
"kakak ayo kejar aku .. ha haa" Tawa seorang bocah berusia 6 tahun.
"dasar bocah nakal, berhenti kau!" Teriak kakaknya.
"haduh kakakku ini larinya sangat lambat seperti sip ... gubraak .. aduhh" keluh si bocah yang jatuh tersandung.
"astaga Dirga, apa yang kamu lakukan?" Teriak kakaknya
"ahh kakak, matilah kita" ucap Dirga.
"enak saja kita, kamu yang salah dasar bodoh" ucap kakaknya.
"tidak bisa begitu, aku jatuh karena di kejar kakak" elak Dirga.
"aku mengejarmu karena kau mengambil bukuku" ucap kakaknya membela diri.
Dua bocah yang saling lempar kesalahan tidak ada yang mau mengalah satupun hingga.
"kalian berdua .. kemari!" Bentak seorang wanita di depan pintu.
"DEG"
"baik bu" ucap kedua bocah itu menunduk.
"cetak .. cetakk ..aawww" keluh kedua bocah itu setelah jidat mereka di beri sentilan maut oleh ibunya.
"kalian ini, ibu sudah bilang kan jangan bermain di dekat tempat ayah menjemur bahan ramuan, kenapa kalian tidak mendengarkan ibu?"
"maaf bu aku bersalah"
"a-aku juga, aku bersalah" ucap keduanya mengaku.
"heii ada apa?" Tanya seorang lelaki yang keluar dari rumah.
"ayaahhh, ibu mengamuk" ucap anak bungsunya berusaha mengadu.
"pletakk .. ini karena kita berdua salah, dasar tukang mengadu" ucap si kakak setelah memukul kepala adiknya.
"astaga Arya, jangan pukul kepala adikmu" ucap di ayah.
"ayah takut dia bodoh? Dia kan memang bodoh" ucap Arya.
"haduhhh mulutmu itu sepedas mulut ibumu" hela si ayah.
"kalian bertiga diam! Arya, Dirga sekarang pungut semua bahan ramuan yang sudah kalian tumpahkan itu! Dan kau jangan ikut campur urusanku dengan dua kucing kecil ini" ucap si ibu melotot.
"ba-baik nyonya" ucap ketiganya bersamaan.
Kedua bocah yang dari tadi sibuk saling menyalahkan hanya bisa tertunduk patuh pada ucapan ibu mereka, sang ayah pun bertekuk lutut tak berkutik pada ucapan istrinya.
"kakak, kenapa ibu segalak itu yah?" bisik Dirga.
"tentu saja karena dia mempunyai putra senakal dirimu" jawab kakaknya datar.
"hehh aku anak yang baik, tapi kenapa ayah mau menikah dengan ibu yah?" bisik si adik lagi pada kakaknya.
"mana ku tau, kau tanya saja pada ayah"
"aku curiga dulu sewaktu muda ayah di culik dan di paksa menikah oleh ibu" terka sang adik.
"ssttt tutup mulut kalian berdua atau ibu akan membunuh kita bertiga" ucap si ayah ikut nimbrung.
Ketiga laki laki yang sedang sibuk memungut bahan ramuan adalah Duwan dan kedua anaknya, wanita galak yang mereka panggil dengan sebutan NYONYA tak lain adalah Alara, gadis serigala yang dulu di kenal sebagai wanita berdarah dingin yang sanggup membunuh tanpa berkedip.
Jika ingat cerita perjalanan mereka di (The Werewolf S1) tak ada yang menyangka kalau gadis itu bisa menikah dengan Duwan, seorang pemuda biasa yang hanya mantan anggota keluarga bangsawan.
Terlepas dari semua ketidak mungkinan itu ada satu kenyataan, Duwan dan Alara sudah sembilan tahun hidup berumah tangga, kehidupan rumah tangga mereka di lengkapi dengan adanya dua anak lelaki yang tampan.
__ADS_1
Anak pertama mereka adalah Arya Wijaya dan anak kedua mereka Dirga Sanjaya, kehidupan mereka terbilang bahagia dan normal normal saja, kecuali kenyataan bahwa ketiga lelaki itu tunduk pada satu wanita.
Alara si gadis ketus dan dingin menjelma menjadi seorang istri sekaligus ibu yang sangat tegas dan disiplin, sementara Duwan adalah sosok ayah lembut dan sangat penyayang, tak heran kedua putranya sangat dekat dengannya.
Tapi bukan berarti kedua anak itu tak dekat dengan ibunya, karena bagaimanapun juga Alara adalah seorang ibu yang baik dan penyayanh terlepas dari sifat dan sikapnya yang keras.
"ya ampun, ketiga lelaki ini suka menggosip rupanya" ucap Alara mengagetkan.
"DEG" seolah jantung mereka berhenti berdetak saat mendengar suara si ibu.
"matilah kita" ucap Duwan frustasi bersama dua putranya.
"huhh sudahlah, aku sedang tak berselera menghukum kalian" ucap Alara berlalu pergi.
"Tak berselera? Ayahh apa ada yang salah dengan ibu?" Tanya Arya bingung.
"Apa ibu sakit? Atau salah makan?" Timpal adiknya.
"hmmm aneh, sepertinya ada sesuatu" ucap Duwan ikut curiga.
Sudah menjadi suatu kebiasaan jika salah satu dari tiga lelaki itu membuat masalah maka Alara akan menghukumnya, hukumannya pun tak main main, dia akan memberi hukuman berupa lari naik turun bukit atau hukuman menahan beban berat.
Baik Duwan atau kedua putranya tak pernah bisa membantah hukuman dari nyonya mereka, perintah atau hukuman dari Alara sudah seperti titah dari DEWA, tapi bukan berarti kehidupan mereka menderita yah karena Alara punya maksud dan tujuan tersendiri.
Alara sudah memutuskan mengajar kedua putranya berbagai latihan menguatkan fisik sejak dini, Arya menjalani pelatihan sejak usia 6 tahun dan Dirga memulainya dua tahun lebih awal.
Sejak usia 4 tahun Dirga sudah mulai mengikuti kakaknya naik turun bukit dengan di kawal oleh Kai (harimau siluman yang terikat kontrak dengan Alara), berbeda dengan Arya yang hanya seorang manusia biasa seperti Duwan, dia memulainya di usia 6 tahun.
Dirga adalah anak serigala yang mewarisi kekuatan fisik dan stamina berkali lipat dari manusia biasa, maka tak heran kalau Alara berani memberi latihan keras pada putranya yang terbilang masih sangat bocah, mungkin masih bisa di katakan batita.
Alara dan Duwan tinggal di sebuah rumah sederhana dekat hutan, keseharian Duwan hanya mencari dan meracik berbagai ramuan obat untuk di jual di pasar, Alara menjadi ibu rumah tangga yang baik meski terkesan galak, setiap Alara sibuk dengan pekerjaan rumah maka kedua anaknya akan berlatih di bawah pengawasan Kai, entah itu berlari atau sekedar angkat beban.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya Alara menjelma menjadi seorang guru bagi kedua anaknya, dia memberi beberapa latihan fisik yang akan berguna di masa depan bagi kedua anaknya, sampai Duwan sendiri heran dengan tingkah istrinya.
Jadwal hari ini adalah mencari tumbuhan herbal di hutan yang tak jauh dari rumah mereka, dan hari ini Arya yang berkewajiban mengikuti ayahnya ke hutan, juga Kai yang bertugas melindungi mereka berdua jika ada bahaya.
"ayahh" seru Arya.
"aku boleh tanya sesuatu?"
"tanya apa?"
"kenapa ayah menikah dengan ibu?" tanya Arya penasaran.
"kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Duwan pada putranya.
"hanya penasaran saja, ibu itu wanita yang kuat bahkan sangat kuat, sedangkan ayah adalah laki laki lemah, bagaimana bisa ayah menikah dengan ibu? Apa dulu ayah di culik?" tanyanya.
"astaga bisa bisanya kamu menghina ayahmu ini" ucap Duwan kesal.
"heii aku tak menghina ayah, hanya.."
"terlalu jujur" srobot Duwan.
"hehee iya" jawab Arya cengengesan.
"hmm kau mau tau kenapa ayah menikah dengan ibu?" tanya Duwan.
"ya yaaa .. katakan padaku" ucap Arya antusias.
"karena ayah mencintai ibu" jawabnya singkat.
"tchh omong kosong apa itu?" ucap Arya tak percaya.
"kenapa menurutmu itu omong kosong?" Tanya Duwan balik.
"ayolah ayah, katakan dengan jujur padaku, aku pandai jaga rahasia" paksa Arya.
__ADS_1
"ayah sudah bicara jujur, bahkan sangat jujur" tegas Duwan.
"hmm benarkah? Lalu alasan apa yang membuat ayah jatuh cinta pada ibu?" Tanya Arya lagi.
"bagaimana yah? Kalau membicarakan cinta itu rumit nak" ucap Duwan.
"ayah tau kan aku sangat jenius, cepat katakan aku sangat penasaran" ucap Arya menggoncang tangan ayahnya.
"ayah mencintai ibumu karena dia adalah seorang wanita yang lembut dan sangat baik, ayah tau kamu pasti meragukan itu karena sikap ibumu selama ini sangat tegas, tapi dia benar benar memiliki sisi yang sangat lembut, kelembutan hatinya itu yang membuat ayah tergila gila padanya" ucap Duwan berbinar.
"hah lembut? ayah tidak sedang membohongiku kan?" tanya Arya curiga.
"untuk apa ayah berbohong? ayah berkata sangat jujur, suatu hari nanti setelah kamu tau semuanya ayah yakin kamu juga akan jatuh cinta pada ibumu" ucap Duwan mengusap kepala putranya.
"benarkah? hmm baiklah"
"sekarang sudah sore, ayo kita pulang, jangan sampai kita berdua di gantung karena terlambat pulang" ajak Duwan.
"bukan berdua, tapi bertiga" ucap Kai menyambung.
"astaga aku sampai lupa kau di sini Kai" ucap Duwan.
"kenapa?"
"emm pembicaraan tadi .."
"aku takkan lapor" ucap Kai.
"benar yaaa janji" sergap Arya.
"iya, ayo kalian naik"
Ketiganya pulang dan sampai rumah sebelum gelap, terlihat Dirga sedang sibuk membantu ibunya menyiapkan makanan, Dirga dan Alara sama sama memiliki selera makan yang tinggi, mereka berdua sangat doyan daging dan anti dengan sayuran.
Berbeda dengan Duwan dan Arya yang lebih menyukai buah dan sayur dari pada daging, kepulangan mereka yang di sambut dengan aroma masakan membuat perut mereka keroncongan.
Mereka belima (termasuk Kai) menyantap makanan bersama, acara makan itu di hiasi dengan celoteh Dirga yang menceritakan kejadian seharian bersama ibunya
Dirga lahir dengan mewarisi sifat ayahnya, bocah itu bersifat ceria dan sangat banyak bicara, bahkan dia juga sangat ceroboh, kalau Arya memiliki sifat sedikit cuek dan bermulut pedas, anak itu tak segan mengucapkan sesuatu yang kelewat jujur.
Sejak kecil Arya memang sudah terlihat akan menjadi sosok yang jenius, kemampuan belajarnya sangat tinggi, dia juga tertarik mempelajari berbagai ilmu, mungkin karena darah kerajaan mengalir kental di tubuhnya, jadi tak heran jika Arya sangat tertarik dengan berbagai pengetahuan.
Arya dan Dirga berselisih umur 3 tahun, Arya berusia 9 tahun dan Dirga berusia 6 tahun, tapi pertumbuhan mereka berdua terbilang sangat berbeda karena fisik Dirga hampir sama dengan kakanya, jika Arya memiliki kemampuan dan otak yang jenius maka Dirga adalah bocah yang berbadan bongsor dan kuat.
Kalau orang melihat sekilas mereka akan mengira Arya dan Dirga seumuran, besar dan tinggi badan keduanya tak terpaut jauh, bahkan beberapa tahun ke depan bisa di pastikan tubuh Dirga akan lebih besar dari kakaknya.
Meski mereka bukan saudara kandung tapi paras mereka terbilang mirip, sama sama memiliki sepasang mata berwarna coklat keemasan, hidung mancung dan kulit putih yang terlihat pucat, rambut Arya berwarna hitam legam sedangkan rambut Dirga cenderung ke abuan, dan bisa dipastikan mereka berdua sama sama tampan.
Hari itu berlalu dengan cepat, saat pagi tiba keempatnya pergi kepasar, Duwan pergi ke penjual obat dan Alara pergi ke sebuah toko baju bersama dua putranya, setelah memberi beberapa helai pakaian Alara mengajak kedua putranya berjalan jalan sebentar mengelilingi pasar.
Bagi Alara memberikan kedua putranya kehidupan yang normal adalah suatu keharusan, jika seumur hidupnya dia selalu mengenakan jubah untuk menutupi perbedaan fisiknya yang mencolok, berbeda dengan Dirga yang memiliki fisik sangat manusiawi, apalagi rambutnya tak putih sepertinya.
Saat tiba di daerah ujung pasar yangsepi Alara tertarik dengan pedagang tua yang menjual pernak pernik, dia mengajak kedua putranya mendekat dan ingin melihat lihat.
"cari apa nyonya?" tanya lelaki tua itu.
"aku lihat dulu" jawabnya.
"hmm kedua putramu sangat tampan, tapi sayang hidup mereka takkan lebih dari 20 tahun" celetuk kakek tersebut.
"degg"
"apa maksudmu kek?" ucap Alara kaget.
"hoho bukankan kamu sama sepertiku? kamu bisa mengintip masa depan kan? bahkan kamu juga bisa datang ke sana" ucap lelaki tua itu.
"si-siapa kau?" tanyanya semakin panik.
__ADS_1
"jika ingin menyelamatkan kedua putramu maka gunakan kemampuanmu" ucapnya.
.......bersambung.........