Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
#S2 Perpustakaan dan Agustina


__ADS_3

Kalau lagi istirahat biasanya gue nongkrong di kantin atau nggak di selasar mahasiswa, tapi enggak tahu kenapa hari ini tuh kedua tempat itu lagi rame-ramenya jadi mau nggak mau gue harus cari tempat baru dan suasana baru, dan tempat barunya itu bernama perpustakaan.


Gila nggak tuh? Kalau di perpus gue mana boleh berisik? Kalau di sana kayaknya gue kudu berenkarnasi jadi batu atau nggak patung pancoran. Dan kalau bukan bang Radit yang ngajakin gue nggak akan mau terlebih dia udah janji sama gue, kalau mau nemenin ke perpus PS 5 yang ada di rumahnya boleh buat gue, ehehe.


Awalnya gue sama sekali nggak curiga soal bang Radit yang tiba-tiba ngajakin gue ke perpus karena yang ada di pikiran gue bang Radit itu kan mahasiswa aktivis yang punya segudang prestasi dan otak encer, jadi ibarat kata kalau dia ke perpus udah jadi cemilan sehari-hari buat dia.


Tapi, ternyata eh ternyata. Saat gue udah ada di dalem perpus bahkan udah duduk di salah satu kursi gue langsung ngerti kalau bang Radit punya niat terselubung, gue tahu karena kita berdua satu meja sama Arra yang memang udah ada di perpus daritadi, dan ngeliat dari gelagatnya bang Radit sih tercium bau-bau modus yang berkedok baca buku di perpus, eleh.


Dan jangan salahkan gue yang kurang peka ini karena Arra si ratu nggak peka, gue ketularan ehehe. Tahu gini mending gue molor ajalah di kelas, etapi kalau gue molor di kelas entar nggak dapet PS 5 dong?


Tidak lagi membahas soal PS 5 juga kepekaan gue yang kurang, kita kembali fokus pada kedua sejoli yang duduk bersebelahan. Karena gue memilih duduk di depan mereka dan nggak lagi baca buku gue bisa melihat secara jelas semua gerak-gerik yang mereka lakukan, kayak Arra yang bener-bener fokus belajar dan bang Radit yang pura-pura baca buku dan beberapa kali gue liatin ngelirik ke arah Arra.


Meskipun gue di sini sebagai gapura komplek alias peran pendukung yang nggak terlalu amat dibutuhin, gue harus betah dengan peran gue karena ini semua demi PS 5.


Karena di perpus gue lagi males baca dan males ngapa-ngapain, gue memilih buat ngeliatin mereka berdua yang sesekali juga merhatiin ke sekitar gue, gue baru sadar ternyata lumayan banyak juga kutu buku di kampusku tercinta inih dan semuanya bener-bener tenang banget bahkan suara helaan napas yang berat pun sama sekali nggak gue denger.


Berbanding terbalik sama keadaan luar perpus yang bisa gue lihat melalui jendela, meskipun suara cenderung samar-samar tapi gue bisa merasakan gimana berisik dan ramenya di luar, sebelah dua belaslah sama bocil yang lagi maen petasan di siang bolong.


Gue pun menghela napas karena balik lagi pada kegiatan awal yaitu, ngeliat dua manusia yang masih seperti semula, yang satu sibuk belajar yang satu sibuk ngelirik curi-curi pandang. Kalau boleh jujur, gue geregetan banget sama pasangan itu. Si cewek nggak peka sementara si cowok nggak mau ngegas karena katanya bang Radit nggak mau bikin tujuan Arra buat lulus kuliah dengan nilai terbaik jadi berantakan cuma karena keasikan pacaran, tapi bang Radit juga punya kekhawatiran tersendiri dia sengaja nggak nyatain perasaannya ke Arra karena menurut tebakannya ada kemungkinan besar dia bakalan ditolak karena kata bang Radit, Arra lebih cinta sama buku ketimbang manusia. Ya emang ada benernya juga sih karena setiap kali gue ketemu Arra pasti selalu ada satu atau dua buku yang nggak pernah lepas dari tangannya. Tapi kan enggak mungkin juga si Arra bakalan nikah sama buku, mustahil banget.

__ADS_1


Ngomongin soal buku, fokus gue malah tertuju sama buku catatannya Arra dan di sampul buku catatannya itu terpampang jelas sebuah nama yang secara nggak sengaja tergumam di bibir gue. "Arrasinta Agustina."


Dan seketika si pemilik nama langsung ngeliatin gue dengan wajah tanpa ekpresi andalannya.


"Lah, gue baru tahu nama panjang lo Arrasinta Agustina. Tahu gitu mending gue panggil Agus," canda gue sambil ketawa dikit.


Arra berdecak sebal. "Jangan ngaco deh lo."


"Tapi kan, sifat lo nggak beda jauh sama laki-laki." Kali ini gue nggak ketawa dikit tapi cengengesan. "Gagah, perkasa, kuat, pemberani, mental baja, apalagi ya?"


"Sederhana, pekerja keras, manis juga," sahut bang Radit secara tiba-tiba yang bikin gue pura-pura batuk. "Aduh, gombal. Ekhem."


Kan gue jadi makin geregetan.


"Ra! Lo jadi cewek peka dong."


"Soal apa?" tanyanya dengan kening yang mengerut.


"Kode tadi."

__ADS_1


"Kode apa?"


Bang Radit tiba-tiba nendang kaki gue yang itu tandanya gue harus diem. Oke, demi PS 5 gue diem dan menahan semua kegeregetan yang gue alami.


"Kode morse," dusta gue sambil cengengesan


Arra mencebik kemudian lanjut belajar, gue nggak lagi ngomong karena bang Radit masih mengawasi dengan sorot mata yang tajam, jadi yaudahlah, mending gue maen hp aja. Dan semua kembali seperti semula.


Posisi gue maen hp itu buka nunduk yang dalam artian taruh hp di atas paha karena jujur aja maen hp sambil nunduk itu bikin leher gue sakit, jadi posisi yang gue pake adalah kedua sikut di atas meja, kedua tangan pegang hp dan kedua jempol gue sibuk sekrol-sekrol sosmed yang kadang ninggalin komentar di beberapa postingan.


Di kala gue sibuk sekrol-sekrol yang sesekali nahan ketawa karena ada postingan yang lucu, tiba-tiba gue merasakan cahaya matahari yang mulai menganggu penglihatan karena cahaya matahari itu bikin silau dan mengenai layar hape, gue hendak pindah ke tempat lain yang aman dari sinar matahari.


Tapi eh tapi, ada yang bikin pergerakkan gue seketika berhenti. Sinar matahari yang terobos jendela itu bikin Arra kesilauan dan nggak fokus belajar, seperti apa yang gue katakan sebelumnya bang Radit itu cuma pura-pura baca jadi dia langsung menyadari kalau Arra nggak fokus belajar karena sinar matahari bikin silau.


Lalu yang bikin gue tercengang adalah bang Radit buru-buru pindah tempat duduk jadi ngebelakangin jendela yang dalam artian sinar matahari yang sempet ganggu itu mengenai punggungnya bang Radit.


"Sekarang udah nggak silau lagi, kan?" Begitu katanya sambil senyum manis dan mereka saling tatap-tatapan tanpa mengatakan apa pun.


Anjirlah, udah kayak adegan di drama-drama Korea. Kan gue jadi kepengen nyanyi lagunya King Nassar seperti mati lampu.

__ADS_1


__ADS_2