak mau nawarin kopi juga gitu? Gue kan tamu."


"Tamu nggak tahu diri lo mah," cibir gue yang diiringi oleh cekikikan. "Ambil sendiri ajalah di dalem, inget, Yo. Jadi tamu itu harus mandiri nggak boleh manja."

__ADS_1


Sementara itu Geo mendelik ngerti sih pasti reaksi gue juga sama kayak begitu, kayak yang gimana ya? Pemilik rumah kok kayak yang kagak ada ramah-ramahnya sama sekali.


"Btw, Yo. Di atas meja makan ada gorengan, Yo. Ambil gih gue lagi kepengen makan pisang goreng. Kalau lo mau kopi seduh sendiri aja ya."


Tanpa banyak omong Geo nurut buat masuk ke rumah indekos. Dia masuk tanpa ragu karena Geo udah biasa dateng ke sini malahan anak-anak kosan juga udah kenal Geo soalnya itu bocah sama Faris udah berkali-kali dateng ke kosan gue. Kadang salah satu dari mereka nggak ada pasti bakalan ditanya "Geo mana kok nggak dateng?" Atau "Si Faris nggak ada? Tumben" dan masih banyak lagi dan yang sering ngomong kayak begitu si Juna.


Omong-omong, mereka itu udah mirip banget kayak Juna sama Rian kudu banget kalau ke mana-mana harus berdua, kalau salah satunya nggak ada pasti dicariin. Gitulah saudara kembar beda emak bapak. Enggak lama gue tunggu, Geo dateng bawa sepiring gorengan yang terisi penuh sama segelas kopi hitam yang asapnya masih ngebul.


Dia duduk lagi di kursi sebelumnya, seketika gue jadi geli sendiri soalnya tiba-tiba kebanyang kalau ditambah sama sarung gue sama Geo udah kayak bapak-bapak pemilik kontrakan seratus pintu yang lagi nyantai-nyantai ngomongin politik sebelum bergegas nagih biaya kontrakan bulanan. Asik dah jadi juragan, wkwk.


"Eh?" Gue mengerjapkan mata seketika langsung bertanya pada diri sendiri, tadi udah berapa ya mereka nyolong mangga? Kok gue bisa lupa begini.


"Eh, Yo?" tanya gue seraya menoleh menatap Geo yang lagi mengap-mengap, enggak tahu dah itu orang kenapa mungkin karena kopinya masih panas tapi udah berani nyeruput.


"Kenapa?" Begitu tanyanya.


"Setahu gue udah tiga deh."


"Seriusan?"


Geo membalas dengan anggukan singkat dan karena ucapan Geo begitu meyakinkan gue pun percaya dan saatnya gue harus bertindak. "Wah, nggak bisa dibirain nih."


Gue berdiri di kepala udah menemukan cara buat ngusir bocah-bocah yang nyolong mangga. Dua bocah masih betah nangkring di pohon dan sisanya di bawah buat nangkepin mangga sambil nunjuk di mana letak mangga mateng berada.


Dengan jalan yang mindik-mindik kayak intel mau nangkep bandar narkoba, gue ngumpet di belakang tembok pager memantau dari sana memperhatikan bocah-bocah itu dan ketika situasi udah tepat yang harus gue lakukan adalah...


"GUK! GUK! GUK!!!"

__ADS_1


"Eh? Kok ada suara anjing?"


"Bang Junet punya anjing?"


Di saat bocah-bocah itu saling berpandangan karena keheranan gue terus menggonggong tanpa henti meski suara gue mulai serak. Saat suara sengaja gue kencengin ada salah satu dari mereka tersentak kaget.


"Eh, kabur eh!"


"Turun woi!"


"Tapi mangganya baru dapet tiga."


"Lo mau pantat lo digigit anjing?! Gue mah ogah!"


"Buruan begok! Keburu kita dikejar anjingnya bang Junet!"


Dari yang gue lihat dua bocah yang naik pohon mulai turun dan salah satunya kelihatan panik. Dan beberapa detik kemudian masih dengan suara gonggongan bocah-bocah itu lari kenceng ketakutan.


Gue pun bernapas lega sambil berbangga diri karena misi sudah berhasil dilaksanakan. Sementara itu dari arah belakang gue denger suara orang ketawa yang udah pasti yang lagi ketawa itu Geo.


"Ngapa lu ketawa-ketawa?!" sewot gue sambil jalan deketin Geo soalnya kalau dalam dua menit ke depan dia belum berhenti ketawa kepalanya pengen gue slepet pake kolornya bang Junet yang numpang mejeng di jemuran indekos.


Ketawanya mulai tipis-tipis. "Kocak begok! Lo udah kayak anjing penunggu pohon mangga beneran tahu nggak." Dan dia pun lanjut ketawa sambil mukul-mukul paha.


Sementara itu gue mendelik. "Enggak usah ngakak, biasa aja kali!"


Geo sih kayaknya bodo amat soalnya dia malah sibuk ngakak. Omong-omong, dia nggak tahu aja kalau gue udah nge-cosplay berbagai macam hewan dan serius yang paling susah itu semut soalnya sampai detik ini pun gue masih nggak tahu semut itu suaranya kayak gimana.

__ADS_1


__ADS_2