Anak Serigala

Anak Serigala
Ampunan terakhir


__ADS_3

"to-tolong ampuni aku, jangan bunuh aku" pinta gadis bernama Emely.


"kemana perginya keangkuhanmu tadi nona? kenapa sekarang kamu mengemis ampunan dariku" ejek Dirga.


Setelah semua rekannya tumbang Emely meringkuk ketakutan di pojokan, gadis itu tak pernah meyangka kalau keempat rekannya kehilangan nyawa hanya karena satu pemuda.


Sorot mata tajamnya langsung meusuk ke hatinya dan menyebarkan ketakutan, belum lagi keadaan guntur yang semakin mendukung suasana jadi makin mencekam.


"aku akan berikan seluruh hartaku padamu, aku akan beri semua tapi ampuni nyawaku"


"harta?"


"i-iyaa sebentar akan aku ambil"


Setumpuk perhiasan dan koin emas tergeletak di depan Dirga, anak itu sama sekali tidak tahu kalau di rumah tua yang dia tempati untuk berteduh ada harta sebanyak itu.


"hmm baiklah, aku takkan mebunuhmu"


Dalam sekejap srluruh harta benda di depannya menghilang, Dirga sedah memasukkannya ke dalam cincin ruang warisan ayahnya, Emely yang melihat seluruh harta itu menghilang berulang kali mengucek matanya karena tak percaya.


"ke-kemana perginya perhiasan koin itu?" ucapnya penasaran.


"bukan urusanmu, pergi sana" usir Dirga.


"tapi di luar masih hujan deras tuan muda"


"kau bisa pindah ke rumah lain"


"ha-hanya rumah ini yang masih bisa di tempati tuan, tolong ijinkan aku tetap di sini sampai hujan reda" pintanya.


"ya sudah terserah"


Dirga berlalu meninggalkannya begitu saja, tangannya msih bergetar hebat melihat 4 rekannya yang sekarang sudah jadi mayat, bagaimanapun juga mereka berlima adalah perampok yang sudah bertahun tahun menguasai area di sekitar desa mati itu, rasaya tentu menakutkan saat seluruh rekannya mati tepat si hadapannya sendiri.


Sementara Emely gemetar ketakutan Dirga justru bersikap tak peduli, memang benar ini bukan kali pertama Dirga membunuh orang, dulu saat mengikuti tetua Seto memburu segerombolan perampok Dirga pernah membunuh salah satunya.


Hari itu selama seharian penuh Dirga selalu muntah dan merasa pusing, perasaan aneh yang bergejolak di hatinya benar benar membuatnya tak nyaman, tapi untungnya Seto menyemangatinya dan perlahan Dirga mulai melupakan kejadian tersebut.


Namun sejujurnya di balik wajah cueknya itu jantungnya berdebar kencang, bagaimanapun juga dia sudah menghilangkan empat nyawa hari ini, tetap saja ada sedikit rasa takut dan menyesal.


Tapi mengingat tekadnya untuk menjadi terus kuat, hal semacam ini akan semakin sering di temuinya di masa depan, mau tak mau anak itu harus mulai membiasakan diri.


"tuan muda" seru gadis bernama Emely lembut.


Dirga yang tadinya sedang rebahan menengok ke arah asal suara itu, terlihat Emely melucuti pakaiannya satu persatu, dan perlahan berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"tidakkah tuan muda merasa dingin? aku bisa menghangatkan tubuhmu" bisiknya ke telinga.


Durga yang belum pernah mengalami hal tersebut justru merinding di buatnya, bahkan keningnya sampai mengkerut saking herannya, bagaimana bisa gadis itu menawarkan tubuhnya pada orang yang hampir membunuhnya tadi pikirnya.


Gadis itu terus memberanikan diri meraba dada Dirga yang notabenya masih remaja, namun karena perawakannya jangkung banyak orang yang salah paham padanya.


"bruug" Dirga mendorongnya.


"apa yang kamu lakukan?" tanya Dirga dengan tatapan serius.


"i-itu tuan aku hanya.."


"menjijikan"


Seketika gadis itu tersentak kaget, lagi lagi pikirannya mengenai Dirga salah, dia pikir bisa menggoda pemuda di depannya, tapi justru kata menjijikan terlontar dari mulut pemuda itu tanpa ekspresi.


Dirga kembali berdiri dan berpindah tempat, dia masih bergidig dengan kelakuan gadis tadi, sementara gadis itu masih termangu tak percaya, padahal menurutnya wajahnya cantik dan tubuhnya juga sexy, tapi yaa mau bagaimana lagi gadis itu salah sasaran.


Perut keroncongan membangunkan Dirga dari tidurnya, sepanjang hari hujan deras membuatnya malas beraktifitas, tapi karena rasa lapar sudah menghampiri maka mau tak mau dia harus bergerak.


Gerimis masih rintik rintik Dirga berjalan lagi ke arah hutan, biasanya kalau gerimis begini akan mudah mendapatkan ayam hutan karena mereka biasanya berteduh di bwah pohon.


Setelah mendapatkannya Dirga kembali ke rumah yang di tempatinya dan mengolahnya, sebenarnya anak itu agak kurang nyaman harus makan dengan pemandangan mayat di sekitarnya, tapi karena malas menyingkirkannya ya sudah.


"kenapa kau terus mengikutiku?"


Emely terus mengikutinya sejak Dirga keluar dari desa, awalnya Dirga membiarkannya karena malas berurusan dengannya, tapi semakin lama rasa tak nyaman kian membesar karena merasa terus di awasi.


"a-aku hanya akan mengikutimu sampai keluar hutan" ucapnya.


"lalu kenapa mengendap endap begitu?"


"ituu akuu .. aku pikir kau pasti takkan mengijinkanku mengikutimu"


Seolah tak peduli dengan alasannya Dirga kembali berjalan dengan santainya, anak itu merasa sudah tak ada urusan apapun dengannya jadi dia memilih mengabaikannya.


Saat gelap Dirga memilih tidur di atas sebuah pohon yang sudah tumbang, mungkin karena pagi tadi sudah hujan malam ini langitnya terlihat cerah karena bintang bertaburan.


"selamat tidur papa"


"selamat tidur Neesa" gumam Dirga sebelum terlelap.


Dari kejauhan sepasang mata terus mengawasi setiap aktifitasnya, mata itu terus mendekat dan mendekat dengan pelan, telinganya mampu mendengar suara langkah pelan itu namun Dirga memilih diam saja.


Deru nafas yang terdengar berat seakan membuat Dirga menyadari bahwa orang itu sekarang dalam keadaan tegang, entah apa yang akan dia lakukan sampai terdengar setegang itu.

__ADS_1


"wushhh🔥"


"kyaaaaaaa"


Gadis itu menjerit dengan keras saat tiba tiba ada api yang menyembur wajahnya, meski api itu tidak besar tetap saja api itu mengenai setengah wajahnya dan membakar rambutnya.


"panas ahhh panaas tolooong" teriaknya.


Dirga yang kaget langsung berdiri dan pemandangan tersebut semakin membuatnya kaget.


"apa yang kamu lakukan Neesa?" tanya Dirga bingung.


"orang itu mengarahkan jarum ke arah papa, Neesa tidak suka"


"jarum? apa kamu berniat membunuhku?" tanya Dirga geram.


"huaa panas .. ampun ampun aku bersalahh to-tolong aku kumohon"


Api itu sudah padam setelah beberapa kali Emely menggosokkannya ke rumput, tapi rasa panas terus menjalar dan menyiksanya, sebenarnya Dirga sedikit tidak tega melihatnya, tapi mengingat bahwa gadis itu berniat membunuhnya rasa kasihan itu langsung mati begitu saja.


"dasar manusia tidak tau diri, sudah ku ampuni tapi masih berusaha menusukku dari belakang" bentaknya kesal.


"a-aku salah aku salah, tolong akuu ini sangat panas ahhkk"


Hampir seperempat wajahnya melepuh terkena api Neesa, rambutnya juga sebagian sudah hangus terbakar, sudah tidak lagi terlihat wajah cantik yang gadis itu bangga banggakan, yang ada hanya tubuh menyedihkan.


"kenapa kau melakukannya?"


"aku .. aku merasa kesal, aku kesal karena kau mengabaikanku" teriaknya.


"karena kesal kau berniat membunuhku? apa kamu sudah lupa aku sudah membunuh empat temanmu?"


"kenapa? kenapa kamu tidak tergoda olehku? andai kamu menjadikanku wanitamu aku takkan jadi begini" ucapnya lagi.


"wanitaku? jangan mimpi!" ucap Dirga tak mempedulikannya.


Gadis itu menangis sejadi jadinya, rasa panas dan perih di tubuh juga hatinya membuatnya menampakkan sisi yang menyedihkan, Dirga kembali merasa tak tega dan membantunya menghilangkan rasa sakit dengan mengalirkan tenaga dalam padanya.


"ini ampunan terakhir dariku, sekali lagi kamu berusaha menusukku dari belakang maka tidak ada lagi hari esok untukmu" ucap Dirga setelah selesai mengobati.


"kenapa papa membantunya? orang itu jahat, dia berniat menyakiti papa" protes Neesa pada Dirga.


Dirga hanya diam tak menjawab, dia hanya mengelus kepala Neesa dan kembali melanjutkan tidurnya.


.... bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2