Anak Serigala

Anak Serigala
Peony tidak berwarna


__ADS_3

"Aryaa! akhirnya kamu bangun"


Setelah seharian tak sadarkan dingi akhirnya Arya membuka matanya, meski suhu tubuhnya sudah normal berjam jam yang lalu tapi anak itu baru sadar saat pagi menjelang.


Kemala, Arga dan Rian menjaganya semalaman karena khawatir, bukan tanpa alasan tentu saja karena ini adalah pertama kalinya Arya tak sadarkan diri, bahkan Kai juga ikut menjaganya.


"uhhh bibii"


"kenapa? apa kepalamu sakit"


"hanya sedikit pusing"


"uhh syukur.."


"bagaimana yang lainnya? tidak ada yang terluka kan?" tanya Arya tiba tiba.


"ihhh anak inii, kenapa kamu mengkhawatirkan yang lain, tidakkah kamu tau semengkhawatirkan apa keadaanmu kemarin?" ucap Kemala kesal.


"tapi sekarang aku baik baik saja bibi"


"dasar kamu yah, huhh tapi yang lainnya tidak apa apa, justru kamu yang membuat semuanya khawatir" ucap Kemala ketus.


"emm ya maaf"


Setelah bicara sebentar Arga memvawa istrinya pulang ke rumah dan Rian kembali ke balai, tabib sudah memeriksa keadaannya dan meminta Arya untuk beristirahat sehari lagi sampai kondisinya pulih.


Arya menggosok cincin ruangnya dan sebuah permata berwarna ungu keluar, anak itu terus memandangi permata ungu yang besarnya hampir sekepal tangannya.


"hmm ternyata aku bisa mengalahkannya" gumamnya sambil tersenyum.


Setelah merasa baikan Arya kembali ke kediamannya, sepanjang jalan murid yang pergi bersamanya terus menanyakan keadaannya, dan Arya hanya menjwab seperlunya saja.


"Arya!"


"hmm kenapa kak?"


"sini ikut aku sebentar" ajak Bimo menarik tangannya.


Sebenarnya kurang lebih Arya sudah tau masalah apa yang akan di bicarakan Bimo padanya, apalagi Bimo menariknya ke tempat sepi, sudah pasti anak itu akan menanyakan tentang kejadian di goa.


"Ya sebenarnya apa yang terjadi? aku ingat sekali sedang melihat pertarunganmu kemarin, tapu kenapa aku tiba tiba ada di luar goa?" tanya Bimo penasaran.


"aku tidak tau"


"masa sih? tapi kata Dana kamu berhasil mengalahkan kelelawar besar itu?"


"yap"


"wahh hebat sekali kamu, luar biasaaa"


"kak aku duluan ya, badanku masih kurang enak"


"ohh ya ya pergilah"


Sepanjang jalan anak itu masih terus berpikir, menghindari pertanyaan Bimo dan yang lainnya itu perkara mudah, tapi bagaimana cara menghindari pertanyaan bibi gurunya, bibi gurunya pasti akan terus mendesaknya, entah alasan apa yang akan di gunakan anak itu nanti.


"Arya"


"iya"


"duduk"


"iyah" jawab Arya lesu.


"katakan!"


"apa?"

__ADS_1


"Aryaaa"


"ishhh baiklah, aku mengalahkannya"


"sendirian?"


"emm yaa bisa di bilang begitu"


"bagaimana bisa? padahal yang lainnya tidak ingat apa apa"


"kelelawar itu menggunakan sihir pengendali pikiran, mereka semua terkena efeknya jadi wajar kalau mereka tidak ingat apapun" jelas Arya pda Kemala.


"lalu bagaimana denganmu?"


"mentalku cukup kuat jadi aku tidak terpengaruh olehnya"


"apa mental kuat benar benar bisa mengalahkan ratu kelelawar itu?"


"ehh dari mana guru tau itu ratu?"


"Aryaa mau sampai kapan kamu begini? apa kamu masih belum juga mempercayaiku?" tanya Kemala sedih.


"bu-bukan begitu bibi, aku hanya.."


"sudahlah kamu istirahat saja sana, aku akan memanggilmu untuk makan malam nanti" ucap Kemala berlalu pergi.


"maaf bibi, aku hanya belum siap mengatakannya" batin Arya.


Saat makan malam keheningan datang menyelimuti, Kemala yang biasanya cerewet hanya diam saja tak berbicara sedikitpun, Arga juga sampai bingung di buatnya.


Arya sendiri merasa bersalah karena belum bisa jujur sampai sekarang, padahal Kemala selalu menantikan anak itu sedikit membuka diri, namun Kemala tidak tau anak didiknya yang satu itu memiliki sesuatu yang sangat terpendam.


"bibi maaf" ucap Arya membuka pembicaraan.


"kenapa?"


"ya"


Mendengar dialog antar istri dan muridnya membuat alis Arga mengerut, padahal biasanya istrinya akan sangat antusias jika berbicara dengan Arya, tanpa bicarapun akhirnya Arga sadar ada sesuatu antara istri dan muridnya.


Arya merebahkan diri di kasur sederhana kamarnya, anak itu terus menatap langit langit kamar dengan tatapan kosong sekosong hatinya, kepergian adiknya benar benar membuatnya kehilangan banyak emosi, anak itu semakin sedikit bicara dan semakin menyendiri.


Berkali kali dia menghembuskan nafas berat seolah begitu lelah dengan beban di pundaknya, bayangan ibunya yang menyanyikan lagu tidur terakhir kalinya tergambar jelas di ingatannya, air matapun meleleh begitu saja mengenang kebahagiaan bersama keluarga kecilnya dulu.


"ibuu apa aku bisa melewati semua ini? apa aku bisa hikss"


Kemala yang tudak sengaja mendengar gumaman Arya membekap mulutnya sendiri, wanita itu menyadari sikapnya barusan justru menyakiti Arya, Kemala lupa bahwa anak yang di asuhnya kemungkinan punya alasan besar menyembunyikan segala hal.


Belum lagi baru beberapa hari Arya di tinggalkan adiknya, satu satunya keluarga yang dia miliki, kemungkinan anak itu sedang merasa sendirian sekarang, bukannya menenangkan justru Kemala menekannya begitu.


* * * * *


"hoaaaaam"


"uhhh badanku pegal sekalii"


"selamat pagi papa" sapa Neesa penuh cinta.


"selamat pagi Neesa" balas Dirga singkat.


Tak jauh di sebelahnya gadis yang mengikutinya selama beberapa hari masih tertidur, nampaknya tidurnya sangat nyenyak sampai Dirga tidak tega membangunkannya.


Belum genap satu bulan Dirga bersama Neesa, tapi binatng kecil itu sudah memperlihatkan banyak perubahan, jika dulu saat baru menetas kulitnya berwarna oren kemerahan sekarang sudah sepenuhnya berwarna merah, dan lagi tunas di punggungnya tumbuh semakin panjang.


Dan hal yang semakin membuat kagum belum lama ini dia bisa berkomunikasi, yaa walaupun panggilan papa terus terdengar olehnya.


"uhh tuan apa kau sudah bangun dari tadi?"

__ADS_1


"tidak, aku belum lama bangun"


"maaf karena aku terlambat bangun"


"tidak masalah, dan tolong jangan panggil aku tuan, aku ini masih sangat muda asal kau tau saja"


"ka-kalau begitu tuan muda?"


"haiisss aku ini bukan tuanmu, panggil saja aku Dirga"


"tuan Dirga?"


"hiss bukan, Dirgaa Dirgaaa" ucap Dirga gemas.


"baik tu ... Dirga"


"ngomong ngomong siapa namamu?"


"namaku Peony"


"Peony? namamu agakk.."


"Peony itu nama bunga"


"bunga? aku baru mendengarnya, bunga seperti apa itu?" tanya Dirga penasaran.


"emm bunga itu mirip seperti mawar, tapi tangkainya tidak berduri, bunganya cukup besar dan cantik dan bunga itu punya beberapa warna, warna merah muda, putih kuning dan dan merah cerah, setiap warna punya makna tersendiri" celotehnya panjang.



"lalu apa warnamu?"


"warnaku .. aku tak memiliki warna" ucapnya pelan.


"kenapa?"


"hmm?"


"kenapa kamu bilang tidak memiliki warna, orang tuamu memberi nama itu pasti dengan harapan sesuai makna bunga itu kan?"


"yaa mungkin kamu benar, tapi bunga Peony memiliki banyak makna dan aku rasa hidupku tidak ada satupun di antara makna tersebut" jawab Peony lesu.


"katakan!"


"hmm?"


"katakan padaku apa saja arti bunga Peony"


"Bunga Peony putih \= Permintaan maaf


Bunga peony putih bukan hanya simbol kecantikan, namun juga diartikan sebagai rasa malu dan penyesalan, menjadikannya sebagai ekspresi penyesalan dan menebus kesalahan.


Bunga peony merah \= Perayaan


Seperti banyak hal berwarna merah, bunga peony merah melambangkan cinta, gairah, kemakmuran, kekayaan, dan kehormataan.


Bunga peony kuning \= Sambutan


Bunga peony kuning melambangkan awal yang baru, menjadikannya ideal bagi siapa saja yang memulai babak baru dalam hidup mereka, baik itu pekerjaan baru atau memberi selamat atau sesuatu yang baru diraih.


lalu


Bunga peony merah muda \= Pernikahan


Bisa dibilang merah muda adalah warna paling klasik dan bunga peony merah muda sangat cocok ada di pesta pernikahan, karena bunga ini mewakili pernikahan yang bahagia, keberuntungan, dan kemakmuran.


Dari keempat makna bunga Peony tidak ada satupun yang sama dengan kehidupanku, itulah kenapa aku bilang bahwa aku adalah Peony tanpa warna" ucap gadis itu tertunduk.

__ADS_1


......bersambung.....


__ADS_2