
Sesuai dengan apa yang gue rencanakan kemarin, pagi menjelang siang ini gue pergi ke rumah Wati dengan tujuan meluruskan kesalahpahaman antara gue dan pot kembang sekalian ngembaliin helm punya mas-mas muka gentong.
Ngomong-ngomong soal pot kembang, semalem gue udah janji sama diri gue sendiri untuk nggak berhubungan lagi sama dia. Meski dia duluan yang mulai, gue bakal tegas untuk nolak dia. Tapi kalau pot kembang sekadar nanyain kabar sih nggak apa-apa.
Ya, intinya begitu.
Sebelum gue memberanikan diri buat nyamperin Wati di rumahnya, gue tarik napas lalu mengeluarkannya secara perlahan. Gue tarik napas bertujuan buat menenangkan sekaligus menguatkan diri.
Si Bagong, gue tinggalin di depan rumahnya. Karena sekarang gue melangkah memasuki pekarangan rumahnya.
Pintu yang ditutup rapat, tentu aja gue ketok biar yang punya rumah menyambut kehadiran gue.
"Assalamualaikum."
Saat gue mengucapkan salam sambil ngetok pintu, belum ada yang menyahut. Oke, gue memaklumi karena bisa aja penghuni rumahnya nggak denger. Dua kali gue ngucapin salam tetep nggak ada tanggapan, dan buat ketiga kalinya barulah ada yang menyahut dari dalam.
"Waalaikum salam."
Pintu rumah bapaknya Wati kebuka, dan di balik pintu itu ada ibunya Wati yang bukain pintu.
Gue pun langsung tersenyum ramah, sengaja nggak senyum ganteng takut emaknya Wati naksir, kan bahaya tuh. Cukup anak perempuannya aja yang naksir gue.
"Eh, Hanung. Cari Indira, ya?"
Pertanyaan dari ibunya Wati, gue bales dengan anggukan singkat. "Iya, Tan. Indiranya ada?"
"Indiranya lagi keluar, tapi sebentar lagi pulang kok. Kamu tunggu aja di dalem."
"Nggak usah, Tan. Aku tunggu di luar aja."
"Oh, yaudah kalau begitu. Tante masuk dulu, ya."
"Iya, Tan."
Ibunya Wati masuk ke rumahnya, kemudian gue melangkah singkat menuju bangku kosong yang ada di teras rumah, duduk di sana sambil nungguin Wati pulang.
Karena gue nggak tau sebentar lagi yang di maksdu itu dalam jangka waktu berapa lamanya, biar nggak mati gaya dan biar nggak disangka patung selamat datang, gue ngeluarin hp di saku jaket buat gue mainin biar nggak bengong. Seenggaknya biar nggak bosen nunggu buka sosial media lah.
"Minum dulu, Nung."
Kehadiran ibunya Wati yang tiba-tiba sambil membawa secangkir minuman, membuat gue mendongak.
"Aduh, Tan. Jadi ngerepotin," ucap gue saat ibunya Wati taruh cangkir yang isinya teh di atas meja yang posisinya ada di samping gue.
__ADS_1
"Ih, kayak sama siapa aja kamu." Calon mama mertua senyum malu.
"Makasih, ya. Tan."
"Iya. Tante tinggal, ya. Maaf nggak bisa nemenin, soalnya lagi sibuk di dapur."
"Iya, Tan. Nggak apa-apa santai aja."
Setelah itu calon mama mertua masuk lagi ke rumah, dan sesaat pandangan gue langsung tertuju sama secangkir teh yang samar-samar asepnya masih ngepul.
Karena calon ibu mertua udah buat teh manis susah-susah dan sebagai tamu sekaligus calon menantu yang baik, itu teh langsung gue seruput dikit soalnya masih agak panas.
Dan rasanya manis banget kayak senyum gue. Hahay.
Mendengar suara motor berhenti di depan rumah bapaknya Wati, buat kedua kalinya gue mendongak saat tau siapa yang ada di depan rumah bapaknya Wati.
Senyum gue mengembang, karena orang yang gue tunggu-tunggu udah ada di depan mata, tapi saat pandangan gue sedikit teralih, senyum yang mampir tiba-tiba pergi gitu aja.
Sebenernya itu si Wati masih anggap gue pacarnya nggak sih? Karena gue melihat dengan amat jelas saat dia turun dari motornya si mas-mas muka gentong sambil nyerahin helm dan setelah itu si perusak hubungan orang malah ngacak-ngacak rambutnya Wati.
Seriusan, kesabaran gue bener-bener udah habis. Di saat gue mau minta maaf dan menjelaskan kesalahpahaman, Wati dengan seenak jidatnya jalan bareng sama cowok lain.
Dengan langkah cepat, gue nyamperin mereka berdua.
"Kenapa lo masih jalan sama dia? Lo sengaja ya mau bikin gue marah?!" murka gue yang sontak membuat mereka secara kompak menoleh.
Oke, gue langsung paham sama apa yang dia maksud, apalagi kalau bukan soal kemarin.
Lantas gue berucap buat menegaskan. "Gue sama Bunga udah nggak ada hubungan apa-apa lagi."
"Oh, ya? Terus yang gue liat kemarin malem apa dong? Kalau bukan salah satu rencana lo buat balikan sama dia?"
Omongannya yang bener-bener ngelantur abis, membuat gue mengembuskan napas kasar.
"Dengerin gue, kemarin itu gue emang makan bareng sama Bunga, tapi bukan berarti gue ada niatan buat balikan sama dia!" Gue berucap sampai berurat.
Dan Wati tanpa sedikitpun ngubah tatapannya. Ya, dia masih natap gue sinis. "Halah, bohong banget."
Gue mendengus, lantas memejamkan mata sebelum kembali berbicara, "Gue minta maaf karena gue emang salah karena...," Tarik napas, keluarin secara perlahan baru lanjut ngomong.
"Enggak seharusnya gue makan bareng sama mantan berduaan, di saat gue udah punya pacar," lirih gue.
Setelah gue selesai ngomong kayak begitu, Wati diem. Tapi nggak lama setelah itu Wati mendengus, kayaknya Wati belum bisa maafin kesahalan gue.
__ADS_1
Tapi di sini bukan cuma gue aja yang salah, dia juga sama.
"Dan sekarang gue mau tanya sama lo, kemarin lo juga ngapain pergi berduaan sama dia?" tanya gue sambil nunjuk ke arah mas-mas muka gentong yang sekarang lagi ngeliatin kayak penonton bayaran.
"Seenggaknya lo juga harus jaga perasaan gue, lo tau sendirikan gue pernah cemburu gara-gara lo deket sama dia!"
Wati melipatkan kedua tangan di depan dada, sambil natap gue tajam. "Gue pergi sama mas Kenzo, bukan urusan lo!"
Oke, kesabaran gue bener-bener udah habis.
"Indira!"
Wati cukup kaget saat gue manggil namanya dengan panggilan bukan seperti biasanya, terlebih tadi gue agak menaikkan intonasi saat bicara.
"Apa?! Lo mau nyalahin gue?!" katanya yang sukses bikin kepala gue cenat-cenut.
"Apa sih?! Siapa yang mau nyalahin lo?!" ungkap gue, yang kemudian gue mengembuskan napas, "Terserah deh, terserah mau lo apa."
Gue yang udah capek berantem, melangkah singkat menuju bagong buat pergi dari sini, tapi sebelum itu tangan gue ngambil helm punya orang yang males banget gue sebutin namanya.
Dan gue menyerahkan helm warna merah kepada pemiliknya. "Helm lo, gue balikin. Makasih."
Ya, makasih karena udah jadi pengganggu di hubungan asmara antara gue dan Wati.
*
"Anjay guranjay, ada yang lagi galauuuuu. Uh, sungguh pedih hati ini."
"Buset dah, orang galau nyetelnya lagu dangdut."
Gue melirik singkat, atas kedatangan Juna dan Rian yang tiba-tiba nongol di kamar gue.
Iya, gue emang lagi galau. Duduk dipojokan sambil dengerin lagu dangdut pak Haji Rhoma Irama judulnya Kehilangan dengan volume yang segaja digedein, biar semua penghuni kosan tau gimana galau serta sedihnya gue melalui lagu ini.
Ngomong-ngomong, ocehan mereka sama sekali nggak gue tanggapen, karena di saat seperti ini gue males adu bacot.
Karena musik yang gue setel adalah lagu dangdut, jadinya sekarang siluman ketumbar dempet asik joget-joget.
"Kalau sudah tiada, baru terasaaaaa. Bahwa kehadirannya sungguh berhargaaaaaa, ashek."
"Aku menjerittttttttttttttt."
"Berisik! Pergi sono!" omel gue sambil ngelemparin bantal serta guling, buat ngusir mereka berdua. Kalau lagi galau begini gue kesel diganggu, apalagi sama nyanyian Juna yang bener-bener salah server.
__ADS_1
***
Huhuhu, absurd bener 😂😂