Anak Serigala

Anak Serigala
Pertarungan di Desa mati


__ADS_3


Pagi yang mendung dan tertutup kabut tebal, Dirga berjalan menyusuri hutan dan tiba di suatu desa, desa yang sepi dan tak terawat itu di sebut desa mati.


Desa mati adalah desa yang dulunya di serang oleh siluman ratu ular, setelah ratu ular di kalahkan oleh pendekar 3 harimau desa itu masih kosong sampai sekarang.


Alasannya karena kabut di sana tidak pernah hilang dan itu membuat suasana suram dan mencekam, jadi tak heran kalau desa itu kosong dan di sebut desa mati sekarang.


Dirga berjalan mengelilingi pemukiman, nampak berantakan namun jelas sekali desa itu di tempati sekelompok orang, hanya saja saat ini masih kosong, dan Dirga berpikir mungkin orang orang sedang pergi berburu di hutan.


"duhh gerimis" keluhnya.


Bulan ini sudah masuk musim hujan, hampir tiap hari Dirga kehujanan saat menetap di hutan, dia cukup beruntung kalau menemukan goa tempat berteduh, tapi seringkali anak itu terpaksa hanya berteduh di bawah pohon.


"papa aku benci air"


"iyaa aku tau, kita akan berteduh di rumah itu" tunjuk Dirga pada salah satu rumah yang masih layak huni.


Di rumah itu berserakan sampah makanan dan terlihat ada beberapa obor yang menempel di dinding, Dirga semakin yakin kalau tempat ini berpenghuni karena sumbu obor masih terasa hangat.


Hujan semakin deras dan hawa semakin terasa dingin, Neesa meringkuk di tengah pangkuan Dirga dan mulai tertidur, Dirga yang mulai di serang rasa kantuk menyandarkan tubuhnya dan ikut tertidur.


"krasaak"


"siapa itu?" gumam Dirha saar mendengar suara dari luar.


Dirga memutuskan untuk membawa Neesa bersembunyi dalam ruangan gelap, tampak ada lima orang masuk ke rumah tempatnya berteduh, bahkan di antara lima orang itu ada seorang wanita.


Dari celah kecil Dirga terus mengintip orang orang itu, mereka membawa beberapa senjata di tubuhnya dan


"jleeb"


Tiba tiba ada sebuah pisau melayang tepat ke arah matanya, jantungnya berdetak cepat bukan main, padahal Dirga sangat yakin tak mengeluarkan suara atau hawa keberadaanya.


"apa yang kamu lakukan Emely?"


"ada tikus yang bersembunyi di sana"


"tikus?"


"hmm biar aku mengurusnya"

__ADS_1


Rupanya benar dugaan Dirga, salah seorang di antaranya menyadari keberadaanya, Dirga sangat yakin orang orang itu bukanlah orang biasa.


"keluar kau tikus kecil, mau sampai kapan kamu gemetar ketakutan di sana?" ucap wanita bernama Emely.


Dengan langkah ragu Dirga keluar dari persembunyiannya, tangannya sudah menggenggam pedang kembarnya dan bersiap untuk kemungkinan terburuk.


"lihatlah tikus itu membawa senjata" ejek orang di sana.


"hahaa biarkan saja, mungkin Emely akan jadi sedikit bersemangat setelah bermain main dengannya haha"


Sikap mereka yang tidak mempedulikan kedatangan Dirga semakin membuat anak itu was was, mereka bersikap seolah kedatangannya yang membawa pedang sama sekali bukan ancaman.


"mau apa kamu?"


"harusnya aku yang bertanya padamu, benari sekali tikus kecil sepertimu masuk ke kandang singa" ucapnya sinis.


"aku hanya berteduh"


"lalu kenapa kamu menggenggam pedang?"


"tadi kan kau menyerangku lebih dulu"


"i-itu aku hanya penasaran" jawab Dirga sedikit gagap.


Wanita bernama Emely mempunyai tingkat kepekaan yang tinggi, tidak heran dia menyadari kedatangan Dirga meski sudah bersembunyi.


Kembali sebuah pisau melayang ke arahnya, meski dengan mudah Dirga menghindarinya tetap saja anak itu merasa grogi, ini adalah pertama kalinya dia bertarung sendirian melawan manusia.


Namun tekadnya untuk bertambah kuat jauh lebih besar di banding rasa groginya, dia memantapkan hati dan menggenggam erat kedua pedangnya, matanya fokus dan tingkat kewaspadaannya semakin bertambah.


"wush .. trang"


"jleeb .. ahkkk"


Pisau yang tadinya mengarah padanya mampu anak itu tepis dan balikkan arah, seketika seorang lelaki yang tak jauh dari Emely menjadi sasaran pisau itu, dan lagi pisau itu tepat menancap di jantungnya.


Seketika tiga laki laki yang tersisa langsung waspada, anak muda yang mereka sepelekan ternyata bisa mengubah arah serangan dan menyerang rekan mereka secara bersamaan.


Perubahan paling jelas berada di wajah Emely, gadis itu pikir Dirga bukanlah pemuda yang tangguh tapi nyatanya satu rekannya mati begitu saja, gadis itu segera mundur ke belakang dan 3 laki laki itu maju, masing masing dari mereka sudah bersiap menebas leher Dirga dengan pedang.


"b*jingan kau, tadinya aku ingin membiarkan Emely bermain main denganmu, tapi hal ini tidak bisa aku biarkan lagi"

__ADS_1


"jadi bermain dengan nyawa orang bukan hal penting bagi kalian? apa itu menyenangkan?" ucap Dirga dengan nada santai.


Baru saja Dirga teringat dengan ucapan ibunya, di dunia yang busuk ini sangat banyak manusia yang melakukan kejahatan hanya karena sebuah kesenangan, jadi ibunya memintanya jangan pernah ragu untuk menyingkirkan manusia semacam mereka.


"baiklah aku takkan banyak bicara, maju kalian" tantangnya tanpa ragu.


"trang"


"trang"


Dentingan pedang di antara derasnya hujan terjadi cukup sengit, satu orang di antara lawannya memiliki kemampuan yang lumayan mahir, belum lagi tenaga besar di ayunan pedangnya yang membuat Dirga sedikit kewalahan.


Tapi itu hanya akan terjadi kalau Dirga manusia biasa, fisiknya dua kali jauh lebih unggul dari manusia sejak dia terlahir, belum lagi aktifitasnya selama beberapa tahun terakhir melawan banyak siluman, tak bisa di ragukan kemampuan fisiknya di atas akal manusia.


"traang .. jraat"


"uahhh" jerit seseorang saat menyadari tangannya sudah terpisah dari tubuhnya.


Kemampuan Dirga menggunakan pedang kembarnya sudah meningkat sangat pesat, belum lagi dulu dia sangat sering berlatih tanding dengan beberapa senior di sektenya dan berhsil membuat mereka kewalahan.


Menggunakan dua pedang memang terlihat cukup meyakinkan, satu pedang bisa di gunakan untuk bertahan dan satu lainnya bisa untuk menyerang, itulah yang akan orang orang lihat saat Dirga menggunakan kedua pedangnya.


Namun nyatanya menggunakan pedang kembar membutuhkan ketrampilan dan begitu menguras tenaga, belum lagi penggunanya harus selalu fokus menyelaraskan kedua pedangnya agar tidak terbentur satu sama lin saat bertarung.


Arya yang Dirga sebut sebagai seorang jeniuspun kesulitan menggunakan pedang kembarnya, apa lagi tenaganya yang tidak sebesar Dirga juga menjdi salah satu hambatannya.


"tchh kupikir kalian sekuat apa, ternyata kalian masih amatir" ejek Dirga.


"tutup mulutmu dan bersiaplah untuk mati"


"hiyaa" kedua orang kembali menyerangnya.


Kali ini Dirga menghadapi mereka dengan jauh lebih santai, apa lagi Dirga sudah memahami pola serangan dari keduanya.


"heyy jangan ganggu aku saat aku sedang bertarung" ucap Dirga tiba tiba.


"ba-bagaimana mungkin?"


Rupanya gadis yang tadi ketakutan melempar beberapa jarum beracun ke arahnya, gadis itu pikir kalau Dirga sedang fokus bertarung dia bisa ambil kesempatan untuk menyerang diam diam, tapi nyatanya serangan gagal total.


....bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2