
"tuan apa aku benar benar boleh mengikutimu?"
"lakukan semaumu, tapi aku tidak bertanggung jawab atas keselamatanmu"
"baik!" serunya senang.
"apa gadis ini benar benar tak waras? kenapa dia sesenang itu?" batin Dirga heran.
"kenapa kau ingin mengikutiku?"
"emm aku.."
"kamu tidak berencana menusukku dari belakang lagi kan?"
"tidak! aku bersumpah atas nyawaku aku tidak akan melakukan kebodohan semacam itu lagi" ucapnya tegas.
"emm yaaa baiklah, jadi?"
"jadi?"
"kenapa kau mengikutiku?"
"oh itu .. itu"
"itu ituu, bicara yang jelas"
"aku ingin mengabdikan hidupku padamu" teriaknya.
"HAH? aku tidak salah dengar?"
"benar tuan, aku .. aku bersungguh sungguh mengatakannya" jawabnya tertunduk.
"kemarin ingin jadi wanitaku sekarang ingin mengabdikan hidup padaku, kamu tidak punya pendirian" celetuk Dirga.
"blussh" pipinya memerah.
"uhh itu aku .. aku benar benar minta maaf, aku sama sekali tidak tau diri waktu itu, sekarang aku menyadari posisiku" kali ini Emely benar benar tak punya muka untuk berbicara pada Dirga, rasa malu saat mengingat kekonyolannya seminggu lalu benar benar membuatnya malu setengah mati.
* * * * *
"Kai apa kau tak merasakan apapun tentang adikku?"
"tidak, kurasa dia baik baik saja"
"sungguh?"
"apa kau pikir aku berbohong?" ucap Kai sinis.
"bukan begitu, aku hanya ... sangat merindukan ocehannya"
"ya .. kepergian anak itu memang mengosongkan hatiku" ujar Kai menimpali.
"apa kau punya hati?"
"kau pikir aku batu?" dengus Kai kesal.
"heheee"
"mau sampai kapan kau begitu? telingamu tidak panas mendengar omelannya sepanjang hari?"
"hhh entahlah, aku hanya belum ingin mengatakan apapun"
__ADS_1
"kamu di sini hampir 8 tahun Arya, apa kamu masih belum juga mempercayainya?"
"bukan begitu Kai, aku percaya pada paman dan bibi tapi aku harus memulai dari mana untuk bercerita kepada mereka? apa aku harus mengatakan semuanya?" tanya Arya meminta pendapat.
"otakmu itu jauh lebih encer dari tuanku yang sekarang, kamu pasti tau mana yang harus kamu ceritakan dan mana yang tidak"
"apa aku perlu mengatakan jati diriku dan Dirga yang sebenarnya?" Arya memandang Kai dengan tatapan penuh tanda tanya.
"memangnya kamu sudah siap? apa kamu sudah mengumpulkan kekuatan?"
"sebenarnya aku sedikit berfikir, andai orang orang tau jati diriku pasti aku bisa menemukan beberapa pendukung ayahku di masa lalu, aku ingin mengumpulkan mereka, aku sadar kekuatanku sendiri takkan mampu mengalahkan laki laki itu, tapi kejadian itu sudah hampir 17 tahun Kai, apa masih ada pendukung ayah?"
"mau ku ceritaka sesuatu?"
"apa?" tanya Arya antusias.
"sebenarnya beberapa bulan lalu sebelum Kemala mengandung aku sempat mendengar kabar tentang senopati Kelana" (senopati Kelana adalah kakak sepupu Retno ayu ibu kandung Arya)
"apa? sungguh?"
"aku hanya mendengarnya sebentar, tapi menurut apa yang ku dengar orang itu belum mati"
"kalau berita itu benar.."
"kamu memiliki kesempatan untuk mengumpulkan pendukung ayahmu Arya, karena bagaimanapun juga orang itu adalah senopati kepercayaan kakek dan ayahmu, dia sangat berpengaruh"
"di mana kau mendengarnya?"
"di sekitar kota Purna, aku mendengar saat menunggu Kemala menukar permata di Asosiasi Mawar Besi"
"Asosiasi Mawar Besi? maksudmu toko senjata yang memperjual belikan pusaka yang mengandung permata iblis?" tanya Arya memastikan.
"tchh bagaimana caraku menemukannya?" ujar Arya frustasi.
Arya berjalan gontai memasuki rumah kediamannya, baru saja dia berfikir bisa menemukan orang yang bisa membantunya tapi jalan buntu kembali menghadangnya.
"kenapa Ya?"
"tidak papa"
"huufftttt sabar sabaar" Kemala menghembuskan nafas panjang sambil mengelus perutnya.
Waktu terus berlalu dan 6 bulan kembali terlewat, genap satu tahun sudah Dirga dan Arya berpisah, mereka berdua benar benar menjalani jalan yang berbeda sekarang, Arya pikir adiknya tidak akan selama itu meninggalkannya, tapi nyatanya sampai 1 tahun lamanya adiknya tak kunjung datang.
* * * * *
"kamu terlalu lambat"
"jangan lengah!" teriak Dirga pada Emely.
Sudah setengah tahun Emely mengikuti Dirga mengembara, sesuai perkataan anak itu dia sama sekali tidak bertanggung jawab atas keselamatan Emely, tapi sebagai gantinya Dirga membantunya meningkatkan kekuatan dan kecepatan serangannya.
Emely adalah seorang anak keturunan Negeri Bulan, ayahnya menikah dengan wanita asli negeri bulan dan melahirkannya 17 tahun lalu, sayangnya setelah Emely lahir ibunya memilih kembali ke negerinya dan meninggalkan Emely yang masih bayi.
Ayahnya yang frustasi mengabaikan Emely dan selalu sibuk dengan arak dan wanita, Emely kecil tumbuh di bawah asuhan neneknya yang tua dan tak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.
Saat Emely berusia 7 tahun neneknya meninggal, ayahnya selalu memperlakukannya secara kasar karena wajahnya sangat mirip dengan ibunya, karena sudah tidak tahan dengan siksaan ayahnya Emely melarikan diri dari rumah di usia 12 tahun.
Anak itu mengemis dan melakukan pekerjaan serabutan untuk menyambung hidupnya, selama hampir 2 tahun Emely hidup di jalan bersama anak jalanan lainnya, kehujanan kepanasan dan kelaparan sudah jadi kesehariannya.
Sebelum usianya genap 14 tahun Emely bertemu dengan Klain bersaudara, mereka adalah perampok kelompok kecil yang waktu itu baru mulai terbentuk, di sana Emely berperan sebagai umpan untuk mangsa rampokannya.
__ADS_1
Mereka hanya merampok pedagang kecil yang melewati area tempat mereka singgah, memang Klain bersaudara hanyalah perampok yang terdiri dari preman preman pasar dan pelaku kejahatan kecil, jadi tak heran mereka tidak memiliki kekuatan yang besar.
Setiap mangsanya lewat Emely akan berpura pura sebagai gadis yang terluka atau tersesat, dengan sedikit menggoda calon korbannya Emely akan mudah menguasainya, saat si korban lengah Emely akan menusuknya dengan jarum beracun atau pisau terbang miliknya, dan setelah itu rekannya akan mengepung dan merampoknya hingga habis.
Saat pertama kali bertemu Dirga Klain bersaudara sudah terpecah, Emely hanya bisa mengikuti 4 orang rekannya dan berakhir mengikuti Dirga sekarang.
"sudah hentikan, kau terlalu lelet"
"maaf tuan, aku akan berusaha lebih baik"
"hhh padahal aku akan pergi ke hutan terkutuk, kalau kamu masih begini lebih baik tak usah mengikutiku" dengus Dirga sedikit kesal.
"apa tuan sungguh akan ke sana?"
"ya"
"bukannya tuan tau pendekar sekuat apapun yang masuk ke sana tak pernah kembali sampai sekarang?"
"aku tau, tapi aku harus ke sana"
"kalau begitu aku akan ikut"
"kamu mau mati sia sia?"
"aku akan berusaha lebih keras lagi tuan, aku janji takkan membebanimu" ucap Emely terus meyakinkan.
Sebenarnya Dirga merasa agak tidak enak kalau terus membentaknya, bagaimanapun juga selama 6 bulan ini Emely mengikutinya dengan patuh, gadis itu tak pernah megeluh atau protes walau menerima pelatihan sekeras apapu darinya.
Bukan hanya itu gadis itu juga dengan cekatan mengurus perapian jika mereka berhenti di suatu tempat, bahkan tidak tanggung tanggung gadis itu akan mencucikan pakaian Dirga.
"hhh kadang aku merasa seperti orang yang jahat" keluhnya dalam batin.
Dirga sendiri mengakui kalau Emely adalah orang yang gigih, adakalanya dia harus melawan yang jauh lebih tangguh darinya tanpa bantuan Dirga dan kerap kali terluka, namun setiap Dirga mengobatinya Emely hanya tersenyum seperti orang bodoh.
"kau berhenti saja mengikutiku" ucap Dirga kembali membuka pembicaraan.
"DEG"
"tuan apa aku benar benar hanya menjadi beban? aku janji akan berlatih dua kali lipat lebih keras lagi, aku.."
"bukan begitu, sudah berapa banyak luka yang kamu dapatkan dalam kurun waktu 6 bulan ini?"
"i-itu .. memang agak banyak tapi aku tidak pernah terluka parah"
"kamu mau sampai terluka parah?"
"tidak bukan begitu tapi .."
"sekarang katakan padaku alasanmu ingin terus bersamaku"
"a-aku.. akuu..."
"jawabanmu akan menentukan ikut atau tidaknya kamu ke hutan terkutuk, jawab dengan jujur sejujur jujurnya"
"aku mengikutimu karena aku merasa jadi diriku sendiri tiap bersamamu tuan, meski kata kata pedas sering keluar darimu tapi aku selalu merasa baik baik saja, jujur saja kau terkadang kejam padaku, kau tega membiarkan wanita sepertiku melawan serigala sendirian, di awal aku mengikutimu kau juga menyuruhku untuk melumpuhkan 4 orang tanpa membunuh, kau sangat sering memerintahkan hal yang tidak masuk akal bagiku tapi .. tapi di balik itu semua aku tau alasanmu meyuruhku melakukan itu untuk kebaikanku sendiri, kau selalu memarahiku setiap aku melakukan kesalahan, aku tetap diam saja meski aku tau usiamu lebih muda dariki, kau tau kau itu sangat menyebalkan tapi aku ingim tetap mengikutimu" jelasnya panjang.
"a-apa katamu? aku menyebalkan😨? akuuu?
"ahhh i-itu itu ... tuan ituu a-aku huaaa maafkan aku tuan aku kelepasan bicara, hukum saja aku tapi tolong jangan larang aku untuk terus mengikutimu tuan😭😭😭"
....bersambung.....
__ADS_1