Anak Serigala

Anak Serigala
Arya aneh


__ADS_3

"bagaiman kamu bisa bilang seperti itu Dirga, tubuhku sudah di jamah oleh para b*jingan itu, bagaimana bisa kamu bilang aku gadis yang suci?" seru Peony tak mengerti.


"lalu bagaimana kamu bisa men cap dirimu sendiri gadis menjijikan?"


"ma-maksudmu?"


"hhh kau ini .. menurutku kesucian dan kehormatan seorang wanita tidak di nilai dari ituu, semua itu terjadi bukan atas keinginanmu sendiri, itu terjadi karena para b*jingan itu yang memaksakannya padamu, kamu bilang bahkan kamu selalu menolaknya kan walau akhirnya hal itu terjadi? itu tandanya kamu buka gadis menjijikan, kamu masih suci dan masihlah gadis yang terhormat, lagian nilai hormat dan sucinya dirimu ada pada dirimu sendiri, kamu tetap menjaga kesucianmu sampai sekarang walau akhirnya mereka merampasnya, jangan pernah men cap dirimu sendiri sebagai gadis menjijikan, aku tidak suka mendengarnya" terang Dirga panjang.


"tapi.."


"aku tau kata kataku tidak merubah apapun, kenyataannya mereka memang telah merampasnya darimu, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya jangan pernah menganggap dirimu menjijikan" ucap Dirga sedikit ketus.


Keketusannya bukan karena dia kesal pada Peony, tapu dia sangat geram dengan apa yang di alami Peony, selama ini ibunya selalu mengajarkannya untuk menghargai dan meghormati wanita, tapi dia tak habis pikir bagaimana bisa gadis di sampingnya melalui hari semengerikan itu selama dua tahun.


Setelah itu mereka berdua hanya berjalan dalam keheningan, Dirga masih mendengar sisa isakan pada suara Peony di belakangnya, sebenarnya Dirga sendiri sangat merasa bersalah karena sudah menanyakan kenangan pahitnya, hanya saja dia tak berani bicara lagi.


Setelah 5 hari perjalanan akhirnya Dirga dan Peony tiba di desa Ujung tebing, desa kecil yang terletak di pinggiran kota Ujung tebing adalah desa kelahiran Peony, raut wajah dan sorot matanya menggambarkan rasa rindu yang sangat mendalam.


Bagaimanapun juga sudah 2 tahun gadis itu jauh dari ibunya, rasa rindu sekaligus rasa bersalah bergejolak layaknya air mendidih di hatinya, dengan kaki lemas Peony berjalan ke arah sebuah rumah yang di kelilingi bunga, tapi bunga bunga itu banyak yang layu dan tidak terurus.


"i-ibuuu!" serunya di depan pintu.


"ibu ini aku .. Peony" serunya lagi dengan suara bergetar.


Deritan engsel pintu membuat jantung gadis itu terpacu, entah seperti apa keadaan ibunya dan ekspresi macam apa yang akan dia tampilkan nantinya.


"I-IBU"


Terlihat seorang wanita dengan tubuh kurus kering di balik pintu, mata cekung dan pandangan kosong itu sangat mirip dengan keadaan Peony saat pertama bertemu dengan Dirga beberapa hari lalu.


"Pe-Peony? Peony putriku" ucapnya pelan.


"iya bu ini aku .. aku pulang" ucapnya langsung memeluk ibunya.


"Peony putriku, kamu pulang nak? kemana saja kamu selama ini? ibu terus mencarimu"


"maafkan Peony bu maaf"


Dirga menatap dari kejauhan pemandangan mengharukan tersebut, sudah barang pasti seorang ibu akan mengalami hal seperti itu saat kehilangan putri satu satunya, karena tak mau mengganggu Dirga memutuskan untuk kembali berjalan.


"Dirga tunggu!"

__ADS_1


"hmm kenapa?"


"terima kasih, berkatmu aku bisa kembali ke rumah, aku berjanji akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti, dan aku akan mengikuti perkataanmu" ucapnya mantap.


"perkataanku?"


"aku akan menjadi Peony yang mewarnai diriku sendiri, aku akan melanjutkan hidupku dengan bahagia karena hidupku adalah milikku"


"🙂 ... bagus"


* * * * *


"wush .. wush"


Suara pedang membelah angin terus terdengar sepanjang hari, Arya berlatih pedang di bawah teriknya matahari tanpa mempedulikan apapun, teman teman dan para tetua sampai heran melihatnya.


Kai sendiri terus menatapnya dari pagi sampai siang ini, siluman itu tak mengerti kenapa kakak tuannya itu bertingkah aneh hari ini.


"Arya mau sampai kapan kamu seperti itu?" tegur Kemala.


" .. " tidak ada jawaban apapun.


Sudah lebih dari 6 bulan Arya tak pernah mendengar kabar adiknya, namun selagi Kai baik baik saja dan tidak gelisah Arya yakin adiknya baik baik saja, rasa cemas rindu terus menggerogotinya setiap detiknya, tak heran anak itu kadang bertingkah aneh seperti sekarang.


Sebuah batu kerikil melayang dan berhasil di tangkis olehnya, rupanya batu itu di lemparkan oleh Rian yang sudah tidak tahan mendengar adiknya mengomel.


"berhenti kau bocah dugal!" seru Rian dari kejauhan.


"p-paman"


"kemari kau"


"kena.. aa-aww adu duhhh sakit" keluhnya saat Rian menarik telinganya.


"telingamu ini tuli atau bagaimana? kamu tidak mendengar bibimu terus berteriak memanggilmu? apa perlu aku congkel?" ucap Rian gemas gemas geram.


"maaf" jawabnya singkat.


"haduhhh terserah lah, setiap hari yang keluar dari mulutmu cuma iya, baik, tidak, dan maaf, kau ini tidak bisa bicara?"


" .. "

__ADS_1


"arrghhhh dasar anak ini, sudahlah pergi sana temui bibi gurumu"


"baik" ucapnya langsung pergi.


"ha! anak itu benar benar.."


Ya benar, akhir akhir ini Arya semakin pelit bicara, yang keluar dari mulutnya hanya kata itu saja, Kemala, Rian, Arga, Bimo dan banyak orang di sekte sampai gemas di buatnya.


"hhh Arya kenapa kamu terus terusan begitu sih?"


"maaf"


"hahahaaa anak ini ingin membuatku kontraksi yahh, sudahlah makan saja sana!" ucap Kemala kesal.


"sabar sayang!"


"sampai kapan? sampai kapan anak itu akan begitu? aku bicara panjang lebar aku berteriak sampai tenggorokanku kering dia selalu begitu, sebenarnya ada apa dengan anak itu? semakin lama aku semakin tidak mengerti dengannya" gerutu Kemala makin kesal.


"sudahlah, kamu ini seperti tidak pernah muda saja, mungkin dia punya masalah yang di simpannya, biarkan saja dan jangan terlalu di pikirkan" hibur Arga.


"hufftttt kau lihat aku sampai berkeringat begini di buatnya"


"mau aku ambilkan minum?"


"tidak, aku mau jalan jalan keluar saja"


"ya sudah hati hati"


Dengan lemas Arga jalan ke balai pembukuan, sudah berbulan bulan laki laki itu menghadapi hal sulit, dia harus tinggal bersama Arya yang tak mau bicara dan istrinya yang setiap hari selalu marah marah,laki lakinitu terjebak antara dua manusia itu setiap hari.


"kenapa kamu?"


"uhh kakak aku lelah sekali" keluh Arga pada Rian.


"memang kamu habis melakukan apa?"


"uhh apa kakak tidak tau? setiap hari aku bicara panjang lebar dengan Arya tapi kakak sendiri tau kan dia hanya punya 4 kata yang keluar dari mulutnya, dan lagi Mala semakin hari semakin menjadi jadi,semenjak hamil emosinya sangat mudah meledak ledak, dia akan kesal setiap bicara dengan Arya dan aku yang selalu menjadi sasarannya, kakak ipar tolong selamatkan aku dari situasi iniii" ucap Arga menggoncang tangan Rian.


"ha ha ha kalau itu aku tidak bisa membantu, nikmati saja" ledek Rian.


"huaa ibuuu" keluh Arga frustasi.

__ADS_1


.....bersambung.....


__ADS_2