
Gue balik ke kosan nggak sendirian, selain Bagong yang biasanya menemani sekarang di boncengan gue ada siluman lumba-lumba alias bokapnya Cosmos alias adek gue alias Dodo.
Jadi tuh, tadi. Sewaktu gue mau balik ke kosan dan pamit sama keluarga gue dan keluarga bibi. Mama tiba-tiba nyeletuk, kalau katanya Dodo masih kangen sama gue dan setelah itu ayah mengusulkan kalau mau balik ke kosan harus ajak si Dodo.
Dan tadinya, gue mau nolak. Tapi pas liat mukanya Dodo yang keliatan pengen banget diajak, gue jadi nggak tega buat nolak. Jadi, ya. Sekarang begini deh, Dodo ikut ke kosan dan gue berharap sangat semoga nanti pas sampai di sana, otaknya Dodo nggak tercemar oleh bobroknya penghuni kosan.
"Udah sampai, Bang?" tanya Dodo, ketika Bagong yang gue kendarai udah berhenti di halaman indekos.
Dan, bukan Hanung namanya, kalau jawabnya nggak melantur.
"Belum."
Dilihat dari ekspresinya, Dodo kelihatan bingung. "Terus kenapa Abang berhenti?"
"Mau minta sumbangan."
"HAH? SEKARANG ABANG JADI TUKANG MINTA-MINTA???"
Seketika gue tutup kedua telinga. Karena buset dah, nih bocah satu. Congornya nggak bisa dikecilin apa? Berisik amat.
"Turun."
"Abang nyuruh Dodo buat ikut minta-minta juga?"
Gue menghela napas, seketika gue cukup menyesal karena udah ngibulin dia. Lalu gue menggeleng singkat. "Enggak, kita udah sampai di kosan abang."
Keningnya Dodo mengerut. "Loh? Bukannya tadi abang bilang mau minta sumbangan? Yang bener yang mana sih?" katanya sambil garuk-garuk belakang kepalanya.
"Yang bener, sekarang kamu turun dari motor abang," kata gue, dan setelah itu Dodo nurut, dia turun dari motor meski mukanya masih kelihatan bingung.
Ngomong-ngomong, gue kesian sama Bagong kalau si Dodo nggak cepet-cepet turun dari badanya, soalnya udah ditindih ikan paus, ditambah dugong pula.
Terus pas Dodo udah turun dari bagong, Dodo jalan pelan yang mengarah ke pintu masuk.
Dan ketika gue menyusul, kening gue mengerut karena Dodo berdiri di depan pintu nggak masuk kosan seperti apa yang gue pikirkan.
"Kok nggak masuk?"
"Hm, bareng sama abang aja masuknya," jawabnya sambil cengengesan.
Maka dari itu, gue yang terlebih dahulu masuk dan Dodo di belakang sambil mengucapkan salam yang terdengar kayak gumaman.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam," ucap gue di dalam hati.
Pas kaki ini sudah melangkah melewati ruang tamu, kening gue mengerut karena tumben banget kosan sepi, biasanya pas gue buka pintu udah ada yang jungkir balik di ruang tamu. Pada ke mana nih rakyat-rakyat gue?
"Bang, aku haus."
Gue menoleh, saat adek kebanggan gue tiba-tiba ngomong, dan tanpa banyak bicara gue melangkah ke dapur buat ambilin dia minum, dan tentunya Dodo masih setia ngikutin gue dari belakang.
"Eh, siapa tuh?"
Refleks gue nengok ke sumber suara, di deket pintu kamar mandi ada si Juna, yang lagi keringin rambutnya pake anduk. Baru selesai mandi dia.
__ADS_1
"Penghuni kos baru, ya? Perasaan kamar kos penuh deh," lanjutnya dengan tatapan fokus ke Dodo.
Dodo yang udah selesai minum, menggeleng pelan. "Bukan, Kak," jawabnya sambil senyum ramah.
Juna yang kelihatan bingung setelah denger ucapan Dodo, membuat gue harus menjelaskan. "Dia adek gue, namanya Dodo."
Setelah itu, reaksi bingungnya langsung berubah, agak kaget. "Oh, jadi kamu itu Dodo, adeknya Hanung?"
"Iya, Kak." Dodo masih senyum ramah.
Oke, gue bakal menjelaskan sedikit. Jadi, tuh. Penghuni kosan udah pada tau kalau gue itu punya satu adek namanya Dodo. Dan gue sedikit cerita tentang Dodo, soal dia yang doyan makan, punya kucing betina yang dikasih nama Cosmos, sok-sokan punya gebetan.
Juna merhatiin Dodo, sambil manggut-manggut. "Tinggi juga ya kamu, beda banget sama abangnya yang bogel."
Gue pun melotot. "HEH!"
Juna cengar-cengir. "Yaudah, ya. Dek. Abang mau ke kamar dulu, oiya kalau kamu mau tanya-tanya sesuatu sama abang. Langsung ke kamar abang aja, oke?"
Dodo ngangguk singkat, dan setelah itu pergi. Kalau semisal Dodo beneran mau ketemu sama tuh kingkong wakandah dan tanya sesuatu sama dia, gue sebagai abangnya yang sangat peduli sama kewarasan Dodo, gue nggak akan membiarkan hal itu terjadi.
Karena bagi gue, Juna adalah ancaman.
"Tadi siapa, Bang?"
"Kingkong wakandah."
"Hah?"
"Namanya Juna, salah satu penghuni kosan."
"Kamu mau di ruang tamu sambil nonton tv atau mau ke kamar abang?"
"Mau ke kamar Abang aja, aku mau bobo soalnya," jawabnya sambil menyengir lebar.
*
"Nung, itu yang tidur di kamar siapa?"
Bang Upin yang tiba-tiba dateng dan tiba-tiba nanya, buat gue nengok. Bang Upin baru pulang, dan gue nggak tau dia abis dari mana.
Gue tau bang Upin baru pulang karena pertama di kamar dia nggak ada dan kedua karena saat gue lagi nonton tv di ruang tamu dari arah luar bang Upin masuk ke kosan.
Terus beberapa menit kemudian, ujuk-ujuk bang Upin dateng dan nanyain Dodo ke gue.
"Adek gue, Bang."
Waktu denger jawaban gue, bang Upin sempet diam sebentar, nggak lama setelah itu dia manggut-manggut.
"Oh, adek lo yang katanya kalau teriak suaranya mirip lumba-lumba itu, ya?"
"Ho'oh."
Buat kedua kalinya, bang Upin manggut-manggut. "Dia dateng sendiri ke Jakarta?"
"Enggak, bokap sama nyokap lagi di rumah bibi."
__ADS_1
Tiga kali, bang Upin manggut-manggut. Ini, kalau bang Upin manggut-manggut yang keempat kalinya bakalan gue kasih piring cantik dah.
"Oiya, kalau adek lo udah bangun. Langsung tawarin makan."
"Lo yakin, Bang?" tanya gue dengan alis yang terangkat sebelah.
"Iya, yakin. Kenapa emangnya?"
"Dia makannya banyak loh."
Bang Upin nepuk-nepuk pundak gue sambil senyum lebar. "Tenang, kita punya Jeri. Minta sponsor aja dari dia."
Iya, ya. Bener juga. Kenapa gue nggak kepikiran? Si Jeri kan gampang banget di plorotin. Apalagi plorotin celananya, ekekeke.
"Tapi, Bang. Bukannya duit lo juga banyak, ya?"
"Yang duitnya banyak itu orang tua gue, bukan gue."
Lah. Iya, ya? Kalau bang Upin duitnya banyak, pasti nggak sering nunggak bayar kosan, nggak kaya Jeri. Waktu dia belum sebulan ngekos dia udah bayar duluan buat lima tahun ke depan. Anak sultan mah emang beda.
*
Saat selesai mandi, gue langsung ke kamar tujuannya sih mau pake baju, yang kebetulan pas selesai mandi gue cuma pake celana bahan selutut sama aduk kecil yang sekarang gue pake buat keringin rambut.
Dan ketika gue udah sampai kamar, kening gue langsung mengerut soalnya Dodo yang sebelum masih tidur di kamar saat gue belum mandi, tiba-tiba tuh bocah udah nggak ada di kasur.
Ada dua kemungkinan dia nggak ada di sini, pertama diculik Megatron dan kedua lagi diculik dedemit kosan alias penghuni kosan yang lagi ngumpul-ngumpul di ruang tamu.
Berhubung otak gue lagi waras, kemungkinan kedua lah yang gue pilih. Karena Megatron nggak ada di dunia nyata.
Setelah gue pake baju dan ganti celana, gue langsung turun ke bawah, dan dugaan gue pun bener. Dodo lagi duduk lesehan sambil ketawa ngakak saat Juna dan bang Wildan lagi ngelawak.
Dan kelihatannya mereka udah akrab sama adek gue, buktinya aja nggak keliatan canggung gitu.
"Do, mandi gih."
Dodo yang masih ngakak, langsung nengok ke gue. Dan seketika dia udah nggak ngakak lagi, tergantikan sama kerutan di keningnya.
"Mandi? Aku kan nggak bawa baju ke sini, Bang."
"Pake baju abang lah."
Dodo diem, dia cuma ngangguk singkat.
"Kamu udah makan?"
Pertanyaan gue langsung dibales oleh cengiran. "Udah."
"Abis mandi, kita ke rumah bibi."
"Ke rumah bibi?"
"Iya, buruan sana mandi."
"Nggak mau ah, aku masih betah di sini."
__ADS_1
Gue mengembuskan napas, karena kalau Dodo udah bilang kayak begitu, ada kemungkinan dia bakalan nginep di sini.