
"kau bilang kau ingin mengikutiku bukan?" tanya Dirga pada Emely.
"i-iya"
"takk" 4 buah pisau lempar Dirga letakkan di meja.
"lumpuhkan mereka!"
"apa?"
"lakukan sekarang!"
Emely berdiri dengan menggenggam 4 pisaunya, pisau yang sudah Dirga sita sejak kemarin kini sudah berada di tangannya lagi, dia menatap 4 orang yang berdiri di depan pemuda yang sudah mengganggu Dirga di kedai sebelumnya.
Dengan awas Emely mengawasi gerak gerik mereka, baginya ini adalah kesempatan untuk membuktikan kemampuannya pada Dirga.
"zleeb"
"akhhh" Lemparan pisau yang tak terlihat mata menancap di salah satu kepala 4 orang itu.
"b*jingan! dasar lacur s*alan!" ucap seseorang dengan geram.
"aku menyuruhmu melumpuhkan mereka bukan membunuh" ucap Dirga pelan.
"ma-maaf"
Tiga orang sisanya maju bersamaan mengeroyok Emely, Dirga dengan santainya makan sambil sesekali memperhatikan gerakan gadis itu.
"merunduk"
"lompat"
"bahu kanan"
"mundur"
Dirga memberikan intruksi pada Emely sambil makan, Emely juga secara otimatis mengikuti intruksi Dirga tanpa dagu, dan sesuai intruksinya Emely bisa menghindari setiap serangan yang mengarah padanya.
"s*al, anak itu meremehkan kita"
Sikap santai Dirga memprovokasi orang orang di sana, dan berkat itu Emely bisa memberi serangan kejutan pada mereka, pemuda congkak yang mengganggunya hanya melongo tak percaya dengan pemandangan di depannya.
Tiga orang terjatuh dengan luka sabetan di beberapa bagian tubuh dan satu tergeletak tak bernyawa, Emely terengah karena melumpuhka 3 orang itu menguras banyak tenaganya.
"s*al, kalau wanita itu sudah sekuat itu bagaimana dengan pemuda yang dduk itu" gumam si pemuda hendak pergi.
"oyy"
"siapa yang mengijinkanmu pergi?"
"ma-maafkan aku"
"kemari"
"apa?"
"cepat kemari" ucap Dirga menatap tajam.
"aisshh s*al s*al, apa aku akan mati sekarang?" batinnya panik.
Dirga menggeser kursi dan tidak lagi menghadap meja, pemuda congkak di depannya berdiri tegak dengan wajah tertunduk.
"leherku sakit kalau harus melihatmu di atas begitu, jongkok!" perintahnya.
__ADS_1
"ap-apa?"
"telingamu tuli? perlu aku menyuruhnya untuk mengorek telingamu?" ancam Dirga menunjuk Emely.
"t-tidak tidak" ucapnya bergegas jongkok.
"aku sudah melepasmu tadi kenapa kamu menggangguku lagi?" tanya Dirga dengan nada santai.
"itu .. ituuu.."
"tchh aku yakin kamu tidak memiliki alasan, orang orang sepertimu memang suka mengganggu orang yang tampak lemah darimu tanpa alasan"
"m-maaf maaf, aku mengaku bersalah"
"hmm bagaiman yah? kamu sudah menggangguku dua kali, dan lebih parahnya tadi kamu membawa empat orang menakutkan, jantungku tadi berdetak sangaaat cepat, wahhh jangan jangan aku mengalami masalah jantung karena ketakutan" ucap Dirga panjang.
"maksudnya?"
"beri aku kompensasi, aku harus memeriksakan diriku ke tabib, jangan sampai jantungku bermasalah karena kelakuanmu" Dirga memajukan tanggannya.
"ko-kompensasi? tapii..."
"aduduhhhh jantungku berdetak cepat lagii"
"a-akan ku berikan"
Pemuda itu langsung mengeluatkan sekantung koin miliknya, mungkin ada lebih dari 50 buah di dalamnya.
"cuma segini?"
"y-yah?"
"ini mana cukup"
"tapi hanya itu yang aku bawa"
"b-baju?" ucap si pemuda kaget.
"yaa .. sekalian celananya yaa" ucap Dirga kembali memasang senyuman licik.
Wajah pemuda itu merah padam, entah itu merah karena menahan marah atau menahan malu Dirga tak peduli, tapi kemungkinan alasannya karena marah sekaligus malu.
Emely dan pemilik kedai melongo tak percaya, tapi pemilik kedai sedikit merasa takut karena dia tau siapa pemuda ang sedang di permalukan oleh Dirga itu.
"uhhh bajumu bau sekalii" ejek Dirga menutup hidungnya.
Dirga langsung melempar pakaian itu kelantai dan menuangkan sisa kuah makanan di piringnya, baju mahal itu sudah penuh dengan bercak noda di buatnya.
"opss kuah dagingnya tumpah" ledeh Dirha makin menjadi.
Pemuda di depannya sangat geram namun tidak berdaya karena dia hanya memakai celana pendek untuk menutupi pusakanya, Dirga tertawa puas dalam hatinya karena berhasil memberi pelajaran pada pemuda congkak sepertinya.
"bibi berapa harga makanan tadi?" Dirga berdiri dan menginjak pakaian di bawahnya.
"15 perak tuan"
"ehh murah sekali .. ini ambil"
"tapi tuan saya tidak ada kembalian"
"ambil saja sisanya, itu bayaran untuk membersihkan lantai nantinya" ucap Dirga keluar.
"kalian tidak pergi?"
__ADS_1
"kami pergi" jawab ketiga orang serempak.
"hey bawa satu teman kalian ini, masa kalian meninggalkannya" tunjuk Dirga pada mayat di belakangnya.
Mereka bergegas pergi karena tidak mau memperpanjang urusan, bisa saja mereka mati nanti kalau tidak segera melarikan diri.
Dirga yang juga sudah malas berurusan dengan pemuda tadi langsung pergi meninggalkan kedai, entah bagaimana anak itu bisa bersikap sangat santai seperti tidak terjadi apa apa.
Tak lama Dirga berhenti di dekat sebuah keramaian, banyak orang bergerombol di sana dan itu membuat Dirga sedikit penasaran, terlihat ada pertunjukan musik dan tari di tengah gerombolan tersebut.
Beberapa orang bersiap bermain alat musik dan tampak sepasang pria dan wanita yang siiap menari di depannya.
Pertunjukan di mulai dan si wanita mulai menggerakan tangannya, sebuah pedang penjang di tangannya bergerak kesana kemari laksana selendang, rupanya pertunjukan tari yang Dirga tonton adalah Tari pedang.
Setelah sekitar setengah jam menari sang penari laki laki mulai berkeliling dengan membawa ember kecil di tangannya untuk meminta bayaran, tampak beberapa orang yang memberinya uang dan kebanyakan hanya menonton gratis.
Saat menyodorkan ember kecil itu ke hadapan Dirga, Dirga menyadari kalau pemuda itu kemungkinan sudah berada di tingkat bumi tahap 1 atau ada di tingkat dasar tahap akhir, untuk ukuran penari jalan pemuda itu sangatlah berbakat karena ada di tingkat setinggi itu, apalagi terlihat wajahnya masih sangat muda.
Sekeping emas Dirga masukan dengan senyum mengembang di wajahnya, anak itu berharap laki laki penari jalanan itu bisa terus berkembang ke depannya.
"tunggu!" serunya pada Dirga.
"ya?"
"apa anda tidak salah memberikan ini?"
"tidak"
"ke-kenapa kau memberi sebanyak ini?" tanya laki laki itu bingung.
"memangnya kenapa? apa ada masalah?" tanya Dirga tak mengerti.
"ini terlalu banyak"
"tidak apa apa, lagian kelompok kalian terdiri dari banyak orang" ucap Dirga sambil melihat kelompok pemusik.
Bisa di lihat ada 7 orang dalam kelompok tersebut, bahkan ada anak kecil berumur 5 tahun bersama mereka, Dirga menduga mereka adalah satu keluarga.
"terima kasih banyak tuan" ucapnya membungkuk.
"apa kalian satu keluarga?"
"benar tuan, itu ayah dan ibuku bersama keponakanku, dan itu kakak dan kakak iparku, dan yang menari bersamaku adalah sepupuku" terangnya memberi tahu.
"senangnya bisa berkumpul bersama" gumam Dirga pelan.
"kenapa tuan?"
"tidak tidak papa, apa kamu mendalami bela diri?" tanya Dirga penasaran.
"ehh .. bagaimana tuan tau?"
"itu terlihat dari gerakanmu"
"tuan seorang pendekar?" tanya pemuda itu balik.
"emm tidak juga, aku hanya mantan murid di sebuah sekte" jawabnya.
"oo begitu"
"kembangkan terus kemampuanmu, aku yakin kamu bisa menjadi pendekar hebat suatu hari nanti"
"su-sungguh tuan?" tanyanya berbinar.
__ADS_1
Dirga hanya mengangguk dan berlalu pergi, sebenarnya anak itu sedikit risih dengan sebutan tuan, dia merasa seolah sudah sangat tua karena di panggil tuan.
.....bersambung......