Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Rumah Bibi


__ADS_3

Berhubung jadwal mata kuliah gue cuma sampai setengah hari karena dosennya nggak bisa dateng karena sakit, jadi gue berniat buat mampir dulu ke rumah bibi dengan tujuan mau minjem buku sama sepupu sekalian silaturahim.


Sebenernya gue mau ngajak Wati buat ikut mampir ke rumah bibi, tapi berhubung dia masih ada mata kuliah gue mengurungkan niat buat ngajak dia. Masa iya, gue nyuruh dia bolos? Nanti yang ada gue ditempeleng bolak-balik sama dosennya.


Dan berhubung rumah bibi masih di kawasan Jakarta, jadinya gue ke sana nggak membutuhkan waktu yang cukup lama. Sampai di tempat tujuan dengan selamat, gue memarkirkan motor kesayangan yang bernama bagong di depan pintu garasi rumah bibi.


Dan sebagai tamu yang baik, gue mengucapkan salam sebelum masuk ke dalem rumah yang suasananya terbilang sepi ini, karena nggak ada sahutan dari siapa-siapa dari penghuni rumah. Gue memutuskan buat masuk ke dalem dan saat tangan gue meraih kenop pintu, ternyata pintunya nggak dikunci.


Pantesan nggak ada orang yang nyahut ketika gue mengucapkan salam, ternyata di ruang tamu nggak ada siapa-siapa tapi tv dalam posisi nyala.


"Bang Egi! Orang ganteng udah dateng nih!" ujar gue setengah teriak, manggil sepupu gue buat menunjukkan wujudnya.


"Set dah, sepi amat nih rumah," gumam gue saat beberapa detik berlalu nggak ada yang nyahut.


Dan sekitar dua menit berlalu, orang yang sempat gue sebutin namanya muncul dari dapur dengan kuping yang disumpal earphone sambil makan kripik pisang.


Pantesan aja gue panggil nggak ada disahut ternyata kupingnya lagi disumpel.


"Ehhhh, manusia setengah dugong udah dateng. Kapan datengnya? Gue kok nggak denger ya? Jangan-jangan lo bisa teleportasi?" Berentet pertanyaannya yang dalam sekali ucap sambil mengelepas satu earphone yang nempel di kupingnya, bikin gue mendengus sebal.


"Iya, gue datengnya pake bantuan makhluk halus, puas lo?!" Gue berucap sebal.


"Pantesan muka lo mirip Jin botol." Dan dengan puasnya bang Egi ketawa.


Sialan! Gue doain biar tuh orang keselek kripik pisang, kalau perlu sekalian sama pohon-pohonnya.


"Sedih amat sih gue, kalau ada tamu dateng tuh disambut dengan baik, ditawarin makan atau minum. Ini malah dihina," cibir gue, dan lagi-lagi dia malah makin ketawa.


"Emang lo tamu ya?" tanyanya waktu porsi ketawanya mulai tipis.

__ADS_1


"Au ah, gelap. Minggir lo gue mau ambil minum!"


Selesai ngomong tadi, gue dorong pelan bahunya bang Egi buat minggir, karena posisinya dia berdiri persis di depan pintu dapur.


Dan saat kaki serta diri gue berada di area dapur, dekat kulkas atau lebih tepatnya di meja makan yang dekat kulkas ada adiknya bang Egi lagi duduk di kursi, si Anka lagi minum dan gue sendiri nggak tau dia lagi minum apa, mungkin susu cokelat? Soalnya kalau air bekas cucian piring enggak mungkin.


"Lo nggak sekolah?" Pertanyaan gue bikin dia noleh.


"Nggak, Kak. Aka lagi sakit," jawabnya sambil taruh gelasnya di atas meja.


"Sakit apa lo?"


"Mencret, Nung. Gara-gara makan sambel banyak-banyak. Aneh banget emang nih bocah, udah tau nggak kuat makan yang pedes-pedes masih aja nekat." Yang jawab pertanyaan gue bukan orang yang gue tanya, tapi abangnya yang tiba-tiba berdiri di samping gue.


"Waduh. Parah lo, Ka! Masih bocah udah berani nyikat nenek-nenek," canda gue sambil geleng-gelengin kepala.


"Maksudnya?" Anka bertanya, mewakili kebingungannya sama bang Egi.


"Nekat, kan. Singkatan dari nenek-nenek disikat." Muka mereka yang kelihatan kesel, sukses bikin gue ngakak.


"Yang ada otak lo yang gue sikat!" Kan bang Egi sewot, wkwkwk.


"Bibi mana? Kok dari tadi nggak keliatan?" Gue bertanya serius mengenai keberadaan bibi yang sampai sekarang gue nggak lihat keberadaan bibi di rumah ini, dan kalau suaminya sih enggak usah ditanya, karena gue tahu si om lagi kerja.


"Biasa ke pasar, beli kain." Bang Egi ngejawab dan setelah itu dia lanjut makan kripik pisang yang belum habis.


"Eiya, buku yang pengen gue pinjem mana?"


"Ada di kamar di laci deket kasur, ambil aja sendiri."

__ADS_1


Gue manggut-manggut dan detik ini juga, gue berencana mau ambil buku itu. "Gue ke kamar lo ya, Bang."


"Iya, kamar gue jangan diberantakin. Awas aja kalau sampai berantakan."


Dari awal, gue emang nggak ada niatan sih buat berantakin kamarnya bang Egi, ngapain coba? Nggak ada kerjaan banget. Tapi bukan Hanung namanya kalau nggak bertanya dengan nada tengil. "Emang kalau kamarnya gue berantakin, lo mau apa?"


"Gue sambit pake mesin jahit punya mama."


"Dih, galak bener udah kayak kucing mau beranak," ujar gue sambil ketawa dan ternyata bukan cuma gue aja yang ketawa tapi Anka juga.


Daripada gue disambit beneran sama bang Egi karena masih ngetawain dia, mending gue kabur aja langsung pergi ke kamarnya. Dan ketika gue masuk kamar dan langsung nyari buku yang katanya ada di laci dekat kasur, ternyata dari laci pertama sampai terakhir buku yang gue cari nggak ada. Malah adanya alat tulis sama beberapa buku-buku pelajaran Anka.


Mendadak gue jadi ragu, sebenarnya ini kamarnya bang Egi atau Anka? Kalau semisal ini beneran kamar bang Egi kok ada buku-buku pelajaran Anka di sini? Buat apa disimpan di kamarnya coba?


Dan keraguan gue soal kamarnya bang Egi semakin bertambah, karena dugaan gue ternyata benar. Yang gue masukin bukan kamarnya bang Egi, tapi Anka. Buktinya aja saat gue beralih ke meja belajar ada foto dia sama teman-temannya dan kebanyakan ada buku Anka di sini.


Oalah, ternyata gue salah masuk kamar dan ternyata kamarnya bang Egi di sebelah kamar ini. Maklumlah soalnya udah lumayan lama gue nggak main ke rumah bibi, jadinya kayak gini deh.


Saat sadar kalau ternyata gue salah masuk kamar, gue pengen langsung keluar dari sini. Tapi buku sampul hitam yang ada di atas meja belajar, menarik perhatian gue. Seolah-olah itu buku pengen banget dibaca.


Dan, ya. Karena gue cukup penasaran sama itu buku akhirnya itu buku gue baca. Nggak ada niatan buat baca semuanya sih, satu sampai empat halaman juga udah cukup itu juga kalau tuh buku ada tulisannya.


Ngomong-ngomong, salah nggak sih kalau gue baca buku ini? Soalnya ini buku kayak buku catatan harian. Tapi, biarinlah. Udah kepalang tanggung.


Sekitar dua menit gue baca di dalam hati tulisan di halaman pertama buku itu sampai habis, ada satu kalimat yang amat menganggu pikiran gue. Dan begini kalimatnya 'Karena bulan telah memberikanku kekuatan.' Gue langsung diem, mencerna kalimat yang Anka tulis itu.


Ini sebenernya si Anka punya hubungan apa sama Sailormoon? Sampai-sampai nulis kalau bulan itu memberikannya kekuatan? Atau sebenernya dia itu kelinci bulan yang diutus sama alien buat ngancurin dunia? Ah, gue tahu. Jangan-jangan selama ini dia ngerahasiain identitasnya, kalau ternyata Anka itu manusia serigala?


Mari kita bertepuk tangan bersama atas pemikiran gue yang kelewat imajinatif ini. Ngaco bener dah pemikiran gue. Terus buku itu gue di tempat semula karena gue udah nggak sanggup baca bukunya Anka.

__ADS_1


__ADS_2