
Malam ini, gue lagi nginep di rumah bang Radit. Bukan gue aja sih yang nginep di rumah mewahnya bang Radit, ada Yohan juga. Tapi sekarang bocah itu lagi ngilang yang katanya mau angkat telepon dari ayang bebebnya dan sampai sekarang Yohan belum kelihatan gue pun nggak tahu dia teleponannya lagi ada di mana. Di atas genteng kali ya? Atau mungkin dia nangkring di atas pohon biar di temenin sama mbak-mbak rambut panjang yang sering pakai daster warna putih dekil.
Tapi, bodo amat lah, mau telepon di mana pun sekaligus sampai pagi pun, gue nggak peduli. Kecuali kalau itu bocah teleponannya persis di kuping gue, baru gue peduli. Peduli buat gaplok kepalanya.
Gue punya alasan sederhana buat nginep di rumahnya bang Radit, dan alasannya itu karena gue kesian aja sama abang kebanggan gue yang satu itu. Di rumahnya yang luas serta mewah ini dia cuma tinggal sendirian, nyokapnya udah meninggal, bokapnya jadi bang Toyib alias jarang pulang, dan terakhir kakak cewek satu-satunya yang udah nikah milih tinggalnya di luar negeri.
Meski tempat tinggalnya bang Radit bisa dibilang bikin nyaman, tapi kalau kesepian mah tetep aja percuma. Berbanding terbalik sama indekos tempat gue tinggal, walaupun tempatnya nggak luas-luas banget seenggaknya gue nggak pernah kesepian di sana, karena di sana ada aja orang yang bisa gue ajak berantem.
Sekarang gue lagi ada di luar rumah, mungkin lebih tepatnya itu di halaman belakang rumah bang Radit. Gue lagi jongkok bukan mau buang hajat tapi lagi merhatiin ikan-ikan koi yang asik berenang di kolam.
Omong-omong, gue nggak sendirian, ada bang Radit yang sedari tadi juga lagi jongkok di samping gue. Kalau gue cuma merhatiin ikan-ikan sedangkan bang Radit lagi ngasih nyebar pelet buat kasih makan ikan-ikan.
"Bang?"
Gue manggil, tapi si abang yang gue panggil nggak noleh, masih sibuk ngasih makan anak-anak angkatnya. "Naon?"
"Ikan-ikan lo udah ada namanya?"
Gue lihat bang Radit geleng-geleng kepala. "Enggak ada, gue males kasih mereka nama."
Sudah ditebak, meski bang Radit mahasiswa aktivis tapi soal kreatif, masih kreatifan Dodo dari pada dia. "Kalau gue yang kasih nama gimana? Udah ada di kepala gue nih nama-namanya."
Kemudian fokus gue tertuju pada satu ikan yang lagi mojok di pinggir kolam, menurut tebakan gue kayaknya dia nolep atau dia lagi sedih gara-gara abis diputusin sama doinya? Enggak tahu lah, hanya si ikan dan Tuhan saja yang tahu.
Telunjuk kanan gue mengarah ke satu ikan yang masih mojok itu. "Ikan yang itu namanya satu, terus yang jaraknya nggak terlalu dari si satu namanya dua, sebelah si dua tiga, sebelahnya lagi empat, sebelah-sebelahnya lagi lima, enam, tujuh, sama delapan."
Tangan gue nggak lagi menujuk, karena detik ini gue noleh ke arah bang Radit. "Gimana? Bagus, kan? Sengaja gue kasih namanya begitu biar gampang diinget."
Bang Radit yang udah selesai kasih makan ikan, nepuk-nepuk kedua tangannya buat bersihin sisa-sisa pelet yang nempel di tangan.
"Atau kalau lo nggak suka--"
"Enggak ah, gue nggak mau. Saran nama lo aneh," katanya yang motong omongan gue.
Oke, gue nggak akan terima kalau bang Radit nggak mau. Kemudian cowok yang lebih tua dari gue itu nengok ke gue. "Gue kok tiba-tiba curiga ya? Nanti kalau lo udah punya anak pasti namanya bakalan aneh-aneh."
Karena omongannya itu membuat gue mendengkus. "Masih mending gue, Bang. Daripada Dodo. Seharusnya lo curiga ke Dodo bukan gue."
Iya, omongan gue emang bener seharusnya dia curiga sama Dodo bukan gue. "Lo bayangin, Bang. Kucing dinamain Cosmos, Diare, Telor, Terigu, Mentega, Jagung, sama Wortel."
__ADS_1
Masih masuk akal lah kalau kucingnya Dodo dikasih nama Cosmos, soalnya setahu gue ada bunga yang namanya Cosmos dan pas gue nonton anime pun ada salah satu karakter cewek yang namanya Cosmos. Tapi kalau yang lain? Terutama diare.
Dan gue sebagai abang kebanggaan Dodo, gue harap banget kalau dia udah punya anak beneran suatu saat nanti, nama anak-anaknya nggak bakalan aneh-aneh. Cukup isi kepalanya aja yang aneh.
Oke, karena bang Radit nggak mau sama saran nama yang gue berikan secara gratis buat anak-anak angkatnya, terpaksa gue akhiri obrolan itu dan beralih ke topik lain.
"Lo nggak ada niat gitu, Bang?"
Pertanyaan gue membuat kening bang Radit mengerut. "Niat apaan?"
"Niat buat campur ikan hias lo sama ikan lele," jawab gue tanpa merasakan beban apa pun di pundak.
Reaksi bang Radit adalah memutar bola matanya sambil berdecak. "Nanti kolam gue bau."
"Kan bisa dibersihin."
"Enggak."
Seketika gue langsung cemberut, bang Radit kenapa sih? Dari tadi dia bilangnya enggak-enggak terus, iya nya kapan, woi? Seenggaknya beri apresiasi kek sama ide cemerlang gue, tepuk tangan tiga detik juga nggak apa-apa.
"Kalau gue yang punya kolam ini ya, Bang. Dari dulu udah gue campur tuh ikan koi sama lele. Siapa tahu aja gitu ada perkawinan silang."
"Ngomong-ngomong lo pernah nggak sih ngobrol sama mereka?"
"Kadang-kadang. Tapi karena nggak pernah dijawab, gue jadi males ngobrol sama mereka lagi."
"Dijawab kok, Bang. Malah sekarang gue denger mereka ngomong apa," sahut gue sembari memperhatikan kembali ikan-ikan koi yang lagi berenang itu.
"Apa?"
"Blubuk. Blubuk. Blubuk."
"Nggak usah ngomong sama gue lagi. Ngobrol sana sama ikan!"
Bang Radit kelihatan kesel, abis itu dia berdiri ninggalin gue yang masih jongkok di tempat. Ngomong-ngomong salah gue apa? Kok gue malah ditinggalin begini? Sendirian pula. Eh enggak deh. Masih ada delapan anak-anak angkatnya bang Radit.
Pas gue mau berdiri, tiba-tiba aja kaki gue serasa ser-seran alias kaki gue kesemutan gara-gara kelamaan jongkok. Aduh, ini gimana? Gue jadi susah berdiri sekaligus jalan kalau kesemutan begini.
"Aduh, Bang. Kaki gue kesemutan!"
__ADS_1
Ucapan gue seketika membuat langkah kakinya bang Radit berhenti, terus dia langsung balik badan mengambil langkah terburu-buru buat nyamperin gue.
"Bagian mana yang kesemutan?" tanyanya ketika dia duduk bersimpuh di dekat gue.
"Kaki kiri."
"Bagian paha, betis, atau apa?"
"Bagian sini." Gue menujuk bagian kaki yang kesemutan.
Gue pikir bang Radit cuma sekedar nanya aja, tapi nggak lama kemudian ada senyum jail di mukanya dan tangannya bergerak buat tepok bagian kaki gue yang kesemutan.
"Adoooh! Bang Radiiiit!"
Anjirlah, bang Radit jail banget, kaki gue makin ser-seran ini, dahsyat banget sumpah. Si Radit kurang ajar, dia malah ngakak ngeliat adek kesayangannya lagi sengsara begini.
"Woi! Lagi ngapain lo berdua? Seru banget kayaknya."
Yohan dateng nyamperin gue sama bang Radit yang masih ngakak. Tadi apa katanya? Seru? Seru pala lo bejendol segede baskom, lagi menderita begini juga.
"Han! Buruan kesini!"
"Kenapa, Bang?"
"Si Hanung kakinya lagi kesemutan."
Anjirlah, bang Radit malah ngajakin Yohan buat nabok kaki gue yang lagi kesemutan. Gue harus buru-buru pergi sebelum diserang makhluk sejenis ubur-ubur kayak mereka.
"Terus?"
"Gebukin palanya."
Di saat bang Radit sama Yohan sibuk ngobrol, ini adalah kesempatan gue buat kabur. Gue harus paksain.
"Emang Hanung salah apa? Hubungan kesemutan sama gebukin kepalanya apa?"
"Enggak ada! Maksud gue itu--"
"Tuh, kan orangnya kabur!" Bang Radit memekik saat lihat gue kabur.
__ADS_1
Ngomong-ngomong. Anjir bangetlah, kaki gue rasanya ser-seran mantep banget sumpah.