Anak Serigala

Anak Serigala
Membela diri


__ADS_3

"walaupun aku bodoh tapi kakakku orang jenius, bahkan kecerdasanmu tak lebih dari 10% kecerdasan kakakku" ucap Dirga pamer.


"berani sekali kau menghinaku!" ucap Roman tak terima.


"kenapa? apa kau mau mengadu pada kakek buyutmu? dasar cicit cemen" ejek Dirga makin menjadi.


"Dirga hentikan" perintah Arya pada adiknya.


"kakak! telingaku semakin terasa panas karena mereka terus terusan menghina kita, aku makin tak tahan" ucap Dirga meninggi.


"kau berani membentakku?" ucap Arya sedikit kaget.


"bukan begitu, aku tak bermaksu.."


"sudahlah, dengarkan aku baik baik, apapun yang mereka ucapkan tak usah kau dengar, anggap saja ucapan mereka hanya kicauan burung" ucap Arya pada adiknya.


"baik kakak" jawab Dirga menurut.


"haha haa lihatlah, bocah bodoh itu selalu tunduk pada kakaknya, dia benar benar bodoh" ejek Roman lagi.


"hentikan Roman! kau anak paling dewasa di antara mereka, harusnya kau menyontohkan sesuatu yang baik, apalagi statusmu adalah cicit dari wakil ketua sekte" ucap Arya mengingatkan.


"memang kenapa? justru karena aku adalah cicit dari wakil ketua sekte jadi aku bebas bebas saja berbuat apapun" ucap Roman tak peduli.


"huftt sudahlah, ayo kita kembali ke sekte saja" ajak Arya pada adiknya.


Seperti biasa Dirga menuruti perkataan kakakknya, dia berjalan di belakang kakaknya dan berusaha mengabaikan ejekan yang di lontarkan Roman dan kawannya.


"lihat lihat, dia seperti kerbau saja selalu tertunduk pada kakaknya, benar benar anak bodoh" ejeknya lagi.


"shhh.."


"jangan terpancing" bisik Arya pada adiknya.


"ahhhh aku rasa orang tuanya adalah orang bodoh, sangat pantas kalau anaknya begini, haha haa"


Arya dan Dirga yang mendengar ucapan Roman kian keterlaluan akhirnya benar benar meledak, Dirga mengepalkan tagannya erat erat bersiap untuk menghantam mulut lancang Roman.


"grep .. kembali ke sekte sekarang" perintah Arya pada adiknya.


"tapi kak Roman sudah keterlaluan, dia.."


"aku tau dan aku dengar, kau pikir aku tuli?" ucap Arya ketus.


"kalau kakak dengar kenapa kakak melarangku, aku sudah cukup sabar selama ini" protes Dirga lagi.


"Dirga dengarkan kakak baik baik! kembali ke sekte SEKARANG!" bentak Arta mengagetkan.


Dirga yang kesal langsung lari begitu saja meninggalkan kakaknya, anak itu sama sekali tak menengok ke belakang dan terus lari menahan tangisnya, di satu sisi dia tak terima karena orang tuanya di hina, di sisi lain dia tak meyangka kakaknya membentaknya di depan anak anak yang menghina orang tuanya.


Di lain sisi Arya sedang menatap Roman dan kawannya dengan tatapan penuh kebencian, selama ini dia selalu menahan segala hinaan yang Roman dan kawannya lontarkan padanya, tapi sekali mereka menghina orang tuanya maka tak ada alasan apapun bagi Arya untuk menahan amarahnya.


"lancang mulutmu itu, berani sekali kau menghina orang tuaku" ucapnya datar tak berekspresi.


"bukankah kata kataku benar? kalau anak anaknya bodoh pasti orang tuanya juga bodoh" ucap Roman kembali menghina.


"dua .. dua kali kau menghina orang tuaku bodoh" ucapnya lagi.


"kau menghitungnya? ha haaa baiklah sekarang hitung dengan benar, anak bodoh sepertimu memiliki orang tua bodoh, orang tua bodoh, ayah dan ibumu bo.."

__ADS_1


"DUAAAK .. aahkk"


Sebuah kepalan tinju telak mengenai pipinya, kecepatan Arya yang tak tertangkap oleh mata berhasil membuat pemuda itu mendaratkan bogem mentah pada Roman.


Kedua kawannya langsung berlari menghampiri Roman yang terpental setelah mendapatkan tinju, mereka tak pernah menyangka anak yang selalu mereka hina memiliki kekuatan yang besar, bahkan tinjunya berhasil membuat dua giginya copot.


"sekali lagi kau mengganggu dan menghina orang tua ataupun adikku bukan hanya tinjuku yang mendarat di pipimu, tapi pedang ini akan merobek mulutmu hingga tak berbentuk" ancamnya dengan tatapan penuh nafsu membunuh.


Ketiga remaja yang masih syok dengan kekuatan Arya langsung ciut di buatnya, apalagi tatapan mata Arya yang layaknya binatang buas berhasil membuat mereka merinding.


"satu lagi! jangan berani muncul di hadapanku" ucapnya berlalu pergi.


Roman yang hampir tak sadarkan diri di papah oleh dua temannya, di tambah lagi mereka di hujani berbagai pertanyaan dari kakek buyut Roman.


Beberapa saat setelahnya


"buak .. brak"


"uhuk"


Arya memuntahkan darah, dirinya terpental sampai berpuluh meter setelah kakek buyut Roman memukul perutnya tanpa penjelasan.


Dirga yang berada di dalam rumah langsung lari keluar setelah mendengar suara hantaman keras mengenai kediaman bibi gurunya, dirinya melotot kaget saat mendapati kakaknya tergeletak dengan mulut bermandikan darah.


"kakak! kenapa ini?" seru Dirga bingung.


"tidak apa apa, kau masuk saja" jawabnya lirih.


"dasar anak tidak tau diri, berani sekali kau melukai cicitku" seru kakek buyut Roman.


"ka-kakeknya Roman, kakak melakukan apa pada Roman?" tanya Dirga panik.


"aku hanya memberinya sedikit pelajaran karena menghina orang tua kita, sepertinya kakek tu.."


"hentikan kakek! apa kau mau membunuh kakaku?" seru Dirga keras.


Teriakan Dirga berhasil mengundang orang orang yang ada di kediaman melangkah keluar, mereka tak mengerti dengan pemandangan wakil ketua sekte yang melukai salah satu murid.


"apa yang terjadi?" tanya Rian tergesa.


Tak berapa lama Kemala dan Arga juga datang setelah mendapat laporan dari Bimo, saat Arya di pukul kebetulan Bimo melihatnya jadi dia langsung mencari Kemala dan meminta Kemala untuk menolong Arya.


"apa yang anda lakukan pada muridku tetua?" tanya Rian geram.


"Aryaa Dirga! apa yang terjadi?" tanya Kemala panik melihat Arya berlumur darah.


"Arya ayo kita ke balai pengobatan" ajak Arga.


"tidak perlu paman, aku baik baik saj.."


"kakak bicara apa? apa matamu buta? kau tak lihat sudah memuntahkan darah sebanyak ini?" bentak Dirga kesal.


"kenapa kau berteriak padaku? kupingku sakit" keluh Arya dan akhirnya jatuh pingsan.


"ka-kakak! kak Arya bangun" seru Dirga panik.


"sudahlah Dirga kau tenang, biar paman membawanya" ucap Arga langsung menggendong Arya.


Sementara itu Rian terus beradu mulut dengan wakil ketua sekte, menurutnumya sesalah apapun Arya wakil ketua tak boleh memukulnya begitu, apalagi Arya sampai muntah darah dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Tetua! sebenarnya ada masalah apa? kenapa tetua melakukan itu pada Arya?" tanya Kemala.


"ajari muridmu sopan santun dan buat mereka tau diri, mereka hanya anak anak yang tak jelas asal usulnya beraninya anak itu membuat cicitku kehilangan 2 giginya" serunya kesal.


"kehilangan gigi? maksud tetua apa?" tanya Kemala tak mengerti.


"muridmu yang bernama Arya yang kau pungut dan tak jelas asal usulnya itu memukul pipi cicitku, dia sampai kehilangan 2 gigi karena ulahnya" ucap Tetua melotot.


"apa? murid yang ku pungut? jangan berbicara melampaui batas tetua, mereka ada di sini bukan karena aku pungut, tapi karena mereka pantas berada di sini" ucap Kemala tak terima.


"tetap saja mereka anak anak tak tau diri, aku akan menganggap masalah ini selesai" ucapnya berlalu pergi.


"tunggu!" seru Dirga.


"apa lagi? apa kau juga ingin di pukul?"


"awalnya aku dan kakak penasaran dari mana Roman belajar memaki dan menghina orang, tapi sekarang aku sadar pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya berlaku di sini" ucap Dirga.


"bicara apa kau?"


"harusnya Tetua tanya alasan apa yang membuat kakakku memukul Roman, sebagai orang tua anda benar benar tak mencerminkan sifat dan sikap bijaksana" ucap Dirga geram.


"tutup mulutmu! anak pungut sepertimu tak usah membahas kebijaksanaan" ucapnya melotot.


"Tetua tidakkah anda penasaran alasan kakakku memukul Roman? tidakkah Tetua ingin tau alasan kakakku melakukannya?" ucap Dirga datar.


"katakan Dirga, aku yakin Arya tak mungkin sembarangan memukul orang, apalagi Roman" ucap Kemala.


"4 tahun lalu saat pertama kali aku, kakak, paman dan bibi guru pergi ke pasar di sana kami bertemu paman Krisna, waktu itu mereka sempat bermasalah dan kakakku mengatakan sesuatu tentang LANGIT BUMI DAN ORANG HEBAT, paman dan bibi guru pasti ingat kan?"


"langit tak pernah mengatakan dirinya tinggi" ucap Kemala.


"bumi tak pernah mengatakan dirinya tebal" sambung Rian.


"orang hebat tak pernah mengatakan dirinya hebat" .. "aku rasa kata kata itu menyinggungnya dan semenjak hari itu Roman dan kawan kawannya mulai mengganggu aku dan kakak" jelas Dirga.


"a-apa?" pekik Kemala kaget.


"selama bertahun tahun kami berdua selalu diam dan mengabaikan segala gangguan yang mereka lakukan, tapi tadi pagi saat aku dan kakak berlatih di kaki bukit sebelah sana Roman dan kawanannya kembali mengganggu kami, waktu itu kakak masih terus memintaku untuk tidak terpancing, tapi puncaknya Roman mengatakan sesuatu yang benar benar sudah melampaui batas" ucap Dirga berhenti.


"apa itu? katakan dengan jelas Dirga" perintah Rian tak sabar.


"awalnya mereka mengataiku anak bodoh, lalu aku membela diri meskipun aku bodoh tapi aku memiliki seorang kakak yang jenius, dan setelah kami cek cok kakak mengajakku kembali ke sekte, tapi saat kami berdua menjauh Roman dengan sengaja mengatai orang tuaku bodoh, dia bilang orang tuaku pasti orang bodoh karena memiliki anak bodoh sepertiku, aku waktu itu benar benar marah tapi justru kakak membentakku dan memintaku kembali kemari, aku rasa kakak memukul Roman karena tak ingin aku dapat masalah" terang Dirga panjang.


"hanya karena begitu anak itu memukul cicitk.."


"hanya karena itu? apa lontaran hinaan yang di keluarkan Roman pada Arya dan Dirga tetua anggap hal sepele, dua muridku menahan segala hinaan dan cacian dari cucumu selama 4 tahun, bahkan mereka tak pernah menceritakannya padaku, dan hari ini cucumu menghina orang tua mereka apa mereka salah jika membela nama baik orang tuanya?" ucap Kemala geram dan penuh amarah.


Wanita itu benar benar merasa bersalah, selama hampir 5 tahun menjadi guru dari Arya dan Dirga dia tak pernah tau kalau kedua muridnya di ganggu, bahkan hari ini dia tak bisa mencegah Arya celaka.


"tchh nama baik apa? memang orang tua mereka siapa? apa mereka memiliki gelar sehingga harus di jaga nama baiknya?" ucapnya masih mengelak.


"tetua, gelar apa yang di sandang ayah dan ibumu?" ucap Dirga tiba tiba.


"kenapa kau menanyakan itu, orang tuaku adalah seorang saudagar kaya" jawabnya pamer.


"begitu yah? jadi karena keluargamu turun temurun memiliki kekayaan dan gelar kalian jadi bebas menghina orang lain, Roman juga bilang karena dia merupakan cicit kesayangan dari wakil ketua sekte dia bebas melakukan apapun, kalau dunia berjalan seperti itu lantas bagaimana dengan kami yang hanya anak dari keluarga biasa? apa kami harus selalu diam dan tunduk saat di hina?" tutur Dirga dengan mata berkaca.


"tentu saja, dunia memang berjalan seperti itu, dia yang memiliki segalanya maka dialah yang akan menggenggam kuasa" tuturnya masih sombong.

__ADS_1


"suatu hari nanti aku dan kakak akan membuktikannya, tunggu saja" ucap Dirga berlari pergi.


Anak itu berlari sekencang mungkin ke balai pengobatan, diat takut terjadi sesuatu dengan kakaknya.


__ADS_2