
"Neesa kenapa cabang di punggungmu semakin panjang?"
"itu bukan sembarang cabang papa, itu adalah sayapku"
"sayap? kamu mempunyai sayap?" tanya Dirga tak percaya.
"emm, saat sayapku tumbuh nanti aku akan terlihat semakin cantik" ucapnya girang.
"sebenarnya kamu ini spesies apa Neesa? kamu bukan mahluk biasa kan?"
"aku akan memberi tahu semuanya nanti, siapa aku dan dari mana aku"
"kenapa tidak sekarang?"
"kalau sekarang aku masih belum bisa membuktikan siapa diriku, jadi nanti saja kalau sudah pasti"
"hmm ya sudah"
Dirga terus berjalan tanpa tujuan, anak itu hanya beralasan akan mencari rumah kakeknya, tujuan sebenarnya adalah mengembara untuk meningkatkan kekuatannya.
Tidak seperti kakaknya yang bisa meningkatkan kekuatan saat di asuh oleh gurunya, Dirga menyadari kemampuannya tidak berkembang banyak, hanya pukulan halilintar satu satunya yang dia dapatkan selama 7 tahun hidup di sekte.
Anak itu memutuskan mengembara untuk mengembangkan kemampuan dirinya, dia berfikir mungkin karena dia adalah manusia serigala kemungkinan dia akan semakin berkembang saat berada di alam liar.
"krakkk"
"siapa di sana?" tanya Dirga saat menyadarinada orang lain di sekitarnya.
Tangannya dengan sigap menggenggam pedang yang ada di punggungnya, anak itu bersiap jika ada hal buruk yang mendatanginya nanti.
"ja-jangan serang aku"
Seorang gadis yang terlihat seumurannya keluar dari balik pohon, tubuhnya yang kurus dan matanya yang cekung menjelaskan kalau keadaanya tidak baik baik saja.
"apa yang kamu lakukan di hutan seperti ini? kamu tidak terlihat seperti seorang pendekar?"
"a-aku aku hanya warga desa biasa" ucapnya tertunduk.
Suaranya terdengar bergetar, jelas sekali gadis itu ketakutan padanya, karena jujur saja perawakan Dirga sama sekali tidak cocok di sebut remaja 13 tahun, tubuhnya yang jangkung dengan sorot mata tajam membuatnya terlihat dewasa.
Belum lagi alis tebal dan postur tubuhnya yang gagah, siapapun akan mengira anak itu adalah seorang pemuda, bukan anak remaja.
"kenapa kamu bisa ada di sini? kamu sendirian?"
"aku lari dari rumah dan tersesat"
"bohong"
"DEG"
Gadis itu kaget bukan main, bagaimana bisa pemuda di depannya langsung tau kalau dia berbohong, padahal gadis itu hanya berharap bisa pergi dari situasi sekarang.
"brukkk"
"ampun tuan, ku mohon ampuni aku, aku tidak bermaksud membohongimu tapi kumohon lepaskan aku" ucap gadis itu bersujud di depannya.
"heyy apa yang kamu lakukan? memangnya aku terlihat seperti penjahat? aku hanya bertanya dan kalau kamu berbohong ya terserah, dan ingat satu hal! aku tidak melakukan apapun kenapa kamu memintaku untuk melepaskanmu?" cerocos Dirga panjang.
"ehh a-apa anda bukan pendekar yang di utus tuan Andara?" tanya gadis itu bingung.
"tuan Andara? siapa itu? aku tidak kenal"
__ADS_1
"hah" gadis itu melongo.
Lebih tepatnya gadis itu merasa malu sekaligus lega, rupanya dia salah paham pada Dirga, dia mengira Dirga adalah orang suruhan tuannya untuk menangkapnya.
Dirga yang merasa gadis itu tidak berbahaya langsung melenggang begitu saja, dia melangkah pergi karena merasa tidak ada urusan apapun dengannya.
"tunggu tuan!"
"aisshh apa lagi? aku kan sudah bilang aku tidak kenal Andara Andara yang kamu sebutkan itu" ucap Dirga ketus.
"bu-bukan begitu, bolehkah aku tau kemana tujuanmu?"
"tujuanku? entahlah aku hanya mengikuti kaki ini saja"
"bolehkah aku mengikutimu?" tanyanya ragu.
Dirga hanya diam sambil terus menatap gadis di depannya, anak itu sama sekali tidak mengerti apa yang ada di pikiran gadis di depannya, padahal baru saja gadis itu memohon untuk di lepaskan tapi tiba tiba minta ikut padanya.
"ti-tidak boleh ya" tanyanya lagi.
"bukan begitu aku hanya tidak mengerti, kenapa kamu ingin mengikutiku?"
"sebenarnya aku adalah budak yang kabur, ak-aku hanya ingin pulang ke rumah" jawabnya menunduk.
"budak?"
"aku tau aku menjijikan, ta-tapi ijinkan aku mengikutimu setidaknya sampai suatu kota, aku janji aku tidak akan membebanimu" ucapnya yakin.
"ehh menjijikan? apa yang kamu bicarakan duhhh, sudahlah terserahmu saja" ucap Dirga tak peduli.
Dirga terus berjalan dengan santainya, sesekalidia bersiul untuk menghilangkan rasa jenuhnya karena Neesa tertidur di pundaknya, gadis itu masih terus mengikutinya dengan jarak agak jauh.
Dirga duduk di batang pohon sambil menikmati rusa bakar di tangannya, Neesa juga terlihat menikmati makan malamnya dengan terus menggoyangkan ekornya.
"heyy apa kamu tidak lapar?" seru Dirga.
Namun tidak ada jawaban apapun, padahal gadis itu jelas ada di balik pohon di belakangnya, dengan malas anak itu berdiri dan menghampirinya.
"heyy bangun" ucap Dirga menepuk pundaknya.
"kyaa ampun .. ampun tuan" serunya dengan mata tertutup.
Dirga yang merasa tak melakukan apapun langsung melompat kaget karena tiba tiba gadis itu berteriak, Neesa pun yang sedang asik makan langsung lari menghampirinya.
Mata gadis itu terbuka perlahan, dia mengamati sekeliling dan tiba tiba pandangannya terpaku pada Dirga yang ada di depannya namun berjarak lebih dari 10 meter.
"apa kau mimpi buruk?" tanya Dirga memastikan.
"a-ah i-itu.."
"kau tidak lapar?"
"hmm?"
"itu makan itu" tunjuk Dirga pada daging bakar yang tadi di bawanya.
"terima kasih"
Tanpa basa basi gadis itu langsung makan dengan lahap, pemandangan semacam itu baru pertama kali di lihatnya dan tentu saja itu membuat Dirga heran.
Tapi karena tidak mau ambil pusing Dirga memilih kembali ke depan api unggun dan merebahkan diri, dan Neesa langsung memposisikan diri di atas dada Dirga.
__ADS_1
"apa kamu harus selalu tidur di situ?"
"aku suka mendengar suara detak jantung papa" jawabnya polos.
"dasar anak aneh"
"t-tuan kau bicara dengan siapa?" tanya gadis itu tiba tiba.
"bukan siapa siapa, apa kau sudah selesai makan?"
"iya, berkatmu aku bisa tidur nyenyak malam ini"
"apa kau tidak merasa dingin di situ, kemarilah jika mau tidur, setidaknya api ini tidak akan membuatmu kedinginan"
"a-apa boleh?"
"hmmm" jawab Dirga langsung memejamkan mata.
Hanya beberapa detik setelahnya anak itu sudah tertidur dengan nyenyak, perut kenyangnya mengantarkannya ke alam mimpi dengan segera.
Dengan pelan pelan gadis yang mengikutinya mendekati api unggun, nampaknya sudah sejak tadi dia ingin mendekat namun takut untuk mengungkapkannya.
"tuan muda itu sangat baik, andai tuan Andara tidak sejahat itu aku pasti takkan kabur" batinnya.
Paginya Dirga bangun setelah api unggun mati, mata sayunya perlahan membuka dan memandangi langit cerah, tubuhnya menggeliat agar tulang tulangnya renggang.
"ehh Neesa! Neesa kamu di mana?" seru Dirga saat menyadari kadal merahnya tidak ada di sekitarnya.
"siapa yang anda cari tuan?"
"itu kadal, kadal merahku tidak ada" jawab Dirga sambil terus celingukan.
"ehh apa maksud tuan binatang ini?" tanyanya.
"lhooo kenapa bisa ada di situ?" tanya Dirga saat melihat Neesa ada di pangkuan gadis tersebut.
"semalam saat tuan tertidur tiba tiba dia merayap kemari, tapi karena kulihat tuan nyaman bersamanya jadi aku biarkan saja" jawabnya.
"oo begitu, Neesa! oy Neesaaa"
"kenapa papa?"
"cepat kesini"
Dengan segera kadal tersebut merayap ke arah Dirga, dia naik ke pundak dan menggosokkan kepalanya ke pipi Dirga.
"dasar anak nakal, ku pikir kamu hilang" ucap Dirga terdengar gemas.
"hehee ku lihat orang itu gelisah, jadi aku mendekatinya papa, aku tidak akan kemanapun"
"waahh apa tuan bisa bahasa binatang? kadal itu langsung datang saat tuan memanggilnya" ucap gadis itu kagum.
"ehh itu.."
"papa hanya kamu yang bisa mendengar suaraku"
"hahaa mungkin karena kadal ini pintar jadi dia langsung datang saat aku panggil" tawa Dirga canggung.
"papa aku bukan kadal" ucap Neesa tak terima.
........bersambung......
__ADS_1