
Gue enggak tau, kenapa si Wati malah nyuekin gue dan lebih memilih buat ngobrol sama sepupunya. Padahal yang lagi ngambek itu gue, tapi kenapa tadi seolah-olah dia yang ngambek sama gue? Tadi juga pas lagi makan gue sempat pura-pura batuk, tapi tetap aja dia bodo amat.
Au ah, gue nggak paham sama pemikiran cewek.
"Heh! Bengong mulu lo! Awas kesambet suster ngesot," celetuk Geo tiba-tiba yang sukses bikin gue noleh ke arah dia sambil natap datar.
"Dih, ganggu gue aja lo!"
"Lah? Lo kok malah sewot sih? Harusnya lo berterima kasih sama gue, karena udah menyadarkan lo dari lamunan yang bisa aja bikin jiwa lo terbang terus nggak balik-balik."
Mendengar ocehannya yang ngelantur abis, gue pun mendengus. Masalahnya siapa yang bengong coba? Wong, tadi gue lagi maen hp, sambil mikirin Wati yang sikapnya susah ditebak.
Ngomong-ngomong abis dari darkit gue langsung ke perpustakaan, buat nyamperin si anak kembar sembari nungguin jam mata kuliah selanjutnya.
"Dari pada lo banyak omong mending sekarang lo beli gorengan."
"Duitnya mana, bro?"
"Kas bon."
"Dih, dasar rakyat jelata," ledeknya yang sama sekali nggak nyadar diri.
Berhubung kemarin bokap udah transfer duit, gue ngeluarin uang lembaran dari dalem dompet sebesar dua puluh ribu buat dikasih ke bocah nggak nyadar diri macem Geo.
"Tuh, beli gorengan dua puluh rebu. Minta cabenya yang banyak."
Geo nyengir saat nerima duit dari gue. "Siap, bos."
Setelah itu Geo beranjak dari duduknya, melangkah pergi ninggalin gue di perpustakaan buat beli gorengan.
Karena nggak ada Geo, setidaknya gue bisa bernapas lega soalnya nggak ada lagi yang gangguin gue di perpustakaan. Etapi gue baru inget, kalau di tempat ini masih ada Faris, yang kebetulan orangnya lagi nyari buku di rak paling ujung.
Beberapa menit Geo keluar, sekarang Faris muncul sambil bawa buku tebal yang ketebalannya bisa ngalahin alisnya Shinchan.
"Geo ke mana?"
Gue udah nebak, kalau Faris muncul bakal nanya kayak begitu. Ya iyalah, si Geo kan kembarannya Faris. Jadi sesama kembaran harus banget nyariin satu sama lain.
"Beli gorengan." Gue menjawab, seiringan dengan Faris yang duduk di tempat sebelumnya, yaitu di depan gue.
"Kok beli gorengan? Kan di perpus nggak boleh makan," protesnya dengan intonasi yang cukup keras.
Dan hal itu sukses membuat gue melotot sambil taruh jari telunjuk di bibir yang artinya diam, karena kalau sampai kedengeran atau paling apesnya ketahuan sama penjaga perpustakaan bisa-bisa gorengan yang diseludupin Geo bakal ditahan.
__ADS_1
Untungnya aja perpustakaan lagi sepi, terus pas gue berdiri nengok kanan kiri buat memastikan keberadaan penjaga perpustakaan yang gue harap nggak mendengar ucapan Faris tadi.
"Ngapain celingak-celinguk? Cari bu Meri?"
Sontak gue ngangguk, natap Faris cukup takjub karena bisa baca pikiran gue. "Iya."
"Nggak ada, bu Meri lagi keluar, malah tadi nitipin perpus ke gue."
Tahu kalau bu Meri nggak ada di sini, gue kembali duduk sambil mengembuskan napas lega. Syukurlah, itu tandanya bu Meri nggak tahu kalau Geo bakal nyeledupin gorengan.
"Nung, bilang ke Geo. Nggak usah beli gorengan."
Gue mendengus lalu berkata, "Ngapain? Nggak usahlah. Lagian kalau makannya diem-diem pasti nggak akan ketahuan."
Iya tahu, ajaran gue emang sesat, jadi jangan dicontoh, tapi kalau terpaksa ya nggak apa-apa, wkwkwk.
"Tapi, Nung. Peraturan tetap peraturan!" seru Faris dengan tegas.
Gue memutar bola mata sambil mendengus. "Patuh amat sih sama peraturan? Gue kasih tau sama lo, peraturan ada karena emang harus dilanggar."
"Kalau nggak dilanggar, ngapain buat peraturan? Iye, nggak?"
Faris pun berdecak. "Terserahlah."
"Lagian lo kalau mau gibahin orang tuh jangan di perpus, perpus tuh tempatnya buat belajar."
Faris mencibir, terus natap gue datar. "Gue nggak gibah, gue belajar. Tapi karena si Geo gue jadi ikut-ikutan gibah."
Usai denger ocehannya, sekarang malah giliran gue yang mencibir. "Sama aja itu sih namanya."
Faris nggak menanggapi, karena tuh bocah kembali fokus baca buku. Berhubung gue tipikal orang yang nggak suka dicuekin, gue kembali bersuara dengan maksud ngajakin Faris ngobrol, kapan lagi coba ngobrol sepuasnya di perpustakaan tanpa ada yang memperingati buat diam?
Sambil bertopang dagu gue pun bersuara. "Btw, korban gibahan kalian siapa nih?"
"Dosennya Geo yang kepalanya tandus," jawab Faris yang masih fokus baca buku.
Sontak saat gue dengar ucapannya tentang dosennya Geo yang kepalanya tandus, pikiran gue langsung tertuju sama satu dosen bapak-bapak yang kepalanya botak kinclong, badannya agak gemuk, perut buncit, berkumis tebal, dan kalau nggak salah namanya Martin.
Kenapa gue bisa tau? Karena pak Martin ini bisa di bilang popularitasnya lumayan oke di fakultas teknik.
"Oh, yang itu, ya?"
Faris mengangguk singkat, masih dengan pandangan yang fokus sama buku malah sekarang udah baca ke halaman selanjutnya.
__ADS_1
"Iya. Yang kepalanya botak kinclong, kumis tebel, perut buncit, agak gemuk, terus namanya Martin."
Buat kedua kalinya gue menatap takjub ke arah Faris, karena lagi-lagi tebakan dia sesuai sama apa yang gue pikirkan.
Padahal tadi gue cuma bilang 'oh, yang itu ya?' Kalau disimak baik-baik kalimat yang gue ucapin tadi artinya bisa ke mana-mana loh.
Terus setahu gue, dosennya Geo yang kepalanya botak kinclong bukan cuma pak Martin doang, masih ada yang lain. Tapi kerennya Faris nebak sesuai sasaran. Hebat, gue jadi curiga kalau sebenernya Faris itu dukun sama kayak bang Radit yang bisa tahu apa aja.
Oke, lupakan soal dukun. Sekarang kita kembali pada topik pembicaraan.
"Dosennya Geo yang itu kenapa?" tanya gue yang langsung dijawab sama Faris.
"Sering ngaret padahal matkulnya udah kelar. Geo ngeluh gara-gara pak Martin, dia sering pulang telat."
Bentar dah, gue agak bingung sama jawabannya itu. Gara-gara dosennya si Geo jadi pulang telat? Pulang telat, ya? Emang kalau pulang telat ibu kos sama orang tuanya bakal nyariin dia? Mustahil sih.
"Terus, Ris?"
"Kalau dia pulang telat itu tandanya, dia nggak bisa jemput gebetannya pulang ngampus."
Oh, gara-gara itu. Pantesan.
"Terus?"
"Artinya perjuangan Geo buat dapetin pacar nggak ada perkembangan."
"Terus?"
"Kalau nggak ada perkembangan, berarti Geo bakal ngejomblo terus."
"Terus?"
Faris mendengus dengan pandangan yang tertuju padaku. "Lo belok kiri, lurus terus, belok kanan, kalau ada pertigaan belok kanan lagi sampai mentok, kalau ada tembok tabrak aja."
Gue mengerjap-ngerjap saat mendengar jawabannya yang ngelantur abis, lantas dia lanjut bicara sambil natap gue datar. "Kalau lo ngomong terus lagi, gue tabok pake buku."
Begitu ancamnya dan sukses bikin gue cengengesan.
***
Aku cuma mau bilang, selamat menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir dan batin kawan-kawan. 🙏🙏🙏
Bonus dariku, fotonya Geo & Faris.
__ADS_1