Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati

Anak Kuliahan : Hanung Dan Wati
Sebelum Manggung


__ADS_3

"Ti, gue deg-degan nih."


Wati yang duduk di samping gue langsung noleh ketika dia lagi fokus main hp, dan nggak pake basa-basi dia yang ngerti sama apa yang gue omongin langsung genggam tangan gue erat-erat.


Seperti biasa, setengah jam sebelum Dear One tampil, gue pasti selalu deg-degan karena nervous. Dan dari sumber genggaman tangan itu adalah cara yang cukup ampuh buat ngilangin gugup yang gue rasain. Dan, ya. Cara yang Wati usulkan selalu gue pake sampai sekarang.


Dan bukan cuma Wati aja yang biasanya minjemin tangannya buat di genggam hilangin nervous. Kalau Wati nggak ada, anak-anak Dear One yang kebetulan duduk di samping gue pun jadi sasaran genggaman tangan gue apalagi Faris, jadi otomatis mereka semua udah pada tahu kalau pegangan tangan adalah cara gue buat hilangin nervous.


"Gimana? Udah mendingan?"


Pertanyaan dia gue jawab pake anggukan singkat.


"Santai aja, nggak usah tegang."


"Nggak bisa, Ti. Susah." Gue ngomong gitu sambil gelengin kepala singkat.


"Nung, mau minum nggak?" tawar Faris sambil nyodorin botol mineral dingin di depan muka gue, dan berhubung tangan kanan gue nggak lagi megang apa-apa, botol yang Faris kasih langsung gue ambil.


"Makasih, Ris."


Setelah denger gue ngucapin terima kasih, Faris langsung balik ke tempatnya. Yaitu duduk di sebelah Geo yang lagi nyenderin diri di tembok sambil meremin mata karena ngantuk.


Oiya, ngomong-ngomong. Selain ada lima anggota Dear One, Wati, dan beberapa pegawai cafe. Ada pacarnya bang Wahyu yang juga ada di sini.


Yang gue tau, pacarnya itu kuliah di tempat lain tapi masih di kawasan Jakarta, dan yang gue tau lagi pacarnya bang Wahyu itu perempuan, wkwkwk.


"Nung, gue pengen ngomong deh."


Fokus gue yang sempet teralihkan ke arah bang Wahyu dan pacarnya, sekarang gue tolehkan pada Wati yang duduk di sebelah gue karena dia tiba-tiba ngomong.


"Itu lo udah ngomong." Karena gue yang ngomong gitu, dia pukul bahu gue pelan.


"Bukan itu, ih. Maksudnya tuh gue pengen ngomong serius."


"Oh, soal apa?"


"Rinjani sama Yohan lagi ada masalah nggak sih? Soalnya kalau gue perhatiin akhir-akhir ini Rinjani agak aneh."


Ucapannya Wati itu bikin kening gue mengerut, soalnya tiga kata terakhir 'Rinjani agak aneh' itu bikin pikiran gue agak rancu.

__ADS_1


"Aneh kenapa? Dia sering nyolong mangga di kebon kayak elo?" tanya gue sambil cekikikan.


Wati mendengus dan buat kedua kalinya dia pukul bahu gue, cuma yang ini lebih kencang. "Ish, bukan. Aib gue jangan diumbar-umbar dong! Lagian sebenernya gue itu nggak nyolong, gue udah ijin cumannya di dalem hati."


"Sama aja, dodol!" Serius, kepalanya Wati gue toyor tapi pelan. Dan itu bocah malah cengengesan.


"Serius nih, gue nanya. Yohan sama Rinjani lagi ada masalah nggak sih?"


Gue nggak langsung jawab karena gue sempat diam beberapa detik, sekedar buat inget-inget kelakuan Yohan di hari-hari sebelumnya, seinget gue kelakuan dia masih biasa aja nggak ada yang berubah juga, dan itu berarti Yohan lagi nggak ada masalah.


"Hm, setau gue sih enggak ada deh. Dan kalau semisal mereka ada masalah pasti mukanya si Yohan langsung kisut."


Iya, kayak waktu itu. Waktu mereka belum jadian dan Rinjani dianter sama mantannya itu, mukanya si Yohan kusut selama setengah hari, kelihatan bete banget diajak ngobrol juga nyahut seadanya, terus kalau diajakin bercanda juga dia cuma diem aja, nggak kayak biasanya.


"Dear One sepuluh menit lagi tampil, kalian siap-siap," sahutan dari orang yang gue yakini adalah pegawai di cafe ini buat gue maupun yang lain noleh ke arah orang itu.


Dan bang Adam selaku pemimpin band, dia yang tadinya lagi duduk santai sambil baca majalah langsung berdiri nyamperin Geo yang masih nyender di tembok sambil meremin mata.


"Yo, bangun. Bentar lagi kita tampil," ujar Faris yang kebetulan masih duduk di sebelah teman sehidup sematinya itu.


"Hm." Geo menyahut seadanya.


"Cuci muka dulu sana, Yo. Mumpung masih ada waktu sepuluh menit lagi," kata bang Adam sambil nyolek-nyolek bahu Geo buat bangun.


"Hm."


"Yo, cepet bangun! Lo mau gue siram pake aer comberan?!" kata bang Adam dan kali ini nada bicaranya agak ditinggin, mungkin karena dia mulai kesel sama manusia jelmaan cumi kering itu.


"Hm." Bukannya bangun, si Geo masih betah pejamin matanya, malah tuh bocah lagi garuk-garuk pipinya.


"Ris! Buruan ambil aer comberan! Mukanya si Geo pengen gue siram!" ujar bang Adam sekali lagi, dan itu sukses buat Geo buka matanya lebar-lebar.


"Eh. Jangan, Bang. Ini gue bangun!" Geo beneran bangun, malah dia berdiri dari posisi nyendernya.


"Buruan cuci muka!"


"Iya, Bang."


Setelah dengar perintah bang Adam yang nyuruh dia buat cuci muka, Geo buru-buru langkahin kakinya ke toilet dan tentunya sebagai teman sehidup semati yang baik Faris ngikutin Geo dari belakang, dan kalau diibaratin Geo sama Faris itu udah kayak anak kadal, ke mana-mana selalu berdua.

__ADS_1


Karena Geo sama Faris yang udah pergi dari ruangan ini, maka fokus gue teralih pada bang Wahyu sama pacarnya yang lagi duduk hadap-hadapan dan jaraknya cuma beberapa langkah aja dari tempatnya si dua anak kadal.


"Beb, muka aku udah cakep belum?"


Ya, sekiranya itu sih pertanyaan yang gue denger dari bang Wahyu buat pacarnya, pertanyaan yang sungguh membuat jijik bagi yang mendengarnya, apalagi pas bang Wahyu nanya, nada bicaranya sok diimut-imutin kayak bocah.


"Belum."


Jawaban dari pacarnya bang Wahyu itu, sukses bikin gue tahan tawa. Karena pertama jawabannya terlalu jujur (iyalah, soalnya kan yang paling ganteng di dunia ini cuma gue, ehehehe) dan kedua mukanya bang Wahyu langsung cemberut, tapi itu cuma beberapa detik aja. Karena di detik berikutnya bang Wahyu malah nyengir-nyengir kayak kuda.


"Cakepin dulu dong, beb."


"Caranya?"


"Cium pipi aku," kata bang Wahyu sambil nunjuk ke arah pipi kanannya dan masih nyengir-nyengir.


Serius demi apa pun, gue yang denger jawabannya itu cukup jelas, memiliki hasrat buat nabok bang Wahyu detik ini juga.


"HEH! SETAN! KALAU MAU BERBUAT MAKSIAT JANGAN DI SINI!!"


Dan ternyata bukan cuma gue aja yang memiliki hasrat buat nabok bang Wahyu, ternyata bang Adam yang tanpa gue sadari juga lihat interaksi antara bang Wahyu sama pacarnya itu, tanpa basa-basi langsung nabok pipinya bang Wahyu.


"Hehehe. Enggak, Dam. Tadi bercanda, galak bener lo kayak nenek gue," bela bang Wahyu sambil cengengesan.


"Awas aja ya lo! Kalau sampai berbuat macem-macem di sini!"


"Iya, iya. Maap."


Ngeliat bang Wahyu yang mukanya kembali cemberut, sukses bikin gue ngakak. Mungkin kalau Geo sama Faris lihat mereka bakal ngakak sambil guling-gulingan di sini. Bang Wahyu yang sadar kalau gue lagi ngetawain dia, langsung ngasih gue tatap setajam golok.


"Heh! Kaleng roti! Nggak usah ketawa lo!" Dan bukannya mingkem, gue malah makin ngakak.


"Udah, jangan berantem. Lo sama Hanung mending siap-siap. Kalau mau pipis atau mau ngapain cepetan, soalnya sebentar lagi kita tampil."


"Iya," sahut gue bareng bang Wahyu, kompak kayak anak paskibra.


"Semangat ya tampilnya, jangan grogi," ujar Wati ngasih gue semangat.


Gue langsung anggukin kepala. "Hm, makasih ya."

__ADS_1


Dan, ya. Kayaknya gue nggak akan nervous atau grogi saat tampil nanti, soalnya kan selain tangan gue digenggam, gue udah dikasih semangat sama senyuman manis dari pacar, hehehe.


__ADS_2