Anak Serigala

Anak Serigala
Bertemu lagi


__ADS_3


"BOO"


"UWAAAAAHHHH monyet monyet! dasar monyat😱"


"bruukkk" Damar jatuh terduduk.


"monyet? memang ada monyey bentuk begitu? naga paman dia nagaa" celetuk pemuda misterius di depannya.


"hosh .. hosh na-nagaa? hiiii kakak helep helep😖" ucapnya ketakutan.


"hahaa paman ini lucu sekali😂"


"paman paman, emang aku pamanmu apa? eyy naga menjauh hus huss"


"yaa sepertinya kau memang pamanku"


"apa? apa maksud.."


"GREP .. BREET" Damar langsung menarik jubah pemuda itu dia bahkan merobek baju untuk melihat sesuatu di lehernya.


"hiy paman kau terlalu agresif, apa jadinya kalau aku ini seorang gadis" ucap pemuda itu menutupi dadanya yang terbuka.


"diam! mana? mana buktinya kalau kamu keponakanku? harusnya kamu punya .."



"ini?" ucapnya sambil mengeluarkan kalung peninggalan ibunya.


"i-ini ini kalung kalung ... dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Damar sambil menggoncang tubuh pemuda di depannya.


"hentikan paman, aku bisa mabok inii😵"


"ahh m-maaf maaf, katakan padaku dari mana kamu mendapat kalung itu?" tanyanya tak sabar.


"dari kakakku, dia bilang ibu meninggalkan ini untukku"


"kau? si-siapa ibumu?" tanyanya sedikit bergetar.


"ayahku Duwan dan ibuku Alar.."


"GREEP .. aku menemukannya aku menemukannya, kakak aku menemukan anakmu😭" tangisnya sambil memeluk pemuda di depannya.


"😳 anu paman, kurasa ini terlalu aneh" ucap pemuda itu kaget.


"ahh maafkan aku, aku terlalu senang saat tau kau putra kakakku"


"hmm"


"tapi kenapa kamu tidak memakai kalung itu?"


"memangnya perlu di tanya yah, kalung ini terlalu cantik untuk di pakai seorang lelaki😑"


"tapi dulu tuan Rangga memakainya"


"kakek kan punya rambut putih panjang jadi menurutku cocok cocok saja, tapi aku tidak mau memakainya"


"uhh baiklah"


"apa paman yang bernama Damar?"


"kau tau namaku?"


"ya aku sedikit ingat ibu pernah bercerita tentangmu"


"lu-lupakan ceritaku di mana kakakmu?" tanyanya serius.


"tidak tau🤷"


"apa? bagaimana bisa?"


"kami sudah berpisah 2 tahun lalu"

__ADS_1


"kenapa? apa kalian bertengkar?"


"tidak .. Neesa kemarilah"


"ok papa" ucap sang naga.


"papa? apa.. apa maksudnya?"


* * * * *


"paman kenapa harganya murah sekali"


"hey nona kau tau sendiri kan tempat ini bukan kedai besar, harga itu termasuk tinggi"


"tinggi? apa paman pikir ini pertama kali aku menjual daging siluman?"


"cihh sudah kubilang aku hanya bisa membayar segitu"


"kenapa paman memberi harga semurah itu padaku? ohhh mentang mentang saya wanita jadi paman mendiskriminasi saya? saya memburunya susah payah lihat inii saya sampai mendapat luka sebanyak ini dan paman hanya memberi bayaran segini? hiks paman benar benar kejam hiks😢"


"hey kenapa kau menangis nona?"


"huhuuu saya berburu supaya bisa mendapatkan bayak uang, adik saya sedang menunggu untuk di tebus dari perbudakan hueee😭"


"nona tenanglah😑"


"huaaaaa adikku yang malang maafkan kakakmu yang miskin ini"


"tuan berikan saja tambahan padanya"


"tapi kan uangny.."


"berikan saja bonusku padanya, aku janji akan berburu lebih giat lagi dari sebelumnya"


"huhh kau ini terlalu lemah pada wanita" gerutu pemilik kedai.


Dengan wajah cerah dan senyuman yang lebar Emely berjalan dengan sedikit meloncat, di lihat dari sisi manapun gadis itu sedang berada pada msa bahagia sekarang, setelah mendapat uang dan makan sampai kenyang dia pergi ke penginapan karena ingin mandi air panas.


Lalu dia menginap selama 2 hari dan mencoba untuk melakukan perjalanan lagi, gadis itu masih belum pupus harapan untuk bertemu dengan tuan mudanya, karena bagaimanapun juga pemuda itu adalah seseorang yang sudah merubah hidupnya.


"klotak klotak"


Suara derap langkah kuda terdengar di telinga gadis itu, di tengah hutan yang gelap dia bisa melihat ada 5 orang menunggang kuda pergi ke utara, mereka nampak mencurigakan karena orang orang menutup wajah mereka dengan kain hitam.


"darah?" gumam Emely saat jejak kuda tadi meninggalkan darah.


"siapa mereka dan apa yang mereka lakukan di sini?" batinnya sedikit penasaran.


"ahh sudahlah itu bukan urusanku" ucapnya bersikap acuh.


Emely tetap melanjutkan langkah kakinya ke selatan dengan santai, sebenarnya awal dia melakukan perjalanan sendiri terasa begitu sulit dan menakutkan, tapi dengan seiring berjalannya waktu rasa takut dan sulit sudah menjadi temannya.


"aku bermalam di mana ya?"


"ahh di atas pohon saja"


Sudah jadi hal biasa dia bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya, alasannya ya karena tidak ada siapapun di dekatnya, jadi mau tak mau harus begitu, terkadang gadis itu juga berfikir.


Manusia terlahir dengan membawa takdirnya masing masing, Lahir, Tumbuh kemudian Mati begitulah takdir yang selalu Emely pikirkan, dia sudah lahir dan sekarang sedang berada di fase tumbuh, tapi fase tumbuhnya tidak seberuntung orang lain.


"hiks .. kenapa aku menangis?" gumamnya bingung sendiri.


Bagaimanapun juga Emely tumbuh dalam lingkungan dan keadaan yang sulit, adakalanya dia merasa takdir sangat kejam padanya, seumur hidupnya dia tak pernah merasakan kasih sayang yang tulus kecuali dari almarhum neneknya yang sudah tiada.


Sosok Dirga yang pada dasarnya bukan siapa siapa mampu mengisi kekosongan di hatinya, sosok pemuda baik yang cenderung keras layaknya sosok ayah yang Emely rindukan, walau sebenarnya dia sendiri tidak pernah merasakan seperti apa lasih sayang seorang ayah.


"tuan, andai kamu benar masih hidup tolong temui aku, aku mulai lelah hiks" air matanya terus mengalir.


"huaa ibu .. ibu" secara samar terdengar suara tangisan.


Emely yang tadinya larut dalam pikiran langsung tersentak kaget saat mendengar suara bocah di tengah hutan, dengan perlahan Emely mencoba mendekati sumber suara.


"apa itu mayat?" gumamnya saat mencoba memastikan penglihatannya.

__ADS_1


"ibu bangun bu, di sini gelap aku takut hiks" kembali suara bocah terdengar.


Emely terperanjat saat melihat sosok bocah tengan memeluk tubuh dingin wanita dewasa, Emely tau pastu wanita dewasa itu sudah mati, dia mendekat dan melihat lebih jelas, bocah laki laki berumur 4 tahun terisak ketakutan karena sekelilingnya hanya ada mayat.


"hey dik apa yang terjadi?" tanya Emely mendekat.


"kamu siapa?" tanyanya dengan sorot mata polos.


"aku hanya orang lewat, apa yang terjadi dengan ibumu?"


"tidak tau"


"tidak tau?"


"emm .. sebelumnya ibu memintaku menutup mata saat ada orang orang berkuda ke sini, ibu bilang aku tidak boleh membuka mata sebelum ibu bilang boleh buka, tapi waktu aku bangun ibu dan paman pengawal sudab seperti ini" jawabnya menjelaskan.


"apa kamu terluka?"


" .. " menggeleng.


Emely memeriksa semua mayat di sekeliling bocah itu, tidak ada apapun di sana yang bisa dia gunakan untuk mencari tau siapa orang orang itu, dengan sabar Emely membujuk anak itu agar mau meninggalkan ibunya yang sudah menjadi mayat.


"kita mau ke mana?"


"tidak tau, kita jalan saja dulu ya"


"tapi aku sudah capek, kakiku sakit" keluh bocah itu.


"ya sudah kita berhenti di sini, ngomong ngmong siapa namamu?"


"Candra"


"Candra? nama yang bagus, Candra mau kemana?"


"ibu bilang kita mau bertemu ayah"


"memang siapa nama ayahmu?"


"tidak tau"


"ya sudah sekarang tidur ya, besok kita harus keluar dari hutan"


"tapi aku takut"


"kan ada aku, jangan takut tidur saja"


"iya" angguknya menurut.


Mungkin karena tubuh dan pikirannya lelah tanpa sadar Emely tertidur di bawah pohon, gadis itu terlelap dengan membawa harapan yang selama ini dia pegang erat, dan selalu berharap hari esok dia bisa berjumpa dengan orang yang dia cari selama ini.


Bayangan hitam terbang di gelapnya langit malam, dingin angin yang menusuk seolah tak bisa menembus kulitnya, sesosok pemuda dengan tunggangannya pergi melintasi hutan sepanjang malam.


"kita istirahat di bawah sana saja"


"baik papa"


Sosok itu berjalan dan mencari tempat untuk beristirahat.


"siapa itu?" gumamnya saat melihat ada orang lain.


"hmm? Emely?" ucapya kaget.


"siapa?" Emely terbangun.


Matanya menangkap bayangan pemuda yang tak asing, beberapa kali mata belonya berkedip untuk memastikan penglihatannya, jantungnya seolah berhenti dan nafasnya tertahan, desiran angin dan suara binatang malam tidak lagi terdengar di telinganya.


"t-tuan🥺?" matanya berjaca kaca.


"😊 sudah lama ya Emely"


"GREB"


"tuan kemana saja? a-aku hampir putus asa hiks, kakiku sampai sakit karena terus berjalan kesana kemari mencarimu😭😭" tangisnya pecah.

__ADS_1


"kamu mencariku selama ini?"


"iyaa aku terus mencarimu" jawabnya masih memeluk.


__ADS_2