Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Tipe Lima : Online Seller


__ADS_3

Saat gue lagi jalan dengan santai menuju ruang kelas karena lima belas menit lagi ada matkul, pergerakan kaki gue berhenti penyebabnya karena ada kakak tingkat berjenis kelamin perempuan menghalangi gue jalan, seketika gue mengernyitkan dahi. Dalem hati bermonolog sendiri kira-kira kating yang ada di depan gue mau ngapain ya? Mau minta nomor hape gue? Atau mau ngajakin kenalan? Dan sesuai dengan apa yang orang-orang sering katakan nggak ada 'Ekspetasi' yang sesuai sama 'Realita', kenapa gue bilang begitu? Karena kating yang masih menghalangi jalan gue selama sepuluh detik itu bukan mau minta nomor hape gue maupun ngajak kenalan tapi...


"Ayo, Kak dibeli. Masker komedonya cuma sepuluh ribu, murah kak."


Ya, begitulah ucapan yang kating itu bilang sambil nyodorin beberapa bungkus plastik masker komedo barang jualannya, kenapa gue yakin banget kalau dia beneran kating? Jadi waktu ospek gue pernah liat dia pake jaket almamater ngobrol sama bang Gaga dan bang Radit di depan koridor kampus.


"Maaf nih kak, saya junior kakak bukan senior kakak," jelas gue membuat mahasiswi tipe online seller diem sebentar.


"Oh, masa sih? Maaf saya nggak tau. Lagian nggak apa-apa kali kamu saya panggil kakak, soalnya kan udah ciri khas seorang penjual, mau si pembeli umur berapa pun panggilnya tetep kakak, iya kan?" Si kating malah membela diri.


Iya deh terserah dia aja mau ngomong apa, inget perempuan itu selalu bener.


"Saya nggak pernah jualan, jadi saya nggak tau."


"Terserah kamu mau bilang apa, tapi kamu mau beli masker komedonya nggak? Ini ampuh lho buat ngilangin komedo."


Gue gelengin kepala. "Enggak, Kak. Makasih."


Si kating langsung masukin masker komedonya kedalem tas jinjingnya. "Kalau masker buat mata mau beli nggak?" tawarnya lagi kali ini sambil megang bungkus masker buat mata, ini kenapa gue medadak kepikiran si Arraseo-naega-hamkkeisseoyeo, ya?


"Kakak jualan masker buat mata?"


"Iya."


"Kakak tawarin aja sama yang namanya Arra fakultas sastra jurusan Bahasa Inggris pasti dia mau beli."


"Masa, sih?"


"Iya soalnya matanya kayak panda," ujar gue kemudian melirik jam tangan yang gue pake, aih nggak kerasa tujuh menit lagi kelas bakal dimulai.


"Udah dulu ya kak bukannya saya nggak mau beli tapi saya lagi buru-buru soalnya sebentar lagi ada kelas."


***


Pertemuan gue sama mahasiswi online seller itu nggak berakhir sampai di situ aja alias masih berlanjut, kejadiannya lima hari setelah pertemuan pertama. Waktu gue lagi duduk santai di selasar mahasiswa sama si Wati tiba-tiba kating yang nawarin gue masker komedo dateng lagi, tapi kali ini bukan nawarin masker komedo tapi...


"Halo Kakak, maaf nih ganggu. Saya mau nawarin produk jualan saya kali aja minat terus pengen beli."


Kemunculannya yang terkesan tiba-tiba hampir bikin gue yang lagi baca buku paket tentang elemen mesin–nyungsep ke belakang.


Dengan rasa nggak bersalahnya, si kating yang nggak gue tau namanya langsung nyodorin botol minum ke Wati.


"Nih Kak, botol minum cantik ada gliter-gliternya jadi kalau Kakak punya botol minum ini pasti keliatan keren, coba Kak diliat dulu."


"Ih, lucu banget," respon Wati saat ngeliat botol minum yang lagi dia pegang.


"Pastinya dong, Kak."


"Harganya berapa?"


"Cuma lima puluh ribu, tapi berhubung hari ini saya lagi seneng saya kasih diskon deh jadi harganya cuma empat puluh ribu, murah, kan?"


Wati ngeliat botol minum itu lebih lama kemudian berkata, "Pengen beli sih, tapi uang aku ngepas banget." Dan detik berikutnya Wati masang muka sedih.


Idih, geli banget gue liatnya.


Si kating manggut-manggut. "Nggak usah sedih, Kakak minta beliin sama pacarnya aja. Iya kan, Kak?" kata si Kating sambil nengok kearah gue udah gitu dia senyum, mana senyumnya keliatan nyebelin.


"Dih? Apa lu kata?"

__ADS_1


Itu respon gue saat dikira pacarnya si Wati, sedangkan si Wati lagi ngaruk-ngaruk pipinya sambil bilang, "Makhluk ini bukan pacar saya."


"Oh bukan ya? Duh maaf, Kak. Saya nggak tau." Si kating malah ketawa renyah sok malu gitu.


"Iya, nggak apa-apa," jawab Wati, memaklumi.


Kating nyengir-nyengir gue kira malu karena salah mengira kalau gue sama Wati itu pacaran, eh ternyata ada maksud terselebung soalnya si kating bilang gini, "Tapi, Kak. Kalau saya perhatiin kalian berdua cocok loh. Kenapa nggak pacaran aja? Siapa tau aja bisa langgeng sampai ke jenjang pernikahan?"


Dengan kompaknya gue sama Wati saling liat satu sama lain terus dua detik kemudian kita sama-sama ketawa ngakak.


"Hahahaha, bisa aja nih ngelawaknya."


"Iya lucu banget, sampe bikin gue sakit perut."


Begitulah respon kita berdua saat di bilang cocok kalau pacaran, udah sering banget orang-orang yang nyangka gue pacaran sama Wati. Mulai dari mahasiswa/i berbagai fakultas, tukang fotokopi, satpam, dosen, ibu kantin, dan lain-lain.


Gue sendiri sampai bingung, kenapa gitu gue sering banget dipasangin sama si Wati? Kenapa nggak sama Emma Watson? Gigi Hadid? Ariana Grande? Sakura Miyawaki? IU? Atau–nggak usah jauh-jauh deh Chelsea Islan sama Yuki Kato juga nggak apa-apa.


"Selena?"


Si kating yang masih duduk di depan Wati langsung nengokin kepalanya ke arah kiri saat seseorang yang mungkin temennya lagi manggil namanya.


Oh, ternyata si kating tipe mahasiswi online seller namanya Selena. Namanya mirip sama nama mantan gue–Selena Gomez.


"Lo ngapain di sini?" Si kating yang barusan gue ketahui namanya adalah Selena langsung ngomong gitu sama temennya.


"Seno nyariin lo, katanya kalau liat Selena kasih tau dia–"


"Kasih tau apa?"


"Katanya dia mau beli jaket lo."


"Kalau lo mau samperin sekarang ya silahkan."


"Oke, makasih ya, Ti."


"Iya, sama-sama."


Kating temennya kak Selena yang tadi dipanggil 'Ti' langsung pergi, tapi sebelum pergi dia sempet senyum ramah ke arah gue sama Wati dan tentu aja gue sebagai cowok ganteng membalas senyumnya itu.


"Jadi Kakak mau beli botol minumnya nggak?"


"Hm, kayaknya nggak sekarang deh. Mungkin besok atau lusa."


Ucapan Wati lagi-lagi bikin si kating manggut-manggut.


"Gitu ya? Yaudah, nanti kakak bilang aja ke aku nanti barangnya dibawa, kalau Kakak mau liat-liat motifnya bisa diliat di akun instagram aku namanya (at)lenasell.shop, el yang di belakang dua kali ya. Terus kalau Kakak jadi mesen tinggal DM aja ya."


"Oke, nanti aku DM."


"Makasih ya, Kak."


Si kating bangkit dari duduknya terus pergi sambil nebar senyum ramah, kepergian kating beberapa menit yang lalu bikin gue bertanya-tanya sendiri. Kira-kira dia bawa tas segede apa ya? Kok kayaknya barang apa aja dibawa semua, terus kira-kira dia nawarin barang jualannya berupa obat penyubur rambut ke pak Sogi nggak ya? Soalnya kan rambutnya pak Sogi tandus banget.


"Tadi nama akun online shop-nya apa? Gue lupa."


Pertanyaan Wati membuat lamunan gue buyar, sempat diem sebentar akhirnya gue menjawab, "Hmmm, namanya (at) lenasell.shop katanya el yang di belakang dua kali."


Wati manggut-manggut sambil ngetik nama akun online shop dipencarian instagram-nya Wati, gue jadi kepo si kakak tadi jualan apa aja kira-kira dia jualan jenggot palsu nggak ya?

__ADS_1


"Coba dong gue mau liat."


Wati geser letak hapenya, biar gue bisa liat di akun instagram-nya si kakak tadi jualan apa aja.


Dan ternyata lumayan lengkap juga ya yang dijual ada masker, flashdisk, jaket, topi, tas slempang, dompet, aksesoris khusus cewek, case phone, earphone, kacamata, novel dan lain-lain yang nggak bisa gue sebutin satu-satu karena nanti durasinya kepanjangan.


"Ih, ini lucu bangetttt."


Si Wati gemes sendiri saat liat foto berupa gantungan kunci bentuk kelinci warna pink, tapi kalau menurut gue sih biasa aja.


"Apanya yang lucu? Lucuan juga gue."


Ucapan gue yang terbilang spontan itu bikin Wati bergidik jijik.


"I to the yuh, iyuhhhh."


***


Pertemuan ketiga sama kating yang udah gue tau namanya adalah Selena, waktu itu saat gue lagi di kantin makan mie ayam sendirian layaknya jomblo dan lagi-lagi si kating nawarin gue produk jualannya yaitu berupa...


"Ayo Kak, dibeli kacamata gaya anti radiasinya cuma enam puluh lima ribu."


"Nggak dulu ya Kak, dompet saya asmanya lagi kambuh," tolak gue secara halus, untungnya aja saat si kating dateng yang secara tiba-tiba itu gue udah nelen mie ayam yang sempet gue kunyah.


"Tapi Kakak mau beli, kan?"


"Iya, kalau ada duit."


"Oke kalau Kakak udah ada uangnya bisa DM saya di akun instagram (at)lenasell.shop yang huruf el belakangnya ada dua yaaaa."


Sebagai jawaban gue cuma bisa senyum sambil ngangguk-ngangguk, bilangnya sih iya mau beli kalau lagi ada duit tapi sebenernya mah enggak, mendingan duitnya gue pake buat beli mie ayam enam mangkok.


"Yaampun, Selena anaknya bapak Agus Musadekkk."


"Apa sih?"


Kakak penjual Online Shop mulai sewot saat kehadiran dua orang kakak tingkat yang satu rambutnya pendek sebahu dan satunya lagi di cepol dan pake kacamata.


Si kakak yang pake kacamata berkacak pinggang sambil nantap kak Selena gemes, "Duit lo kan udah banyak masih aja nawarin jualan ke orang lain."


"Loh? Emangnya kenapa? Gue kan jualan jadi wajar dong kalau gue nawarin barang jualan ke orang lain?" katanya masih dengan nada suara yang sewot.


"Iya wajar sih wajar, tapi liat situasi juga dong nggak harus gangguin orang lagi makan juga kali," kata si kakak rambut pendek bikin kak Selena diem sebentar terus dia nengok ke arah gue, lebih tepatnya sih ke mangkok mie ayam yang tinggal setengah.


"Oh iya ya, gue sampe nggak sadar kalau ada yang lagi makan," gumam kak Selena masih kedengeran di kuping gue.


"Aduh maaf ya, Kak saya jadi ganggu waktu makannya."


"Hehehe, iya Kak gak apa-apa santai aja."


"Maaf ya."


Dua orang temennya kak Selena langsung pergi, ninggalin temennya yang masih minta maaf ke gue. Tapi sebelumnya kedua kakak itu sempet minta maaf ke gue juga gara-gara kelakuan temennya yang hobi jualan itu.


"Woi, Gweniiiii. Windiiiiii, tungguin gueeeeee. Kebiasaan banget lo berdua ninggalin gue sendirian! Awas aja lo berdua nggak bakal gue traktir lagi!"


Kedua temennya kak Selena yang tadi ninggalin langsung balik badan, nyamperin kak Selena yang lagi cemberut sambil ngelipetin tangan di depan dada, terus kedua temennya itu langsung narik tangan kak Selena dan mereka bertiga jalan beriringan.


Mendadak gue jadi ke inget temen-temen jahanam gue yang sering dateng cuma ada butuhnya doang.

__ADS_1


__ADS_2