
Di koridor kampus yang mau ke gedung rektorat bisa di bilang sepi, yaiyalah sepi kan udah malem. Paling yang lewat-lewat di koridor ini cuma curut, semut, kodok, jangkring, sama angin. Dan berhubung pencahayaan di koridor kampus yang mau ke gedung rektorat kurang bagus, membuat penglihatan gue sama yang lain jadi kurang bagus. Tapi untungnya senter yang dibawa bang Guntur sama kak Windi cukup membantu.
Dan nggak kerasa saking santainya melangkah gue sama yang lain udah ada di depan gedung rektorat, dan hal itu membuat kami berhenti melangkah sambil melihat di sekeliling buat nyariin keberadaan si setan muka rata yang pernah dikira patung sama kak Windi. Kami udah nunggu di sini sekitar lima menit tapi tuh setan belum muncul-muncul juga.
Hm, mungkin dedemit yang satu itu agak pemalu kali ya? Soalnya disamperin banyak orang begini, atau mungkin si setan nggak sudi buat nunjukin mukanya yang lempeng kayak triplek di depan manusia-manusia kayak kami yang kurang kerjaan ini? Hm, bisa jadi sih.
Atau mungkin juga tuh setan masih nongkrong di tempat lain karena di sini jarang ada pengunjung? Hm, bisa juga seperti itu. Dan mendadak gue jadi bingung harus pilih tebakan yang mana mengenai setan muka rata yang saat ini belum menampakkan dirinya.
"Setannya mana sih? Kok nggak keliatan?" Bang Guntur bertanya saat dia noleh ke kanan kiri sambil megangin senter yang juga dia arahin ke kanan dan kiri.
"Lagi main petak umpet kali sama setan bocah yang di parkiran?" kata gue menjawab pertanyaannya bang Guntur.
Dan langsung saja jawaban gue mendapat gelengan singkat dari bang Radit. "Nggak mungkin, Nung. Soalnya setan bocah adanya cuma sampai maghrib aja. Kalau jam segini pasti udah dikelonin sama emaknya."
Sontak saja sahutan bang Radit itu gue setujui, soalnya emang bener si setan bocah bakal nunjukin eksistensinya pas menjelang maghrib sampai isya aja. Itu sih fakta yang beredar dari orang-orang yang udah liat wujud si setan bocah, termasuk bang Radit sendiri.
Kak Windi yang dari tadi cuma merhatiin, di detik berikutnya kakak sepupunya Yohan si manusia ayam, noleh ke arah temennya yang dari tadi cuma natap lurus ke depan, gue sendiri nggak tau apa yang diliat sama kak Jena, soalnya pas gue ikutin ke mana arah pandangannya di sana gue nggak liat apa-apa, kecuali dua curut yang lagi maen kejar-kejaran dan kayaknya si curut yang lagi ngejar itu lagi minta kesempatan kedua sama si curut yang dikejar.
Soalnya nih nggak jauh dari tempat dua curut yang lagi kejar-kejaran ada satu curut lain yang dari tadi diem aja dan kemungkinan besar si curut itu adalah pelakornya, dan si pelakor itu lagi menyaksikan kisah percintaan yang sebentar lagi bakalan kandas di dunia percurutan.
Dan mungkin si curut pelakor itu lagi bermonolog sendiri mengenai keberhasilannya dalam hal merusak hubungan kayak tokoh antagonis di sinetron-sinetron yang nggak sengaja gue liat dan begini imajinasi gue mengenai monolog yang diucapin si curut pelakor 'Sebentar lagi hubungan mereka akan kandas, dan itu tandanya aku bisa mendapatkan mas udin beserta hartanya, hahaha' mungkin kalau ada kamera mukanya si curut pelakor bakalan di zoom-in, zoom-out dengan senyum miring andalannya yang mentok ke kiri.
"Gimana, Jen? Lo ngeliat sesuatu nggak di sini?" Pertanyaan kak Windi buat temennya itu, sukses bikin pandangan mata gue nggak lagi merhatiin curut-curut yang lagi ngedrama.
__ADS_1
Bukan cuma gue aja sih, bang Radit sama bang Guntur juga langsung noleh natap temennya kak Windi dengan tampang yang super penasaran.
Kak Jena satu-satunya orang indigohome di antara kami semua, sempat diam sebentar. Tapi nggak lama setelah itu kak Jena manggut-manggut sambil natap lurus ke depan.
"Hm, di ujung sana sih ada yang lagi berdiri. Dia lagi merhatiin kita," jawabnya sempat nengok sebentar ke kami semua.
Karena kak Jena ngomong begitu, kami semua jadi ikut merhatiin apa yang dia perhatiin.
"Apaan, Jen?" tanya kak Windi antusias.
"Pohon."
Iya. Yang jawab pertanyaan kak Windi gue bukan kak Jena, wkwkwk. Soalnya di ujung sana gue emang liat pohon, nggak liat si dia yang kak Jena maksud. Dan enggak tau kenapa kak Windi malah melotot ke arah gue.
Karena udah ada dua orang yang nanya, respons pertama kak Windi adalah menggeleng pelan dan disusul oleh jawabannya. "Bukan, gue malah nggak melihat keberadaan si setan muka rata di sini. Malah gue liat setan yang lain."
"Apa tuh?" Kini giliran bang Guntur yang nanya.
"Hm, mirip monyet tapi bukan monyet."
"Maksudnya?" Dan sekarang giliran gue yang nanya dengan kerutan di kening karena jujur aja otak gue nggak nyampe sama ucapan kak Jena barusan.
Mirip monyet, tapi bukan monyet? Itu jenis setan apa, ya? Model terbarukah? Kira-kira bentuknya kayak begimana ya? Kan, gue jadi penasaran.
__ADS_1
Kak Jena malah garuk-garuk kepalanya. "Susah sih jelasinnya, tapi yang gue liat di pohon sana bukan setan berkepala monyet yang hits itu ya."
"Beda lagi, Kak?"
Perkataan gue langsung diangguki sama kak Jena. "Iya, bisa dibilang begitu."
Kami sempat diam sesaat, mungkin penyebabnya karena sibuk dengan pikiran masing-masing mengenai si setan mirip monyet tapi bukan monyet yang wujudnya masih misterius di antara kami berempat kecuali kak Jena.
"Mau kita samperin nggak?" ajak bang Guntur yang nggak langsung kami setujui, karena meskipun kami semua nggak takut sama berbagai jenis dedemit, tapi tetep aja sebagai manusia berbudi pekerti kami harus tau sopan santun sama berbagai macam makhluk hidup. Selain kami harus sopan kami juga harus hati-hati sama makhluk tak kasat mata.
"Menurut lo gimana, Jen?" Kak Windi meminta persetujuan kak Jena, karena di sini kak Jena yang bener-bener tau situasi.
Terus jawaban kak Windi digelengin sama temennya yang indigohome itu. "Nggak usah, dia nggak suka diganggu. Kalau kita masih nekat ganggu nanti bisa-bisa salah satu di antara kita ada yang diganggu seumur hidup sama dia."
"Waduh, bahaya tuh!" Bang Radit menyahuti.
"Nah, makanya itu. Mending kita lewatin aja."
Oh, ternyata. Si setan yang satu ini nggak suka diganggu toh. Hm, Pantesan aja eksistensinya nggak setenar setan-setan yang lain, nolep banget emang tuh setan. Btw, salah emang kalau kita mau silaturahmi sekalian di wawancara? Siapa tau aja diterima kerja di tong setan.
Karena kata kak Jena si setan nggak suka diganggu, jadinya si setan mirip monyet tapi bukan monyet bakal kami lewatin dan berhubung di tempat ini si setan muka rata nggak menunjukkan eksistensinya, jadi kami pindah ke tempat lain.
Tempat kedua, rencananya kami mau ke fakultas kedokteran yang katanya di sana ada setan berwujud kakek-kakek yang matanya merah melotot dengan sebuah pisau yang nancep di perutnya.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju fakultas kedokteran, lagi-lagi kami melewati koridor kampus yang cahayanya remang-remang malah di pojok sana ada satu lampu yang dari tadi kedap-kedip, kayaknya sih itu lampu kedap-kedip bukan karena si lampu mau sekarat tapi karena si lampu lagi kecentilan, wkwkwk. Apaan sih kagak jelas amat ya gua.