
Tess
Tess
Tetesan air jatuh tepat di wajah pucat Dirga, anak malang yang entah tidur atau justru pingsan karena kelaparan, matanya perlahan terbuka saat menyadari ada sesuatu yang menggeliat di atas tubuhnya.
"gyuuuu"
"hng apa ini? kadal?" ucapnya sembarangan.
"gyuu gyuuu"
"shh aduhh aku lapar sekalii, bagaimana caraku keluar dari sini?" ucapnya pelan.
"gyuuu" binatang kecil itu menggigit baju dan berusaha menarik Dirga.
"apa yang kau lakukan? kenapa menggigit bajuku?"
Binatang kecil itu masih terus menggigit bajunya, Dirga yang tubuhnya lemas karena belum makan apapun selama 3 hari (pas bobo udah lewat 1 malem ya) masih tergeletak di atas tanah yang lembab.
Bajunya sepenuhnya basah dan tubuhnya sedikit terasa dingin, di tambah lagi keadaan sekitar yang sangat gelap, meski sudah menggunakan penglihatan serigalanya tetap terlihat samar.
"gyuu gyuuu"
"baiklah aku akan bangun, kenapa kamu terus menarikku? memangnya kamu tau jalan untuk keluar dari sini?"
Seolah mengerti apa yang di katakan Dirga katakan binatang itu langsung turun dari tubuhnya dan berjalan dengan lincah, Dirga sendiri memutuskan tak banyak berfikir dan berjalan mengikuti binatang di depannya.
"uhh gelap sekali, sudah berapa lama aku tidak melihat cahaya matahari" keluhnyaa.
"hwuusss🔥"
"gyaaaaah" tiba tiba saja ada api kecil yang muncul di hadapannya, dalam tempat gelap tersebut tentu saja hal itu mengejutkannya.
"a-api tadii dari manaa?"
"gyuuu"
"apa kamu yang mengeluarkan apii?"
"gyuu gyuuu"
Dirga memiringkan kepala karena masih tak paham situasi, bagaimana mungkin ada kadal yang bisa mengeluarkan api.
Setelah beberapa jam berjalan terlihat ada sebuah celah yang memancarkan cahaya, Dirga girang karena akhirnya bisa keluar dari tempat gelap itu, matanya mengintip dari celah tersebut, dan Dirga memastikan dia masih berada di area hutan.
Dengan sisa tenaga yang dia miliki "duaar" sekali tinjunya melayang sebuah lubang besar tercipta.
"huaahhhh akhirnya aku bisa keluaar" teriaknya.
"gyuu gyuuuu" seolah binatang itu ikut teriak bersamanya.
"hmmm kamu bukan kadal yah?" ucapnya sambil mengangkat binatang tersebut.
Dengan mata jeli Dirga mengamati binatang kecil tersebut, tubuhnya mirip kadal namun warnanya oren kemerahan, tubuhnya sedikit lebih besar namun lebih pendek, panjang tubuhnya hanya sekitar 10 cm tp ekornya kemungkinan lebih dari 10 cm, sepasang mata bulat berwarna kuning keemasan dan terlihat ada dua tunas di area punggungnya.
"ini tunas apa? kadal kan punggungnya mulus tak bertunas, dan warnanya ... " ucapnya bingung sendiri.
"gyuu gyuu"
"hahh aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, tapi saat di dalam tadi kamu kan yang mengeluarkan api?"
__ADS_1
"hwuus🔥" kembali api kecil keluar dari mulut kecilnya.
"hwahh jadi benar kamu yang mengeluarkan api?" tanyanya girang.
"gyu gyuuu" jawabnya ikut girang.
Seolah menemukan jawaban akan msalahnya (tidak bisa menyalakan api) Dirga bukan main senangnya, rasa lemas yang sejak tadi bersemayam di tubuhnya tiba tiba hilang begitu saja.
Dengan segera anak itu menatap awas area sekitar, dia sudah tidak sabar menyantap daging bakar favoritnya, dan "zleep" kembali belatinya mendarat ke tubuh seekor ayam hutan.
Saking laparnya Dirga segera mencabuti bulu si ayam dan mengeluarkan isi perutnya, anak itu sangat bersemangat membayangkan ayam bakar yang akan segera dia nikmati.
"heyy apa kamu bisa membakar ayam ini?"
"gyuuu" binatang itu terlihat bingung.
"bakar, keluarkan api tadiii"
"hwuus 🔥🔥🔥" api kecil menyambar 3 kali.
"hmm sepertinya apimu terlalu kecil, baiklah tunggu sebentar"
Seolah tidak hilang akal Dirga segera mengumpulkan ranting kecil dan dedaunan kering, segera setelah terkumpul Dirga meminta binatang tersebut mengeluarkan apinya, api yang lumayan besar menyala di tengah hutan, semerbak aroma ayam bakar menyebar ke penjuru hutan.
Segera setelah ayam tersebut matang Dirga memakannya dengan lahap, 1 paha dia potek dan di berikan kepada si binatang yang telah membantunya membuat api, dua mahluk tersebut makan dengan lahap di tengah hutan belantara.
"ahhh akhirnya aku kembali hidup" desahnya puas.
"gyuuuu" si binatang ikut merebahkan diri.
"heyy sebenarnya kamu binatang jenis apa? aku sangat yakin kamu bukan kadal" ucap Dirga menatap.
Setelah merasa tenaganya kembali pulih Dirga kembali membuka peta yang di berikan kakaknya, peta sederhana yang hanya memperlihatkan tata letak kota itu setidaknya bisa sedikit membantu.
Sebelum pergi sendiri Arya sudah mengajarkan Dirga beberapa resep ramuan sederhana yang kemungkinan akan di perlukan, seperti ramuan penetral racun dan sekedar ramuan pemulih stamina, tak lupa Arya juga membawakan beberapa obat yang kemungkinan tidak bisa Dirga racik sendiri karena bahannya terbilang sulit di dapat.
Dirga sedang mencoba membuat ramuan untuk memulihkan tenaganya karena jujur saja dia masih merasa lemas, dia harap ramuan itu akan membantunya mendapatkan tubuh fitnya esok pagi seperti sedia kala.
"hoaaaaam"
Matahari pagi sudah menyapu wajaah Dirga, tubuhnya menggeliat dan matanya terus berkedip seakan sedang mengumpulkan tenaga, semalaman dia tertidur di atas dedaunan kering setelah berhasil membuat ramuan.
Benar saja tubuhnya terasa segar dan lebih fit dari sebelumnya, di sebelahnya ada binatang kecil yang terus mengikutinya sejak kemarin.
"hmm sekarang aku harus pergi, apa kamu mau ikut?"
"gyuuuu"
"kemari naik ke pundak q"
Tanpa basa basi binatang itu langsung merayap dan menggelayut di pundak Dirga.
"kamu pintar sekali" pujinya seraya mengusap kepalanya.
Perjalanan kembali di lanjutkan, Dirga berjalan menyusuri hutan dan berharap bisa segera keluar, anak itu merasa tak nyaman karena tubuhnya sudah lengket dan bau keringat.
di sisi lain.
"apa yang kamu lakukan?"
"maaf"
__ADS_1
"kenapa kamu tidak bisa fokus? kamu mau celaka?"
Hari ini Arya mengikuti Seto untuk pergi menjalankan misi, mereka di tugaskan untuk menjaga area pasar karena akhir akhir ini lumayan banyak binatang siluman berkeliaran, dan lagi kebanyakan orang orang di pasar hanya warga biasa.
Segerombol serigala liar tiba tiba memasuki area pasar, Arya sangat yakin jika rombongan serigala itu bukanlah siluman, mata mereka normal dan tubuh mereka juga biasa saja, kekuatannya pun persis seperti serigala pda umumnya.
"aneh, mereka ini hanya serigala liar biasa, kenapa orang orang bilang ada siluman" ucap Seto bingung.
Arya hanya menatap serigala yang tadi hampir menerkamnya karena kehilangan fokus, lalu matanya tertuju pada jalan setapak kecil yang mengarah ke hutan, dia bisa merasakan ada aura cukup kuat di dalam sana.
"tetua sepertinya mereka ada di sana"
"mereka siapa?"
"para siluman"
Seto menatap Arya dengan bingung, kalau benar yang di katakan Arya kenapa dia tidak merasakannya, apa Arya jauh lebih peka darinya atau mungkin dia salah mengira.
"kamu yakin mereka di sana?"
Arya mengangguk dan melangkah maju, Seto yang belum sepenuhnya percaya hanya mengikuti anak di depannya, sampai akhirnya Seto merasakan tekanan luar biasa saat memasuki area hutan.
Keraguannya berubah jadi kewaspadaan, matanya terus menatap sekitar dan tangannya menggenggam erat pedang yang ada di pinggangnya, dia bersiap dengan kemungkinan yang muncul nanti.
"anak ini sama hebatnya seperti Dirga, sayangnya kepribadiannya berbanding terbalik dengan adiknya" batin Seto.
"tetua menunduuuk!"
Seekor kelelawar seukuran manusia hampir saja menyerang Seto, mata tubuh hitam legam dan mata merahnya membuat keduanya merinding meski masih siang hari.
"tetua kita tidak bisa mengalahkannya, kita harus memanggil bantuan"
"apa maksudmu? hanya siluman seperti ini kenapa harus meminta bantuan?"
"percayalah padaku, kelelawar selalu hidup berkelompok, aku bisa merasakan ada aura yang lebih kuat di dalam sana" ucap Arya bergetar.
"kyaaaakkkkkkk" terdengar suara bising yang membuat telinga berdengung.
Arya menutup telinganya rapat rapat dan berusaha mengalirkan tenaga dalam untuk melindungi area telinga, sayangnya Seto tidak seberuntung Arya, telinganya berdarah karena tidak sempat mengalirkan tenaga dalam.
Terlihat tubuh Seto bergetar karena bukan hanya telinganya yang berdarah, dia seolah kehilangan kendali tubuhnya, tubuhnya layaknya wadah yang kosong karena gelombang suara yang di keluarkan kelelawar tersebut mengoyak sebagian pikirannya.
"tetua apa kau mendengarku?" Arya berusaha menyadarkan Seto.
"ahhh si*l, tetua tidak bisa memgendalikan pikirannya sendiri" decak Arya kesal.
"kyaa..."
"sraat"
"diam kau kelelawar b4jingan"
Dengan sekali tebasan Arya memenggal kepala siluman tersebut, dia bergegas memapah Seto leluar dari hutan karena merasa tak mampu mengatasi masalah ini sendirian.
"tetua .. tetua sadarlah" ucap Arya terus menepuk pipi Seto.
Matanya masih terlihat kosong pertanda dia masih belum bisaengendalilam pikirannya, Arya terduduk dengan deru nafas yang memburu, anak itu masih lhawatir karena dia masih ada di area pinggiran hutan.
"uhhh apa aku harus mencobanya?" gumam Arya bimbang.
"ahhhh tidak tidakk, aku masih belum bisa menggunakan kemampuanku pada orang sekuat tetua Seto, sudahlahh sekarang yang terpenting aku harus kembali ke sekte"
__ADS_1
Dengan tubuh kecilnya Arya berjalan dengam menggedong Seto, tubuh besar Seto menutupi hampir seluruh badan Arya.
"hahhh tetua ini manusia apa sapi sih, berat sekali" keluhnya menghela nafas.