Anak Serigala

Anak Serigala
Menunggu


__ADS_3

"takk .. buakk" sebuah pukulan mendarat telak.


"jangan sombong Krisna, sekalipun kedua kakiku putus kau takkan bisa menandingiku" ucap Rian kesal.


"prok .. prok"


"hebat paman guru, kau benar benar yang terbaik aku suka gayamu" ucap Dirga.


"pletak .. bisa diam?" ucap Arya kesal.


"ishh kakak ini" gerutunya.


"cuiihh sial*n kau Rian, ku bunuh kau sekarang" ancamnya.


Dengan langkah cepat Krisna mendekati Rian, pedangnya sudah siap membabat habis apapun yang di lewatinya.


Meski sedikit sulit tapi Rian bisa mengimbangi setiap serangan Krisna, tangannya dengan lincah menangkis serangan pedang di depannya.


"trang .. trang"


Benturan pedang dan pelindung tangan Rian beradu, di balik baju Rian terpasang sepasang pelindung lengan yang di berikan oleh Kemala beberapa tahun lalu dan untungnya hari ini dia memakainya.


"cihh kau menggunakan pelindung rupanya" ucap Krisna kesal.


"duaaar" sebuah ledakan terdengar.


Terlihat Kemala di selimuti api amarah, cahaya kuning yang dia lepaskan meledakkan hampir seperempat bangunan restoran yang baru mereka singgahi.


"jangan kurang ajar kau Krisna! beraninya kau menyerang kakakku" bentak Kemala.


"chh apa kau mau membunuhku Kemala?" ucap Krisna kesal.


"bukankah dari tadi kau yang sesumbar ingin membunuh paman guru?" ucap Dirga kesal.


"diam kau bocah!"


"jangan membentak adikku!" bentak Arya.


"hah dua anak kecil ini benar benar menyebalkan" gerutu Krisna.


"kalau mau bertarung ayo bertarung denganku" tantang Kemala.


"aku tak suka melukai perempuan" elak Krisna.


"tak suka atau tak bisa?" ucap Kemala lagi.


"heh kau pikir kemampuanmu bisa mengimbangi kemampuanku?" ucap Krisna sombong.


"LANGIT TAK PERNAH MENGATAKAN DIRINYA TINGGI


BUMI TAK PERNAH MENGATAKAN DIRINYA TEBAL


ORANG HEBAT TAK PERNAH MENGATAKAN DIRINYA HEBAT

__ADS_1


dan di sini ana seseorang yang berbicara melebihi tingginya langit tanpa bisa membuktikannya" ucap Arya.


"apa maksudmu bocah? kau mengejekku?" ucap Krisna makin kesal.


"hiyaaaa"


"duaarrr"


"tak tau malu kau, berani sekali menyerang anak kecil" ucap Kemala geram.


Setelah Kemala mengatakan hal itu mulai banyak orang yang membicarakan sikap Krisna, mereka menyayangkan sikapnya yang terlalu sombong dan mudah emosi.


Rian dan Krisna merupakan rival sejak kecil, keduanya selalu berlomba jadi murid terbaik di sekte ombak laut, 10 tahun lalu saat keduanya masih berusia 18 tahun mereka melakukan duel yang di saksikan banyak murid sekte.


Meski kemampuan keduanya hampir imbang tapi kemampuan dan pemahaman Rian masih di atas Krisna, itu semua karena kakeknya sering menitipkannya pada adik seperguruan ayahnya untuk ikut menjalankan misi.


Dalam duel yang mereka lakukan Krisna kalah telak dari Rian, dan semenjak hari itu Krisna sering di ejek oleh temannya, dan sejak hari itu juga Krisna sangat membenci Rian, apalagi gadis yang di sukainya menolaknya mentah mentah karena lebih menyukai Rian.


Sebenarnya paras Rian terbilang biasa saja, bahkan kalau di bandingkan masih lebih tampan Krisna, namun kalau menilai dari sifat dan sikapnya tentu saja kebanyakan gadis lebih menyukai Rian, makanya tak heran kalau Krisna dendan setengah mati padanya dan benar saja saat Rian mengalami musibah Krisna sangat girang, pemuda itu begitu antusias saat tau rivalnya jadi cacat.


"pergilah dari sini sebelum kau semakin di permalukan" ucap Kemala.


"awas saja, kalian akan menerima akibatnya" ancamnya langsung pergi.


"haihh dia benar benar menghancurkan suasana hatiku" gerutu Kemala.


"sudahlah Kemala, kesombongannya itu sudah mendarah daging dan itu sudah turun temurun dari keluarganya" ucap Rian.


"dia sangat menyebalkan kakak, harusnya tadi aku patahkan kakinya agar dia tau seberapa menderita dirimu" ucap Kemala.


"m-maaf kak" ucap Kemala langsung tertunduk.


"tak apa, kau bilang ingin membelikan dua anak itu pakaian" ucap Rian mengalihkan pembicaraan.


"ahh iya benar, ayo anak anak kita belanja sepuasnya, kakak ayoo" ucapnya kembali semangat.


Entah kemana perginya kekesalannya itu, mendengar kata belanja suasana hatinya langsung membaik.


Rian pun mengganti kerusakan kedai makanan dan memohon maaf sebesar besarnya, mereka berempat masuk ke tokobpakaian dan membeli begitu banyak pakaian, Arya dan Dirga di belikan masing masing 5 pasang pakaian, Rian di belikan 3 pasang dan Kemala membeli hampir 10 gaun.


"b-bibi guru!"


"hmm, kenapa Dirga?" tanyanya tanpa menoleh.


"apa belanjaan ini masih belum cukup? bibi guru mau membeli berapa banyak pakaian?" keluh Dirga.


"ohh apa aku sudah memebeli banyak pakaian?" ucapnya.


Terlihat Arya tertidur bersender pada Rian, dan Rian sendiri menyandarkan tubuhnya ke dinding toko, kedua laki laki itu tidur dengan sangat nyenyaknya, sementara Dirga mulai kehabisan tenaga mengikuti Kemala keliling toko memilih pakaian.


"aku lebih suka di hukum ibu dari pada mengikuti bibi guru belanja" gumam Dirga.


Setelah Kemala menyelesaikan pembayaran belanjanya hari sudah hampir gelap, Arya dan Rian menggeliat setelah puas tidur hampir setengah hari.

__ADS_1


"oy kenapa kamu?" tanya Rian.


"aku takkan mau lagi mengikuti bibi guru belanja" bisik Dirga.


"kenapa?" tanya Rian.


"paman guru tidak lihat aku hampir mati kebosanan mengikuti bibi guru memilih pakaian, paman dan kakak sih enak tidur sepuasnya" gerutu Dirga.


"ha ha begitu yah? adikku memang begitu" ucap Rian.


Setelah kembali keempatnya langsung masuk ke kediaman masing masing, Rian tinggal di sebuah bangunan di belakang balai pembukuan, pemuda 28 tahun itu tinggal bersama beberapa murid sekte yang juga bertugas di balai pembukuan sepertinya.


"adik pakai ini" ucap Arya.


"ehh ini kan kalung ibu" ucap Dirga.


"iya kalung itu ada di cincin ibu" jawab Arya.


"kakak juga menggunakan kalung?" tanya Dirga.


"hmm, ibu bilang ini untukku" jawabnya.


"hahhhh aku merindukan ayah dan ibu, sudah berapa lama kita berpisah dengan mereka kak?" tanya Dirga.


"hampir 5 bulan kita berdua tanpa ayah dan ibu, hhh aku juga sangat merindukan mereka" ucap Arya ikut menghela nafas.


Tanpa sadar keduanya mulai berbincang dan menceritakan kenangan masa kecil mereka, kenangan saat mereka berdua di hukum bersama ayahnya, kenangan saat ibunya menyentil dahi mereka dan banyak lagi.


Keduanya bernostalgia sampai terlelap, kedua anak itu memiliki kebiasaan seperti Duwan, saat mereka memendam kesedihan maka mereka berdua menangis dalam tidur.


"ohh mereka berdua sudah tidur" ucap Kemala saat masuk ke kamar dua muridnya.


"hmm kalian ini terlalu bersikap dewasa, padahal kalian hanya anak 9 dan 6 tahun" ucapnya mengelus kepala muridnya.


"kak Alara aku tak tau hal apa yang menimpamu tapi aku akan menjaga dan mendidik kedua putramu" batinnya.


Dengan hati hati Kemala menyelimuti dua bocah di depannya, terkadang Kemala merasa kematian Alara dan kedatangan kedua anaknya layaknya misteri, meski sudah berusaha mencari tau tapi kenyataannya Kemala tidak bisa menemukan informasi apapun, seolah informasi tentang mereka benar benar tersembunyi.


"kakak"


"kenapa?"


"aku tidak bisa menemukan informasi apapun"


"yahh kalau begitu mau tak mau kita harus menunggu mereka membuka hatinya" ucap Rian pda adiknya.


"tapi sampai kapan? meski sebentar tapi aku yakin kak Alara dan suaminya adalah orang yang baik dan kuat, aku tidak percaya mereka berdua mati terbunuh oleh perampok biasa"


"kita hanya dua hari bersama mereka, kita tidak tau masalah apa saja yang mereka punya, bisa saja orang orang yang membunuh mereka mengincar sesuatu" terka Rian menanggapi.


"mengincar sesuatu yah? apa mungkin .. ahh tidak"


"apaa?"

__ADS_1


"bukan apa apa, aku kembali dulu"


__ADS_2