Anak Serigala

Anak Serigala
Mabuk laut


__ADS_3

"Neesa kamu harus mengontrol apimu"


"uhh ini sulit papa, kontrolku sangat tidak bagus"


"ck ck mau bagaimana lagi, sepertinya karena kamu terlalu muda jadi kamu masih harus banyak belajar" ucap Dirga menghibur.


"tapi kalau aku terus begini nanti aku tidak bisa membantu papa di hutan terkutuk, papa tidak akan meninggalkanku kan?"


"mana mungkin aku meninggalkan anak gadisku hahaaa"


"aku sayang papaaa" ujar Neesa terus berputar putar.



"uhh bayi kadal merahku yang lucu, siapa sangka kalau kamu ini naga" batin Dirga memperhatikan Neesa gemas.


Dua minggu yang lalu saat Dirga mendengar kabar tentang hutan terkutuk dia sangat tertarik, sebenarnya hutan terkutuk sudah menjadi cerita puluhan tahun lamanya, hutan itu terletak di sebuah pulai kecil tak berpenghuni di tengah kerajaan Awan.


Pulau kecil yang terletak di tengah laut itu selalu di kelilingi kabut dan hawa yang suram, tak ada satupun mahluk hidup yang bertahan di sana barang semut sekalipun, entah sudah berapa ratus pendekar yang mati di pulau itu sejak puluhan tahun lalu.


Menurut kepercayaan orang Negeri Awan, hutan terkutuk menyimpan sebuah pusaka langit yang memiliki kekuatan maha dahsyat, di percaya ratusan tahun lalu pendekar yang menguasai dunia persilatan masuk ke sana dan tak pernah keluar sampai sekarang.


Meskipun kebenaran itu belum terbukti sampai sekarang, tetap saja masih banyak pendekar yang nekat memasuki hutan itu dan berujung tak pernah kembali, seolah rasa penasaran mereka semakin membesar tiap kali para pendekar yang pergi tak pernah kembali.


"uhh tanganku rasanya mau patah" keluh Emely tak berdaya.


Semenjak Dirga berniat ikut berpartisipasi pergi ke hutan terkutuk, Emely benar benar meningkatkan latihannya dua kali lipat sesuai janjinya pada Dirga, gadis itu seolah terobsesi untuk selalu mengikuti Dirga kemanapun anak itu pergi tanpa peduli nyawanya sendiri.


Dirga yang sudah berusaha menasehatinya tapi tak pernah di dengarkan, akhirnya menyerah dan membiarkan gadis itu berlatih gila gilaan, baginya menghadapi wanita entah itu ibunya, bibi gurunya atau Emely adalah hal tersulit dalam hidupnya.


"hhh kenapa wanita sangat sulit untuk di mengerti? aku melarangnya untuk ikut demi keselamatannya, tapi dia menuduhku kalau aku meninggalkannya karena menganggapnya sebagai beban, tapi kalau aku membawanya dan tak bisa melindunginya bukankah itu akan membuatku seperti laki laki tak bertanggung jawab? astaga ibu kenapa seluruh wanita di dunia ini keras kepala dan selalu semaunya sendiri" gerutu Dirga frustasi.


"bukankah Neesa juga wanita? apa Neesa terlihat seperti itu di mata papa?" tanya Neesa menyelidik.


"ahh itu..."

__ADS_1


"huhh Neesa marah pada papa" ucap binatang itu langsung pergi ke arah Emely.


"ya yaa kamu sama saja seperti yang lainnya Neesa, aku semakin yakin yang namanya wanita dalam bentuk ras dan spesies apapun wanita tetaplah wanita, mereka adalah spesies yang keras kepalaselalu mau menang sendiri dan selalu menganggap dirinya benar" omel Dirga semakin kesal.


Sejujurnya Emely mendengar segala omelan Dirga dengan jelas, namun dia sudah tak memiliki tenaga lagi untuk beradu mulut dengan pemuda yang di ikutinya dan lebih memilih diam memulihkan tenaga karena benar benar kelelahan.


"kapan kita berangkat ke dermaga tuan?"


"sore nanti, sekarang istirahat saja"


Riuhnya suasana di dermaga saat para penumpang kapal turun sudah menjadi pemandangan sehari hari, hari ini Dirga mendaftarkan diri untuk mengikuti rombongan pendekar yang akan menyeberangi lautan menuju pulau kecil di tengah laut.



"tuan bagaimana penampilanku?"


"anda siapa ya?"


"tuan jangan bercanda, apa baju ini cocok untukku?"


"sungguh? bagaimana kesannya?" tanya Emely antusias.


"emmm bagaimana yah? kamu terlihat kuat agak misterius tapi juga sedikit menunjukan sisi feminim karena potongan baju itu memperlihatkan perutmu, apa yah sebutannya?" gumam Dirga berfikir.


"apa?"


"ahh entahlah tapi kamu terlihat cantik"


"pesshhhh .. cantik😳?"


"yaa, menurutku setelan itu sangat cocok denganmu, apalagi dengan setelah wajahmu yang terlihat judes itu"


"hah judes?" guma Emely saat mendengarnya.


Emely baru saja mendapat setelan baju baru yang sempat Dirga pesankan 3 minggu lalu, Dirga memesankan setelan yang elastis dan nyaman untuk pergerakan Emely, dari bahan warna hingga modelnya Dirga yang memilihkannya, tentu saja itu sangat berarti untuk Emely karena Dirga memperhatikannya.

__ADS_1


Ya bukan tanpa alasa Dirga melakukan itu, saat tiba di pulau misterius nanti dia tak tau bahaya apa yang akan mereka hadapi, jadi Dirga ingin Emely bisa mengerahkan potensi maksimalnya saat di sana nanti, da menurutnya setelan bajunya saat ini sangat mendukung Emely untuk memaksimalkan kemapuannya.


Hari sudah mulai siang, kapal akan segera berlayar untuk mengarungi lautan, Dirga dan Emely menjadi pendekar termuda yang ikut berpartisipasi kali ini, kebanyakan peserta yang ikut adalah pendekar yang sudah berusia 40 tahun ke atas.


"apa kalian berdua akan benar benar ikut pergi?"


"iya tuan, kita akan ikut"


"apa kalian tidak sayang nyawa? kalian masih sangat muda masa depan kalian maaih panjang" ujar salah seorang pendekar yang duduk di samping Dirga.


"terima kasih karena sudah memperdulikan kami tuan, tapi kami akan tetap ikut" ucap Dirga ramah.


"ya baiklah, ku harap kita semua bisa kembali dengan selamat tidak seperti orang orang sebelumnya"


Angin menerpa saat kapal mulai berlayar meninggalkan dermaga, Dirga dan Emely berdebar karena ini pertama kalinya bagi mereka berlayar ke lautan lepas, keduanya berdiri menikmati pemandangan laut dan pemandangan dermaga yang perlahan mulai tak terlihat, menurut perkiraan mereka akan berlayar sekitar 1 bulan jika perjalanan lancar.


"uhh kenapa kepalaku pusing?" keluh Dirga tiba tiba.


"kenapa tuan?"


"tidak papa aku hanya sedikit pusing"


Dirga memesan sebuah kamar dan memilih untuk istirahat karena dia rasa kemungkinan dia mabuk laut, dari pada mabuk tak berdaya dia lebih memilih tidur atau meningkatkan lingkar tenaga dalamnya dengan menyerap energi alam.


Neesa memilih bersama Emely karena dia masih ingin menikmati pemandangan dan angin di luar, meski dulu Emely memiliki trauma dengan api Neesa sekarang hubungan mereka terbilang sangat baik.


"Neesa apa kau lapar?"


Binatang itu langsung mengangguk tanda meng iya kan pertanyaan Emely, dengan segera Emely memesan dua porsi daging bakar untuk mereka nikmati sebelum tidur nantinya.



Sehari dua hari seminggu kapal terus melaju jauh meninggalkan daratan, langit biru cerah setidaknya bisa membuat perjalanan ini terasa indah karena menyajikan pemandangan yang indah, Dirga yang pada akhinya kalah oleh mabuk lautnya hanya terbaring lemas di kamarnya.


Emely dengan telaten mengurus dan memberinya makanan agar anak itu tetap hidup sampai ke pulau misterius yang mereka tuju, sejujurnya Emely tidak menyangka pemuda sekuat dirinya yang dengan mudahnya mengalahkan beruang siluman harus tumbang karena mabuk laut.

__ADS_1


.....bersambung......


__ADS_2