Anak Serigala

Anak Serigala
Apa aku bukan putramu?


__ADS_3

"terima ini" ucap sang kakek memberi sebuah kalung.


"kalung? untuk apa?" tanya Alara bingung.


"bisa kau suruh anakmu agak menjauh?" bisik si kakek.


"kenapa?"


"suruh mereka menjauh sebentar saja, terutama anak serihalamu itu" bisiknya.


"emm baiklah .. Arya Dirga coba kalian cek ayah sudah selesai atau belum" perintah Alara pada kedua putranya.


Setelah kedua putranya pergi si kakek langsung membisikkan sesuatu pada Alara, matanya langsung melotot tak percaya, tubuhnya bergetar hebat karena tak percaya dengan apa yang di dengar.


Sepanjang perjalanan pulang Alara hanya terdiam, wanita itu terus larut dalam pikirannya sendiri, sebenarnya Duwan menyadari ada sesuatu yang aneh dari istrinya, tapi laki laki itu memilih diam karena ada anak anak bersama mereka.


"tok tok tok ... apa ibu sudah tidur?"


Malam itu Arya tak bisa tidur, bocah itu memilih menghampiri ibunya dan meminta di nyanyikan lagu tidur kesukaannya karena itu sudah jadi kebiasaannya.


"kenapa kamu belum tidur?" tanya Alara.


"tidak tau" jawabnya.


"ayo sini" ucap Alara lembut.


Dengan senang hati Arya langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan ibunya, tempat terhangat dan ternyaman kedua setelah pelukan ibunya.


"bu nyanyikan aku lagu tidur" pintanya.


"ya ampun, kamu tidak bosan bosannya mendengar lagu itu" ucap Alara.


"ayolah bu nyanyikan saja untukku" ucap Arya memejamkan mata.


"hmm baiklah"


🎶matahari kini tlah berganti bulan


🎶awan putih di langit kini berganti bintang


🎶pejamkan mata dan rajutlah mimpimu


🎶percayalah malaikat malam kan menjagamu


🎶kau singa kecilku yang kuat dan tangguh


🎶kau singa kecilku yang pemberani


🎶kaulah matahari dalam siangku


🎶kaulah bulan dalam malam gelapku


🎶senandung cintaku hanya untukmu


🎶bermimpilah dan gapai itu


🎶hmm hmmm mmm.


Lagu tidur sederhana yang selalu membuai pendengaran Arya malam itu justru membuatnya terjaga, meski matanya terpejam tapi bocah itu tak tidur sama sekali.


Bagaimana bisa bocah itu tertidur, sepanjang lagu itu di nyanyikan air mata ibunya tak ada hentinya menetes di pipinya, seolah ibunya baru saja mendapatkan luka yng luar biasa.


"kenapa ibu menangis?" batin Arya.


Tangan lembutnya masih terus mengelus lembut rambut Arya, sesekali tangan halus itu juga menepuk lembut kepalanya.


"cup"


"bu sangat menyayangimu Arya, ibu sangat menyayangimu" ucapnya mencium pipi anaknya.


"sayang bisa kamu katakan ada apa sebenarnya" ucap Duwan.


Laki laki itu paling tak tahan melihat air mata istrinya, wanita keras seperti istrinya sangat jarang menangis, selama 9 tahun menikah Alara hanya beberapa kali menangis, itupun karena anaknya terluka.


"aku .. aku tidak ingin kehilangan putraku hiks hiks" tangisnya tiba tiba pecah


"apa maksudmu?" tanya laki laki itu bingung.


"aku takut Duwan aku takut" ucapnya semakin terisak.


"heyy dengarkan aku, apa yang kamu takutkan? memangnya apa yang terjadi sampai kamu berpikir begitu?" tanya Duwan.


"Arya putraku dia anakku kan?" ucapnya lirih.


"pertanyaan macam apa itu? tentu saja dia putramu, memangnya dia putra siapa lagi?"

__ADS_1


"Deg" tiba tiba saja detak jantung Arya berdetak dengan kerasnya, anak itu seakan sudah melakukan kesalahan karena datang pada ibunya di saat yang kurang tepat.


"kenapa ibu bicara begitu? sebenarnya ada masalah apa?" batin Arya makin penasaran.


"ayo kita bicara di luar, jangan sampai dia terbangun karena mendengar tangisan ibunya" ajak Duwan lembut.


Setelah suara pintu kamar kembali tertutup rapat Arya langsung membuka matanya, bocah itu sangat penasaran dengan apa yang di bicarakan kedua orang tuanya.


Dengan sangat hati hati bocah itu mengendap endap ke arah pintu, dia menempelkan telinga dan berharap bisa mendengar dengan jelas.


"ada apa? ayo katakan padaku, apa kamu mendengar sesuatu saat di pasar siang tadi?" tanya Duwan.


"tidak" jawabnya.


"lalu kenapa kamu menangis begitu? apa ada sesuatu dengan raja Wijaya sampai membuatmu se gusar itu?" tanya Duwan serius.


"tidak ada, hanya saja tiba tiba aku merasa takut" ucapnya lirih.


"takut kenapa? tolong katakan dengan jelas, jangan sembunyikan apapun dariku" pinta Duwan.


"aku juga tidak mengerti, aku hanya merasa takut jika suatu saat Arya di rebut dariku, aku takut putraku meninggalkanku, aku takut sangat takut" ucapnya.


"bagaimana bisa seorang putra di rebut dari ibunya? dan bagaimana bisa seorang putra tega meninggalkan ibunya?" ucap Duwan.


"tetap saja rasa takut itu selalu mengikutiku, semakin aku mencintai dan menyayanginya rasa takut itu juga tumbuh semakin besar di hatiku" lirihnya.


"greep" Duwan memeluk istrinya.


"jangan berfikir begitu, Arya adalah putra kita sampai kapanpun dia tetap putra kita, jika ada yang berusaha merebutnya maka kita akan melawannya, jika anak bandel itu ingin meninggalkan kita dan membuatmu menangis maka aku akan mengikatnya dan memukul p*ntatnya" ucap Duwan menghibur.


"hiks .. hey .. ha haa kamu bicara apa" ucap Alara menangis di sertai tawa sekaligus.


"tentu saja bicara rencana masa depan, aku tak peduli entah itu Arya atau Dirga jika salah satu dari mereka membuatmu menangis maka aku akan memukul p*ntatnya"


"hey berhentilah membahas ******, kau membuat suasana haru menjadi geli" ucap Alara kesal.


"he hee begitu dong, aku lebih suka istriku tercinta marah marah dari pada menangis seperti tadi" ucap Duwan mengusap pipi istrinya.


"apa aku kelihatan jelek saat menangis?" tanya Alara.


"dari pada jelek kau terlihat seperti anjing terlantar yang sedang berteduh dari hujan di bawah pohon"


"kau mengatai ku mirip anjing?"


"lohh kenapa? kamu bahkan sering menyebutku kucing di depan anak anak" jawab Duwan tak mau kalah.


"anjing"


"aku serigala, dasar bodoh" ketusnya.


"ahh baiklah baiklah, aku tak peduli kamu itu serigala anjing atau kucing, apapun itu yang jelas kamu itu adalah istriku tercinta, emuah emuah emuah"


"plakk .. hentikan dasar kucing gila"


"ahhh ya yaa benar, aku memang gila hahaa" tawanya.


"pluk .. bisa bisanya aku menikah dengan lelaki seperti ini" gerutunya.


Paginya Duwan kembali pergi ke hutan, lelaki itu ingin mencari tanaman lumut yang akan menjadi ramuan barunya, karena beberapa hari lalu Arya yang menemaninya maka hari ini Dirga lah yang ikut.


Dirga dengan sangat senang mengikuti ayahnya ke hutan, karena di sana dia bisa bebas berubah bentuk dan melakukan balap lari bersama Kai, dan tentu saja bisa bebas seharian dari omelan sang ibu.


"Arya bisa bantu ibu?" teriak Alara dari halaman.


"sebentar bu" jawab Arya dari dalam.


Selang beberapa lama Arya keluar dengan membawa bukunya, tak terhitung sudah berapa buku pengetahuan yang di pelajari bocah itu, Alara sendiri sampai bingung bagaimana cara melepas putra pertamanya dari jerat buku.


"heh kalau jalan itu jangan sambil baca buku, nanti tersan .."


"bruukk .. aduhh" keluhnya.


"tuh kan? belum juga ibu selesai bicara" ucap Alara.


"he hee" tawanya.


"lepaskan buku itu, sekarang belah kayu kayu di sana" perintahnya.


"ehh banyak sekali bu" protesnya.


"kalau terus protes ibu akan tambah lagi tugasmu" ancamnya.


"ohh tidak tidak, akan aku selesaikan tugas itu sebelum ayah dan adik pulang" ucapnya langsung berlari.


"huhh dasar anak itu, apa sih asiknya membaca buku buku seperti ini?" geruti Alara heran.

__ADS_1


"praak bruk prak bruk" suara kayu yang terbelah terus terdengar di halaman rumah.


Tak peduli matahari berada di atas ubun ubunnya Arya terus membelah tumpukan kayu di depannya, bajunya yang basah sudah dia lemparkan ke sembarang arah, membuat tubuh putihnya terjemur di bawah matahari secara langsung.


"Arya berhenti dulu, makan dulu nak" panggil Alara.


"sebentar bu tanggung"


Arya adalah tipe anak yang sangat tak suka menunda pekerjaan, dia selalu berusaha menyelesaikan pekerjaannya sebelum melakukan pekerjaan lain.


Setelah selesai membelah kayu anak itu langsung memindah dan menumpuknya ke pinggir rumah, bahkan kayu kayu itu dia tata dengan rapih karena anak itu sangat suka kerapihan.


"aduuhh capeknya" keluhnya saat masuk ke dalam rumah.


"ibu menyuruhmu makan saat matahari di atas ubun ubunmu, dan kami baru masuk rumah saat matahari sudah condong ke barat" jawab Alara.


"ishh ibu ini crewet sekali" decaknya.


"bersyukurlah kamu punya ibu secrewet aku, sekarang mandi dulu sana" perintahnya.


"ahh tapi aku lapar" rengek Arya.


"mandi dulu Arya, lihat badanmu itu" keluh Alara.


"tapi aku lapar buu" rengeknya.


"salah siapa dari tadi tidak mendengarkan ibu?"


"huh baiklah, tapi nanti aku minta di suapi yah" ucapnya langsung berlari.


"suapi? hey memangnya kamu masih bayi" teriak Alara.


Setelah mandi dan berganti pakaian anak itu langsung duduk manis di depan ibunya, dia memasang senyum dengan wajah tak berdosa pada ibunya layaknya bocah berusia 2 tahun.


Setelah menarik nafas berat Alara lalu menyuapi putranya, Arya memang anak yang kaku dang dingin, tapi di hadapan Alara terkadang sikapnya berubah jadi sangat manja, dan kalau anak itu sudah meminta maka Alara takkan bisa menolaknya.


Selama makan Arya tak ada hentinya menatap wajah ibunya, hingga di suapan terakhir Alara sudah tak tahan dengan tingkah putranya.


"hisss kamu ini, sebenarnya ada apa di wajah ibu?" tanya Alara.


"ehhh .. tentu saja ada mata ada hidung dan ada bibir, memangnya apa lagi bu?" jawabnya


"trus kenapa menatap ibu begitu?" tanya Alara.


"memangnya tidak boleh menatap wajah ibu sendiri"


"hehh anak ini belajar dari mana kata kata seperti ini?" ucap Alara sedikit kesal.


"ho hooo tentu saja dari ibu, mana mungkin dari ayah" jawabnya jujur.


"aihh kau ini pandai sekali bermain kata kata yah" ucapnya menonyor kepal Arya.


"hehee, bu ngomong ngomong berapa usia ibu sekarang?"


"kenapa tanya itu?"


"aku ingin tau saja, dari tadi aku mengamati wajah ibu tapi tak ada kerutan sedikitpun di wajah ibu" jawabnya.


"hohooo tentu saja, selain cantik ibu juga pandai merawat diri" jawabnya narsis.


"ya yaaa makanya aku penasaran usia ibu, ibu bahkan masih sangat cocok di sebut sebagai kakak olehku"


"ha haaa kau ini sedang merayuku yah? kamu mau jadi hidung belang?" ucapnya.


"heii yang benar saja bu"


"haha baiklah baiklah usia ibu sudah 27 tahun" jawabnya.


"wah masih sangat muda, berarti ibu menikah di usia belasan tahun?" tanya Arya lagi.


"yaa benar, ibu menikah di usia 18 tahun" jawabnya.


"lebih atau kurang?"


"emm lebih 2 atau 3 bulan ibu tidak terlalu ingat" jawabnya.


"sekarang usia ibu 27 tahun dan dia menikah dengan ayah di usia 18, kalau 27 - 18 hasilnya 9, ayah dan ibu menikah kurang dari 9 tahun tapi usiaku sudah 9 tahun lebih 3 bulan?"


"bu"


"hmm"


"apa aku bukan putra kandungmu?"


"praaangg" piring di tangan Alara terjatuh.

__ADS_1


Laksana tersambar petir di siang bolong Alara hanya melongo tanpa bisa berkata kata, bahkan untuk bernafas saja kerongkongannya serasa sedang tercekik, baru saja semalam dia berbagi ketakutan dengan suaminya tapi sore ini justru ketakuyan itu terjadi padanya.


.....bersambung.....


__ADS_2